





Phintraco Technology is recognized as a certified partner of global IT and communication leaders. These partnerships give it access to best-in-class solutions, which it has combined with its own in-depth industry experience to offer its many clients a complete suite of IT solutions and services.


Phintraco Technology is recognized as the certified partner of global IT and communication leaders such as Avaya, Dell Technologies, Verint, Thales (formerly Gemalto), OneSpan (formerly Vasco), and many more. These partnerships give it access to best in class solutions which it has combined with its own in depth industry experience to offer a complete suite of IT solutions and services to its many clients.

Kualitas layanan pelanggan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan sekaligus citra perusahaan. Oleh karena itu, quality assurance contact center memiliki peran penting dalam memastikan setiap interaksi antara agen dan pelanggan berjalan sesuai standar layanan yang telah ditetapkan. Melalui proses evaluasi yang terstruktur, perusahaan dapat menjaga konsistensi layanan sekaligus meningkatkan performa customer service.
Keberhasilan contact center tidak hanya diukur dari kecepatan menjawab pertanyaan pelanggan, tetapi juga dari kemampuan agen memberikan solusi yang tepat, komunikasi yang profesional, dan kepatuhan terhadap prosedur perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, proses Quality Assurance (QA) dilakukan secara berkelanjutan agar perusahaan dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan sekaligus mempertahankan kualitas layanan yang sudah baik. Artikel ini akan membahas QA contact center dan berbagai aspek di dalamnya.
Quality assurance contact center adalah proses pemantauan dan evaluasi kualitas interaksi antara agen dan pelanggan berdasarkan standar layanan yang telah ditetapkan perusahaan. Evaluasi dilakukan terhadap berbagai channel komunikasi, seperti panggilan telepon, email, live chat, maupun aplikasi pesan instan, untuk memastikan layanan diberikan secara konsisten.
Tujuan utama dari QA adalah menjaga kualitas layanan pelanggan sekaligus membantu perusahaan meningkatkan performa operasional contact center. Melalui evaluasi yang rutin, perusahaan dapat mengetahui apakah agen telah mengikuti Standard Operating Procedure (SOP), memberikan informasi yang akurat, menggunakan komunikasi yang sesuai, serta mampu menyelesaikan kebutuhan pelanggan dengan baik.
Penerapan QA juga membantu mengidentifikasi peluang perbaikan. Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun program pelatihan, coaching, maupun penyempurnaan proses operasional sehingga kualitas layanan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Selain itu, QA berperan dalam memastikan kepatuhan terhadap kebijakan internal maupun regulasi yang berlaku. Hal ini menjadi semakin penting, terutama pada industri yang memiliki persyaratan kepatuhan tinggi, seperti layanan keuangan, kesehatan, maupun telekomunikasi.
Baca Juga: Quality Management: Cara Pastikan Kualitas Layanan PelangganTim QA memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh proses pelayanan pelanggan berjalan sesuai standar perusahaan. Berikut beberapa tugas utama yang dilakukan. Berikut adalah beberapa tugas utama lainnya:
QA melakukan pemantauan terhadap berbagai interaksi pelanggan melalui panggilan telepon, email, live chat, maupun kanal digital lainnya. Proses ini bertujuan memperoleh gambaran mengenai kualitas layanan yang diberikan oleh agen.
Setiap interaksi dievaluasi menggunakan formulir penilaian yang telah ditetapkan. Aspek yang dinilai biasanya meliputi kemampuan komunikasi, pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan, ketepatan informasi, empati, hingga kemampuan menyelesaikan masalah.
Selain kualitas komunikasi, QA juga memeriksa apakah agen telah mengikuti prosedur operasional yang berlaku. Kepatuhan terhadap SOP membantu menjaga konsistensi layanan sekaligus mengurangi risiko kesalahan dalam proses pelayanan.
Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk memberikan umpan balik kepada agen. Feedback yang konstruktif membantu agen memahami kelebihan maupun area yang masih perlu ditingkatkan sehingga kompetensinya berkembang secara berkelanjutan.
Tim QA menyusun laporan mengenai hasil evaluasi, tren kualitas layanan, serta temuan yang memerlukan perhatian. Informasi tersebut menjadi dasar bagi manajemen dalam menentukan strategi peningkatan layanan.
QA juga bekerja sama dengan supervisor contact center untuk menyusun program coaching, pelatihan, maupun perbaikan proses operasional berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan.
Baca Juga: Contact Center AI adalah Revolusi Pelayanan Pelanggan ModernProses QA menggunakan berbagai metrik untuk mengukur kualitas layanan secara objektif dan konsisten. Berikut adalah beberapa metrik yang umum digunakan:
Customer Satisfaction Score mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diterima. Nilai CSAT biasanya diperoleh melalui survei setelah interaksi selesai.
FCR menunjukkan persentase masalah pelanggan yang berhasil diselesaikan pada kontak pertama. Nilai FCR yang tinggi menunjukkan efektivitas layanan customer service.
AHT mengukur rata-rata waktu yang dibutuhkan agen untuk menangani satu interaksi pelanggan. Metrik ini membantu perusahaan mengevaluasi efisiensi proses pelayanan.
Quality Score merupakan nilai yang diperoleh dari hasil evaluasi QA berdasarkan berbagai kriteria, seperti komunikasi, kepatuhan terhadap SOP, ketepatan informasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Compliance Rate menunjukkan tingkat kepatuhan agen terhadap prosedur layanan, kebijakan perusahaan, maupun regulasi yang berlaku. Metrik ini menjadi indikator penting untuk memastikan kualitas layanan tetap konsisten.
Masukan langsung dari pelanggan memberikan informasi mengenai pengalaman layanan yang dirasakan. Feedback tersebut melengkapi hasil evaluasi internal yang dilakukan oleh tim QA.
Metrik ini mengukur seberapa sering pelanggan harus menghubungi perusahaan kembali untuk permasalahan yang sama. Nilai yang rendah menunjukkan bahwa kebutuhan pelanggan berhasil diselesaikan secara efektif pada interaksi sebelumnya.
Baca Juga: Automated Quality Management: Akselerasi Kinerja Contact CenterPerkembangan artificial intelligence (AI) membantu perusahaan meningkatkan efektivitas proses QA melalui otomatisasi dan analisis data dalam skala yang lebih besar. Berikut adalah beberapa cara AI membantu meningkatkan QA contact center:
AI mampu mengevaluasi ribuan interaksi pelanggan secara otomatis dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan proses manual. Ini dapat membantu perusahaan memperoleh gambaran kualitas layanan secara lebih menyeluruh.
Speech analytics menganalisis percakapan telepon untuk mengidentifikasi kata kunci, pola komunikasi, sentimen pelanggan, maupun potensi pelanggaran prosedur. Informasi tersebut membantu QA melakukan evaluasi secara lebih objektif.
Selain percakapan suara, AI juga dapat menganalisis pesan teks seperti dari email, live chat, dan pesan digital lainnya. Analisis ini membantu perusahaan memahami tren kebutuhan pelanggan sekaligus mengevaluasi kualitas komunikasi agen.
AI mampu memantau kepatuhan agen terhadap SOP secara otomatis, termasuk mendeteksi apabila terdapat prosedur yang terlewat atau komunikasi yang tidak sesuai dengan standar perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis, AI dapat memberikan rekomendasi area yang perlu ditingkatkan oleh masing-masing agen. Pendekatan ini membantu proses agent coaching menjadi lebih terarah dan berbasis data.
Platform berbasis AI menyediakan dashboard yang menampilkan kualitas layanan, Compliance Rate, performa agen, serta tren operasional secara real-time. Informasi tersebut membantu manajemen mengambil keputusan lebih cepat untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan.
Menjaga kualitas layanan pelanggan memerlukan proses evaluasi yang konsisten, akurat, dan mampu mengikuti tingginya volume interaksi di contact center. Dengan dukungan AI, perusahaan dapat memantau kualitas layanan secara lebih menyeluruh, meningkatkan kepatuhan terhadap SOP, serta memperoleh insight yang membantu proses perbaikan secara berkelanjutan.
Phintraco Technology menghadirkan solusi contact center berbasis AI yang dapat membantu perusahaan Anda mengotomatisasi evaluasi interaksi pelanggan melalui speech analytics, text analytics, compliance monitoring, dan dashboard analitik yang komprehensif. Solusi ini membantu meningkatkan Compliance Rate, mempercepat proses evaluasi, mendukung pengembangan kompetensi agen, serta menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih konsisten dan berkualitas.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Operasional contact center harus mampu menangani jumlah interaksi pelanggan yang terus berubah setiap hari. Ketika jumlah agen tidak sesuai dengan kebutuhan, perusahaan berisiko menghadapi antrian pelanggan yang panjang atau penggunaan sumber daya yang kurang efisien. Oleh karena itu, workforce management contact center menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga keseimbangan antara kualitas layanan dan efisiensi operasional.
Perkembangan teknologi memungkinkan perusahaan mengelola tenaga kerja secara lebih terukur melalui analisis data dan otomatisasi. Salah satu proses penting dalam workforce management adalah forecasting call volume, yaitu memprediksi jumlah interaksi pelanggan agar perusahaan dapat menentukan kebutuhan agen secara lebih akurat. Dengan perencanaan yang baik, perusahaan dapat menjaga tingkat layanan sekaligus mengoptimalkan biaya operasional. Artikel ini akan membahas WFM contact center secara mendalam.
Workforce Management Contact Center adalah proses perencanaan, pengelolaan, dan pengoptimalan tenaga kerja agar operasional layanan pelanggan berjalan secara efektif dan efisien. Fokus utama WFM adalah memastikan jumlah agen, jadwal kerja, dan kapasitas operasional selalu sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Melalui workforce management, perusahaan dapat menyesuaikan sumber daya dengan volume interaksi yang diperkirakan akan terjadi setiap hari. Pendekatan ini membantu mengurangi kondisi kekurangan agen yang menyebabkan waktu tunggu panjang maupun kelebihan agen yang meningkatkan biaya operasional.
Ruang lingkup WFM meliputi berbagai aktivitas, seperti perencanaan kapasitas, penyusunan jadwal kerja, pemantauan kepatuhan terhadap jadwal, analisis produktivitas, hingga evaluasi performa operasional. Seluruh proses tersebut dilakukan secara berkelanjutan agar contact center dapat memberikan layanan yang konsisten.
Workforce management dapat membantu perusahaan memastikan bahwa kapasitas operasional selalu selaras dengan kebutuhan layanan pelanggan. Seluruh proses dilakukan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan:
Langkah ini bertujuan untuk memprediksi jumlah panggilan maupun interaksi pelanggan berdasarkan data historis, tren musiman, aktivitas promosi, dan faktor operasional lainnya. Hasil prediksi ini menjadi dasar untuk menentukan jumlah agen yang diperlukan pada periode tertentu.
Setelah kebutuhan diperkirakan, perusahaan melakukan capacity planning untuk menentukan jumlah agen yang dibutuhkan agar target tingkat layanan dapat tercapai.
Jadwal dibuat berdasarkan kebutuhan operasional, ketersediaan agen, pola shift, waktu istirahat, cuti, maupun lembur sehingga distribusi beban kerja menjadi lebih merata.
Supervisor dapat memantau antrean pelanggan, tingkat ketersediaan agen, maupun perubahan volume interaksi sehingga penyesuaian dapat dilakukan dengan cepat apabila diperlukan.
Selain itu, workforce management juga membantu menganalisis produktivitas agen melalui berbagai KPI, seperti tingkat utilisasi, kepatuhan terhadap jadwal, produktivitas harian, dan performa layanan. Hasil analisis tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus perbaikan operasional secara berkelanjutan.
Baca Juga: Automated Quality Management: Akselerasi Kinerja Contact CenterSistem workforce management terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja secara terintegrasi untuk mendukung operasional contact center. Berikut adalah penjelasannya:
Komponen pertama adalah forecasting, yaitu proses memprediksi volume interaksi pelanggan berdasarkan data historis dan berbagai faktor pendukung lainnya. Prediksi yang akurat membantu perusahaan melakukan perencanaan tenaga kerja secara lebih efektif.
Selanjutnya terdapat fitur scheduling yang berfungsi menyusun jadwal kerja agen secara otomatis sesuai kebutuhan operasional. Sistem dapat mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jumlah agen, target layanan, shift kerja, hingga aturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Komponen berikutnya adalah intraday management, yaitu kemampuan menyesuaikan jadwal kerja berdasarkan kondisi operasional yang terjadi secara real-time. Misalnya, ketika volume interaksi meningkat secara tiba-tiba, supervisor dapat melakukan penyesuaian kapasitas dengan lebih cepat.
Sistem WFM juga memiliki fitur adherence monitoring untuk memantau kepatuhan agen terhadap jadwal yang telah ditentukan. Informasi ini membantu perusahaan memastikan sumber daya dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, tersedia fitur performance analytics dan reporting yang menyajikan berbagai data operasional melalui dashboard maupun laporan berkala. Perusahaan dapat mengevaluasi produktivitas agen, tingkat layanan, hingga pencapaian KPI secara lebih mudah.
Sebagian besar solusi workforce management modern juga mendukung integrasi dengan CRM, platform contact center, AI, dan aplikasi bisnis lainnya sehingga seluruh proses operasional dapat dikelola secara lebih efisien.
Implementasi software workforce management memberikan berbagai manfaat yang mendukung peningkatan kualitas layanan maupun efisiensi operasional. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
Melalui penjadwalan yang lebih akurat, jumlah agen dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya.
Dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja yang lebih tepat, perusahaan dapat mengurangi biaya akibat kelebihan agen maupun kebutuhan lembur yang berlebihan.
Agen dapat bekerja sesuai kapasitas tanpa mengalami kelebihan maupun kekurangan beban kerja yang dapat mempengaruhi kualitas layanan.
Dari sisi pelanggan, WFM membantu menjaga tingkat layanan dengan mengurangi waktu tunggu dan memastikan ketersediaan agen pada jam-jam sibuk. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan pelanggan.
Informasi mengenai tren interaksi, performa agen, dan kebutuhan kapasitas dapat digunakan sebagai dasar penyusunan strategi layanan.
Baca Juga: Contact Center AI adalah Revolusi Pelayanan Pelanggan ModernPemilihan solusi workforce management perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing perusahaan. Langkah pertama adalah mengevaluasi skala operasional, termasuk jumlah agen, volume interaksi pelanggan, serta kompleksitas layanan yang dikelola.
Perusahaan juga perlu memilih solusi yang memiliki kemampuan forecasting yang akurat. Semakin baik kemampuan sistem dalam memprediksi kebutuhan operasional, semakin efektif pula proses perencanaan tenaga kerja. Fitur penjadwalan otomatis juga menjadi aspek penting. Otomatisasi membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus mempercepat penyusunan jadwal kerja yang lebih optimal.
Kemampuan real-time monitoring perlu menjadi perhatian karena memudahkan supervisor melakukan penyesuaian ketika terjadi perubahan kondisi operasional. Selain itu, pastikan sistem memiliki dashboard analitik yang lengkap untuk memantau KPI dan produktivitas agen. Selain itu, Integrasi dengan CRM, platform contact center, AI, maupun aplikasi bisnis lainnya juga menjadi nilai tambah karena membantu menyederhanakan pengelolaan operasional secara keseluruhan.
Terakhir, pilih penyedia solusi yang memiliki pengalaman implementasi serta dukungan teknis yang baik. Pendampingan selama proses implementasi dan pelatihan pengguna akan membantu perusahaan memperoleh manfaat optimal dari sistem workforce management.
Pengelolaan tenaga kerja yang efektif menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas layanan pelanggan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional contact center. Dengan dukungan teknologi yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan perencanaan kapasitas, penjadwalan agen, serta pemantauan performa secara lebih akurat.
Phintraco Technology menghadirkan solusi AI Contact Center dengan Workforce Engagement dan Workforce Excellence yang membantu perusahaan mengelola operasional contact center secara lebih cerdas melalui kemampuan forecasting, penjadwalan otomatis, analitik berbasis AI, serta pemantauan performa secara real-time. Solusi ini membantu meningkatkan produktivitas agen, menjaga kualitas layanan pelanggan, dan mendukung efisiensi operasional secara berkelanjutan.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Pelanggan mengharapkan setiap pertanyaan atau kendala dapat diselesaikan dengan cepat tanpa harus menghubungi customer service berulang kali. Kemampuan menyelesaikan masalah pada interaksi pertama menjadi salah satu indikator penting kualitas layanan pelanggan. Oleh karena itu, first call resolution menjadi metrik yang banyak digunakan perusahaan untuk mengukur efektivitas layanan customer service.
Dalam operasional contact center, terdapat berbagai Key Performance Indicator (KPI) yang digunakan untuk mengevaluasi performa layanan. Salah satu yang paling sering digunakan adalah first call resolution, yaitu kemampuan customer service menyelesaikan kebutuhan pelanggan pada kontak pertama. Semakin tinggi nilai FCR, semakin efisien operasional contact center dan semakin baik pengalaman yang dirasakan pelanggan. Artikel ini akan membahas pengertian first call resolution, cara menghitungnya, angka idealnya, dan faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilannya.
First Call Resolution adalah metrik yang mengukur persentase permasalahan pelanggan yang berhasil diselesaikan pada interaksi pertama tanpa memerlukan panggilan, email, live chat, atau tindak lanjut tambahan. Meskipun namanya menggunakan istilah "call", metrik ini juga dapat diterapkan pada berbagai kanal layanan pelanggan lainnya.
Sederhananya, FCR adalah kemampuan perusahaan menyelesaikan kebutuhan pelanggan hingga tuntas dalam satu kali interaksi. Fokus utama FCR bukan hanya menutup percakapan, tetapi memastikan pelanggan benar-benar memperoleh solusi atas permasalahan yang dihadapi.
FCR menjadi indikator penting karena menggambarkan efektivitas agen dalam memahami kebutuhan pelanggan, memberikan solusi yang tepat, serta memanfaatkan informasi dan teknologi yang tersedia. Semakin tinggi tingkat FCR, semakin kecil kemungkinan pelanggan harus menghubungi perusahaan kembali untuk masalah yang sama.
Dalam praktiknya, FCR juga memiliki hubungan dengan berbagai KPI contact center lainnya, seperti Customer Satisfaction Score (CSAT), Average Handling Time (AHT), dan Net Promoter Score (NPS). Contact center dengan FCR yang tinggi umumnya juga memiliki tingkat kepuasan pelanggan yang lebih baik karena masalah dapat diselesaikan secara cepat dan efektif.
FCR memberikan manfaat yang signifikan bagi pelanggan maupun perusahaan. Dari sisi pelanggan, penyelesaian masalah pada kontak pertama menciptakan pengalaman layanan yang lebih nyaman karena mereka tidak perlu mengulang penjelasan atau menunggu tindak lanjut yang memakan waktu. Sementara bagi perusahaan, FCR membantu meningkatkan efisiensi operasional. Ketika lebih banyak kasus dapat diselesaikan dalam satu interaksi, jumlah panggilan berulang (repeat call) akan berkurang sehingga beban kerja agen menjadi lebih ringan.
Selain itu, FCR yang tinggi juga membantu mengurangi biaya operasional contact center. Semakin sedikit interaksi lanjutan yang diperlukan, semakin rendah pula penggunaan sumber daya seperti waktu agen, infrastruktur telekomunikasi, maupun biaya operasional lainnya.
Dari sisi bisnis, pengalaman layanan yang baik akan meningkatkan loyalitas pelanggan. Pelanggan cenderung lebih percaya kepada perusahaan yang mampu memberikan solusi secara cepat dan akurat. Dalam jangka panjang, hal tersebut juga berkontribusi terhadap reputasi customer service yang lebih baik.
Baca Juga: Contact Center Automation: Wujudkan Customer Service EfisienUntuk mengetahui efektivitas layanan pelanggan, perusahaan perlu mengukur tingkat FCR secara berkala. Nilai FCR menunjukkan persentase kasus yang berhasil diselesaikan pada kontak pertama dibandingkan dengan total kasus yang diterima.
Rumus FCR call center adalah sebagai berikut:
FCR = (Jumlah kasus yang selesai pada kontak pertama ÷ Total kasus yang diterima) × 100%
Sebagai contoh, apabila sebuah contact center menerima 1.000 permintaan pelanggan dalam satu bulan dan sebanyak 800 di antaranya berhasil diselesaikan pada interaksi pertama, maka nilai FCR yang diperoleh adalah:
FCR = (800 ÷ 1.000) × 100% = 80%
Semakin tinggi nilai FCR, semakin baik kemampuan customer service dalam menyelesaikan masalah pelanggan. Meskipun tidak terdapat standar yang berlaku untuk semua industri, banyak perusahaan menjadikan kisaran 70% hingga 80% sebagai angka ideal. Angka ideal tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kompleksitas layanan dan jenis bisnis yang dijalankan.
Keberhasilan FCR dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kemampuan agen hingga dukungan teknologi yang digunakan perusahaan. Berikut ini masing-masing penjelasannya:
Agen yang memiliki pengetahuan produk yang baik, kemampuan komunikasi yang efektif, dan keterampilan problem solving akan lebih mudah memberikan solusi yang tepat pada kontak pertama.
Ketika agen dapat melihat riwayat interaksi, status transaksi, atau informasi akun melalui sistem CRM yang terintegrasi, proses penyelesaian masalah menjadi lebih cepat dan akurat.
Dokumentasi prosedur, panduan produk, dan solusi atas masalah yang sering muncul membantu agen menemukan jawaban secara lebih efisien.
Fitur seperti intelligent routing, AI, otomatisasi proses, dan integrasi berbagai sistem membantu agen memperoleh informasi yang dibutuhkan tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.
Kasus yang melibatkan banyak divisi atau membutuhkan investigasi lanjutan tentu lebih sulit diselesaikan dalam satu kali interaksi dibandingkan pertanyaan yang bersifat sederhana.
Dukungan dari tim teknis, operasional, maupun departemen lain membantu mempercepat proses penyelesaian ketika diperlukan eskalasi.
Baca Juga: AI Customer Service: Solusi Layanan yang Efisien dan EfektifMeningkatkan FCR memerlukan kombinasi antara pengembangan sumber daya manusia, penyempurnaan proses kerja, dan pemanfaatan teknologi yang tepat. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan:
Tingkatkan kompetensi agen melalui pelatihan yang berkelanjutan. Materi pelatihan dapat mencakup pengetahuan produk, teknik komunikasi, keterampilan analisis masalah, serta kemampuan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Perusahaan juga perlu membangun knowledge base yang lengkap dan mudah diakses. Informasi yang tersusun dengan baik membantu agen menemukan jawaban secara cepat sehingga proses pelayanan menjadi lebih efisien.
Integrasi data pelanggan melalui sistem CRM juga berperan penting. Dengan informasi pelanggan yang tersedia dalam satu tampilan, agen dapat memahami konteks permasalahan tanpa meminta pelanggan mengulang penjelasan dari awal.
AI Contact Center dapat memberikan rekomendasi respons kepada agen, membuat ringkasan percakapan, mengarahkan pelanggan ke agen yang paling sesuai, hingga mengotomatisasi proses administratif sehingga agen dapat lebih fokus menyelesaikan kebutuhan pelanggan.
Evaluasi terhadap percakapan agen membantu mengidentifikasi penyebab rendahnya FCR sekaligus menjadi dasar perbaikan layanan.
Seluruh KPI customer service, termasuk FCR, perlu dipantau secara konsisten. Evaluasi yang berkelanjutan membantu perusahaan mengukur efektivitas strategi yang diterapkan sekaligus menemukan peluang peningkatan kualitas layanan di masa mendatang.
Meningkatkan FCR membutuhkan dukungan teknologi yang membantu agen memperoleh informasi secara cepat, memberikan rekomendasi solusi yang relevan, dan menyelesaikan kebutuhan pelanggan secara lebih efisien. Dengan pemanfaatan AI yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas agen sekaligus menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik.
Phintraco Technology menghadirkan solusi AI Contact Center yang dapat membantu perusahaan Anda meningkatkan produktivitas agen melalui otomatisasi, rekomendasi berbasis AI, akses informasi yang lebih cepat, serta analitik yang mendukung pengambilan keputusan. Dengan dukungan teknologi tersebut, perusahaan Anda dapat meningkatkan First Call Resolution, mengurangi interaksi berulang, meningkatkan efisiensi operasional, dan memberikan layanan pelanggan yang lebih konsisten.
Untuk informasi selengkapnya hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila