





Phintraco Technology is recognized as a certified partner of global IT and communication leaders. These partnerships give it access to best-in-class solutions, which it has combined with its own in-depth industry experience to offer its many clients a complete suite of IT solutions and services.


Phintraco Technology is recognized as the certified partner of global IT and communication leaders such as Avaya, Dell Technologies, Verint, Thales (formerly Gemalto), OneSpan (formerly Vasco), and many more. These partnerships give it access to best in class solutions which it has combined with its own in depth industry experience to offer a complete suite of IT solutions and services to its many clients.

Aplikasi modern banyak menggunakan microservices, API, container, dan layanan cloud. Distributed tracing membantu tim mengikuti perjalanan satu request melalui berbagai komponen aplikasi.
Arsitektur yang terdistribusi membuat pencarian sumber masalah semakin kompleks. Satu permintaan dapat melewati banyak layanan sebelum menghasilkan respons. Tracing membantu menemukan layanan yang menyebabkan latency, error, atau bottleneck. Artikel ini akan membahas distributed tracing beserta cara kerja dan manfaatnya.
Distributed tracing adalah teknik untuk melacak perjalanan request dalam sistem terdistribusi. Setiap transaksi dapat diberi identitas agar perjalanannya dapat diikuti dari awal hingga akhir. Pendekatan ini sangat berguna dalam arsitektur microservices. Setiap layanan dapat menjalankan fungsi tertentu dan berkomunikasi melalui API.
Dalam lingkungan seperti ini, distributed tracing services membantu tim melihat hubungan antar-service. Tim dapat mengetahui layanan mana yang menerima request dan waktu yang digunakan untuk setiap proses.
Trace menggambarkan keseluruhan perjalanan sebuah request. Sementara itu, span menunjukkan satu aktivitas selama perjalanan tersebut. Contohnya adalah pemanggilan API atau query database.
Setiap request dapat memiliki trace ID yang sama. ID tersebut diteruskan ketika permintaan berpindah antar-service. Mekanisme ini menjaga hubungan antarspan tetap terhubung.
Dengan demikian, tim dapat melihat perjalanan transaksi secara end-to-end. Data tracing juga dapat dikombinasikan dengan metrik dan log untuk memperoleh konteks yang lebih lengkap.
Proses dimulai dengan instrumentation pada aplikasi. Instrumentasi memungkinkan sistem menangkap aktivitas request yang melewati berbagai layanan. Ketika pengguna mengirim request, sistem membuat atau menerima trace ID. ID tersebut diteruskan ke layanan berikutnya selama transaksi berlangsung.
Setiap layanan kemudian menghasilkan span. Span mencatat informasi seperti waktu mulai, durasi, status, dan metadata tertentu. Semua span dikumpulkan dan disusun menjadi satu trace. Tim kemudian dapat melihat urutan layanan yang dilalui oleh sebuah permintaan.
Jika transaksi berjalan lambat, tim dapat memeriksa durasi setiap span. Bagian dengan durasi tinggi dapat menjadi indikasi adanya bottleneck.
Distributed tracing system juga dapat menghubungkan trace dengan metrik dan log. Korelasi tersebut membantu tim melihat konteks masalah secara lebih menyeluruh. Namun, instrumentasi perlu diterapkan secara konsisten. Inkonsistensi dapat menyebabkan sebagian perjalanan transaksi tidak terlacak.
Application monitoring memiliki cakupan yang lebih luas. APM digunakan untuk memantau performa aplikasi, availability, response time, dan berbagai data telemetri.
Distributed tracing memiliki fokus yang lebih spesifik. Teknologi ini mengikuti satu request saat melewati beberapa service atau komponen. Sementara itu, APM dapat menjawab pertanyaan tentang kondisi aplikasi secara umum. Contohnya, apakah response time meningkat atau error rate bertambah.
Distributed tracing membantu menjawab penyebab masalah tersebut, sehingga tim dapat melihat service mana yang memperlambat atau menggagalkan transaksi.
Keduanya dapat digunakan secara bersamaan. APM bisa memberi gambaran dari atas, sedangkan tracing memberikan detail perjalanan transaksi.
Baca Juga: Root Cause Analysis: Metode Efisien Pecahkan Masalah Sistem ITDistributed tracing dapat memberikan manfaat terutama pada aplikasi yang memiliki banyak service dan dependency. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
Tracing menunjukkan layanan yang membutuhkan waktu paling lama. Tim dapat menentukan bagian yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Tim dapat mengikuti satu transaksi dari awal hingga akhir. Proses ini membantu mempersempit sumber error tanpa perlu memeriksa semua komponen secara manual sehingga mempercepat MTTR.
Tracing menunjukkan hubungan antara service, API, database, dan komponen lainnya. Informasi tersebut membantu memahami dampak gangguan pada satu layanan.
Tim dapat melihat perjalanan request secara menyeluruh. Pendekatan ini memberikan konteks yang sulit diperoleh melalui monitoring komponen secara terpisah.
Trace memberikan detail mengenai durasi dan status setiap span. Data tersebut membantu tim menemukan lokasi masalah dengan lebih cepat.
Data historis dapat menunjukkan pola latency dan error. Tim dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan prioritas optimasi.
Tracing dapat dikombinasikan dengan log dan metrik. Korelasi tersebut memberikan konteks tambahan untuk investigasi observabilitas performa.
Phintraco Technology menyediakan solusi Application Performance Monitoring untuk memantau performa aplikasi menggunakan berbagai data telemetri. Platform ini mencakup aplikasi, service, host, jaringan, log, dan komponen pendukung lainnya.
Solusi kami juga mendukung distributed tracing untuk mengikuti transaksi pada aplikasi terdistribusi. Kemampuan tersebut membantu tim memahami dependency dan lokasi masalah dalam perjalanan request.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila

Gangguan pada aplikasi dan sistem IT bisa menghambat operasional perusahaan. Mean time to repair digunakan untuk mengukur rata-rata waktu yang diperlukan untuk memperbaiki kegagalan akibat gangguan tersebut.
Semakin lama proses perbaikannya, semakin lama pula dampak gangguan terhadap layanan. Karena itu, perusahaan perlu memantau MTTR secara konsisten. Hasil MTTR monitoring dapat membantu menemukan hambatan dalam proses penanganan insiden. Artikel ini akan membahas MTTR mulai dari pengaruhnya, rumus dan cara menghitungnya, serta cara menguranginya.
Mean Time to Repair adalah metrik untuk mengukur rata-rata waktu perbaikan, yaitu waktu rata-rata untuk memperbaiki komponen, aplikasi, atau layanan yang gagal. Pengukuran tersebut mencakup pengujian hingga layanan kembali berfungsi.
Definisi MTTR dapat berbeda antarperusahaan. Karena itu, titik awal dan akhir pengukuran perlu ditetapkan dengan jelas. Konsistensi tersebut membantu menghasilkan data yang dapat dibandingkan.
MTTR penting karena menunjukkan efisiensi proses perbaikan. Angka yang tinggi dapat menunjukkan adanya hambatan dalam diagnosis atau dalam implementasi perbaikan. Metrik ini juga berkaitan dengan downtime dan keandalan layanan. Pemantauan MTTR membantu perusahaan mengidentifikasi pola insiden dan menentukan area yang perlu diperbaiki.
Perhitungan ini sebaiknya juga dilihat bersama dengan metrik lainnya. Contohnya adalah MTTD, MTTA, MTBF, dan mean time to resolve. Ini karena setiap metrik mengukur tahap yang berbeda dalam siklus insiden.
Rumus MTTR pada dasarnya menggunakan total waktu perbaikan yang dibagi dengan jumlah perbaikan. Formula tersebut dapat digunakan dalam periode tertentu.
MTTR = Total waktu perbaikan ÷ Jumlah perbaikan
Sebagai contoh, perusahaan mengalami empat insiden dalam satu bulan. Total waktu perbaikannya mencapai delapan jam. Maka, MTTR perusahaan adalah dua jam per insiden. Angka tersebut menunjukkan rata-rata durasi perbaikan berdasarkan data tersebut.
Pencatatan waktu harus dilakukan secara konsisten. Perusahaan perlu menentukan kapan penghitungan dimulai dan kapan dianggap selesai.
Perusahaan perlu mendokumentasikan waktu diagnosis dan perbaikan secara terpisah. Data tersebut membantu menemukan tahapan yang paling banyak memakan waktu.
MTTR yang tinggi dapat berasal dari masalah teknis maupun masalah proses operasional. Beberapa faktor berikut perlu diperhatikan perusahaan:
Insiden yang terlambat diketahui dapat menambah durasi gangguan. Sistem monitoring yang kurang optimal dapat membuat tim terlambat memulai investigasi.
Masalah yang lebih kompleks membutuhkan investigasi lebih panjang. Kondisi ini jadi semakin sulit pada aplikasi yang memiliki banyak dependensi.
Data yang tersebar pada banyak tools dapat memperlambat pencarian sumber masalah. Tim mungkin perlu memeriksa berbagai log dan sistem secara manual.
Cloud, container, dan microservices membuat hubungan antarkomponen semakin dinamis. Gangguan pada satu layanan dapat mempengaruhi layanan lainnya.
Insiden dapat tertunda ketika membutuhkan bantuan dari beberapa tim. Jalur komunikasi yang panjang dapat memperlambat tindakan perbaikan.
Tim akan lebih lambat bekerja ketika prosedur penanganan belum terdokumentasi. Runbook yang jelas dapat membantu mempercepat tindakan.
Baca Juga: Infrastructure Observability: Visibilitas Menyeluruh untuk Infrastruktur ITApplication Performance Monitoring dapat membantu perusahaan memantau performa, ketersediaan, dan pengalaman pengguna. Data tersebut dapat digunakan untuk menemukan serta menangani masalah aplikasi. Berikut adalah beberapa kegunaan APM untuk mengurangi MTTR:
APM dapat memantau performa aplikasi secara real-time. Tim IT dapat menerima informasi ketika terjadi perubahan atau penurunan performa.
Metrik, log, dan traces memberikan konteks tambahan saat investigasi. Ini dapat menunjukkan hubungan antara aplikasi dan dependensinya.
Pemetaan dependensi membantu mempersempit sumber masalah. Teknologi root cause analysis ini dapat mendeteksi dependensi aplikasi dan melacak transaksi pada berbagai lapisan.
Korelasi data dapat membantu tim fokus pada insiden yang paling relevan. Pendekatan ini juga dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk memeriksa banyak alert.
Otomasi dapat membantu menjalankan tindakan yang sudah ditentukan. Umumnya APM juga menyediakan kemampuan analisis dan workflow untuk mendukung pengurangan waktu penanganan insiden.
Data historis dapat digunakan untuk melihat perubahan MTTR. Tim IT dapat mengevaluasi apakah perbaikan proses benar-benar menghasilkan pemulihan yang lebih cepat.
Phintraco Technology menyediakan application performance monitoring untuk memantau performa aplikasi, infrastruktur, cloud, dan pengalaman pengguna. Platform ini juga dapat mendeteksi dependensi serta melacak transaksi pada berbagai lapisan.
Kemampuan tersebut membantu tim memperoleh konteks saat terjadi gangguan. Solusi kami juga menggunakan AI untuk membantu mengidentifikasi dan menangani masalah performa sebelum berdampak lebih luas.
Dengan visibilitas yang lebih menyeluruh, perusahaan dapat mempercepat investigasi dan mengurangi waktu yang terbuang selama troubleshooting. Pendekatan tersebut dapat mendukung upaya penurunan MTTR secara berkelanjutan.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Infrastruktur IT semakin kompleks karena melibatkan server, jaringan, cloud, VM, dan container. Infrastructure observability dapat membantu tim IT memahami kondisi komponen melalui data dan konteks.
Pemantauan infrastruktur juga perlu mengikuti perubahan arsitektur bisnis. Lingkungan hybrid cloud dan multicloud membuat visibilitas menjadi semakin penting. Tim perlu mengetahui kondisi komponen dan hubungan antar layanan. Artikel ini akan membahas observabilitas dalam infrastruktur IT beserta aspek-aspek di dalamnya.
Infrastructure observability merupakan pendekatan untuk memahami kondisi internal infrastruktur melalui data yang dihasilkan sistem. Data tersebut dapat berasal dari host, VM, proses, container, jaringan, dan layanan cloud.
Konsep IT infrastructure observability memiliki cakupan yang lebih luas daripada pemantauan status komponen. Tim IT dapat menghubungkan berbagai data untuk memahami hubungan antarkomponen. Data yang digunakan dapat berupa metrik, log, events, dan traces. Data tersebut memberikan informasi mengenai performa, kejadian, serta aktivitas di lingkungan IT.
Pendekatan ini juga berbeda dari monitoring biasa. Monitoring dapat menunjukkan adanya masalah pada server. Observability membantu menelusuri penyebab melalui hubungan antara berbagai data dan dependensi. Observability juga berkaitan dengan application observability. Application observability sendiri berfokus pada performa aplikasi dan dependensinya. Infrastructure observability memberikan konteks dari sisi infrastruktur yang menopang aplikasi.
Baca Juga: Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOpsProses dimulai dengan mengumpulkan data dari berbagai komponen infrastruktur. Data dapat berasal dari host, proses, container, jaringan, database, dan platform cloud. Data tersebut kemudian dikumpulkan pada platform observability. Sistem menghubungkan data berdasarkan entitas, dependensi, dan konteks lingkungan.
Setelah data tersedia, sistem dapat menganalisis kondisi infrastruktur. Analisis dapat membantu menemukan anomali, degradasi performa, dan masalah kapasitas. Tahap berikutnya adalah menghasilkan alert. Tim mendapatkan informasi mengenai kondisi yang memerlukan perhatian.
Observability membantu proses investigasi dengan menghubungkan data terkait. Tim dapat menelusuri metrik, log, events, dan dependensi dalam konteks yang sama. Beberapa platform juga menggunakan AI untuk membantu menganalisis akar masalah. Proses tersebut dapat diringkas menjadi empat tahap. Data dikumpulkan, dikorelasikan, dianalisis, lalu digunakan untuk tindakan.
Infrastructure observability dapat diterapkan pada berbagai kebutuhan operasional bisnis. Penerapannya perlu disesuaikan dengan jenis infrastruktur yang digunakan. Berikut adalah beberapa contoh implementasinya:
Tim IT dapat memantau kesehatan komponen server, seperti host, CPU, memori, storage, dan proses. Data tersebut membantu menemukan penggunaan resource yang tidak normal.
Observability dapat memberikan informasi mengenai kondisi perangkat dan komponen jaringan. Tim dapat menghubungkan gangguan jaringan dengan layanan yang terdampak.
Lingkungan cloud dan container membutuhkan visibilitas yang dinamis. Platform observability dapat membantu memantau layanan cloud, VM, container, dan Kubernetes.
Masalah infrastruktur dapat mempengaruhi performa aplikasi. Dengan menghubungkan keduanya, tim dapat melihat hubungan antara resource dan pengalaman aplikasi.
Data historis membantu tim melihat pola penggunaan resource. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk merencanakan kebutuhan kapasitas.
Konteks dari berbagai sumber membantu tim memahami insiden dengan lebih cepat. Proses investigasi juga dapat dilakukan tanpa berpindah terlalu banyak tools.
Baca Juga: Application Performance Monitoring: Kunci Kinerja Optimal AplikasiPemilihan solusi perlu mempertimbangkan cakupan infrastruktur dan kebutuhan operasional. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan ketika memilih tools dan platform observability:
Pastikan tools mendukung server, VM, jaringan, container, database, dan cloud. Cakupan tersebut harus selaras dengan arsitektur perusahaan.
Infrastructure observability platform sebaiknya mampu menggabungkan data dari berbagai sumber. Pendekatan terintegrasi membantu mengurangi data silos.
Pilih solusi yang dapat menghubungkan metrik, log, events, dan dependensi. Korelasi membantu tim memperoleh konteks selama investigasi.
AI dapat membantu menemukan pola dan mempersempit sumber masalah. Perhatikan kemampuan platform dalam menghasilkan hasil yang dapat ditindaklanjuti.
Solusi harus mampu menangani pertumbuhan data dan komponen. Dukungan terhadap lingkungan hybrid cloud dan multicloud juga penting.
Integrasi dengan sistem ITSM dan tools otomasi dapat mempercepat respons. Beberapa platform juga dapat menjalankan tindakan remediasi berdasarkan kondisi tertentu.
Visibilitas aplikasi dan infrastruktur perlu berjalan dalam konteks yang sama. APM dapat membantu perusahaan melihat performa aplikasi hingga komponen infrastruktur pendukungnya.
Phintraco Technology menyediakan application performance monitoring yang mencakup aplikasi, infrastruktur, cloud, serta pengalaman pengguna. Platform ini juga dapat menemukan dependensi dan menelusuri transaksi pada berbagai lapisan.
Dengan visibilitas yang terhubung, tim IT Anda dapat mengurangi blind spot dan mempercepat investigasi masalah. Solusi ini dapat mendukung pengelolaan lingkungan IT yang semakin dinamis.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila