





Phintraco Technology is recognized as a certified partner of global IT and communication leaders. These partnerships give it access to best-in-class solutions, which it has combined with its own in-depth industry experience to offer its many clients a complete suite of IT solutions and services.


Phintraco Technology is recognized as the certified partner of global IT and communication leaders such as Avaya, Dell Technologies, Verint, Thales (formerly Gemalto), OneSpan (formerly Vasco), and many more. These partnerships give it access to best in class solutions which it has combined with its own in depth industry experience to offer a complete suite of IT solutions and services to its many clients.

Website menjadi bagian penting dalam layanan, penjualan, dan komunikasi perusahaan. Web monitoring membantu memantau ketersediaan dan performa website secara berkelanjutan.
Gangguan seperti downtime, latency, dan transaksi gagal dapat mempengaruhi pengalaman pengguna. Karena itu, perusahaan perlu memantau website dari sisi pengguna hingga komponen pendukungnya. Artikel ini akan membahas web monitoring, cara kerjanya, apa saja yang perlu dipantau, serta manfaatnya untuk bisnis.
Web monitoring adalah praktik memantau performa website dan layanan web. Tujuannya adalah menjaga availability dan membantu menemukan masalah sebelum berdampak lebih luas. Website monitoring juga dikenal sebagai website performance monitoring. Pemantauan ini biasanya dilakukan pada halaman, server, protokol, dan berbagai fungsi website.
Fungsi website monitoring untuk bisnis memiliki nilai yang lebih luas. Website itu sendiri dapat digunakan sebagai saluran transaksi, layanan pelanggan, dan sumber pendapatan bagi perusahaan. Oleh karena itu, monitoring sangat krusial bagi bisnis.
Monitoring dapat menggunakan beberapa pendekatan. Uptime monitoring memeriksa ketersediaan layanan. Synthetic monitoring menguji fungsi melalui simulasi pengguna. Sementara itu, Real User Monitoring atau RUM mengambil data dari pengguna sebenarnya.
Kebutuhan monitoring semakin besar pada website modern. API, container, microservices, dan layanan pihak ketiga menambah jumlah komponen yang saling bergantung.
Baca Juga: Microservices Monitoring: Definisi dan Manfaatnya untuk BisnisProses pemantauan dimulai dengan menentukan website, halaman, atau transaksi yang perlu dipantau. Perusahaan dapat menentukan alur pengguna yang paling penting. Untuk web application monitoring, alur ini dapat dibuat menjadi skrip transaksi. Sistem kemudian menjalankan skrip tersebut secara berkala untuk menguji fungsi aplikasi.
Contohnya adalah proses login, pencarian, pengisian formulir, dan checkout. Sistem membuka halaman, memasukkan data, lalu memeriksa respons yang diterima. Jika muncul error atau respons terlalu lambat, sistem dapat menghasilkan alert. Tim IT kemudian dapat melakukan investigasi berdasarkan data yang tersedia.
Monitoring juga dapat menggunakan synthetic monitoring dari beberapa lokasi. Pendekatan ini membantu menemukan masalah yang hanya muncul di lokasi pengguna tertentu. Sementara itu, Real User Monitoring (RUM) memberikan perspektif yang berbeda karena datanya berasal dari pengguna nyata. Data tersebut membantu melihat pengalaman berdasarkan perangkat, jaringan, dan lokasi pengguna.
Untuk masalah yang lebih mendalam, APM dapat membantu menelusuri sisi back-end. Tim dapat melihat hubungan antara aplikasi, service, infrastruktur, dan dependency.
Baca Juga: Infrastructure Monitoring: Pengawasan Mendalam di Seluruh Komponen ITWebsite memiliki banyak komponen yang memengaruhi pengalaman pengguna. Karena itu, pemantauan perlu mencakup beberapa area. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu dipantau dari website dan web app:
Uptime monitoring memantau persentase waktu website tersedia. Sistem dapat memberikan alert ketika website mengalami downtime.
Response time monitoring berfungsi untuk mengukur waktu yang dibutuhkan website untuk memberikan respons. Peningkatan pada waktu respons dapat menunjukkan masalah pada aplikasi, server, atau jaringan.
Page performance mengacu pada pemantauan kecepatan loading halaman dan elemen penting lainnya di dalamnya. Metrik seperti LCP dapat membantu melihat pengalaman saat konten utama dimuat.
Error rate menunjukkan jumlah error dibandingkan jumlah request. Contohnya adalah HTTP 404 dan HTTP 500.
Fungsi seperti login, pencarian, formulir, keranjang, dan pembayaran juga perlu diuji. Availability saja belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh fungsi bekerja dengan benar.
Server, jaringan, bandwidth, dan komponen pendukung lainnya juga merupakan aspek penting yang perlu dipantau. Data ini membantu membedakan antara masalah aplikasi dan infrastruktur.
RUM dapat menunjukkan pengalaman pengguna yang nyata. Oleh karena itu, data ini dapat mengungkap masalah yang tidak selalu terlihat dari server.
Baca Juga: Infrastructure Observability: Visibilitas Menyeluruh untuk Infrastruktur ITPemantauan yang konsisten memberikan manfaat dari sisi teknis dan bisnis. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
Alert otomatis membantu tim mengetahui gangguan lebih cepat. Respons yang cepat dapat mengurangi waktu layanan yang tidak tersedia.
Data performa membantu menemukan halaman atau proses yang lambat. Tim dapat menentukan prioritas optimasi berdasarkan kondisi aktual.
Data monitoring membantu mempersempit lokasi masalah. APM kemudian dapat melanjutkan investigasi hingga dependency dan komponen back-end.
Synthetic monitoring dapat menguji alur penting secara proaktif. Sementara RUM dapat menunjukkan kondisi yang benar-benar dialami pengguna.
Website yang lambat atau tidak tersedia dapat menghambat transaksi. Performa website sangat berpengaruh terhadap pengalaman pelanggan dan aktivitas bisnis secara keseluruhan.
Data historis membantu melihat pola performa dan gangguan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan optimasi.
Platform modern dapat menghubungkan pengalaman pengguna dengan aplikasi dan infrastrukturnya. Pendekatan ini membantu tim melihat masalah secara lebih menyeluruh.
Baca Juga: Application Performance Monitoring: Kunci Kinerja Optimal AplikasiWebsite modern membutuhkan pemantauan dari sisi pengguna hingga infrastruktur. APM membantu perusahaan melihat performa aplikasi, availability, dan pengalaman pengguna secara terpadu.
Phintraco Technology menyediakan solusi application performance monitoring dengan visibilitas dari front-end hingga back-end. Platform kami mencakup aplikasi, transaksi, infrastruktur, cloud, dan pengalaman pengguna.
Solusi kami juga dapat menemukan dependency secara otomatis dan melacak transaksi lintas berbagai tier. Kemampuan ini membantu tim Anda memahami sumber masalah secara lebih cepat.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila

Performa aplikasi perlu dijaga agar tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna dan kebutuhan bisnis. Service Level Objective monitoring membantu tim memantau target reliability berdasarkan indikator layanan yang terukur.
Target tersebut dapat berkaitan dengan availability, latency, error rate, atau keberhasilan transaksi. Monitoring membantu tim mengetahui apakah performa masih memenuhi batas yang telah ditentukan. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai SLO Monitoring, cara kerjanya, dan cara menentukan SLO untuk aplikasi.
SLO atau Service Level Objective adalah target terukur yang menggambarkan tingkat performa atau reliability layanan. Target ini kemudian menjadi acuan internal bagi tim engineering dan operasional. Biasanya SLO ditetapkan untuk periode tertentu. Contohnya adalah target availability atau persentase transaksi yang berhasil.
Berbeda dari sekadar angka monitoring, target SLO harus menggambarkan kondisi layanan yang penting bagi pengguna. Target ini dapat menggunakan metrik seperti latency, error, availability, dan transaksi yang berhasil.
SLO juga berkaitan dengan error budget. Konsep ini menunjukkan tingkat ketidakandalan yang masih dapat ditoleransi dalam periode tertentu. Oleh karena itu, SLO management perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tim perlu meninjau target, memantau pencapaian, dan mengevaluasi perubahan kebutuhan layanan.
Service Level Objective (SLO) merupakan target yang ditetapkan berdasarkan SLI. Misalnya, perusahaan menetapkan target 99,9% request berhasil dalam periode tertentu.
Sementara SLI (Service Level Indicator) adalah indikator yang mengukur performa layanan secara aktual. Contohnya adalah response time, error rate, request success rate, dan availability.
Selain itu, ada juga SLA (Service Level Agreement), yang merupakan kesepakatan layanan antara penyedia dan pelanggan. SLA dapat mencantumkan target layanan serta konsekuensi jika target tertentu tidak terpenuhi.
Hubungan ketiganya dapat dipahami secara sederhana. SLI mengukur kondisi aktualnya, SLO menetapkan targetnya, dan SLA mengatur komitmen layanannya.
SLO juga membantu perusahaan memenuhi SLA dengan lebih terukur. Tim dapat memantau target internal sebelum terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan eksternal. Selain itu, error budget membantu tim menentukan toleransi terhadap kegagalan. Data tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan terkait perubahan, rilis, dan prioritas perbaikan.
Baca Juga: Observability: Definisi, Cara Kerja, dan Cara MeningkatkannyaPenentuan SLO sebaiknya dimulai dari kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis. Berikut adalah beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum menentukan SLO:
Pertama, tentukan aplikasi atau layanan yang paling penting. Prioritaskan layanan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengguna dan pendapatan.
Setelah menentukan aplikasi dan layanan, pilih SLI yang relevan. Lalu gunakan indikator seperti availability, latency, error rate, atau keberhasilan transaksi.
Gunakan data historis sebagai dasar penentuan target. Data tersebut bisa membantu menentukan target yang lebih realistis dan dapat dicapai.
Tetapkan nilai target dan periode evaluasi. Target dapat dibuat berdasarkan jam, minggu, atau bulan.
Batas dalam error budget tersebut menunjukkan seberapa besar kegagalan yang masih dapat ditoleransi.
Target tersebut kemudian perlu disepakati dengan tim terkait. Tim Engineering, operasional, SRE, dan bisnis perlu memahami tanggung jawab masing-masing. SLO juga perlu ditinjau secara berkala. Perubahan arsitektur, jumlah pengguna, dan pola trafik dapat mengubah kebutuhan reliability.
Baca Juga: Mean Time to Repair (MTTR): Cara Menghitung dan MenguranginyaPlatform monitoring bekerja dengan mengambil data dari aplikasi dan layanan yang dipantau. Data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pengukuran SLI. Sistem membandingkan nilai aktual dengan target SLO. Hasilnya dapat ditampilkan dalam dashboard untuk membantu tim melihat kondisi layanan.
Platform juga bisa memantau error budget dan burn rate. Burn rate menunjukkan seberapa cepat toleransi kegagalan digunakan. Ketika konsumsi error budget meningkat terlalu cepat, sistem bisa menghasilkan alert. Pendekatan ini membantu tim menangani risiko sebelum target benar-benar dilanggar.
Selain itu, SLO monitoring juga dapat dikaitkan dengan masalah aplikasi. Tim dapat menghubungkan penurunan SLO dengan insiden, service, atau dependency yang terdampak.
Pencapaian SLO membutuhkan visibilitas terhadap kondisi aplikasi secara aktual. Application Performance Monitoring dapat membantu tim memantau performa aplikasi dan menemukan masalah sebelum berdampak lebih luas.
Phintraco Technology menyediakan solusi application performance monitoring untuk memantau performa aplikasi secara real-time. Platform ini dapat membantu tim Anda mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah sebelum memengaruhi pengguna.
Solusi kami juga mendukung SLO melalui evaluasi otomatis, visualisasi SLI, error budget, dan burn rate. Data ini dapat membantu tim Anda memahami kondisi reliability dalam konteks layanan yang sebenarnya.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila

Penggunaan Kubernetes semakin luas untuk menjalankan aplikasi berbasis container. Kubernetes monitoring membantu tim IT memantau kesehatan, performa, dan penggunaan resource dalam cluster.
Lingkungan Kubernetes bersifat dinamis dan terdiri dari banyak komponen. Pod dapat dibuat, dihentikan, atau dipindahkan antar-node. Kondisi tersebut membuat visibilitas menjadi penting untuk menjaga performa dan availability aplikasi. Artikel ini akan membahas pemantauan Kubernetes, indikator-indikatornya, cara kerjanya, dan manfaatnya.
Kubernetes Monitoring adalah proses mengumpulkan dan menganalisis data dari lingkungan Kubernetes. Data tersebut mencakup kesehatan cluster, performa aplikasi, dan penggunaan resource. Monitoring dapat mencakup node, pod, container, dan aplikasi. Tim IT juga dapat memantau komponen control plane serta komunikasi antar-service.
Penggunaan Kubernetes monitoring tools juga membantu mengumpulkan dan menampilkan data tersebut. Tools dapat berupa Kubernetes Dashboard, Prometheus, Grafana, atau platform observability lainnya.
Data monitoring kemudian dapat ditampilkan melalui Kubernetes monitoring dashboard. Dashboard membantu tim melihat kondisi cluster, penggunaan resource, status workload, dan alert.
Monitoring juga membantu menemukan masalah lebih awal. Contohnya adalah pod yang gagal berjalan, penggunaan memory berlebihan, atau node yang tidak tersedia. Namun, monitoring tidak berhenti pada status komponen. Data dari aplikasi dan infrastructure juga perlu dilihat dalam satu konteks.
Lingkungan Kubernetes memiliki berbagai lapisan yang saling berkaitan. Setiap lapisan membutuhkan indikator yang sesuai. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:
Tim IT perlu memantau availability dan kondisi setiap node. CPU, memory, storage, bandwidth, dan kapasitas juga perlu diperhatikan. Komponen control plane juga penting untuk dipantau. API server, kubelet, kube-proxy, etcd, dan controller manager mendukung operasional cluster.
Status pod dapat menunjukkan kondisi workload. Perhatikan jumlah pod, status, serta frekuensi restart. Pod yang sering restart dapat menunjukkan masalah aplikasi atau resource. Status pending atau failed juga perlu segera diperiksa.
Container monitoring memantau penggunaan CPU dan memory setiap container. CPU throttling dan penggunaan memory berlebih dapat memengaruhi stabilitas workload.
Network monitoring membantu melihat trafik dan error antar-service. Gangguan jaringan dapat memengaruhi komunikasi antar-container dan performa aplikasi.
Metrik aplikasi mencakup latency, response time, error rate, dan responsiveness. Data ini membantu menghubungkan kondisi Kubernetes dengan performa yang dirasakan oleh pengguna.
Logs dan events memberikan konteks mengenai kejadian dalam cluster. Traces membantu mengikuti transaksi pada aplikasi terdistribusi. Beberapa layanan monitoring dapat menggabungkan metrics, logs, dan traces dalam satu platform untuk memberikan visibilitas end-to-end.
Proses dimulai dengan mengumpulkan data dari berbagai komponen Kubernetes. Agent atau integrasi dapat mengambil data dari node, pod, container, dan aplikasi. Data kemudian dikumpulkan dan dianalisis. Metadata serta label yang konsisten membantu tim menemukan workload tertentu dengan lebih mudah.
Sistem monitoring dapat menjalankan alert berdasarkan kondisi tertentu. Contohnya adalah penggunaan CPU atau memory yang melewati batas. Intelligent alerting dapat membantu mengurangi alert fatigue. Setelah alert muncul, tim melakukan investigasi. Metrik, logs, events, dan traces dapat digunakan untuk mencari sumber masalah. Platform modern juga dapat menggunakan AI untuk membantu analisis.
Tahap berikutnya adalah respons dan optimasi. Tim dapat melakukan scaling, memperbaiki konfigurasi, atau menjalankan tindakan otomatis.
Monitoring Kubernetes memberikan manfaat pada performa, reliability, dan efisiensi operasional. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya untuk bisnis:
Monitoring membantu menemukan pod, node, atau resource yang bermasalah. Deteksi lebih awal dapat mengurangi dampak terhadap layanan.
Data CPU, memory, storage, dan network membantu menemukan resource yang kurang atau berlebihan. Informasi ini mendukung keputusan scaling dan capacity planning.
Korelasi data membantu tim melihat hubungan antara infrastruktur dan aplikasi. Investigasi menjadi lebih terarah ketika berbagai sinyal tersedia dalam satu konteks.
Alert membantu tim mengetahui masalah sebelum berkembang menjadi gangguan besar. Respons lebih cepat dapat membantu menjaga kontinuitas layanan.
Data historis membantu perusahaan memahami pola penggunaan resource. Informasi ini dapat digunakan untuk merencanakan kapasitas cluster.
Monitoring memberikan visibilitas dari cluster hingga aplikasi. Platform dapat menggabungkan telemetry untuk membantu tim memahami performa dan dependency.
Phintraco Technology menyediakan solusi application performance monitoring untuk melihat performa aplikasi, transaksi, infrastructure, dan cloud dalam satu konteks. Platform kami juga dapat menemukan dependency secara otomatis dan melacak transaksi lintas berbagai layer.
Untuk Kubernetes, solusi monitoring kami menggabungkan metrics, logs, traces, topology, dan analisis berbasis AI. Pendekatan ini membantu tim Anda menemukan masalah dan memahami dampaknya terhadap aplikasi.
Dengan observability yang terintegrasi, Anda dapat memantau workload Kubernetes secara menyeluruh. Tim juga dapat mempercepat troubleshooting dan mendukung optimasi performa aplikasi.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila