Blog

Downtime: Definisi, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
04 Oct 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Downtime: Definisi, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Keandalan dan ketersediaan sistem kini merupakan tulang punggung bagi keberlangsungan bisnis modern. Hal ini karena sebagian besar bisnis telah mengandalkan teknologi digital dalam menjalankan proses bisnis mereka. Oleh karena itu, setiap perusahaan berupaya untuk memaksimalkan uptime dan meminimalkan downtime untuk memastikan ketersediaan sistem tersebut.

Downtime server adalah kondisi yang dihindari karena bukan hanya sekadar masalah teknis, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada produktivitas dan keberlangsungan proses bisnis perusahaan. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai jenis sistem mulai dari website, jaringan, aplikasi, hingga server. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memahami penyebab dan cara mengatasinya agar kinerja bisnis tetap berjalan secara optimal. Artikel ini akan membahas tentang downtime secara menyeluruh mulai dari definisinya, apa saja penyebabnya, apa saja dampaknya bagi perusahaan, bagaimana cara menghitungnya, serta bagaimana cara mencegahnya. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Downtime?

Downtime adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada periode waktu tertentu ketika sistem, perangkat, atau layanan aplikasi tidak tersedia dan tidak aktif, biasa disebut juga sebagai masa padam. Selama periode waktu ini, pengguna tidak dapat mengakses data, layanan, atau aplikasi yang biasanya tersedia. Tentu hal ini dapat berdampak negatif pada produktivitas proses bisnis perusahaan dan kepuasan pelanggan.

Masa padam ini dapat berdampak sangat besar seperti kerugian finansial bagi perusahaan, meskipun hanya terjadi selama beberapa menit. Hal ini juga dapat berdampak pada reputasi perusahaan jika terus terjadi dalam jangka waktu panjang.

Terdapat dua jenis downtime, yaitu terencana dan tidak terencana. Downtime yang terencana merupakan kondisi pemadaman sistem yang direncanakan. Pemadaman ini dilakukan dengan sengaja biasanya dengan tujuan perawatan atau maintenance server. Masa padam jenis ini juga bisa diminimalisir dampaknya karena pengguna dapat diberitahu terlebih dahulu sebelum pemadaman dilakukan.

Sementara itu, pemadaman yang tidak terencana adalah gangguan tidak terduga yang membuat sistem atau layanan menjadi tidak tersedia. Kegagalan ini umumnya terjadi karena beberapa faktor seperti serangan siber, bencana alam, dan lain sebagainya.

Apa Saja Penyebab Server Downtime?

Terdapat beberapa penyebab downtime server baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Berikut ini adalah beberapa penyebab sistem padam yang paling umum ditemukan:

Serangan Siber (Cyber Attack)

Serangan siber merupakan salah satu faktor penyebab padamnya sistem yang paling umum. Penyerangan biasanya dilakukan secara sengaja oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melumpuhkan sistem server. Jenis-jenis serangan ini dapat berupa distributed denial of service (DDoS), SQL injection, malware, phishing, dan lain sebagainya.

Human Error

Tidak jarang terjadi kesalahan-kesalahan manusia yang disebabkan oleh kelalaian dalam mengoperasikan server dapat menyebabkan padamnya sistem. Kesalahan seperti miskonfigurasi, penghapusan data tidak sengaja, serta kesalahan dalam pemrograman dapat menjadi penyebab dari downtime.

Bug

Bug merupakan kesalahan dalam penulisan kode program yang menyebabkan sebuah aplikasi atau sistem tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kesalahan ini juga bisa berupa ketidak sesuaian antara komponen sistem. Sistem dapat mengalami crash, data corrupt, serta gangguan pada layanan atau downtime.

Hardware Failure

Kerusakan pada perangkat keras yang digunakan di sistem server juga dapat menyebabkan pemadaman. Contoh kerusakan tersebut antara lain kerusakan hard disk, RAM, power supply, motherboard, dan lain-lain.

Network Failure

Putusnya kabel jaringan, gangguan router, atau serangan DDoS pada jaringan dapat menyebabkan network failure yang bisa berujung pada downtime. Hal ini juga dapat menyebabkan kecepatan akses sistem menjadi lambat dan terputus-putus.

Bencana Alam

Peristiwa bencana seperti gempa bumi, banjir, kebakaran, atau badai dapat menyebabkan kerusakan pada infrastruktur fisik yang mendukung server. Oleh karena itu, bencana juga merupakan salah satu penyebab dari masa padam server.

Overload

Overload merupakan kondisi di mana server menerima beban kerja (workload) yang lebih besar dari kapasitasnya. Hal ini dapat terjadi dalam bentuk lonjakan traffic, aplikasi yang tidak efisien, hingga konfigurasi server yang tidak optimal. Hal ini juga dapat menyebabkan layanan tidak responsif bahkan crash.

Apa Saja Dampak dari Downtime bagi Perusahaan?

Padamnya sistem dan server tentu memiliki dampak negatif signifikan bagi bisnis yang mengandalkan teknologi digital dalam proses bisnisnya. Berikut ini adalah beberapa dampak utamanya:

Kerugian Finansial

Padamnya sistem dapat menyebabkan kerugian finansial bagi perusahaan karena kehilangan pendapatan dan proses pemulihan setelahnya yang dapat memakan biaya yang besar.

Hambatan Operasional

Produktivitas perusahaan bisa terganggu dan terhambat dengan adanya masa padam sistem. Hal ini secara tidak langsung memperlambat proses bisnis. Jika perusahaan tidak memiliki sistem backup, maka data dan informasi penting pun berpotensi untuk hilang ketika downtime.

Kehilangan Kepercayaan Pelanggan

Jika perusahaan sering mengalami gagal sistem, maka dampak paling utama adalah ketidakpuasan dan kehilangan kepercayaan pelanggan. Hal ini dapat mendorong pelanggan untuk mencari alternatif lain dibandingkan produk perusahaan tersebut.

Bagaimana Cara Menghitung Downtime?

Ketika perusahaan mengalami downtime, artinya terdapat dampak yang dirasakan perusahaan selama pemadaman itu terjadi. Perusahaan bisa menghitung proses tersebut untuk mengevaluasi kinerja dan keandalan sistem sekaligus menghitung dampak finansial dari padamnya sistem tersebut.

Cara menghitungnya adalah dengan mengidentifikasi area bisnis apa yang menghasilkan pendapatan secara langsung. Setelah itu, hitunglah pendapatan per jam dengan rumus (pendapatan rata-rata mingguan/40 jam) atau (pendapatan rata-rata bulanan/30 hari). Hitunglah berapa persentase ketergantungan dari area bisnis tersebut pada ketersediaan sistem. Jika terjadi padam sistem, maka hitung pendapatan yang hilang per jam untuk area bisnis tersebut.

Bagaimana Cara Mencegah Downtime pada Cloud Computation?

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah downtime pada sebuah cloud computation. Berikut ini adalah cara-cara dan penjelasannya:

Gunakan Infrastruktur yang Tangguh

Gunakanlah arsitektur yang kuat dengan load balancing agar beban kerja dapat terdistribusi secara merata ke beberapa server sehingga menghindari terjadinya overload. Fitur autoscaling juga dapat digunakan untuk menyesuaikan komputasi secara otomatis dengan kebutuhan.

Siapkan Backup Reguler dan Recovery Plan

Backup data secara teratur dan buatlah rencana pemulihan bencana (disaster recovery) untuk memulihkan layanan secara cepat setelah sistem padam.

Monitoring dan Alerting Rutin

Pemantauan dan konfigurasi sistem alerting harus tetap dilakukan secara terus-menerus untuk bisa mendeteksi sejak dini jika ada potensi masalah.

Gunakan Sistem Keamanan

Terapkanlah patch keamanan terbaru untuk menutup celah keamanan yang ada. Gunakan juga firewall dan enkripsi untuk melindungi infrastruktur cloud dan data dari akses tidak sah.

Memilih Penyedia Cloud yang Terpercaya

Terakhir, pilihlah penyedia cloud yang terpercaya dan andal dalam menyediakan layanannya. Pastikan juga penyedia cloud memiliki infrastruktur cloud yang memadai dan memiliki redundansi tinggi.

Hindari Dampak dari Downtime dengan Cloud Solution Terpercaya dari Phintraco Technology!

Downtime dapat berdampak signifikan secara negatif untuk proses bisnis dan finansial perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus bisa mengurangi downtime dengan memilih penyedia solusi cloud yang terpercaya.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang telah berpengalaman menyediakan solusi IT terbaik, salah satunya adalah cloud solution. Platform cloud dari Phintraco Technology memiliki infrastruktur yang redundan untuk memastikan sistem dengan ketersediaan, efisiensi, dan skalabilitas yang tinggi.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya terkait cloud solutions dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Cloud Storage: Solusi Penyimpanan Aset Digital
03 Oct 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Cloud Storage: Solusi Penyimpanan Aset Digital

Perkembangan teknologi kini mendorong semakin banyaknya informasi yang dihasilkan setiap hari. Informasi atau data kini telah menjadi salah satu aset berharga bagi individu atau perusahaan. Oleh karena itu, kebutuhan akan penyimpanan dan pengelolaan data yang efisien pun semakin meningkat. Solusi yang kini banyak digunakan adalah cloud storage atau penyimpanan berbasis cloud.

Ketika perusahaan menggunakan teknologi cloud storage, artinya perusahaan berupaya mengatasi tantangan penyimpanan data yang terus berkembang sekaligus memastikan data mereka aman dan terorganisasi dengan baik. Artikel ini akan membahas berbagai hal tentang penyimpanan cloud mulai dari definisinya, alasan mengapa perusahaan harus menggunakan teknologi ini, bagaimana cara kerjanya, apa saja jenis layanannya, serta kelebihan yang ditawarkan untuk bisnis. Simak artikel ini untuk informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Cloud Storage?

Cloud storage adalah sebuah model layanan untuk mentransmisikan dan menyimpan data di sebuah sistem penyimpanan jarak jauh. Data-data tersebut disimpan, dikelola, di-backup, dan disediakan untuk pengguna melalui jaringan internet. Singkatnya, cloud storage adalah layanan penyimpanan file dan data di internet yang disediakan oleh perusahaan penyedia layanan cloud computing. Hal ini membuat pengguna dapat mengakses data tersebut di mana saja selama ada koneksi internet.

Pengguna biasanya akan membayar untuk layanan penyimpanan cloud ini dengan tarif bulanan atau tahunan. Solusi penyimpanan ini didasarkan pada penyimpanan infrastruktur yang berbasis virtualisasi dengan interface yang dapat diakses. Selain itu, solusi ini juga memiliki fleksibilitas dan skalabilitas yang tinggi dengan sumber daya yang terukur.

Data-data yang tersimpan dalam cloud dikelola pada server penyimpanan yang berbeda, dan terletak di lokasi atau pusat data yang dikelola oleh penyedia cloud pihak ketiga. Perusahaan penyedia layanan cloud bertugas mengelola jaringan, server, dan infrastruktur terkait untuk memastikan data pelanggan tersimpan dengan aman dan dapat diakses dengan mudah.

Baca Juga: Data Storage Adalah Kunci Optimalkan Aksesibilitas Data

Mengapa Perusahaan Perlu Menggunakan Cloud Storage?

Terdapat beberapa faktor dan alasan pendukung untuk perusahaan agar menggunakan layanan penyimpanan cloud. Salah satu faktor utamanya adalah pertumbuhan data yang eksponensial. Semakin banyaknya data yang dihasilkan dari berbagai sumber seperti IoT dan Big Data membuat kapasitas storage lokal tidak lagi mampu untuk menampungnya. Hal inilah yang dapat diatasi dengan menggunakan penyimpanan cloud yang lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan bisnis yang dinamis.

Selain itu, terdapat juga faktor keterbatasan infrastruktur IT. Membangun dan memelihara infrastruktur untuk menyimpan data membutuhkan investasi dan biaya yang tinggi. Investasi tersebut umumnya berupa perangkat keras, perangkat lunak, dan tenaga ahli. Infrastruktur storage internal juga membutuhkan keahlian khusus dan waktu yang signifikan.

Faktor lainnya adalah dari segi pencegahan kehilangan data. Dalam infrastruktur lokal, kegagalan pada perangkat keras, bencana alam, atau human error dapat menyebabkan kehilangan data yang berharga. Layanan penyimpanan berbasis cloud umumnya memiliki mekanisme backup dan recovery data yang andal.

Keadaan pasca pandemi juga mendorong banyak perusahaan untuk menjalankan skema kerja hybrid atau work from home (WFH) yang membuat karyawan perlu mengakses data dari mana saja. Layanan penyimpanan data cloud juga dapat menjadi solusi dari kebutuhan tersebut.

Bagaimana Cara Kerja Cloud Storage?

Terdapat beberapa konsep dasar dalam cara kerja penyimpanan di cloud yang memungkinkan pengguna untuk mengakses data dari mana saja lewat koneksi internet. Pengguna mengunggah file atau data ke platform cloud melalui aplikasi atau website yang disediakan oleh penyedia layanan. Setiap pengguna akan mendapatkan alokasi ruang penyimpanan virtual dengan proses virtualisasi yang terisolasi dari pengguna lain.

Potongan-potongan data akan diduplikasi dan disimpan di berbagai server yang berbeda. Server-server tersebut ditempatkan di sebuah data center yang dilengkapi dengan sistem pendingin, sumber listrik, serta sistem keamanan.

Ketika pengguna ingin membuka atau mengakses data, mereka akan mengirimkan permintaan ke server. Kemudian server akan mengirimkan data yang diminta pengguna lewat koneksi internet. Redundansi atau pembagian data ke berbagai server berguna jika salah satu server mengalami gangguan, server lain akan mengambil alih untuk memenuhi permintaan pengguna. Hal ini mendukung ketersediaan data yang tinggi.

Proses ini didukung oleh teknologi virtualisasi yang memungkinkan satu server fisik untuk mengoperasikan banyak operation system (virtual machine) di saat yang bersamaan. Setiap VM ini berfungsi sebagai server independen yang menjalankan aplikasi dan layanan tertentu. Hal ini memungkinkan penyedia cloud untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya server dan memberikan layanan ke banyak pengguna secara efisien.

Baca Juga: Virtualisasi Adalah Masa Depan Infrastruktur IT yang Efisien

Apa Saja Jenis Layanan Cloud Storage?

Secara umum, terdapat tiga jenis layanan penyimpanan di cloud, yaitu cloud publik, privat, dan hybrid. Berikut ini adalah masing-masing penjelasannya:

Public Cloud

Public cloud adalah jenis layanan penyimpanan yang menyediakan lingkungan penyimpanan yang dapat digunakan oleh lebih dari satu penyewa (multi-tenant). Jenis layanan ini sesuai untuk data yang tidak terstruktur dan dijalankan dengan basis langganan (subscription). Data disimpan di data center penyedia layanan yang tersebar di berbagai wilayah.

Private Cloud

Cloud pribadi merupakan layanan penyimpanan internal yang digunakan sebagai lingkungan khusus yang dilindungi oleh firewall. Penyimpanan cloud pribadi ini memiliki hosting internal yang meniru fitur layanan cloud publik. Jenis layanan ini cocok untuk pengguna yang memerlukan penyesuaian dan kontrol lebih besar atas data mereka atau pengguna yang memiliki regulasi keamanan data yang ketat.

Hybrid Cloud

Hybrid cloud merupakan opsi layanan penyimpanan yang menggabungkan antara penyimpanan cloud publik dan pribadi. Layanan ini memiliki lapisan manajemen orkestrasi untuk mengintegrasikan kedua jenis platform tersebut secara operasional. Model hybrid ini memiliki fleksibilitas dan opsi yang lebih banyak untuk penyebarandata. Perusahaan dapat menyimpan data yang digunakan secara aktif di cloud pribadi, sementara data tidak terstruktur dan arsip disimpan di cloud publik. Lingkungan hybrid ini juga lebih bisa menangani lonjakan permintaan musiman atau yang tidak terduga dalam pembuatan atau akses data.

Apa Saja Kelebihan Cloud Storage untuk Bisnis?

Cloud storage memiliki sejumlah kelebihan yang dapat menguntungkan perusahaan dalam hal mengelola data dan informasi penting. Berikut ini penjelasannya:

Fleksibilitas dan Skalabilitas Tinggi

Kapasitas penyimpanan cloud yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan menawarkan fleksibilitas tinggi untuk perusahaan. Selain itu, perkembangan jumlah data yang diproduksi juga tidak menjadi masalah karena penyimpanan cloud dapat diskalakan dengan lebih mudah.

Integrasi dengan Virtual Machine

Penyimpanan cloud dapat dengan mudah diintegrasikan dengan virtual machine untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya komputasi. Data-data yang disimpan di cloud yang terintegrasi dengan VM dapat dengan mudah dipindahkan ke VM atau storage lainnya.

Keamanan Data

Sebagian besar penyedia cloud memiliki fitur enkripsi data untuk melindungi data sensitif milik pengguna dari akses yang tidak sah. Fitur ini memastikan ketersediaan tinggi meskipun salah satu server mengalami gangguan.

Backup Otomatis

Penyimpanan cloud umumnya memiliki backup otomatis secara berkala untuk memastikan pengguna memiliki salinan data terbaru. Backup otomatis merupakan komponen penting dalam strategi pemulihan bencana (disaster recovery).

Beralihlah ke Penyimpanan Data yang Lebih Aman dan Efisien dengan Cloud Storage Solution dari Phintraco Technology!

Perkembangan produksi data yang meningkat pesat merupakan tanda bagi perusahaan untuk beralih ke penyimpanan cloud. Perusahaan harus menggunakan penyedia layanan cloud storage yang mumpuni dan aman.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solution yang telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam menyediakan solusi IT terbaik, salah satunya adalah cloud storage. Solusi cloud dari Phintraco Technology dapat diintegrasikan dengan virtual machine dan dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan seperti backup otomatis, enkripsi, serta perpindahan data yang mudah.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi cloud storage dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Service Level Objective: Sasaran Terukur untuk Microservices
26 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Service Level Objective: Sasaran Terukur untuk Microservices

Aplikasi dengan model arsitektur microservices kini menjadi pilihan untuk banyak perusahaan karena dapat menghasilkan aplikasi serbaguna yang terdiri dari banyak layanan kecil yang independen dan dapat diskalakan. Model aplikasi ini menjadi pilihan karena perusahaan harus selalu berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan dan harapan pelanggan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan target terukur untuk mengelola keandalan dan kinerja layanan aplikasi ini, salah satu caranya adalah dengan menerapkan service level objective atau SLO.

SLO dapat digunakan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan selalu konsisten dan memenuhi harapan pelanggan. Metode ini dapat mengukur kinerja layanan dalam berbagai aspek. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang service level objective mulai dari definisi,  faktor mengapa SLO itu penting, bagaimana cara kerjanya, bagaimana cara-cara terbaik menerapkan SLO, serta apa saja manfaat SLO untuk perusahaan dalam mengembangkan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Service Level Objective?

Service level objective (SLO) adalah bagian dari service level agreement (SLA) yang merupakan dokumentasi key performance indicator (KPI) yang diharapkan oleh pelanggan dari pihak penyedia layanan. Selain menyajikan detail tentang layanan-layanan,

SLA sendiri merupakan kontrak yang ditandatangani antara vendor dan pelanggan yang bertujuan untuk menjamin tingkat layanan tertentu yang terukur. SLO juga digunakan untuk menentukan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terjadi jika SLO tersebut tidak tercapai.

Secara umum, service level objective adalah sasaran terukur yang harus dipenuhi untuk memastikan kinerja layanan yang responsif dan stabil. SLO umumnya diukur menggunakan service level indicator (SLI) yang terdiri dari waktu respons, tingkat kesalahan, dan ketersediaan. Hal-hal tersebut merupakan metrik terukur yang didokumentasikan pada para pemangku kepentingan untuk memberikan akuntabilitas, menghasilkan kualitas layanan yang konsisten, serta menunjukkan komitmen yang berkelanjutan.

Beberapa contoh SLO yang umum antara lain adalah 95% dari interaksi harus memiliki waktu respons tidak lebih dari 200 millisecond, tingkat error tidak boleh lebih dari 0,5% dari total permintaan, serta layanan harus tersedia 99% dari waktu total.

Hal inilah yang dapat membantu perusahaan dalam mengukur dan menentukan target kinerja layanan untuk memastikan layanan yang diberikan perusahaan selalu konsisten dan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Mengapa Service Level Objective itu Penting?

Terdapat beberapa faktor utama mengapa service level objective menjadi sangat penting bagi perusahaan, khususnya untuk tim developer dalam memastikan kualitas layanan aplikasi. Alasan pertama mengapa SLO penting adalah karena metode ini dapat membantu meningkatkan kualitas perangkat lunak. Hal ini dapat dicapai dengan cara menentukan tingkat downtime yang dapat diterima untuk sebuah layanan. SLO juga dapat menyoroti masalah yang bukan insiden besar tapi tidak memenuhi target. Penggunaan SLO dapat membantu perusahaan untuk menyeimbangkan antara inovasi (yang berpotensi menyebabkan downtime) serta memastikan ketersediaan layanan.

Menerapkan SLO juga dapat membantu tim DevOps dan tim infrastruktur untuk menggunakan data dan ekspektasi kinerja untuk mengambil keputusan penting di kemudian hari. Keputusan-keputusan tersebut antara lain seperti kapan waktu perilisan aplikasi serta di area mana tim teknisi memfokuskan kinerja mereka.

SLO yang dirancang dengan baik dapat membuka jalan bagi tim developer untuk mengotomatisasikan proses-proses pengembangan dan penguji dalam software development life cycle (SDLC). Tim pengembangan dapat mengatur otomatisasi untuk memantau dan mengukur indikator SLO sekaligus mendapatkan peringatan jika salah satu indikator tidak terpenuhi. Hal ini memungkinkan tim untuk mendeteksi masalah bahkan sebelum syarat SLO tidak terpenuhi atau dilanggar.

Bagaimana Cara Kerja SLO?

Perangkat lunak berbasis cloud memiliki alat dan infrastruktur pendukung yang menghasilkan berbagai metrik serta titik data setiap detiknya. Metrik dan data tersebut berfungsi untuk menunjukkan status dan kinerja sistem.

Service level objective bekerja dengan cara mendefinisikan atau mendukung serangkaian target bisnis di tingkat yang lebih tinggi. Target-target tersebut tentu harus yang dapat diukur dengan memanfaatkan data dan wawasan dari alat bantu pengamatan (observability tools).

Tujuan utama dari SLO adalah untuk memberikan layanan yang lebih andal, tangguh, serta responsif dalam rangka memenuhi bahkan melampaui harapan pengguna. Reliability dan responsiveness adalah dua metrik yang biasanya diukur dalam digit angka sembilan hingga batas 100%. Contohnya mulai dari 90%, 99%, 99,9%, 99,99%, dan 99,999%. Semakin banyak desimal yang mendekati 100 maka semakin besar biaya dan kompleksitas untuk mencapainya.

Menentukan SLO membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik tengah antara kesempurnaan secara statistik serta tujuan yang masih realistis.

Bagaimana Cara Terbaik untuk Menerapkan SLO?

Terdapat beberapa cara dan tips untuk menerapkan SLO secara optimal. Berikut ini adalah cara-cara serta penjelasannya:

Jangan Tetapkan SLO Terlalu Banyak

Tentukan SLO yang mendukung SLA dan tujuan bisnis. Hindari menentukan terlalu banyak SLO yang tidak mendukung tujuan bisnis yang lebih luas.

Tetapkan Target Secara Realistis

Target yang ditentukan harus mewakili kinerja layanan secara akurat. Hindari menentukan target SLO yang terlalu rendah dan terlalu tinggi.

Sesuaikan dengan Bisnis

Tim teknis dan para pemangku kepentingan harus bekerja sama dan menyelaraskan ekspektasi terkait target SLO. Hal ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi SLA kepada pelanggan.

Prioritaskan SLO untuk Pelanggan Khusus

Perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin dengan memprioritaskan SLO dengan standar yang lebih tinggi untuk pelanggan yang berbayar atau berlangganan dibanding yang tidak.

Otomatisasikan Evaluasi SLO

Perusahaan dapat melakukan otomatisasi evaluasi SLO dengan platform yang tepat agar tidak memperlambat analisis akar masalah.

Apa Saja Manfaat Service Level Objective untuk Perusahaan?

Terdapat beberapa manfaat utama penerapan SLO bagi perusahaan secara umum. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya:

Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Perusahaan dapat memastikan layanan yang diberikan pada pelanggan selalu konsisten sesuai dengan harapan. Hal ini tutur meningkatkan kepuasan pelanggan.

Meningkatkan Keandalan Layanan

Service level objective dapat membantu perusahaan mengukur kinerja aplikasi dan sistem dari berbagai aspek, sehingga dapat meningkatkan keandalan layanan.

Meningkatkan Komunikasi antar Pihak

Penerapan SLO juga dapat mendorong komunikasi antara berbagai pihak di perusahaan mulai dari tim developer, tim operasional, tim bisnis, hingga pemangku kepentingan (stakeholder)

Tentukan SLO Aplikasi Anda secara Mudah dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!

Salah satu cara untuk bisa menerapkan SLO secara optimal adalah dengan mengotomatisasikan berbagai proses evaluasinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan platform yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform DevOps terbaik untuk membantu Anda mengevaluasi SLO. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology dapat mengidentifikasi SLI yang relevan dan mampu mengukur kinerja aplikasi secara terus-menerus.

Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi selengkapnya terkait platform DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Microservices: Aplikasi Fungsional dengan Banyak Layanan
25 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Microservices: Aplikasi Fungsional dengan Banyak Layanan

Aplikasi dan perangkat lunak kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari dengan perkembangan teknologi yang  semakin pesat. Berbagai kegiatan dan layanan di berbagai bidang kini telah dilakukan melalui aplikasi atau platform digital. Oleh karena itu, diciptakanlah aplikasi yang dapat diskalakan dan praktis untuk bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut. Dalam dunia pengembangan aplikasi atau software development, aplikasi microservices telah menjadi solusi utama dalam menyediakan aplikasi yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan pengguna secara praktis.

Aplikasi microservice merupakan aplikasi yang dirancang dengan pendekatan yang cukup berbeda dari pengembangan aplikasi tradisional. Berbagai layanan dapat diintegrasikan secara lebih responsif dan fleksibel ke dalam aplikasi lewat pengembangan ini. Oleh karena itu, arsitektur microservice kini telah menjadi standar de facto dalam dunia pengembangan perangkat lunak modern. Artikel ini akan membahas aplikasi microservices dan arsitekturnya secara lengkap mulai dari definisi, perbedaannya dengan monolith architecture, apa saja ciri-cirinya, kaitannya dengan pengembangan DevOps, serta manfaatnya dalam pengembangan aplikasi untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Microservices?

Microservices adalah sebuah unit perangkat lunak yang kecil, fleksibel, serta modular yang dapat diintegrasikan dengan layanan-layanan lain untuk menciptakan sebuah aplikasi yang lengkap dan serbaguna. Aplikasi sendiri merupakan kumpulan layanan independen yang dapat bekerja sama untuk menjalankan sebuah fungsi bisnis. Arsitektur microservice merujuk pada metode penataan, pengembangan, serta pengoperasian perangkat lunak yang terdiri dari kumpulan layanan independen yang lebih kecil.

Pendekatan microservice dalam pengembangan aplikasi memungkinkan tim DevOps untuk membagi berbagai layanan menjadi application programming interface (API). API ini kemudian dapat menghubungkan berbagai layanan dengan sebuah fungsionalitas inti yang memungkinkan aplikasi untuk berbagi komunikasi dan bertukar data. Masing-masing layanan dapat dikembangkan, diuji, dan dipasang secara terpisah. Hal ini memungkinkan tim pengembang untuk bekerja secara paralel dan mempercepat siklus pengembangan (software development life cycle).

Dalam pengembangan microservices, setiap layanan memiliki peran spesifik dan menggunakan teknologi yang sesuai untuk menjalankan peran tersebut. Hal ini dapat memberikan fleksibilitas lebih untuk tim developer dalam memilih alat dan teknologi yang efektif untuk setiap bagian aplikasi. Selain itu, setiap layanan dapat diskalakan secara independen sesuai kebutuhan tanpa harus mempengaruhi keseluruhan sistem dalam aplikasi.

Monolith vs Microservices Architecture, Apa Perbedaannya?

Arsitektur monolith dan microservice merupakan metode dan struktur pengembangan aplikasi yang berbeda. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara pengembangan dan pengelolaan aplikasi tersebut. Dalam arsitektur monolith, seluruh aplikasi dikembangkan sebagai satu kesatuan yang besar. Tim developer menggunakan satu kode dasar untuk membangun dan mengintegrasikan semua komponen mulai dari user interface (UI) hingga logika bisnis. Sementara itu, arsitektur microservice membagi aplikasi menjadi beberapa layanan kecil yang berfungsi secara independen dan dapat dikelola secara terpisah.

Pengembangan arsitektur monolith yang dijalankan sebagai satu kesatuan membuat pengembangannya lebih sederhana di tahap awal. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya aplikasi, sedikit perubahan dapat mempengaruhi banyak bagian dari sistem. Sebaliknya, arsitektur microservice  dapat diskalakan dan dikembangkan tanpa harus mengubah keseluruhan sistem. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa ketika terjadi kegagalan pada satu titik, maka keseluruhan sistem aplikasi monolith akan terdampak. Sementara itu, kegagalan dalam satu titik di aplikasi microservice akan terisolasi dan dapat diperbaiki secara terfokus.

Apa Saja Ciri-ciri Microservices?

Pengembangan microservice merupakan jawaban dan solusi atas beberapa kelemahan dan hambatan yang biasa dihadapi dalam mengembangkan aplikasi monolith, mulai dari repositori kode yang besar, ketahanan aplikasi dari kegagalan, dan kompleksitas yang membatasi skalabilitas. Oleh karena itu, terdapat beberapa ciri-ciri dan karakteristik utama dari microservice dan desainnya, berikut ini adalah penjelasannya:

Independen

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, setiap layanan dan aplikasi dalam arsitektur layanan mikro merupakan komponen yang independen. Setiap komponen ini dapat berjalan sebagai layanannya sendiri dalam proses aplikasi. Hal ini dapat meringankan beban aplikasi dengan mengkomunikasikan berbagai layanan lewat API.

Otonom

Arsitektur microservice lebih otonom terutama dalam menerapkan sistem otomatisasi dibandingkan arsitektur monolith. Perusahaan dapat mengembangkan, memperbarui, dan menskalakan setiap komponen layanan tanpa mempengaruhi layanan lain. Tim developer tidak perlu berbagi kode atau implementasi apa pun dengan layanan lain karena komunikasi antar komponen terjadi melalui API yang terdefinisi dengan baik.

Terspesialisasi

Penggunaan layanan mikro dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mendefinisikan setiap fungsi dalam aplikasi secara rinci. Setiap layanan dalam aplikasi memiliki spesialisasi untuk kemampuan tertentu, sehingga tim developer dapat membuat layanan yang berfokus pada masalah-masalah tertentu yang lebih spesifik.

Apa Kaitan antara Microservices dan DevOps?

Arsitektur layanan mikro memiliki kaitan erat dengan praktik pengembangan DevOps. DevOps sendiri merupakan pendekatan kolaboratif antara tim developer dan tim operasional agar bisa mempercepat siklus pengembangan perangkat lunak lewat otomatisasi dan integrasi berkelanjutan. Banyak developer menganggap bahwa arsitektur layanan mikro memang secara langsung diterapkan untuk mengoptimalkan DevOps dan CI/CD (continuous integration/continuous delivery).

Pendekatan DevOps dapat memungkinkan tim untuk melakukan integrasi dan pengujian aplikasi layanan mikro secara berkelanjutan dengan lebih efektif. Setiap layanan microservice juga dapat diuji secara independen sebelum diintegrasikan ke dalam aplikasi secara keseluruhan. Tanpa DevOps, arsitektur layanan mikro mungkin akan menghadapi beberapa masalah terkait dengan kompleksitas komponen-komponennya.

Oleh karena itu, praktik DevOps yang terstruktur dapat menjadi solusi penerapan, pemantauan, life cycle management, serta otomatisasi yang lebih baik untuk mendukung arsitektur layanan mikro.

Apa Saja Manfaat Microservices Architecture dalam Pengembangan Aplikasi?

Arsitektur layanan mikro memiliki beberapa manfaat utama dalam pengembangan aplikasi modern. Berikut ini adalah manfaat-manfaat utama serta penjelasannya:

Fleksibilitas Tinggi

Layanan mikro memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi sehingga memungkinkan developer untuk menggunakan lebih banyak gambar, container, serta mesin manajemen yang berbeda. Hal ini memberikan keleluasaan dan opsi konfigurasi yang lebih banyak bagi developer saat membuat aplikasi.

Skalabilitas Tinggi

Aplikasi yang menggunakan arsitektur layanan mikro dapat dikembangkan dan ditambah fitur-fiturnya seiring waktu tanpa harus mengkhawatirkan kondisi keseluruhan sistem. Hal ini karena setiap layanan dalam arsitektur ini bergerak secara independen dan memiliki skalabilitas yang independen pula.

Hemat Sumber Daya

Fitur cluster manager dalam arsitektur layanan mikro membuat arsitektur ini cenderung lebih hemat dalam penggunaan sumber daya, khususnya selama runtime. Hal ini juga turut membantu meringankan beban pengembangan dan beban aplikasi ketika dijalankan.

Risiko Downtime Lebih Rendah

Layanan mikro memiliki risiko downtime yang lebih kecil karena developer tidak perlu melakukan re-deploy untuk keseluruhan aplikasi ketika membuat update untuk layanan tertentu. Codebase layanan yang lebih kecil dapat menyederhanakan pemecahan masalah, sekaligus mempercepat waktu rata-rata untuk mendeteksi masalah (MTTD) dan waktu rata-rata untuk pemulihan (MTTR).

Tingkatkan Observabilitas Microservices Anda dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!

Semakin kompleksnya arsitektur aplikasi microservices membuat perusahaan harus memiliki alat yang dapat meningkatkan observabilitas untuk memantau kinerja dan kesehatan aplikasi serta setiap layanan mikro yang ada. Hal ini penting untuk memastikan pengembangan microservices dapat berjalan dengan optimal.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat membantu Anda meningkatkan observabilitas pengembangan microservices dengan solusi platform DevOps terbaik. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology memiliki fitur-fitur observabilitas yang dapat meningkatkan visibilitas dan pemantauan aplikasi Anda. Dengan dukungan AI, solus ini juga dapat membantu mengimplementasikan pendeteksian dan pengujian secara otomatis untuk mengatasi potensi masalah.

Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi DevOps dari Phintraco Technology!

 Editor: Cardila Ladini

Read  
Cloud Monitoring: Visibilitas Menyeluruh untuk Performa Aplikasi
19 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Cloud Monitoring: Visibilitas Menyeluruh untuk Performa Aplikasi

Lingkungan multicloud kini telah digunakan oleh banyak perusaaan. Ketika menggunakan lingkungan multicloud, penting bagi perusahaan untuk bisa memastikan ketersediaan infrastruktur, performa aplikasi yang tinggi, serta keamanannya. Untuk bisa memastikan aspek-aspek tersebut, teknologi cloud monitoring kini hadir sebagai solusi utama. Semakin meningkatnya kompleksitas teknologi cloud dan big data membuat perusahaan harus memiliki teknologi khusus yang lebih canggih dan praktis untuk memantau lingkungan cloud mereka dibandingkan alat monitoring tradisional.

Perkembangan teknologi ini diiringi dengan derasnya arus perpindahan ke lingkungan multicloud oleh banyak perusahaan saat ini. Berdasarkan survei global dari Dynatrace terhadap 1300 CIO (Chief Information Officer) dan Kepala IT dari berbagai perusahaan, ditemukan 99% perusahaan yang menggunakan lingkungan multicloud kini menggunakan rata-rata 7 alat monitoring untuk memantau infrastruktur mereka. Sebanyak 58% Kepala IT mengatakan bahwa manajemen infrastruktur ini cukup menguras sumber daya perusahaan mereka. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai cloud monitoring mulai dari definisinya, perbedaannya dengan cloud logging, apa saja tipe-tipenya, bagaimana strategi penerapan yang tepat, serta apa saja manfaatnya untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Cloud Monitoring?

Cloud monitoring atau alat pemantau cloud adalah seperangkat solusi dan metode yang digunakan untuk mengamati, mengukur, menganalisis, serta mengelola kesehatan infrastruktur IT berbasis cloud. Solusi atau layanan ini umumnya terintegrasi dengan berbagai layanan lain untuk bisa memberikan informasi dan gambaran lengkap tentang kondisi dan kinerja sistem. Perusahaan dapat menggunakan alat pemantau cloud ini untuk berbagai keperluan mulai dari mengidentifikasi potensi masalah, mengoptimalkan sumber daya, hingga meningkatkan keandalan sistem dan aplikasi.

Pemantauan lingkungan cloud yang berkelanjutan dan didukung dengan otomatisasi dapat memberikan visibilitas yang jelas tentang kinerja dan ketersediaan situs web, file, aplikasi, server, hingga sumber daya jaringan. Visibilitas ini dapat memberikan perusahaan wawasan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang muncul secara real time sebelum masalah tersebut berkembang dan berdampak negatif pada aspek lain, khususnya pada pengalaman digital pengguna (user experience).

Alat pemantauan cloud dapat menghimpun berbagai data dari aplikasi dan sumber daya yang tersebar di saluran terdistribusi untuk bisa mendeteksi anomali, menganalisis akar masalah, memprediksi dan mencegah pelanggaran keamanan, hingga menyajikan berbagai laporan. Laporan ini meliputi metriks (cloud monitoring metrics), kinerja, serta hasil deteksi insiden yang ditampilkan secara visual lewat dashboard.

Cloud Monitoring vs Cloud Logging, Apa Perbedaannya?

Cloud monitoring dan cloud logging merupakan dua istilah yang berbeda namun sering dianggap sebagai layanan yang sama. Pada dasarnya, sistem monitoring dan logging di lingkungan cloud adalah dua kegiatan yang berbeda namun saling melengkapi untuk bisa memastikan kinerja sistem atau aplikasi yang optimal. Perbedaan fundamental dari kedua istilah ini terletak pada fungsi dan fitur utamanya.

Monitoring berfungsi untuk memberikan visibilitas secara real time terkait kesehatan dan kinerja aplikasi, layanan, serta infrastruktur lainnya. Dalam lingkungan cloud, layanan ini digunakan untuk memantau kinerja sistem dan mengidentifikasi masalah sebelum masalah tersebut menyebabkan downtime.

Fitur-fitur utama dari monitoring antara lain adalah mengumpulkan data metriks dari berbagai sumber yang akan ditampilkan secara visual di dashboard, mengelola aturan peringatan berdasarkan kondisi tertentu, serta diintegrasikan dengan layanan ketiga (third-party tools) lain.

Sementara itu, logging berfungsi untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpan log dari berbagai sumber di lingkungan cloud. Layanan ini dapat disebut juga sebagai log management platform yang dapat menyimpan berbagai log pada skala ekabytes.

Kedua layanan tersebut dapat diintegrasikan satu sama lain untuk bisa  mengoptimalkan pemantauan, analisis, serta pemecahan masalah dalam lingkungan cloud.

Apa Saja Tipe-tipe Cloud Monitoring?

Terdapat beberapa tipe dan jenis alat pemantauan cloud berdasarkan aspek yang dipantau beserta tujuannya. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:

Application Performance Monitoring (APM)

Application Performance Monitoring atau APM bertujuan untuk memberikan visibilitas real time terkait status dan performa aplikasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan aplikasi bekerja dengan semestinya dan meminimalisasi error atau bug.

Database Monitoring

Pemantauan database berfungsi untuk memastikan kueri database berjalan dengan baik sekaligus mengidentifikasi masalah terkait hosting. Contohnya adalah pemantauan uptime yang dapat mengidentifikasi ketidakstabilan dan meningkatkan waktu rata-rata untuk pemulihan downtime.

Website Monitoring

Monitoring jenis ini berfungsi untuk memantau proses, traffic, ketersediaan, serta penggunaan sumber daya website yang dijalankan dengan hosting cloud.

Cloud-server Monitoring

Jenis pemantauan ini bertujuan untuk melacak metriks serta informasi tentang CPU server, memori, kesehatan jaringan, serta hosting, kontainer, dan fungsi serverless.

Cloud Storage Monitoring

Pemantauan cloud storage berfungsi untuk melacak sumber daya penyimpanan serta proses yang disediakan untuk berbagai fitur seperti virtual machine, layanan, database, serta aplikasi.

Virtual Machine Monitoring

Virtual Machine atau VM juga dapat dipantau untuk memastikan berbagai aspek seperti penggunaan sumber daya dan kinerja VM yang mendukung sebuah aplikasi.

End-user Experience Monitoring

Selain fitur-fitur teknologi, pengalaman pengguna juga dapat dipantau agar tim developer bisa mengetahui dan mengukur kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan yang diberikan oleh perusahaan, baik dalam bentuk situs web maupun aplikasi.

Unified Monitoring

Unified monitoring adalah platform pemantauan terintegrasi yang dapat memantau seluruh aspek dalam sistem mulai dari infrastruktur fisik, virtual, hingga infrastruktur cloud.

Bagaimana Cara Menerapkan Strategi Cloud Monitoring?

Terdapat beberapa praktik dan strategi terbaik untuk menerapkan alat pemantauan cloud untuk infrastruktur IT yang efektif. Langkah pertama adalah tentukan perangkat atau layanan cloud terbaik untuk kondisi perusahaan Anda. Setelah itu tentukan juga tujuan dan jalur yang jelas menuju kesuksesan perusahaan. Identifikasi metriks kinerja utama yang spesifik untuk tujuan perusahaan yang telah ditentukan.

Selain itu, berikan gambaran lengkap tentang kondisi kesehatan seluruh infrastruktur cloud dan ukur konsumsi sumber daya cloud untuk memastikan sumber daya tersebut dapat diskalakan untuk beradaptasi dengan kebutuhan bisnis. Tetapkan juga baseline untuk mengukur metriks dan pola tersebut dari waktu ke waktu.

Perusahaan juga bisa memprediksi kebutuhan sumber daya dan skala sesuai dengan kebutuhan untuk memantau alur pengguna (user flow) untuk mengukur waktu respons. Selain itu, normalisasi data dari data center dan cloud ke dalam satu platform terintegrasi dan terapkan juga peringatan otomatis jika terdeteksi masalah-masalah.

Apa Saja Manfaat Cloud Monitoring untuk Perusahaan?

Penerapan monitoring dalam lingkungan cloud dapat memberikan sejumlah manfaat bagi perusahaan. Berikut ini adalah manfaat dan penjelasannya:

Meningkatkan Keamanan Aplikasi dan Jaringan Cloud

Identifikasi dan penyelesaian masalah secara real time dapat berperan dalam meningkatkan keamanan aplikasi dan cloud. Fitur peringatan otomatis juga dapat membantu tim IT untuk mengatasi berbagai masalah keamanan.

Mengoptimalkan Ketersediaan dan Kinerja Aplikasi

Pemantauan kesehatan dan kinerja aplikasi dapat membantu perusahaan untuk mengoptimalkan ketersediaan dan kinerja aplikasi, serta meminimalkan downtime.

Memastikan Keberlangsungan Layanan IT

Layanan ini juga dapat memungkinkan rencana keberlangsungan layanan IT yang proaktif yang dapat meningkatkan kemampuan tim IT untuk merespons downtime. Selain itu juga meningkatkan kapasitas untuk mendeteksi, memprediksi, dan mencegah terjadinya insiden tersebut.

Optimalkan Visibilitas Performa Aplikasi Anda dengan Cloud Monitoring dari Phintraco Technology!

Visibilitas dan kemampuan untuk memantau seluruh aspek dari lingkungan multicloud, khususnya dalam pengembangan aplikasi seperti DevOps merupakan kunci kesuksesan utama. Oleh karena itu, perusahaan perlu memilih platform monitoring yang tepat untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform cloud monitoring terintegrasi untuk produk Anda. Solusi monitoring dari Phintraco Technology dilengkapi oleh otomatisasi berkelanjutan berbasis AI. Teknologi ini dapat memberikan observasi secara end-to-end yang diperlukan untuk mengukur dan memvisualisasikan kinerja aplikasi dan jaringan cloud.

Hubungi email marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut terkait solusi cloud monitoring dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Service Mesh: Integrasi Berbagai Layanan Microservices
18 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Service Mesh: Integrasi Berbagai Layanan Microservices

Aplikasi kini semakin berkembang untuk  bisa memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehari-hari. Salah satu bentuk perkembangan aplikasi di zaman modern ini adalah dengan munculnya aplikasi yang dibangun dengan arsitektur microservices. Pendekatan ini dilakukan untuk membuat aplikasi monolitik menjadi terdiri dari beberapa layanan kecil yang independen dengan peran dan fungsi tertentu. Cara untuk bisa mengelola komunikasi dan interaksi antar layanan tersebut adalah service mesh.

Service mesh atau jaringan layanan merupakan solusi bagi developer untuk bisa menyederhanakan dan mengamankan komunikasi antar layanan di lingkungan microservices. Sebagai lapisan infrastruktur khusus yang dirancang untuk menangani interaksi dalam arsitektur microservices, jaringan layanan ini berperan seperti pengelola lalu lintas dan sebagai jaringan virtual. Artikel ini akan membahas service mesh secara lengkap mulai dari apa definisinya, bagaimana cara kerjanya, apa perbedaannya dengan API Gateway, serta apa saja kelebihannya. Simak artikel berikut ini untuk mendapatkan informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Service Mesh?

Service mesh adalah sebuah lapisan infrastruktur khusus yang dirancang ke dalam aplikasi untuk mengatur komunikasi antar layanan dalam arsitektur microservices. Jaringan ini mengontrol segala pengiriman permintaan layanan (service request) ke layanan lainnya. Selain itu, layanan ini juga berperan untuk melakukan penyeimbangan beban, mengenkripsi data, serta menemukan layanan-layanan lainnya.

Sederhananya, jaringan layanan ini merupakan lapisan abstrak yang berada di antara layanan dalam microservices. Selain berfungsi untuk meneruskan lalu lintas permintaan dan respons antar layanan, jaringan ini juga dapat digunakan untuk IT policy seperti autentikasi, otorisasi, dan enkripsi.

Penggunaan jaringan layanan ini dapat membantu tim developer untuk lebih berfokus pada logika aplikasi tanpa harus memikirkan tentang kompleksitas jaringan dan interaksi antar layanan microservices. Solusi ini sangat tepat untuk perusahaan yang memiliki aplikasi berskala besar dan terdiri dari banyak layanan mikro. Seiring dengan bertumbuhnya lalu lintas aplikasi, permintaan antar layanan akan meningkat secara  signifikan. Hal ini membuat kemampuan jaringan layanan untuk mengatur aliran data antar layanan menjadi sangat penting dan dibutuhkan.

Jaringan layanan ini juga dapat digunakan untuk tim DevOps yang memiliki pipeline CI/CD. Hal ini karena service mesh dapat menerapkan aplikasi atau infrastruktur aplikasi (Kubernetes) untuk mengelola kode dan alat pengujian otomatis seperti Git, Jenkins, Artifactory, atau Selenium.

Bagaimana Cara Kerja Service Mesh?

Service mesh bekerja dengan cara yang sederhana untuk memenuhi tugasnya untuk melancarkan komunikasi antar layanan dalam arsitektur layanan mikro. Langkah pertama adalah penemuan dan pengenalan layanan oleh services mesh agar layanan microservices dapat menemukan satu sama lain secara otomatis.

Dalam proses penemuan ini, service mesh juga menyediakan fitur autentikasi dan otorisasi untuk memastikan komunikasi antar layanan tersebut aman. Selain itu, data yang dikirimkan antar layanan juga dapat dienkripsi untuk meningkatkan keamanan.

Terdapat juga pemantauan (monitoring) dan logging data telemetri yang berfungsi untuk mengawasi komunikasi antar layanan serta mendeteksi masalah secara dini sebelum menjadi semakin serius. Fitur observabilitas ini memungkinkan perusahaan untuk melihat metrik dan log yang detail untuk memantau kinerja, performa, dan kondisi layanan.

Pengaturan lalu lintas jaringan inni dioperasikan dalam komponen yang disebut data plane. Data plane umumnya berupa sidecar proxy yang dijalankan bersama tiap layanan. Kemudian fitur-fitur seperti routing, discovery service, serta kebijakan keamanan dilakukan di control plane.

Service Mesh vs API Gateway, Apa Perbedaannya?

Service mesh dan API gateway merupakan dua teknologi yang berbeda yang sama-sama digunakan dalam mengelola alur komunikasi dalam aplikasi. Kedua teknologi ini juga sama-sama digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi aplikasi. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada lingkup fungsi, responsibilitas, serta granularitasnya. Berikut ini adalah penjelasannya:

Lingkup Fungsi

Secara lingkup fungsi, service mesh hanya berfokus pada komunikasi antar layanan microservice secara internal, sementara API gateway lebih berfokus pada komunikasi eksternal yaitu antara klien dan API.

Responsibilitas

Berdasarkan responsibilitas atau tanggung jawabnya, jaringan layanan bertugas untuk mengelola aspek komunikasi yang lebih rendah. Aspek-aspek komunikasi tersebut antara lain seperti discovery service, autentikasi, serta enkripsi.

Sementara itu, API gateway bertugas untuk mengelola aspek-aspek komunikasi yang lebih tinggi. Contohnya adalah pengaturan permintaan dan transformasi respons.

Granularitas

Perbedaan secara granularitas antara kedua teknologi ini adalah service mesh yang beroperasi pada tingkat instance layanan microservice, sementara API gateway beroperasi pada tingkat API.

Apa Saja Kelebihan dari Service Mesh Architecture?

Arsitektur jaringan layanan memiliki beberapa kelebihan utama dan manfaat yang dapat dirasakan oleh tim developer. Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan serta penjelasannya:

Manajemen Traffic yang Terpusat

Jaringan layanan dapat memberikan kendali yang lebih baik atas berbagai komunikasi antar layanan. Hal ini meliputi kemampuan routing tingkat lanjut, percobaan ulang, serta kegagalan (failovers). Sentralisasi manajemen traffic ini juga memastikan ketersediaan dan ketahanan yang tinggi.

Meningkatkan Skala Keamanan

Aspek keamanan sangat penting dalam arsitektur microservices. Teknologi ini dapat mengatasi hal tersebut dengan mengimplementasikan berbagai langkah keamanan seperti enkripsi, autentikasi, dan otorisasi.

Mencegah Kegagalan Sistem

Jaringan layanan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pemutusan sirkuit, percobaan ulang, serta time out untuk mempromosikan ketahanan dalam menghadapi kegagalan.

Meningkatkan Visibilitas

Service mesh dapat memberikan visibilitas yang tinggi dalam interaksi layanan mikro. Fitur-fitur penelusuran dan pemantauan yang terdistribusi dapat memberikan wawasan tentang kinerja dan perilaku aplikasi secara mendalam pada tim developer.

Komunikasi Antar Layanan dalam Pengembangan DevOps Lebih Mudah dengan Service Mesh dari Phintraco Technology!

Mengatur kelancaran komunikasi antar layanan dalam aplikasi microservice merupakan hal yang penting bagi tim pengembang DevOps. Oleh karena itu tim DevOps memerlukan platform yang tepat untuk bisa menciptakan jaringan layanan yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan solusi service mesh yang dapat membantu tim DevOps Anda. Solusi service mesh dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas yang lengkap tentang komunikasi antar layanan tanpa perlu konfigurasi atau pengkodean tambahan.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi service mesh dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
OpenTelemetry: Alat Pemantauan Data Software Development
12 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

OpenTelemetry: Alat Pemantauan Data Software Development

Aplikasi atau perangkat lunak modern ini sering terdiri dari beberapa layanan yang bekerja sama untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, pengembangan aplikasi kini menjadi semakin rumit dan kompleks. Para pengembang harus memiliki alat atau platform yang dapat membantu mereka untuk mengoptimalkan aplikasi tersebut. Salah satu alat yang digunakan oleh para developer adalah OpenTelemetry.

OpenTelemetry atau OTel kini menjadi alat pengembangan yang populer di dunia software development. Alat ini umumnya digunakan untuk memantau data dalam rangka meningkatkan atau memperbaiki kinerja aplikasi. Melalui penggunaan OTel, developer dapat memahami perilaku aplikasi secara lebih mendalam dan dapat mengoptimalkan performanya. Artikel ini akan membahas OpenTelemetry dari berbagai aspek, mulai dari definisi, fungsi, komponen-komponennya, serta manfaatnya untuk pengembangan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!

Apa itu OpenTelemetry?

OpenTelemetry atau OTel adalah sebuah kerangka kerja untuk observabilitas atau observability framework. Framework ini berbasis open-source dan bebas vendor (vendor-agnostic) yang dirancang khusus untuk mengumpulkan dan mengelola data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. OTel merupakan framework yang terdiri dari kumpulan tools, API, serta SDK.

Teknologi ini merupakan penggabungan dari dua standar yang sebelumnya yaitu OpenTracing dan OpenCensus, lalu terciptalah OTel sebagai standar yang lebih lengkap dan dapat dioperasikan di berbagai platform. Distributed Tracing OpenTelemetry dapat membantu developer untuk melacak permintaan aplikasi dari perangkat frontend sampai ke layanan backend dan database dalam sistem yang terdistribusi. Hal ini membuat developer dapat memahami berbagai layanan, komponen, serta mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan dalam aplikasi.

OpenTelemetry architecture yang fleksibel juga dapat memungkinkan pengguna untuk melakukan instrumentasi manual atau otomatis. Pengembang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan kebutuhan aplikasi. Selain itu, OTel juga dapat digunakan bersamaan dengan berbagai observability backend seperti Jaeger, Prometheus, atau Zipkin.

Apa Saja Fungsi OpenTelemetry?

OTel memiliki fungsi utama yang berhubungan dengan data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. Masing-masing data ini memiliki perannya masing-masing dalam pengembangan aplikasi atau software. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing fungsinya:

Distributed Tracing

Fungsi distributed tracing ini dapat memungkinkan developer untuk melacak permintaan aplikasi secara menyeluruh (end-to-end). Pelacakan ini dilakukan melalui berbagai layanan dan komponen dalam aplikasi, sehingga memudahkan developer untuk mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan.

Metric Collection

Fungsi lain dari OTel adalah pengumpulan data metrik atau metric collection. Data-data seperti latency permintaan, tingkat kesalahan, hingga throughput dikumpulkan dan digunakan oleh developer untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.

Log Management

Terakhir, fungsi OTel adalah untuk mengelola log agar lebih terstruktur. Log yang terstruktur akan lebih memudahkan developer untuk memahami perilaku aplikasi dan mengidentifikasi masalah sejak dini.

Apa Saja Komponen dalam OpenTelemetry?

Terdapat beberapa komponen utama dalam OTel yang masing-masing memiliki peran dalam alur dan cara kerja OTel dalam mengumpulkan dan mengelola data telemetri. Berikut ini adalah komponen-komponen beserta penjelasannya:

API (Application Programming Interface)

API atau application programming interface adalah komponen dasar dari OTel. Komponen ini berfungsi untuk menyediakan cara bagaimana aplikasi bisa berkomunikasi dengan OTel.

Selain itu, API juga menyediakan serangkaian interface yang konsisten di berbagai bahasa pemrograman. Hal ini memungkinkan developer untuk menambahkan instrumen ke aplikasi dengan cara yang seragam. Sifat API yang fleksibel ini juga memungkinkan developer untuk beralih ke berbagai backend observabilitas tanpa perlu mengubah kode secara signifikan.

SDK (Software Development Kit)

SDK atau software development kit merupakan perantara antara API dengan komponen-komponen lainnya. Hal ini memungkinkan developer untuk mengatur bagaimana OTel mengumpulkan informasi.

SDK menyediakan berbagai fitur dan utilitas yang berguna bagi developer antara lain context propagation, automatic instrumentation, dan exporter.

Exporter

Exporter atau in-process exporter adalah komponen yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan data-data telemetri dari SDK untuk dikirimkan ke backend observabilitas. Komponen ini umumnya dikonfigurasi untuk mengirim data ke komponen lainnya yaitu collector. Penggunaan exporter membuat developer bisa mengubah backend tanpa perlu memodifikasi kode aplikasi.

Collector

Collector adalah layanan atau komponen yang bertugas untuk menerima, memproses, serta mengeksplor data telemetri. Komponen ini bertindak sebagai titik pusat pengumpulan data dari berbagai sumber.

Selain mengumpulkan data, komponen ini juga memiliki beberapa fitur penting seperti penyaringan data, transformasi data, pengiriman data dalam bentuk batch, serta backend routing ke berbagai observability yang berbeda-beda.

Apa Saja Manfaat OpenTelemetry untuk Software Development?

Penerapan OTel dalam software development dapat memberikan sejumlah manfaat, khususnya dalam metode pengembangan DevOps yang memerlukan koordinasi dan observabilitas tinggi. Berikut ini adalah manfaat-manfaatnya serta penjelasannya:

Mengoptimalkan Kinerja Aplikasi

Manfaat utama dari penerapan OTel adalah pengembang dapat mengoptimalkan kinerja dan performa aplikasi secara maksimal. Hal ini didukung oleh pengumpulan data telemetri yang akurat.

Mengurangi Potensi Masalah

Komponen-komponen dalam OTel dapat melacak permintaan aplikasi secara end-to-end, sehingga pengembang dapat mengidentifikasi potensi masalah dan memperbaikinya dengan lebih cepat.

Meningkatkan Observabilitas

Pengelolaan log yang lebih terstruktur dan data metrik yang penting dapat membantu pengembang untuk bisa lebih memahami dan mengetahui perilaku aplikasi secara lebih menyeluruh.

Ciptakan Analisis dan Observasi Data yang Mudah dengan OpenTelemetry Platform dari Phintraco Technology!

OpenTelemetry merupakan solusi yang dapat dimanfaatkan pengembang aplikasi untuk menciptakan analisis dan observasi data yang lebih efektif dan efisien. Anda juga dapat meningkatkan kinerja aplikasi yang sedang dikembangkan dengan solusi OTel.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang menyediakan platform pengembangan aplikasi yang mendukung Distributed Tracing OpenTelemetry. Solusi dari Phintraco Technology dapat menawarkan integrasi yang luas dan fleksibel untuk mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan data telemetri.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi lengkap mengenai OpenTelemetry dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOps
11 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOps

Efisiensi dan sistem yang andal merupakan kunci keberhasilan utama bagi perusahaan yang bergerak di dunia bisnis modern seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi digital yang mulai menjadi bagian integral dari berbagai aspek kehidupan manusia menuntut perusahaan untuk bisa menyediakan layanan atau produk digital yang efisien, responsif, dan dapat diandalkan. Salah satu strategi yang diterapkan untuk bisa meningkatkan efisiensi IT, khususnya dalam metode pengembangan aplikasi DevOps adalah full-stack observability atau FSO.

FSO dapat memastikan perusahaan memantau performa aplikasi yang dikembangkan secara real-time. Hal ini juga dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan wawasan yang berguna dalam rangka meningkatkan kualitas dan keandalan sistem. Wawasan tersebut bisa dengan mudah didapatkan karena FSO memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis data secara mendalam. Artikel ini akan membahas berbagai aspek dari FSO, mulai dari definisinya, perbedaannya dengan monitoring, mengapa strategi ini penting, serta apa saja manfaatnya untuk IT dan DevOps. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Strategi Full-stack Observability?

Full-stack observability adalah sebuah strategi atau kemampuan untuk bisa mengetahui kondisi dari berbagai titik akhir dalam lingkungan IT yang terdistribusi berdasarkan data telemetri. Titik-titik akhir ini meliputi server lokal, Kubernetes infrastructure, infrastruktur atau layanan berbasis cloud, serta teknologi-teknologi open source.

Sistem IT dan pengembangan aplikasi dapat memanfaatkan strategi full-stack observability, Gartner melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa infrastruktur modern dan aplikasi memerlukan koleksi data, penyimpanan, serta analisis yang menyeluruh meliputi berbagai metrik, log, dan jejak lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan wawasan kepada tim IT seputar kinerja aplikasi, infrastruktur, hingga user experience (UX).

Dalam metode pengembangan DevOps, strategi ini juga memungkinkan tim IT untuk bisa memahami bagaimana semua entitas dapat terhubung, mulai dari koneksi infrastruktur, hubungan dan ketergantungan antara container, microservices, hingga kode di semua lapisan jaringan.

Pengamatan atau observability ini juga dilakukan untuk digital experience monitoring atau DEM. Observabilitas dapat mengidentifikasi pengalaman pengguna awal dan memungkinkan tim IT untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan loading time dan mengurangi latensi. Masalah-masalah terkait dengan pengalaman pelanggan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan responsif dengan strategi ini.

Apa Perbedaan Full-stack Observability dan Monitoring?

Observability dan monitoring merupakan dua istilah yang seringkali dianggap sama dalam konsep IT. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, terutama dalam konteks pengembangan DevOps dan FSO.

Secara definisi, monitoring merupakan proses pengumpulan, analisis, dan penggunaan informasi untuk melacak kemajuan program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Biasanya monitoring berfokus pada pengamatan metrik tertentu.

Sementara itu, observability adalah kemampuan untuk memahami kondisi internal sistem dengan menganalisis data yang dihasilkan, mulai dari log, metrik, hingga jejak. Kemampuan observasi memungkinkan analisis terhadap apa yang terjadi di seluruh lingkungan multicloud sehingga masalah yang muncul bisa lebih cepat dideteksi.

Sederhananya, monitoring berfungsi untuk mengumpulkan dan menampilkan data, sementara observability berfungsi untuk menampilkan kondisi sistem dengan menganalisis input dan output yang ada, Kedua metode ini sama pentingnya dalam mengetahui dan menganalisis kondisi sistem. Monitoring umumnya hanya menyediakan wawasan terbatas terkait data yang fokus pada metrik tertentu, sementara observability dapat menampilkan data yang menunjukkan kondisi internal sistem sehingga tim IT dapat menemukan masalah yang terjadi sekaligus penyebabnya.

Mengapa Full-stack Observability Penting?

Terdapat beberapa faktor yang mendukung pentingnya penerapan FSO dalam IT dan pengembangan DevOps. Faktor pertama adalah kompleksnya tantangan IT di lingkungan cloud yang tidak dihadapi dalam pusat data lokal. Hal ini membuat banyak perusahaan yang membutuhkan alat pemantauan yang malah semakin menambah kompleksitas cloud dan memperlambat respons waktu dalam menangani masalah.

Faktor kedua adalah setiap tim yang seringkali menggunakan beberapa alat dalam lingkungan yang terpisah, sehingga masing-masing tim tidak dapat melihat gambaran utuh dari proyek atau pekerjaan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan berbagai hambatan yang bisa berdampak buruk bagi kelancaran proyek dan bisnis.

Oleh karena itu, observabilitas dapat memberikan wawasan yang diperlukan terkait setiap lapisan infrastruktur aplikasi dalam satu platform yang sederhana. Alat pemantauan yang sederhana dan terpadu ini dapat memberikan solusi atas biaya serta kesalahpahaman antar tim dalam proyek pengembangan aplikasi.

Tim DevOps dapat memiliki pengamatan penuh dan mendapatkan feedback yang akurat secara real time dari sistem integrasi atau produksi. Kemampuan diagnostik dan analisis yang lebih responsif membuat tim DevOps bisa menghemat waktu untuk menyelesaikan masalah dan lebih fokus pada pengembangan fitur-fitur inovatif yang bermanfaat bagi pengguna dan kemajuan bisnis.

Apa Manfaat Full-stack Observability untuk IT dan DevOps?

Terdapat beberapa manfaat utama FSO yang dapat berguna untuk sistem IT dan metode pengembangan DevOps, antara lain:

Pengamatan Situasional yang Lebih Utuh

FSO dapat memberikan pengamatan dan pemahaman situasional yang menyeluruh di lingkungan multicloud perusahaan. Visibilitas end-to-end ini juga dapat menghilangkan titik-titik buta seputar kinerja, kondisi, dan perilaku aplikasi.

Diagnosis Akar Masalah yang Lebih Tepat

Tim IT dan DevOps dapat menggunakan FSO untuk mengidentifikasi akar masalah dengan lebih tepat dan cepat. Setelah itu memprioritaskan masalah sesuai dengan dampak ke pengguna dan bisnis.

Mempercepat Otomatisasi Pipeline CI/CD

FSO juga dapat membantu tim DevOps untuk mengidentifikasi potensi masalah dalam pipeline CI/CD. Masalah dapat diperbaiki dengan cepat sehingga otomatisasi pengembangan dan pengiriman software dapat berjalan dengan lebih lancar.

Integrasi Keamanan Aplikasi ke DevSecOps

Tim IT dapat mengintegrasikan keamanan aplikasi run-time secara lebih efektif dalam proses DevSecOps. Proses integrasi ini memastikan setiap tim bergerak di jalur yang tepat dan tidak menghambat inovasi atau mengorbankan keamanan aplikasi.

Tingkatkan Efisiensi Jaringan IT dan DevOps dengan Solusi Full-stack Observability DevOps dari Phintraco Technology!

Kemampuan untuk mengetahui kondisi internal sistem dalam aplikasi merupakan kunci utama dalam keberhasilan aplikasi tersebut. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan strategi FSO dalam metode pengembangan DevOps.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solution yang dapat membantu Anda untuk menerapkan strategi FSO dengan solusi DevOps terbaik dari kami. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas penuh terhadap aplikasi dan infrastruktur Anda sehingga tim IT dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Teknologi ini juga dapat memantau performa aplikasi secara real-time dan mengidentifikasi bottleneck sebelum mempengaruhi pengguna aplikasi.

Hubungi email marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya mengenai solusi full-stack observability DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
DevOps: Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, dan Manfaatnya
05 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

DevOps: Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, dan Manfaatnya

Industri teknologi terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan software untuk berbagai keperluan sehari-hari, termasuk keperluan bisnis. Oleh karena itu, para pengembang aplikasi terus mencari cara untuk bisa memproduksi software dengan lebih cepat, efisien, dan berkualitas. Salah satu cara yang populer dalam pengembangan dan operasional aplikasi adalah DevOps.

DevOps sendiri merupakan sebuah metode yang dapat meningkatkan efisiensi, mempercepat waktu perilisan aplikasi, sekaligus meningkatkan kinerja sistem. Prinsip pengembangan ini dapat digunakan oleh developer yang ingin memproduksi aplikasi secara cepat, berkualitas, dan berkelanjutan secara otomatis. Artikel ini akan membahas secara detail tentang apa itu DevOps, apa tujuan utamanya, bagaimana cara kerjanya, apa perbedaannya dengan site reliability engineering (SRE), serta manfaatnya bagi perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu DevOps?

DevOps adalah singkatan dari development dan operations. Kedua istilah ini merujuk pada penggabungan atau integrasi antara proses pengembangan dan operasional dalam aplikasi.

Prinsip pengembangan yang menggabungkan proses development dan operationals aplikasi ini mulai dikenal sejak tahun 2007 dan kini telah menjadi standar baru di industri pengembangan aplikasi dan software. Metode yang digunakan memiliki fokus untuk berkolaborasi, otomatisasi, serta orientasi pada hasil di tahap pegembangan.

Kolaborasi merupakan salah satu prinsip dasar dari metode pengembangan ini. Tim developer dan operasional harus berkolaborasi secara erat dalam menjalankan siklus hidup pengembangan (development life-cycle). Selain itu, prinsip ini juga menekankan pada otomatisasi. Sebagian besar tugas, mulai dari integrasi kode, pengujian, hingga deployment dilakukan secara otomatis. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan human error serta meningkatkan kecepatan dan efisiensi.

Dalam praktiknya, terdapat berbagai DevOps tools yang digunakan untuk mengotomatisasikan proses pengembangan serta operasional dari aplikasi. Otomatisasi dan kolaborasi ini dapat menggabungkan beberapa tugas yang tadinya dikerjakan secara terpisah, mulai dari pengembangan, operasional IT, quality engineering, serta keamanan.

Apa Tujuan Utama DevOps?

Penerapan metode pengembangan ini memiliki beberapa tujuan utama. Tujuan-tujuan tersebut antara lain adalah meningkatkan stabilitas dan keandalan sistem, mempercepat waktu peluncuran produk, hingga meningkatkan mean time to recovery atau MTTR. Berikut ini adalah masing-masing penjelasannya:

Stabilitas dan Keandalan Sistem

Tujuan utama dari metode pengembangan DevOps adalah untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem. Hal ini juga termasuk memastikan pembaruan aplikasi atau perubahan infrastruktur sistem dapat tetap berjalan tanpa mengganggu sistem yang sudah ada.

Tujuan ini dapat dicapai dengan menerapkan praktik peningkatan secara berkelanjutan. Tim developer dan operations dapat membangun stabilitas, keandalan produk, serta membantu mengurangi kegagalan dalam proses pengembangan.

Mempercepat Waktu Peluncuran Produk

Kolaborasi dan otomatisasi dalam penerapan DevOps dapat dengan signifikan mempercepat waktu peluncuran produk. Berbagai tools yang digunakan dan praktik berkelanjutan dapat menghemat waktu mulai dari awal perancangan produk, pengembangan, pengujian, hingga peluncuran produk ke pasar.

Meningkatkan Mean Time to Recovery (MTTR)

Mean time to recovery atau MTTR adalah istilah yang merujuk pada waktu rata-rata yang diperlukan untuk memperbaiki kegagalan produk atau sistem. Perusahaan perlu mengukur waktu tersebut untuk bisa mengelola dan memperbaiki kegagalan pada sistem atau aplikasi. Hal ini dapat dilakukan dengan metode DevOps yang terencana dan berkelanjutan.

Bagaimana Cara Kerja DevOps?

Metode DevOps dapat dilakukan dengan melibatkan beberapa tahapan dan DevOps tools yang diperlukan untuk mendukung kolaborasi antara tim developer dan operational. Berikut ini adalah langkah-langkah dan cara kerja DevOps dan penjelasannya:

Perencanaan dan Penulisan Kode

Tim developer dan operational berkolaborasi untuk merancang aplikasi serta fitur-fitur baru untuk peningkatan sistem. Rancangan dan fitur-fitur ini biasanya dilakukan dengan menggunakan project management tools untuk mengatur tugas-tugas, timeline, dan merencanakan percepatan.

Continuous Integration/Continuous Delivery (CI/CD)

CI/CD merupakan dua tahapan yang saling berkaitan dalam proses DevOps. Dalam CI, tim developer dapat melakukan perubahan kode secara otomatis dan menggabungkannya ke sebuah repository terpusat. Tahapan ini meliputi pengujian seperti unit test dan integration test secara otomatis.

Sementara itu, CD berperan untuk melakukan staging dan produksi secara otomatis setelah melewati fase integrasi dan pengujian. Continuous delivery membuat aplikasi bisa selalu siap untuk masuk ke tahap deployment kapan saja.

Monitoring

Pada tahap terakhir ini, data-data akan dikumpulkan terkait dengan kinerja aplikasi serta identifikasi masalah-masalah apa yang terjadi. Proses pengawasan ini dilakukan agar tim developer maupun tim operational dapat mengetahui jika terjadi masalah dan bisa menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.

Site Reliability Engineering vs DevOps, Apa Perbedaannya?

Metode DevOps dan site reliability engineering (SRE) merupakan dua istilah yang kerap digunakan secara bersamaan dalam hal pengembangan aplikasi. Akan tetapi, kedua metode ini memiliki lingkup dan fokus yang berbeda.

Secara fokus, DevOps berfokus pada kolaborasi tim, otomatisasi, serta perilisan produk yang cepat. Metode ini juga memiliki lingkup yang luas yaitu seluruh siklus hidup pengembangan software. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pengiriman software dengan metriks waktu pengiriman, frekuensi deployment, dan mean time to recovery (MTTR).

Sementara itu SRE lebih berfokus pada menjaga skalabilitas, keandalan sistem, dan memprediksi kegagalan. Lingkup dari SRE berkutat pada operasi dan pemeliharaan sistem produksi. Hal ini bertujuan untuk memastikan sistem tetap tersedia dalam performa yang tinggi. Metriks yang digunakan untuk mengukur SRE adalah service level objective (SLO) dan error budget.

Sederhananya, DevOps merupakan pendekatan dalam siklus hidup pengembangan software yang lebih berorientasi pada proses dan membutuhkan keterampilan teknis dan juga soft skill. Sementara itu, SRE merupakan  disiplin ilmu yang berfokus pada kualitas hasil dan menerapkan prinsip software engineering untuk masalah-masalah operasional.

Apa Manfaat DevOps untuk Perusahaan?

Penerapan pendekatan kolaborasi developer dan operational memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan, yaitu:

Meningkatkan Efisiensi

Metode pengembangan ini dapat mempercepat siklus pengembangan dan merilis fitur atau pembaruan dengan lebih sering. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dalam siklus hidup pengembangan perangkat lunak. Selain itu, masalah atau error dapat dideteksi dan diperbaiki lebih cepat sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengatasi insiden.

Meningkatkan Kualitas Produk

Pendekatan ini memiliki metode pengujian yang lebih menyeluruh, mulai dari unit testing, integration testing, hingga end-to-end testing. Hal ini dapat membantu memastikan bahwa aplikasi telah bebas dari error atau bug dan dapat berfungsi dengan baik. Selain pengujian, tahapan pengawasan juga dilakukan untuk mendeteksi masalah yang akan berdampak pada pengguna.

Meningkatkan Fleksibilitas Bisnis

Pembaruan dan pengembangan aplikasi yang lebih cepat dapat memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan bisnis secara lebih cepat. Siklus pengembangan yang lebih singkat juga memungkinkan perusahaan untuk bereksperimen atau berinovasi dengan ide-ide baru.

Ciptakan Metode Pengembangan yang Efektif dengan Solusi DevOps dari Phintraco Technology!

DevOps merupakan pendekatan modern dalam pengembangan aplikasi yang dapat mempercepat waktu perilisan produk serta menjaga kualitasnya. Oleh karena itu, perusahaan dapat mengotomatisasikan berbagai proses development dan operational aplikasi dengan solusi DevOps yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan solusi DevOps terbaik untuk poengembangan aplikasi secara efektif. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat mengotomatisasi berbagai proses integrasi, pengujian, deployment, hingga monitoring dan analisis aplikasi.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Service Level Objective: Sasaran Terukur untuk Microservices
26 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Service Level Objective: Sasaran Terukur untuk Microservices

Aplikasi dengan model arsitektur microservices kini menjadi pilihan untuk banyak perusahaan karena dapat menghasilkan aplikasi serbaguna yang terdiri dari banyak layanan kecil yang independen dan dapat diskalakan. Model aplikasi ini menjadi pilihan karena perusahaan harus selalu berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan dan harapan pelanggan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan target terukur untuk mengelola keandalan dan kinerja layanan aplikasi ini, salah satu caranya adalah dengan menerapkan service level objective atau SLO.

SLO dapat digunakan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan selalu konsisten dan memenuhi harapan pelanggan. Metode ini dapat mengukur kinerja layanan dalam berbagai aspek. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang service level objective mulai dari definisi,  faktor mengapa SLO itu penting, bagaimana cara kerjanya, bagaimana cara-cara terbaik menerapkan SLO, serta apa saja manfaat SLO untuk perusahaan dalam mengembangkan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Service Level Objective?

Service level objective (SLO) adalah bagian dari service level agreement (SLA) yang merupakan dokumentasi key performance indicator (KPI) yang diharapkan oleh pelanggan dari pihak penyedia layanan. Selain menyajikan detail tentang layanan-layanan,

SLA sendiri merupakan kontrak yang ditandatangani antara vendor dan pelanggan yang bertujuan untuk menjamin tingkat layanan tertentu yang terukur. SLO juga digunakan untuk menentukan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terjadi jika SLO tersebut tidak tercapai.

Secara umum, service level objective adalah sasaran terukur yang harus dipenuhi untuk memastikan kinerja layanan yang responsif dan stabil. SLO umumnya diukur menggunakan service level indicator (SLI) yang terdiri dari waktu respons, tingkat kesalahan, dan ketersediaan. Hal-hal tersebut merupakan metrik terukur yang didokumentasikan pada para pemangku kepentingan untuk memberikan akuntabilitas, menghasilkan kualitas layanan yang konsisten, serta menunjukkan komitmen yang berkelanjutan.

Beberapa contoh SLO yang umum antara lain adalah 95% dari interaksi harus memiliki waktu respons tidak lebih dari 200 millisecond, tingkat error tidak boleh lebih dari 0,5% dari total permintaan, serta layanan harus tersedia 99% dari waktu total.

Hal inilah yang dapat membantu perusahaan dalam mengukur dan menentukan target kinerja layanan untuk memastikan layanan yang diberikan perusahaan selalu konsisten dan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Mengapa Service Level Objective itu Penting?

Terdapat beberapa faktor utama mengapa service level objective menjadi sangat penting bagi perusahaan, khususnya untuk tim developer dalam memastikan kualitas layanan aplikasi. Alasan pertama mengapa SLO penting adalah karena metode ini dapat membantu meningkatkan kualitas perangkat lunak. Hal ini dapat dicapai dengan cara menentukan tingkat downtime yang dapat diterima untuk sebuah layanan. SLO juga dapat menyoroti masalah yang bukan insiden besar tapi tidak memenuhi target. Penggunaan SLO dapat membantu perusahaan untuk menyeimbangkan antara inovasi (yang berpotensi menyebabkan downtime) serta memastikan ketersediaan layanan.

Menerapkan SLO juga dapat membantu tim DevOps dan tim infrastruktur untuk menggunakan data dan ekspektasi kinerja untuk mengambil keputusan penting di kemudian hari. Keputusan-keputusan tersebut antara lain seperti kapan waktu perilisan aplikasi serta di area mana tim teknisi memfokuskan kinerja mereka.

SLO yang dirancang dengan baik dapat membuka jalan bagi tim developer untuk mengotomatisasikan proses-proses pengembangan dan penguji dalam software development life cycle (SDLC). Tim pengembangan dapat mengatur otomatisasi untuk memantau dan mengukur indikator SLO sekaligus mendapatkan peringatan jika salah satu indikator tidak terpenuhi. Hal ini memungkinkan tim untuk mendeteksi masalah bahkan sebelum syarat SLO tidak terpenuhi atau dilanggar.

Bagaimana Cara Kerja SLO?

Perangkat lunak berbasis cloud memiliki alat dan infrastruktur pendukung yang menghasilkan berbagai metrik serta titik data setiap detiknya. Metrik dan data tersebut berfungsi untuk menunjukkan status dan kinerja sistem.

Service level objective bekerja dengan cara mendefinisikan atau mendukung serangkaian target bisnis di tingkat yang lebih tinggi. Target-target tersebut tentu harus yang dapat diukur dengan memanfaatkan data dan wawasan dari alat bantu pengamatan (observability tools).

Tujuan utama dari SLO adalah untuk memberikan layanan yang lebih andal, tangguh, serta responsif dalam rangka memenuhi bahkan melampaui harapan pengguna. Reliability dan responsiveness adalah dua metrik yang biasanya diukur dalam digit angka sembilan hingga batas 100%. Contohnya mulai dari 90%, 99%, 99,9%, 99,99%, dan 99,999%. Semakin banyak desimal yang mendekati 100 maka semakin besar biaya dan kompleksitas untuk mencapainya.

Menentukan SLO membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik tengah antara kesempurnaan secara statistik serta tujuan yang masih realistis.

Bagaimana Cara Terbaik untuk Menerapkan SLO?

Terdapat beberapa cara dan tips untuk menerapkan SLO secara optimal. Berikut ini adalah cara-cara serta penjelasannya:

Jangan Tetapkan SLO Terlalu Banyak

Tentukan SLO yang mendukung SLA dan tujuan bisnis. Hindari menentukan terlalu banyak SLO yang tidak mendukung tujuan bisnis yang lebih luas.

Tetapkan Target Secara Realistis

Target yang ditentukan harus mewakili kinerja layanan secara akurat. Hindari menentukan target SLO yang terlalu rendah dan terlalu tinggi.

Sesuaikan dengan Bisnis

Tim teknis dan para pemangku kepentingan harus bekerja sama dan menyelaraskan ekspektasi terkait target SLO. Hal ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi SLA kepada pelanggan.

Prioritaskan SLO untuk Pelanggan Khusus

Perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin dengan memprioritaskan SLO dengan standar yang lebih tinggi untuk pelanggan yang berbayar atau berlangganan dibanding yang tidak.

Otomatisasikan Evaluasi SLO

Perusahaan dapat melakukan otomatisasi evaluasi SLO dengan platform yang tepat agar tidak memperlambat analisis akar masalah.

Apa Saja Manfaat Service Level Objective untuk Perusahaan?

Terdapat beberapa manfaat utama penerapan SLO bagi perusahaan secara umum. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya:

Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Perusahaan dapat memastikan layanan yang diberikan pada pelanggan selalu konsisten sesuai dengan harapan. Hal ini tutur meningkatkan kepuasan pelanggan.

Meningkatkan Keandalan Layanan

Service level objective dapat membantu perusahaan mengukur kinerja aplikasi dan sistem dari berbagai aspek, sehingga dapat meningkatkan keandalan layanan.

Meningkatkan Komunikasi antar Pihak

Penerapan SLO juga dapat mendorong komunikasi antara berbagai pihak di perusahaan mulai dari tim developer, tim operasional, tim bisnis, hingga pemangku kepentingan (stakeholder)

Tentukan SLO Aplikasi Anda secara Mudah dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!

Salah satu cara untuk bisa menerapkan SLO secara optimal adalah dengan mengotomatisasikan berbagai proses evaluasinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan platform yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform DevOps terbaik untuk membantu Anda mengevaluasi SLO. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology dapat mengidentifikasi SLI yang relevan dan mampu mengukur kinerja aplikasi secara terus-menerus.

Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi selengkapnya terkait platform DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Microservices: Aplikasi Fungsional dengan Banyak Layanan
25 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Microservices: Aplikasi Fungsional dengan Banyak Layanan

Aplikasi dan perangkat lunak kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari dengan perkembangan teknologi yang  semakin pesat. Berbagai kegiatan dan layanan di berbagai bidang kini telah dilakukan melalui aplikasi atau platform digital. Oleh karena itu, diciptakanlah aplikasi yang dapat diskalakan dan praktis untuk bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut. Dalam dunia pengembangan aplikasi atau software development, aplikasi microservices telah menjadi solusi utama dalam menyediakan aplikasi yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan pengguna secara praktis.

Aplikasi microservice merupakan aplikasi yang dirancang dengan pendekatan yang cukup berbeda dari pengembangan aplikasi tradisional. Berbagai layanan dapat diintegrasikan secara lebih responsif dan fleksibel ke dalam aplikasi lewat pengembangan ini. Oleh karena itu, arsitektur microservice kini telah menjadi standar de facto dalam dunia pengembangan perangkat lunak modern. Artikel ini akan membahas aplikasi microservices dan arsitekturnya secara lengkap mulai dari definisi, perbedaannya dengan monolith architecture, apa saja ciri-cirinya, kaitannya dengan pengembangan DevOps, serta manfaatnya dalam pengembangan aplikasi untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Microservices?

Microservices adalah sebuah unit perangkat lunak yang kecil, fleksibel, serta modular yang dapat diintegrasikan dengan layanan-layanan lain untuk menciptakan sebuah aplikasi yang lengkap dan serbaguna. Aplikasi sendiri merupakan kumpulan layanan independen yang dapat bekerja sama untuk menjalankan sebuah fungsi bisnis. Arsitektur microservice merujuk pada metode penataan, pengembangan, serta pengoperasian perangkat lunak yang terdiri dari kumpulan layanan independen yang lebih kecil.

Pendekatan microservice dalam pengembangan aplikasi memungkinkan tim DevOps untuk membagi berbagai layanan menjadi application programming interface (API). API ini kemudian dapat menghubungkan berbagai layanan dengan sebuah fungsionalitas inti yang memungkinkan aplikasi untuk berbagi komunikasi dan bertukar data. Masing-masing layanan dapat dikembangkan, diuji, dan dipasang secara terpisah. Hal ini memungkinkan tim pengembang untuk bekerja secara paralel dan mempercepat siklus pengembangan (software development life cycle).

Dalam pengembangan microservices, setiap layanan memiliki peran spesifik dan menggunakan teknologi yang sesuai untuk menjalankan peran tersebut. Hal ini dapat memberikan fleksibilitas lebih untuk tim developer dalam memilih alat dan teknologi yang efektif untuk setiap bagian aplikasi. Selain itu, setiap layanan dapat diskalakan secara independen sesuai kebutuhan tanpa harus mempengaruhi keseluruhan sistem dalam aplikasi.

Monolith vs Microservices Architecture, Apa Perbedaannya?

Arsitektur monolith dan microservice merupakan metode dan struktur pengembangan aplikasi yang berbeda. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara pengembangan dan pengelolaan aplikasi tersebut. Dalam arsitektur monolith, seluruh aplikasi dikembangkan sebagai satu kesatuan yang besar. Tim developer menggunakan satu kode dasar untuk membangun dan mengintegrasikan semua komponen mulai dari user interface (UI) hingga logika bisnis. Sementara itu, arsitektur microservice membagi aplikasi menjadi beberapa layanan kecil yang berfungsi secara independen dan dapat dikelola secara terpisah.

Pengembangan arsitektur monolith yang dijalankan sebagai satu kesatuan membuat pengembangannya lebih sederhana di tahap awal. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya aplikasi, sedikit perubahan dapat mempengaruhi banyak bagian dari sistem. Sebaliknya, arsitektur microservice  dapat diskalakan dan dikembangkan tanpa harus mengubah keseluruhan sistem. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa ketika terjadi kegagalan pada satu titik, maka keseluruhan sistem aplikasi monolith akan terdampak. Sementara itu, kegagalan dalam satu titik di aplikasi microservice akan terisolasi dan dapat diperbaiki secara terfokus.

Apa Saja Ciri-ciri Microservices?

Pengembangan microservice merupakan jawaban dan solusi atas beberapa kelemahan dan hambatan yang biasa dihadapi dalam mengembangkan aplikasi monolith, mulai dari repositori kode yang besar, ketahanan aplikasi dari kegagalan, dan kompleksitas yang membatasi skalabilitas. Oleh karena itu, terdapat beberapa ciri-ciri dan karakteristik utama dari microservice dan desainnya, berikut ini adalah penjelasannya:

Independen

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, setiap layanan dan aplikasi dalam arsitektur layanan mikro merupakan komponen yang independen. Setiap komponen ini dapat berjalan sebagai layanannya sendiri dalam proses aplikasi. Hal ini dapat meringankan beban aplikasi dengan mengkomunikasikan berbagai layanan lewat API.

Otonom

Arsitektur microservice lebih otonom terutama dalam menerapkan sistem otomatisasi dibandingkan arsitektur monolith. Perusahaan dapat mengembangkan, memperbarui, dan menskalakan setiap komponen layanan tanpa mempengaruhi layanan lain. Tim developer tidak perlu berbagi kode atau implementasi apa pun dengan layanan lain karena komunikasi antar komponen terjadi melalui API yang terdefinisi dengan baik.

Terspesialisasi

Penggunaan layanan mikro dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mendefinisikan setiap fungsi dalam aplikasi secara rinci. Setiap layanan dalam aplikasi memiliki spesialisasi untuk kemampuan tertentu, sehingga tim developer dapat membuat layanan yang berfokus pada masalah-masalah tertentu yang lebih spesifik.

Apa Kaitan antara Microservices dan DevOps?

Arsitektur layanan mikro memiliki kaitan erat dengan praktik pengembangan DevOps. DevOps sendiri merupakan pendekatan kolaboratif antara tim developer dan tim operasional agar bisa mempercepat siklus pengembangan perangkat lunak lewat otomatisasi dan integrasi berkelanjutan. Banyak developer menganggap bahwa arsitektur layanan mikro memang secara langsung diterapkan untuk mengoptimalkan DevOps dan CI/CD (continuous integration/continuous delivery).

Pendekatan DevOps dapat memungkinkan tim untuk melakukan integrasi dan pengujian aplikasi layanan mikro secara berkelanjutan dengan lebih efektif. Setiap layanan microservice juga dapat diuji secara independen sebelum diintegrasikan ke dalam aplikasi secara keseluruhan. Tanpa DevOps, arsitektur layanan mikro mungkin akan menghadapi beberapa masalah terkait dengan kompleksitas komponen-komponennya.

Oleh karena itu, praktik DevOps yang terstruktur dapat menjadi solusi penerapan, pemantauan, life cycle management, serta otomatisasi yang lebih baik untuk mendukung arsitektur layanan mikro.

Apa Saja Manfaat Microservices Architecture dalam Pengembangan Aplikasi?

Arsitektur layanan mikro memiliki beberapa manfaat utama dalam pengembangan aplikasi modern. Berikut ini adalah manfaat-manfaat utama serta penjelasannya:

Fleksibilitas Tinggi

Layanan mikro memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi sehingga memungkinkan developer untuk menggunakan lebih banyak gambar, container, serta mesin manajemen yang berbeda. Hal ini memberikan keleluasaan dan opsi konfigurasi yang lebih banyak bagi developer saat membuat aplikasi.

Skalabilitas Tinggi

Aplikasi yang menggunakan arsitektur layanan mikro dapat dikembangkan dan ditambah fitur-fiturnya seiring waktu tanpa harus mengkhawatirkan kondisi keseluruhan sistem. Hal ini karena setiap layanan dalam arsitektur ini bergerak secara independen dan memiliki skalabilitas yang independen pula.

Hemat Sumber Daya

Fitur cluster manager dalam arsitektur layanan mikro membuat arsitektur ini cenderung lebih hemat dalam penggunaan sumber daya, khususnya selama runtime. Hal ini juga turut membantu meringankan beban pengembangan dan beban aplikasi ketika dijalankan.

Risiko Downtime Lebih Rendah

Layanan mikro memiliki risiko downtime yang lebih kecil karena developer tidak perlu melakukan re-deploy untuk keseluruhan aplikasi ketika membuat update untuk layanan tertentu. Codebase layanan yang lebih kecil dapat menyederhanakan pemecahan masalah, sekaligus mempercepat waktu rata-rata untuk mendeteksi masalah (MTTD) dan waktu rata-rata untuk pemulihan (MTTR).

Tingkatkan Observabilitas Microservices Anda dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!

Semakin kompleksnya arsitektur aplikasi microservices membuat perusahaan harus memiliki alat yang dapat meningkatkan observabilitas untuk memantau kinerja dan kesehatan aplikasi serta setiap layanan mikro yang ada. Hal ini penting untuk memastikan pengembangan microservices dapat berjalan dengan optimal.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat membantu Anda meningkatkan observabilitas pengembangan microservices dengan solusi platform DevOps terbaik. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology memiliki fitur-fitur observabilitas yang dapat meningkatkan visibilitas dan pemantauan aplikasi Anda. Dengan dukungan AI, solus ini juga dapat membantu mengimplementasikan pendeteksian dan pengujian secara otomatis untuk mengatasi potensi masalah.

Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi DevOps dari Phintraco Technology!

 Editor: Cardila Ladini

Read  
Cloud Monitoring: Visibilitas Menyeluruh untuk Performa Aplikasi
19 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Cloud Monitoring: Visibilitas Menyeluruh untuk Performa Aplikasi

Lingkungan multicloud kini telah digunakan oleh banyak perusaaan. Ketika menggunakan lingkungan multicloud, penting bagi perusahaan untuk bisa memastikan ketersediaan infrastruktur, performa aplikasi yang tinggi, serta keamanannya. Untuk bisa memastikan aspek-aspek tersebut, teknologi cloud monitoring kini hadir sebagai solusi utama. Semakin meningkatnya kompleksitas teknologi cloud dan big data membuat perusahaan harus memiliki teknologi khusus yang lebih canggih dan praktis untuk memantau lingkungan cloud mereka dibandingkan alat monitoring tradisional.

Perkembangan teknologi ini diiringi dengan derasnya arus perpindahan ke lingkungan multicloud oleh banyak perusahaan saat ini. Berdasarkan survei global dari Dynatrace terhadap 1300 CIO (Chief Information Officer) dan Kepala IT dari berbagai perusahaan, ditemukan 99% perusahaan yang menggunakan lingkungan multicloud kini menggunakan rata-rata 7 alat monitoring untuk memantau infrastruktur mereka. Sebanyak 58% Kepala IT mengatakan bahwa manajemen infrastruktur ini cukup menguras sumber daya perusahaan mereka. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai cloud monitoring mulai dari definisinya, perbedaannya dengan cloud logging, apa saja tipe-tipenya, bagaimana strategi penerapan yang tepat, serta apa saja manfaatnya untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu Cloud Monitoring?

Cloud monitoring atau alat pemantau cloud adalah seperangkat solusi dan metode yang digunakan untuk mengamati, mengukur, menganalisis, serta mengelola kesehatan infrastruktur IT berbasis cloud. Solusi atau layanan ini umumnya terintegrasi dengan berbagai layanan lain untuk bisa memberikan informasi dan gambaran lengkap tentang kondisi dan kinerja sistem. Perusahaan dapat menggunakan alat pemantau cloud ini untuk berbagai keperluan mulai dari mengidentifikasi potensi masalah, mengoptimalkan sumber daya, hingga meningkatkan keandalan sistem dan aplikasi.

Pemantauan lingkungan cloud yang berkelanjutan dan didukung dengan otomatisasi dapat memberikan visibilitas yang jelas tentang kinerja dan ketersediaan situs web, file, aplikasi, server, hingga sumber daya jaringan. Visibilitas ini dapat memberikan perusahaan wawasan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang muncul secara real time sebelum masalah tersebut berkembang dan berdampak negatif pada aspek lain, khususnya pada pengalaman digital pengguna (user experience).

Alat pemantauan cloud dapat menghimpun berbagai data dari aplikasi dan sumber daya yang tersebar di saluran terdistribusi untuk bisa mendeteksi anomali, menganalisis akar masalah, memprediksi dan mencegah pelanggaran keamanan, hingga menyajikan berbagai laporan. Laporan ini meliputi metriks (cloud monitoring metrics), kinerja, serta hasil deteksi insiden yang ditampilkan secara visual lewat dashboard.

Cloud Monitoring vs Cloud Logging, Apa Perbedaannya?

Cloud monitoring dan cloud logging merupakan dua istilah yang berbeda namun sering dianggap sebagai layanan yang sama. Pada dasarnya, sistem monitoring dan logging di lingkungan cloud adalah dua kegiatan yang berbeda namun saling melengkapi untuk bisa memastikan kinerja sistem atau aplikasi yang optimal. Perbedaan fundamental dari kedua istilah ini terletak pada fungsi dan fitur utamanya.

Monitoring berfungsi untuk memberikan visibilitas secara real time terkait kesehatan dan kinerja aplikasi, layanan, serta infrastruktur lainnya. Dalam lingkungan cloud, layanan ini digunakan untuk memantau kinerja sistem dan mengidentifikasi masalah sebelum masalah tersebut menyebabkan downtime.

Fitur-fitur utama dari monitoring antara lain adalah mengumpulkan data metriks dari berbagai sumber yang akan ditampilkan secara visual di dashboard, mengelola aturan peringatan berdasarkan kondisi tertentu, serta diintegrasikan dengan layanan ketiga (third-party tools) lain.

Sementara itu, logging berfungsi untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpan log dari berbagai sumber di lingkungan cloud. Layanan ini dapat disebut juga sebagai log management platform yang dapat menyimpan berbagai log pada skala ekabytes.

Kedua layanan tersebut dapat diintegrasikan satu sama lain untuk bisa  mengoptimalkan pemantauan, analisis, serta pemecahan masalah dalam lingkungan cloud.

Apa Saja Tipe-tipe Cloud Monitoring?

Terdapat beberapa tipe dan jenis alat pemantauan cloud berdasarkan aspek yang dipantau beserta tujuannya. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:

Application Performance Monitoring (APM)

Application Performance Monitoring atau APM bertujuan untuk memberikan visibilitas real time terkait status dan performa aplikasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan aplikasi bekerja dengan semestinya dan meminimalisasi error atau bug.

Database Monitoring

Pemantauan database berfungsi untuk memastikan kueri database berjalan dengan baik sekaligus mengidentifikasi masalah terkait hosting. Contohnya adalah pemantauan uptime yang dapat mengidentifikasi ketidakstabilan dan meningkatkan waktu rata-rata untuk pemulihan downtime.

Website Monitoring

Monitoring jenis ini berfungsi untuk memantau proses, traffic, ketersediaan, serta penggunaan sumber daya website yang dijalankan dengan hosting cloud.

Cloud-server Monitoring

Jenis pemantauan ini bertujuan untuk melacak metriks serta informasi tentang CPU server, memori, kesehatan jaringan, serta hosting, kontainer, dan fungsi serverless.

Cloud Storage Monitoring

Pemantauan cloud storage berfungsi untuk melacak sumber daya penyimpanan serta proses yang disediakan untuk berbagai fitur seperti virtual machine, layanan, database, serta aplikasi.

Virtual Machine Monitoring

Virtual Machine atau VM juga dapat dipantau untuk memastikan berbagai aspek seperti penggunaan sumber daya dan kinerja VM yang mendukung sebuah aplikasi.

End-user Experience Monitoring

Selain fitur-fitur teknologi, pengalaman pengguna juga dapat dipantau agar tim developer bisa mengetahui dan mengukur kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan yang diberikan oleh perusahaan, baik dalam bentuk situs web maupun aplikasi.

Unified Monitoring

Unified monitoring adalah platform pemantauan terintegrasi yang dapat memantau seluruh aspek dalam sistem mulai dari infrastruktur fisik, virtual, hingga infrastruktur cloud.

Bagaimana Cara Menerapkan Strategi Cloud Monitoring?

Terdapat beberapa praktik dan strategi terbaik untuk menerapkan alat pemantauan cloud untuk infrastruktur IT yang efektif. Langkah pertama adalah tentukan perangkat atau layanan cloud terbaik untuk kondisi perusahaan Anda. Setelah itu tentukan juga tujuan dan jalur yang jelas menuju kesuksesan perusahaan. Identifikasi metriks kinerja utama yang spesifik untuk tujuan perusahaan yang telah ditentukan.

Selain itu, berikan gambaran lengkap tentang kondisi kesehatan seluruh infrastruktur cloud dan ukur konsumsi sumber daya cloud untuk memastikan sumber daya tersebut dapat diskalakan untuk beradaptasi dengan kebutuhan bisnis. Tetapkan juga baseline untuk mengukur metriks dan pola tersebut dari waktu ke waktu.

Perusahaan juga bisa memprediksi kebutuhan sumber daya dan skala sesuai dengan kebutuhan untuk memantau alur pengguna (user flow) untuk mengukur waktu respons. Selain itu, normalisasi data dari data center dan cloud ke dalam satu platform terintegrasi dan terapkan juga peringatan otomatis jika terdeteksi masalah-masalah.

Apa Saja Manfaat Cloud Monitoring untuk Perusahaan?

Penerapan monitoring dalam lingkungan cloud dapat memberikan sejumlah manfaat bagi perusahaan. Berikut ini adalah manfaat dan penjelasannya:

Meningkatkan Keamanan Aplikasi dan Jaringan Cloud

Identifikasi dan penyelesaian masalah secara real time dapat berperan dalam meningkatkan keamanan aplikasi dan cloud. Fitur peringatan otomatis juga dapat membantu tim IT untuk mengatasi berbagai masalah keamanan.

Mengoptimalkan Ketersediaan dan Kinerja Aplikasi

Pemantauan kesehatan dan kinerja aplikasi dapat membantu perusahaan untuk mengoptimalkan ketersediaan dan kinerja aplikasi, serta meminimalkan downtime.

Memastikan Keberlangsungan Layanan IT

Layanan ini juga dapat memungkinkan rencana keberlangsungan layanan IT yang proaktif yang dapat meningkatkan kemampuan tim IT untuk merespons downtime. Selain itu juga meningkatkan kapasitas untuk mendeteksi, memprediksi, dan mencegah terjadinya insiden tersebut.

Optimalkan Visibilitas Performa Aplikasi Anda dengan Cloud Monitoring dari Phintraco Technology!

Visibilitas dan kemampuan untuk memantau seluruh aspek dari lingkungan multicloud, khususnya dalam pengembangan aplikasi seperti DevOps merupakan kunci kesuksesan utama. Oleh karena itu, perusahaan perlu memilih platform monitoring yang tepat untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform cloud monitoring terintegrasi untuk produk Anda. Solusi monitoring dari Phintraco Technology dilengkapi oleh otomatisasi berkelanjutan berbasis AI. Teknologi ini dapat memberikan observasi secara end-to-end yang diperlukan untuk mengukur dan memvisualisasikan kinerja aplikasi dan jaringan cloud.

Hubungi email marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut terkait solusi cloud monitoring dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Service Mesh: Integrasi Berbagai Layanan Microservices
18 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Service Mesh: Integrasi Berbagai Layanan Microservices

Aplikasi kini semakin berkembang untuk  bisa memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehari-hari. Salah satu bentuk perkembangan aplikasi di zaman modern ini adalah dengan munculnya aplikasi yang dibangun dengan arsitektur microservices. Pendekatan ini dilakukan untuk membuat aplikasi monolitik menjadi terdiri dari beberapa layanan kecil yang independen dengan peran dan fungsi tertentu. Cara untuk bisa mengelola komunikasi dan interaksi antar layanan tersebut adalah service mesh.

Service mesh atau jaringan layanan merupakan solusi bagi developer untuk bisa menyederhanakan dan mengamankan komunikasi antar layanan di lingkungan microservices. Sebagai lapisan infrastruktur khusus yang dirancang untuk menangani interaksi dalam arsitektur microservices, jaringan layanan ini berperan seperti pengelola lalu lintas dan sebagai jaringan virtual. Artikel ini akan membahas service mesh secara lengkap mulai dari apa definisinya, bagaimana cara kerjanya, apa perbedaannya dengan API Gateway, serta apa saja kelebihannya. Simak artikel berikut ini untuk mendapatkan informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Service Mesh?

Service mesh adalah sebuah lapisan infrastruktur khusus yang dirancang ke dalam aplikasi untuk mengatur komunikasi antar layanan dalam arsitektur microservices. Jaringan ini mengontrol segala pengiriman permintaan layanan (service request) ke layanan lainnya. Selain itu, layanan ini juga berperan untuk melakukan penyeimbangan beban, mengenkripsi data, serta menemukan layanan-layanan lainnya.

Sederhananya, jaringan layanan ini merupakan lapisan abstrak yang berada di antara layanan dalam microservices. Selain berfungsi untuk meneruskan lalu lintas permintaan dan respons antar layanan, jaringan ini juga dapat digunakan untuk IT policy seperti autentikasi, otorisasi, dan enkripsi.

Penggunaan jaringan layanan ini dapat membantu tim developer untuk lebih berfokus pada logika aplikasi tanpa harus memikirkan tentang kompleksitas jaringan dan interaksi antar layanan microservices. Solusi ini sangat tepat untuk perusahaan yang memiliki aplikasi berskala besar dan terdiri dari banyak layanan mikro. Seiring dengan bertumbuhnya lalu lintas aplikasi, permintaan antar layanan akan meningkat secara  signifikan. Hal ini membuat kemampuan jaringan layanan untuk mengatur aliran data antar layanan menjadi sangat penting dan dibutuhkan.

Jaringan layanan ini juga dapat digunakan untuk tim DevOps yang memiliki pipeline CI/CD. Hal ini karena service mesh dapat menerapkan aplikasi atau infrastruktur aplikasi (Kubernetes) untuk mengelola kode dan alat pengujian otomatis seperti Git, Jenkins, Artifactory, atau Selenium.

Bagaimana Cara Kerja Service Mesh?

Service mesh bekerja dengan cara yang sederhana untuk memenuhi tugasnya untuk melancarkan komunikasi antar layanan dalam arsitektur layanan mikro. Langkah pertama adalah penemuan dan pengenalan layanan oleh services mesh agar layanan microservices dapat menemukan satu sama lain secara otomatis.

Dalam proses penemuan ini, service mesh juga menyediakan fitur autentikasi dan otorisasi untuk memastikan komunikasi antar layanan tersebut aman. Selain itu, data yang dikirimkan antar layanan juga dapat dienkripsi untuk meningkatkan keamanan.

Terdapat juga pemantauan (monitoring) dan logging data telemetri yang berfungsi untuk mengawasi komunikasi antar layanan serta mendeteksi masalah secara dini sebelum menjadi semakin serius. Fitur observabilitas ini memungkinkan perusahaan untuk melihat metrik dan log yang detail untuk memantau kinerja, performa, dan kondisi layanan.

Pengaturan lalu lintas jaringan inni dioperasikan dalam komponen yang disebut data plane. Data plane umumnya berupa sidecar proxy yang dijalankan bersama tiap layanan. Kemudian fitur-fitur seperti routing, discovery service, serta kebijakan keamanan dilakukan di control plane.

Service Mesh vs API Gateway, Apa Perbedaannya?

Service mesh dan API gateway merupakan dua teknologi yang berbeda yang sama-sama digunakan dalam mengelola alur komunikasi dalam aplikasi. Kedua teknologi ini juga sama-sama digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi aplikasi. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada lingkup fungsi, responsibilitas, serta granularitasnya. Berikut ini adalah penjelasannya:

Lingkup Fungsi

Secara lingkup fungsi, service mesh hanya berfokus pada komunikasi antar layanan microservice secara internal, sementara API gateway lebih berfokus pada komunikasi eksternal yaitu antara klien dan API.

Responsibilitas

Berdasarkan responsibilitas atau tanggung jawabnya, jaringan layanan bertugas untuk mengelola aspek komunikasi yang lebih rendah. Aspek-aspek komunikasi tersebut antara lain seperti discovery service, autentikasi, serta enkripsi.

Sementara itu, API gateway bertugas untuk mengelola aspek-aspek komunikasi yang lebih tinggi. Contohnya adalah pengaturan permintaan dan transformasi respons.

Granularitas

Perbedaan secara granularitas antara kedua teknologi ini adalah service mesh yang beroperasi pada tingkat instance layanan microservice, sementara API gateway beroperasi pada tingkat API.

Apa Saja Kelebihan dari Service Mesh Architecture?

Arsitektur jaringan layanan memiliki beberapa kelebihan utama dan manfaat yang dapat dirasakan oleh tim developer. Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan serta penjelasannya:

Manajemen Traffic yang Terpusat

Jaringan layanan dapat memberikan kendali yang lebih baik atas berbagai komunikasi antar layanan. Hal ini meliputi kemampuan routing tingkat lanjut, percobaan ulang, serta kegagalan (failovers). Sentralisasi manajemen traffic ini juga memastikan ketersediaan dan ketahanan yang tinggi.

Meningkatkan Skala Keamanan

Aspek keamanan sangat penting dalam arsitektur microservices. Teknologi ini dapat mengatasi hal tersebut dengan mengimplementasikan berbagai langkah keamanan seperti enkripsi, autentikasi, dan otorisasi.

Mencegah Kegagalan Sistem

Jaringan layanan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pemutusan sirkuit, percobaan ulang, serta time out untuk mempromosikan ketahanan dalam menghadapi kegagalan.

Meningkatkan Visibilitas

Service mesh dapat memberikan visibilitas yang tinggi dalam interaksi layanan mikro. Fitur-fitur penelusuran dan pemantauan yang terdistribusi dapat memberikan wawasan tentang kinerja dan perilaku aplikasi secara mendalam pada tim developer.

Komunikasi Antar Layanan dalam Pengembangan DevOps Lebih Mudah dengan Service Mesh dari Phintraco Technology!

Mengatur kelancaran komunikasi antar layanan dalam aplikasi microservice merupakan hal yang penting bagi tim pengembang DevOps. Oleh karena itu tim DevOps memerlukan platform yang tepat untuk bisa menciptakan jaringan layanan yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan solusi service mesh yang dapat membantu tim DevOps Anda. Solusi service mesh dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas yang lengkap tentang komunikasi antar layanan tanpa perlu konfigurasi atau pengkodean tambahan.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi service mesh dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
OpenTelemetry: Alat Pemantauan Data Software Development
12 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

OpenTelemetry: Alat Pemantauan Data Software Development

Aplikasi atau perangkat lunak modern ini sering terdiri dari beberapa layanan yang bekerja sama untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, pengembangan aplikasi kini menjadi semakin rumit dan kompleks. Para pengembang harus memiliki alat atau platform yang dapat membantu mereka untuk mengoptimalkan aplikasi tersebut. Salah satu alat yang digunakan oleh para developer adalah OpenTelemetry.

OpenTelemetry atau OTel kini menjadi alat pengembangan yang populer di dunia software development. Alat ini umumnya digunakan untuk memantau data dalam rangka meningkatkan atau memperbaiki kinerja aplikasi. Melalui penggunaan OTel, developer dapat memahami perilaku aplikasi secara lebih mendalam dan dapat mengoptimalkan performanya. Artikel ini akan membahas OpenTelemetry dari berbagai aspek, mulai dari definisi, fungsi, komponen-komponennya, serta manfaatnya untuk pengembangan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!

Apa itu OpenTelemetry?

OpenTelemetry atau OTel adalah sebuah kerangka kerja untuk observabilitas atau observability framework. Framework ini berbasis open-source dan bebas vendor (vendor-agnostic) yang dirancang khusus untuk mengumpulkan dan mengelola data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. OTel merupakan framework yang terdiri dari kumpulan tools, API, serta SDK.

Teknologi ini merupakan penggabungan dari dua standar yang sebelumnya yaitu OpenTracing dan OpenCensus, lalu terciptalah OTel sebagai standar yang lebih lengkap dan dapat dioperasikan di berbagai platform. Distributed Tracing OpenTelemetry dapat membantu developer untuk melacak permintaan aplikasi dari perangkat frontend sampai ke layanan backend dan database dalam sistem yang terdistribusi. Hal ini membuat developer dapat memahami berbagai layanan, komponen, serta mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan dalam aplikasi.

OpenTelemetry architecture yang fleksibel juga dapat memungkinkan pengguna untuk melakukan instrumentasi manual atau otomatis. Pengembang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan kebutuhan aplikasi. Selain itu, OTel juga dapat digunakan bersamaan dengan berbagai observability backend seperti Jaeger, Prometheus, atau Zipkin.

Apa Saja Fungsi OpenTelemetry?

OTel memiliki fungsi utama yang berhubungan dengan data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. Masing-masing data ini memiliki perannya masing-masing dalam pengembangan aplikasi atau software. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing fungsinya:

Distributed Tracing

Fungsi distributed tracing ini dapat memungkinkan developer untuk melacak permintaan aplikasi secara menyeluruh (end-to-end). Pelacakan ini dilakukan melalui berbagai layanan dan komponen dalam aplikasi, sehingga memudahkan developer untuk mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan.

Metric Collection

Fungsi lain dari OTel adalah pengumpulan data metrik atau metric collection. Data-data seperti latency permintaan, tingkat kesalahan, hingga throughput dikumpulkan dan digunakan oleh developer untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.

Log Management

Terakhir, fungsi OTel adalah untuk mengelola log agar lebih terstruktur. Log yang terstruktur akan lebih memudahkan developer untuk memahami perilaku aplikasi dan mengidentifikasi masalah sejak dini.

Apa Saja Komponen dalam OpenTelemetry?

Terdapat beberapa komponen utama dalam OTel yang masing-masing memiliki peran dalam alur dan cara kerja OTel dalam mengumpulkan dan mengelola data telemetri. Berikut ini adalah komponen-komponen beserta penjelasannya:

API (Application Programming Interface)

API atau application programming interface adalah komponen dasar dari OTel. Komponen ini berfungsi untuk menyediakan cara bagaimana aplikasi bisa berkomunikasi dengan OTel.

Selain itu, API juga menyediakan serangkaian interface yang konsisten di berbagai bahasa pemrograman. Hal ini memungkinkan developer untuk menambahkan instrumen ke aplikasi dengan cara yang seragam. Sifat API yang fleksibel ini juga memungkinkan developer untuk beralih ke berbagai backend observabilitas tanpa perlu mengubah kode secara signifikan.

SDK (Software Development Kit)

SDK atau software development kit merupakan perantara antara API dengan komponen-komponen lainnya. Hal ini memungkinkan developer untuk mengatur bagaimana OTel mengumpulkan informasi.

SDK menyediakan berbagai fitur dan utilitas yang berguna bagi developer antara lain context propagation, automatic instrumentation, dan exporter.

Exporter

Exporter atau in-process exporter adalah komponen yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan data-data telemetri dari SDK untuk dikirimkan ke backend observabilitas. Komponen ini umumnya dikonfigurasi untuk mengirim data ke komponen lainnya yaitu collector. Penggunaan exporter membuat developer bisa mengubah backend tanpa perlu memodifikasi kode aplikasi.

Collector

Collector adalah layanan atau komponen yang bertugas untuk menerima, memproses, serta mengeksplor data telemetri. Komponen ini bertindak sebagai titik pusat pengumpulan data dari berbagai sumber.

Selain mengumpulkan data, komponen ini juga memiliki beberapa fitur penting seperti penyaringan data, transformasi data, pengiriman data dalam bentuk batch, serta backend routing ke berbagai observability yang berbeda-beda.

Apa Saja Manfaat OpenTelemetry untuk Software Development?

Penerapan OTel dalam software development dapat memberikan sejumlah manfaat, khususnya dalam metode pengembangan DevOps yang memerlukan koordinasi dan observabilitas tinggi. Berikut ini adalah manfaat-manfaatnya serta penjelasannya:

Mengoptimalkan Kinerja Aplikasi

Manfaat utama dari penerapan OTel adalah pengembang dapat mengoptimalkan kinerja dan performa aplikasi secara maksimal. Hal ini didukung oleh pengumpulan data telemetri yang akurat.

Mengurangi Potensi Masalah

Komponen-komponen dalam OTel dapat melacak permintaan aplikasi secara end-to-end, sehingga pengembang dapat mengidentifikasi potensi masalah dan memperbaikinya dengan lebih cepat.

Meningkatkan Observabilitas

Pengelolaan log yang lebih terstruktur dan data metrik yang penting dapat membantu pengembang untuk bisa lebih memahami dan mengetahui perilaku aplikasi secara lebih menyeluruh.

Ciptakan Analisis dan Observasi Data yang Mudah dengan OpenTelemetry Platform dari Phintraco Technology!

OpenTelemetry merupakan solusi yang dapat dimanfaatkan pengembang aplikasi untuk menciptakan analisis dan observasi data yang lebih efektif dan efisien. Anda juga dapat meningkatkan kinerja aplikasi yang sedang dikembangkan dengan solusi OTel.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang menyediakan platform pengembangan aplikasi yang mendukung Distributed Tracing OpenTelemetry. Solusi dari Phintraco Technology dapat menawarkan integrasi yang luas dan fleksibel untuk mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan data telemetri.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi lengkap mengenai OpenTelemetry dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOps
11 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOps

Efisiensi dan sistem yang andal merupakan kunci keberhasilan utama bagi perusahaan yang bergerak di dunia bisnis modern seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi digital yang mulai menjadi bagian integral dari berbagai aspek kehidupan manusia menuntut perusahaan untuk bisa menyediakan layanan atau produk digital yang efisien, responsif, dan dapat diandalkan. Salah satu strategi yang diterapkan untuk bisa meningkatkan efisiensi IT, khususnya dalam metode pengembangan aplikasi DevOps adalah full-stack observability atau FSO.

FSO dapat memastikan perusahaan memantau performa aplikasi yang dikembangkan secara real-time. Hal ini juga dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan wawasan yang berguna dalam rangka meningkatkan kualitas dan keandalan sistem. Wawasan tersebut bisa dengan mudah didapatkan karena FSO memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis data secara mendalam. Artikel ini akan membahas berbagai aspek dari FSO, mulai dari definisinya, perbedaannya dengan monitoring, mengapa strategi ini penting, serta apa saja manfaatnya untuk IT dan DevOps. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Strategi Full-stack Observability?

Full-stack observability adalah sebuah strategi atau kemampuan untuk bisa mengetahui kondisi dari berbagai titik akhir dalam lingkungan IT yang terdistribusi berdasarkan data telemetri. Titik-titik akhir ini meliputi server lokal, Kubernetes infrastructure, infrastruktur atau layanan berbasis cloud, serta teknologi-teknologi open source.

Sistem IT dan pengembangan aplikasi dapat memanfaatkan strategi full-stack observability, Gartner melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa infrastruktur modern dan aplikasi memerlukan koleksi data, penyimpanan, serta analisis yang menyeluruh meliputi berbagai metrik, log, dan jejak lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan wawasan kepada tim IT seputar kinerja aplikasi, infrastruktur, hingga user experience (UX).

Dalam metode pengembangan DevOps, strategi ini juga memungkinkan tim IT untuk bisa memahami bagaimana semua entitas dapat terhubung, mulai dari koneksi infrastruktur, hubungan dan ketergantungan antara container, microservices, hingga kode di semua lapisan jaringan.

Pengamatan atau observability ini juga dilakukan untuk digital experience monitoring atau DEM. Observabilitas dapat mengidentifikasi pengalaman pengguna awal dan memungkinkan tim IT untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan loading time dan mengurangi latensi. Masalah-masalah terkait dengan pengalaman pelanggan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan responsif dengan strategi ini.

Apa Perbedaan Full-stack Observability dan Monitoring?

Observability dan monitoring merupakan dua istilah yang seringkali dianggap sama dalam konsep IT. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, terutama dalam konteks pengembangan DevOps dan FSO.

Secara definisi, monitoring merupakan proses pengumpulan, analisis, dan penggunaan informasi untuk melacak kemajuan program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Biasanya monitoring berfokus pada pengamatan metrik tertentu.

Sementara itu, observability adalah kemampuan untuk memahami kondisi internal sistem dengan menganalisis data yang dihasilkan, mulai dari log, metrik, hingga jejak. Kemampuan observasi memungkinkan analisis terhadap apa yang terjadi di seluruh lingkungan multicloud sehingga masalah yang muncul bisa lebih cepat dideteksi.

Sederhananya, monitoring berfungsi untuk mengumpulkan dan menampilkan data, sementara observability berfungsi untuk menampilkan kondisi sistem dengan menganalisis input dan output yang ada, Kedua metode ini sama pentingnya dalam mengetahui dan menganalisis kondisi sistem. Monitoring umumnya hanya menyediakan wawasan terbatas terkait data yang fokus pada metrik tertentu, sementara observability dapat menampilkan data yang menunjukkan kondisi internal sistem sehingga tim IT dapat menemukan masalah yang terjadi sekaligus penyebabnya.

Mengapa Full-stack Observability Penting?

Terdapat beberapa faktor yang mendukung pentingnya penerapan FSO dalam IT dan pengembangan DevOps. Faktor pertama adalah kompleksnya tantangan IT di lingkungan cloud yang tidak dihadapi dalam pusat data lokal. Hal ini membuat banyak perusahaan yang membutuhkan alat pemantauan yang malah semakin menambah kompleksitas cloud dan memperlambat respons waktu dalam menangani masalah.

Faktor kedua adalah setiap tim yang seringkali menggunakan beberapa alat dalam lingkungan yang terpisah, sehingga masing-masing tim tidak dapat melihat gambaran utuh dari proyek atau pekerjaan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan berbagai hambatan yang bisa berdampak buruk bagi kelancaran proyek dan bisnis.

Oleh karena itu, observabilitas dapat memberikan wawasan yang diperlukan terkait setiap lapisan infrastruktur aplikasi dalam satu platform yang sederhana. Alat pemantauan yang sederhana dan terpadu ini dapat memberikan solusi atas biaya serta kesalahpahaman antar tim dalam proyek pengembangan aplikasi.

Tim DevOps dapat memiliki pengamatan penuh dan mendapatkan feedback yang akurat secara real time dari sistem integrasi atau produksi. Kemampuan diagnostik dan analisis yang lebih responsif membuat tim DevOps bisa menghemat waktu untuk menyelesaikan masalah dan lebih fokus pada pengembangan fitur-fitur inovatif yang bermanfaat bagi pengguna dan kemajuan bisnis.

Apa Manfaat Full-stack Observability untuk IT dan DevOps?

Terdapat beberapa manfaat utama FSO yang dapat berguna untuk sistem IT dan metode pengembangan DevOps, antara lain:

Pengamatan Situasional yang Lebih Utuh

FSO dapat memberikan pengamatan dan pemahaman situasional yang menyeluruh di lingkungan multicloud perusahaan. Visibilitas end-to-end ini juga dapat menghilangkan titik-titik buta seputar kinerja, kondisi, dan perilaku aplikasi.

Diagnosis Akar Masalah yang Lebih Tepat

Tim IT dan DevOps dapat menggunakan FSO untuk mengidentifikasi akar masalah dengan lebih tepat dan cepat. Setelah itu memprioritaskan masalah sesuai dengan dampak ke pengguna dan bisnis.

Mempercepat Otomatisasi Pipeline CI/CD

FSO juga dapat membantu tim DevOps untuk mengidentifikasi potensi masalah dalam pipeline CI/CD. Masalah dapat diperbaiki dengan cepat sehingga otomatisasi pengembangan dan pengiriman software dapat berjalan dengan lebih lancar.

Integrasi Keamanan Aplikasi ke DevSecOps

Tim IT dapat mengintegrasikan keamanan aplikasi run-time secara lebih efektif dalam proses DevSecOps. Proses integrasi ini memastikan setiap tim bergerak di jalur yang tepat dan tidak menghambat inovasi atau mengorbankan keamanan aplikasi.

Tingkatkan Efisiensi Jaringan IT dan DevOps dengan Solusi Full-stack Observability DevOps dari Phintraco Technology!

Kemampuan untuk mengetahui kondisi internal sistem dalam aplikasi merupakan kunci utama dalam keberhasilan aplikasi tersebut. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan strategi FSO dalam metode pengembangan DevOps.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solution yang dapat membantu Anda untuk menerapkan strategi FSO dengan solusi DevOps terbaik dari kami. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas penuh terhadap aplikasi dan infrastruktur Anda sehingga tim IT dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Teknologi ini juga dapat memantau performa aplikasi secara real-time dan mengidentifikasi bottleneck sebelum mempengaruhi pengguna aplikasi.

Hubungi email marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya mengenai solusi full-stack observability DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
DevOps: Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, dan Manfaatnya
05 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

DevOps: Pengertian, Tujuan, Cara Kerja, dan Manfaatnya

Industri teknologi terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan software untuk berbagai keperluan sehari-hari, termasuk keperluan bisnis. Oleh karena itu, para pengembang aplikasi terus mencari cara untuk bisa memproduksi software dengan lebih cepat, efisien, dan berkualitas. Salah satu cara yang populer dalam pengembangan dan operasional aplikasi adalah DevOps.

DevOps sendiri merupakan sebuah metode yang dapat meningkatkan efisiensi, mempercepat waktu perilisan aplikasi, sekaligus meningkatkan kinerja sistem. Prinsip pengembangan ini dapat digunakan oleh developer yang ingin memproduksi aplikasi secara cepat, berkualitas, dan berkelanjutan secara otomatis. Artikel ini akan membahas secara detail tentang apa itu DevOps, apa tujuan utamanya, bagaimana cara kerjanya, apa perbedaannya dengan site reliability engineering (SRE), serta manfaatnya bagi perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa itu DevOps?

DevOps adalah singkatan dari development dan operations. Kedua istilah ini merujuk pada penggabungan atau integrasi antara proses pengembangan dan operasional dalam aplikasi.

Prinsip pengembangan yang menggabungkan proses development dan operationals aplikasi ini mulai dikenal sejak tahun 2007 dan kini telah menjadi standar baru di industri pengembangan aplikasi dan software. Metode yang digunakan memiliki fokus untuk berkolaborasi, otomatisasi, serta orientasi pada hasil di tahap pegembangan.

Kolaborasi merupakan salah satu prinsip dasar dari metode pengembangan ini. Tim developer dan operasional harus berkolaborasi secara erat dalam menjalankan siklus hidup pengembangan (development life-cycle). Selain itu, prinsip ini juga menekankan pada otomatisasi. Sebagian besar tugas, mulai dari integrasi kode, pengujian, hingga deployment dilakukan secara otomatis. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan human error serta meningkatkan kecepatan dan efisiensi.

Dalam praktiknya, terdapat berbagai DevOps tools yang digunakan untuk mengotomatisasikan proses pengembangan serta operasional dari aplikasi. Otomatisasi dan kolaborasi ini dapat menggabungkan beberapa tugas yang tadinya dikerjakan secara terpisah, mulai dari pengembangan, operasional IT, quality engineering, serta keamanan.

Apa Tujuan Utama DevOps?

Penerapan metode pengembangan ini memiliki beberapa tujuan utama. Tujuan-tujuan tersebut antara lain adalah meningkatkan stabilitas dan keandalan sistem, mempercepat waktu peluncuran produk, hingga meningkatkan mean time to recovery atau MTTR. Berikut ini adalah masing-masing penjelasannya:

Stabilitas dan Keandalan Sistem

Tujuan utama dari metode pengembangan DevOps adalah untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem. Hal ini juga termasuk memastikan pembaruan aplikasi atau perubahan infrastruktur sistem dapat tetap berjalan tanpa mengganggu sistem yang sudah ada.

Tujuan ini dapat dicapai dengan menerapkan praktik peningkatan secara berkelanjutan. Tim developer dan operations dapat membangun stabilitas, keandalan produk, serta membantu mengurangi kegagalan dalam proses pengembangan.

Mempercepat Waktu Peluncuran Produk

Kolaborasi dan otomatisasi dalam penerapan DevOps dapat dengan signifikan mempercepat waktu peluncuran produk. Berbagai tools yang digunakan dan praktik berkelanjutan dapat menghemat waktu mulai dari awal perancangan produk, pengembangan, pengujian, hingga peluncuran produk ke pasar.

Meningkatkan Mean Time to Recovery (MTTR)

Mean time to recovery atau MTTR adalah istilah yang merujuk pada waktu rata-rata yang diperlukan untuk memperbaiki kegagalan produk atau sistem. Perusahaan perlu mengukur waktu tersebut untuk bisa mengelola dan memperbaiki kegagalan pada sistem atau aplikasi. Hal ini dapat dilakukan dengan metode DevOps yang terencana dan berkelanjutan.

Bagaimana Cara Kerja DevOps?

Metode DevOps dapat dilakukan dengan melibatkan beberapa tahapan dan DevOps tools yang diperlukan untuk mendukung kolaborasi antara tim developer dan operational. Berikut ini adalah langkah-langkah dan cara kerja DevOps dan penjelasannya:

Perencanaan dan Penulisan Kode

Tim developer dan operational berkolaborasi untuk merancang aplikasi serta fitur-fitur baru untuk peningkatan sistem. Rancangan dan fitur-fitur ini biasanya dilakukan dengan menggunakan project management tools untuk mengatur tugas-tugas, timeline, dan merencanakan percepatan.

Continuous Integration/Continuous Delivery (CI/CD)

CI/CD merupakan dua tahapan yang saling berkaitan dalam proses DevOps. Dalam CI, tim developer dapat melakukan perubahan kode secara otomatis dan menggabungkannya ke sebuah repository terpusat. Tahapan ini meliputi pengujian seperti unit test dan integration test secara otomatis.

Sementara itu, CD berperan untuk melakukan staging dan produksi secara otomatis setelah melewati fase integrasi dan pengujian. Continuous delivery membuat aplikasi bisa selalu siap untuk masuk ke tahap deployment kapan saja.

Monitoring

Pada tahap terakhir ini, data-data akan dikumpulkan terkait dengan kinerja aplikasi serta identifikasi masalah-masalah apa yang terjadi. Proses pengawasan ini dilakukan agar tim developer maupun tim operational dapat mengetahui jika terjadi masalah dan bisa menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.

Site Reliability Engineering vs DevOps, Apa Perbedaannya?

Metode DevOps dan site reliability engineering (SRE) merupakan dua istilah yang kerap digunakan secara bersamaan dalam hal pengembangan aplikasi. Akan tetapi, kedua metode ini memiliki lingkup dan fokus yang berbeda.

Secara fokus, DevOps berfokus pada kolaborasi tim, otomatisasi, serta perilisan produk yang cepat. Metode ini juga memiliki lingkup yang luas yaitu seluruh siklus hidup pengembangan software. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pengiriman software dengan metriks waktu pengiriman, frekuensi deployment, dan mean time to recovery (MTTR).

Sementara itu SRE lebih berfokus pada menjaga skalabilitas, keandalan sistem, dan memprediksi kegagalan. Lingkup dari SRE berkutat pada operasi dan pemeliharaan sistem produksi. Hal ini bertujuan untuk memastikan sistem tetap tersedia dalam performa yang tinggi. Metriks yang digunakan untuk mengukur SRE adalah service level objective (SLO) dan error budget.

Sederhananya, DevOps merupakan pendekatan dalam siklus hidup pengembangan software yang lebih berorientasi pada proses dan membutuhkan keterampilan teknis dan juga soft skill. Sementara itu, SRE merupakan  disiplin ilmu yang berfokus pada kualitas hasil dan menerapkan prinsip software engineering untuk masalah-masalah operasional.

Apa Manfaat DevOps untuk Perusahaan?

Penerapan pendekatan kolaborasi developer dan operational memiliki beberapa manfaat bagi perusahaan, yaitu:

Meningkatkan Efisiensi

Metode pengembangan ini dapat mempercepat siklus pengembangan dan merilis fitur atau pembaruan dengan lebih sering. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dalam siklus hidup pengembangan perangkat lunak. Selain itu, masalah atau error dapat dideteksi dan diperbaiki lebih cepat sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengatasi insiden.

Meningkatkan Kualitas Produk

Pendekatan ini memiliki metode pengujian yang lebih menyeluruh, mulai dari unit testing, integration testing, hingga end-to-end testing. Hal ini dapat membantu memastikan bahwa aplikasi telah bebas dari error atau bug dan dapat berfungsi dengan baik. Selain pengujian, tahapan pengawasan juga dilakukan untuk mendeteksi masalah yang akan berdampak pada pengguna.

Meningkatkan Fleksibilitas Bisnis

Pembaruan dan pengembangan aplikasi yang lebih cepat dapat memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan bisnis secara lebih cepat. Siklus pengembangan yang lebih singkat juga memungkinkan perusahaan untuk bereksperimen atau berinovasi dengan ide-ide baru.

Ciptakan Metode Pengembangan yang Efektif dengan Solusi DevOps dari Phintraco Technology!

DevOps merupakan pendekatan modern dalam pengembangan aplikasi yang dapat mempercepat waktu perilisan produk serta menjaga kualitasnya. Oleh karena itu, perusahaan dapat mengotomatisasikan berbagai proses development dan operational aplikasi dengan solusi DevOps yang tepat.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan solusi DevOps terbaik untuk poengembangan aplikasi secara efektif. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat mengotomatisasi berbagai proses integrasi, pengujian, deployment, hingga monitoring dan analisis aplikasi.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
CI CD Adalah Metode Otomatisasi dalam DevOps
04 Sep 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

CI CD Adalah Metode Otomatisasi dalam DevOps

Proses pengembangan perangkat lunak (software) kini menjadi semakin kompleks dan dinamis akibat dari perkembangan teknologi yang semakin maju. Perkembangan teknologi menuntut developer untuk bisa mengembangan aplikasi dengan cepat, akurat, dan fungsional. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan mencari metode pengembangan yang lebih efisien serta responsif. Salah satu metode pengembangan aplikasi yang populer dan dikenal efektif adalah CI CD.

CI/CD dapat mempercepat proses software development dan memastikan bahwa aplikasi yang akan digunakan bisa berjalan dengan stabil dan minim error atau bug. Hal ini membuat metode CI/CD menjadi solusi bagi perusahaan untuk bisa merespons perubahan pasar dan kebutuhan pelanggan yang dinamis dengan lebih cepat. Artikel ini akan membahas CI/CD secara menyeluruh, mulai dari apa itu CI CD, apa perbedaannya, tahapan-tahapannya, contoh tools-nya, serta manfaatnya dalam DevOps. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan CI CD?

CI CD adalah bagian penting dalam DevOps yang berperan sebagai penghubung antara tim developer dan tim operation dalam melakukan berbagai tahapan dalam pengembangan aplikasi. Mulai dari integrasi kode, pengujian (testing), hingga perilisan aplikasi secara otomatis.

CI atau continuous integration merupakan proses pengintegrasian kode ke dalam sebuah repositori yang kemudian menjalankan pengujian secara otomatis. Sementara itu CD atau continuous delivery dan continuous deployment merupakan tahapan berikutnya setelah proses CI telah selesai dan semua kode telah terintegrasi. Metode ini merupakan inti dari proses DevOps karena metode ini dapat mengotomatisasikan berbagai tahapan yang diperlukan dalam proses pengembangan, penyediaan, dan perilisan software.

Secara umum, DevOps sendiri merupakan penghubung antara berbagai stakeholder seperti tim developer dan tim operations. Proses pengembangan (penulisan kode, pengujian) dan proses operasional (deployment, operate, dan monitor) yang sebelumnya dilakukan masing-masing secara terpisah kini dapat dihubungkan oleh DevOps. Hal ini bertujuan untuk mencegah kebingungan dan miskoordinasi antara proses bisnis tim developer dan tim operations secara berkelanjutan.

Proses kolaborasi antara dua proses bisnis ini dapat dilakukan oleh DevOps jika memiliki sistem atau sebuah pipeline yang otomatis. Di sinilah metode ini berfungsi sebagai jembatan bagi tim developer dan tim operations untuk merilis sebuah produk atau software.

Oleh karena itu, secara garis besar metode ini memiliki fungsi untuk mempercepat prose perilisan produk dengan penggabungan kode yang terjadi secara berkelanjutan. Selain itu, pipeline ini juga dapat mendeteksi bug lebih dini dengan CI/CD tools yang otomatis. Hal ini juga mendorong transparansi dan visibilitas yang jelas untuk mendeteksi error pada proses pengujian serta mengontrol perubahan yang perlu dilakukan.

Apa Saja Tahapan dalam CI CD?

CI/CD terbagi dalam tiga tahapan, yaitu Continuous Integration (CI), Continuous Delivery (CD), dan Continuous Deployment. Ketiga tahapan ini merupakan esensi dari metode ini yang dapat membantu proses DevOps dalam menghubungkan tim developer dan tim operations dalam pengembangan software. Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing tahapan tersebut:

Continuous Integration

Continuous integration (CI) adalah proses integrasi atau penggabungan kode yang dibuat oleh tim developer ke dalam sebuah repositori kode secara teratur. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap kode yang diintegrasikan tidak menyebabkan masalah atau merusak fungsionalitas yang telah ada.

Selain penggabungan dan integrasi kode, proses CI juga melibatkan pengujian unit kode secara otomatis untuk memastikan bahwa perubahan yang dilakukan tidak akan menyebabkan kesalahan. Pengujian dalam tahap ini juga dilakukan secara statik, atau memeriksa kode tanpa menjalankannya. Tahap ini dapat membantu tim developer untuk mengidentifikasi masalah dengan cepat dan memperbaikinya sebelum menjadi semakin parah.

Continuous Delivery

Continuous delivery merupakan langkah selanjutnya dari CI. CD melibatkan otomatisasi proses pengiriman perangkat lunak ke lingkungan pengujian atau produksi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa software siap untuk diproduksi setiap saat.

Tahapan continuous deployment juga melakukan pengujian lebih lanjut terhadap software seperti pengujian integrasi, pengujian sistem, dan pengujian penerimaan pengguna. Setelah itu, software akan dikemas ke dalam bentuk yang siap untuk deployment dan diuji lebih lanjut untuk memastikan produk dapat disalurkan ke produksi tanpa perlu waktu lama untuk persiapan.

Continuous Deployment

Continuous deployment merupakan tahapan terakhir dalam pipeline CI/CD. Tahapan ini melibatkan proses deploy produksi software secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Tujuan dari continuous deployment ini adalah untuk memastikan bahwa perubahan kode yang telah lolos dari pengujian dapat segera disebarkan ke tahap produksi.

Proses distribusi dan deployment ke tahap produksi akan dijalankan secara otomatis setelah software lolos dari tahap pengujian. Software kemudian akan dipantau selama masa deployment dan produksi untuk memastikan tidak terjadi kesalahan. Jika terjadi kesalahan setelah deployment, sistem dapat melakukan rollback secara otomatis ke versi sebelumnya untuk meminimalkan dampak dari kesalahan tersebut.

Tools Apa Saja yang Dapat Digunakan dalam Proses CI CD?

Terdapat beberapa pilihan CI/CD tools yang dapat digunakan dalam CI/CD pipeline untuk mendukung proses DevOps. Berikut ini adalah contoh tools tersebut:

GitLab CI/CD

GitLab CI/CD adalah salah satu alat untuk membuat perencanaan dan sinkronisasi sistem. Alat ini dapat membantu developer untuk menganalisis kualitas kode dengan fitur keamanan. Hal ini diperlukan untuk memastikan semua kode yang diintegrasikan mematuhi standar kode yang telah ditetapkan. GitLab dapat diintegrasikan dengan platform DevOps otomatis untuk mempercepat pengembangan hingga produksi software.

GitHub Actions

GitHub Actions adalah salah satu tools CI/CD yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Alat ini dapat memudahkan proses otomatisasi alur kerja dalam pengembangan software. Tidak hanya software GitHub Actions dapat menghubungkan semua tools untuk mengotomatisasikan alur kerja pengembangan apa saja, termasuk layanan web.

Jenkins

Jenkins merupakan server otomatisasi berbasis open source sekaligus alat yang menawarkan banyak plugin pendukung untuk pengembangan software. Tools ini dapat digunakan untuk hampir semua kombinasi bahasa dan repositori kode dengan pipeline.

Apa Saja Manfaat CI CD dalam DevOps?

Terdapat beberapa manfaat utama dari CI/CD pipeline dalam DevOps, berikut ini adalah penjelasannya:

Mempermudah Perubahan Kode

Penerapan pipeline ini memiliki keuntungan teknis utama yaitu untuk perubahan kode yang lebih mudah dan sederhana. Proses perbaikan kode dan integrasi ke dalam repositori membuat developer bisa langsung menguji kode tersebut untuk mendeteksi kesalahan.

Meminimalkan Lingkup Kesalahan

Metode ini dapat memastikan tim developer bisa mendeteksi kesalahan secara lebih cepat sehingga bisa diselesaikan. Proses ini dilakukan dengan menggabungkan aspek pemantauan sistem, identifikasi terjadinya error, serta titik pemicunya.

Mempercepat Proses Rilis Software

Secara umum, penggunaan pipeline ini dalam DevOps dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas pengembangan software hingga ke tahap perilisan. Kode-kode yang diintegrasi dan diterapkan ke dalam produk dapat selalu siap untuk dirilis kapan saja.

Tingkatkan Kecepatan dan Kualitas Pengembangan Perangkat Lunak Anda dengan Solusi DevOps dari Phintraco Technology!

CI/CD merupakan proses utama yang dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas pengembangan software. Proses ini dapat menjadi lebih efisien lagi jika diintegrasikan dengan platform DevOps terbaik yang dapat mengotomatisasikan metode CI/CD.

Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang telah berpengalaman dalam menyediakan solusi teknologi terbaik, salah satunya adalah solusi DevOps. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat mengotomatisasi kinerja CI/CD dengan memantau kinerja software secara real time serta mendeteksi masalah sebelum mengganggu proses lebih jauh.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi DevOps dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read  
Timeflex Bot: AI untuk Fleksibilitas Jadwal Agen Contact Center
29 Aug 2024 Muhammad Iqbal Iskandar

Timeflex Bot: AI untuk Fleksibilitas Jadwal Agen Contact Center

Dunia bisnis yang kini terintegrasi dengan teknologi membuat perusahaan harus selalu siap beradaptasi dan berinovasi sesuai dengan perkembangan yang ada. Hal ini tidak terkecuali pada perkembangan untuk menyesuaikan kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks. Salah satu garda terdepan dalam pelayanan pelanggan adalah contact center. Oleh karena itu, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas layanan contact center dengan menggunakan teknologi seperti timeflex bot.

Timeflex bots adalah salah satu teknologi berbasis AI yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam kinerja agen-agen contact center. Hal ini akan secara tidak langsung meningkatkan kualitas layanan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Artikel ini akan membahas timeflex bot secara detail mulai dari apa itu timeflex bot, bagaimana cara kerjanya, mengapa perusahaan perlu menggunakannya, serta apa saja manfaatnya untuk contact center. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Apa yang Dimaksud dengan Timeflex Bot?

Timeflex bots adalah sebuah sistem yang menggunakan teknologi AI untuk membantu kinerja agen contact center agar lebih efisien. Peran bot ini dalam membantu agen contact center adalah untuk mengotomatisasikan pengaturan jadwal kerja agen contact center. Hal ini kemudian dapat memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan jadwal kerja agen contact center berdasarkan kebutuhan operasional dan strategis bisnis.

Penggunaan teknologi ini juga memungkinkan agen contact center untuk melakukan pengubahan atau penyesuaian jadwal tanpa batas selagi menjaga kualitas kinerja mereka. Timeflex bot adalah salah satu dari banyak teknologi AI yang tersedia untuk membantu berbagai aspek dalam pelayanan contact center. Bot ini menggunakan AI untuk membuat perkiraan manajemen tenaga kerja atau workforce management (WFM).

Inovasi lewat teknologi AI ini menawarkan solusi penjadwalan kerja agen contact center yang lebih fleksibel dan dinamis. Penjadwalan yang fleksibel dan dinamis akan lebih menguntungkan baik untuk karyawan maupun perusahaan.

Bagaimana Cara Kerja Timeflex Bot?

Cara kerja timeflex bots meliputi beberapa tahapan sederhana. Sistem dari bot ini dapat menganalisis data-data dari interaksi pelanggan dan data karyawan secara real time untuk bisa memprediksi kebutuhan dan mengatur jadwal kerja agen contact center secara otomatis. Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam cara kerjanya:

Pengumpulan Data

Pertama-tama timeflex bots mengumpulkan data interaksi dengan pelanggan dari berbagai sumber seperti panggilan telpon, chat, atau email. Selain itu, bot ini juga mengumpulkan data terkait karyawan. Data-data inilah yang akan menjadi bahan untuk analisis kebutuhan dan penjadwalan agen contact center.

Analisis Data

Setelah data yang dibutuhkan telah terkumpul, sistem bot akan menganalisis data untuk mengidentifikasi pola dan tren terkait kebutuhan pelanggan. Pola dan tren ini nantinya akan menjadi bahan acuan dan dasar dalam penjadwalan agen contact center.

Pengaturan Jadwal

Berdasarkan hasil dari analisis data sebelumnya, timeflex bot akan melakukan penjadwalan untuk agen contact center. Pengaturan jadwal kerja ini dilakukan untuk memastikan bahwa akan selalu ada agen yang tepat dan tersedia ketika pelanggan membutuhkan.

Integrasi dengan Sistem

Teknologi AI ini juga dapat diintegrasikan dengan sistem atau aplikasi milik perusahaan, contohnya Human Resource Management System (HRMS) atau sistem keamanan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa jadwal yang telah diatur oleh bot telah sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan.

Mengapa Perusahaan Perlu Menggunakan Timeflex Bot?

Perusahaan perlu menggunakan teknologi seperti timeflex bots sekarang karena beberapa faktor pendukung. Selain karena sistem ini dapat mengotomatisasikan pengaturan jadwal kerja agen dan meningkatkan fleksibilitas, terdapat kebutuhan operasional yang membuat perusahaan harus menggunakan teknologi ini.

Kebutuhan operasional yang dimaksud adalah perusahaan yang memiliki agen contact center dalam jumlah banyak atau permintaan pelanggan yang banyak. Hal ini membuat perusahaan harus menyesuaikan jadwal kerja agen untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang dinamis. Di sinilah bot ini berperan dalam mengatasi masalah ini dengan lebih efektif.

Selain kebutuhan operasional, strategi bisnis untuk bisa meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dalam pengelolaan sumber daya juga menjadi faktor pendukung mengapa perusahaan perlu menggunakan bot ini. Pengelolaan yang efisien dan fleksibel membutuhkan sistem yang mudah digunakan untuk menyesuaikan jadwal kerja. Oleh karena itu, timeflex bots dapat menjadi solusinya.

Faktor pendukung lainnya adalah perkembangan teknologi yang semakin pesat, khususnya teknologi AI. Teknologi AI kini mulai digunakan di berbagai aspek dalam kehidupan, tidak terkecuali dalam dunia bisnis. Oleh karena itu, penggunaan bot ini memungkinkan perusahaan untuk mengotomatisasikan pengaturan jadwal kerja menggunakan teknologi AI. Pembagian jadwal dengan hasil analisis AI dapat menghasilkan jadwal kerja yang lebih optimal.

Apa Saja Manfaat Timeflex Bot untuk Contact Center?

Terdapat beberapa manfaat utama penggunaan timeflex bot untuk contact center. Berikut ini adalah manfaat dan penjelasannya:

Meningkatkan Efisiensi

Sistem bot ini dapat mengotomatisasikan banyak tugas manual, salah satunya adalah pembagian jam kerja. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan.

Kualitas Layanan yang Lebih Baik dan Personal

Kualitas layanan yang dihasilkan dari jadwal dan agen yang tepat dapat meningkatkan kualitas dan memberikan pengalaman pelanggan yang lebih personal. Pelanggan juga akan merasa lebih puas dengan pelayanan yang responsif dan personal.

Penghematan Biaya Operasional

Perusahaan dapat menghemat biaya operasional dengan menggunakan teknologi bot ini karena tugas-tugas manual telah dikerjakan oleh AI secara otomatis. Hal ini akan menghemat biaya operasional dan infrastruktur.

Atur Jadwal Agen Contact Center dengan Lebih Fleksibel dengan Timeflex Bot dari Phintraco Technology!

Perusahaan dapat meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional contact center dengan mengatur jadwal kerja agen sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Hal ini dapat dilakukan dengan teknologi AI timeflex bot.

Phintraco Technology, sebagai perusahaan IT infrastructure & solutions yang berpengalaman, dapat menyediakan solusi timeflex bot terbaik untuk perusahaan Anda. Solusi timeflex bot dari Phintraco Technology dapat mengolah data, mengatur jadwal kerja, serta diintegrasikan dengan sistem perusahaan secara mudah dan praktis.

Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang timeflex bot dari Phintraco Technology!

Editor: Cardila Ladini

Read