
Di era digital saat ini, data merupakan aset paling berharga bagi perusahaan. Gangguan sekecil apa pun pada data center, baik karena bencana alam, serangan siber, kegagalan hardware, atau human error, bisa menyebabkan kerugian finansial jutaan hingga miliaran rupiah per jam. Data center disaster recovery (DR) hadir sebagai solusi strategis untuk memastikan bisnis tetap berjalan meskipun data center utama mengalami kegagalan total. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan bisa memulihkan sistem dan data dalam hitungan menit hingga jam, bukan hari atau minggu.
Di Indonesia, di mana ancaman bencana alam seperti gempa, banjir, dan letusan gunung api cukup tinggi, ditambah maraknya serangan siber, memiliki disaster recovery plan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Banyak perusahaan besar seperti bank, e-commerce, dan BUMN sudah mengadopsi solusi ini untuk memenuhi regulasi OJK, BI, dan UU PDP. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu disaster recovery pusat data, perbedaannya dengan data center utama, cara kerjanya, serta manfaat nyata bagi bisnis Anda.
Data center disaster recovery adalah strategi menyeluruh yang mencakup teknologi, proses, dan infrastruktur cadangan untuk memastikan kelangsungan operasional ketika data center utama tidak dapat diakses. Ini bukan sekadar backup biasa, melainkan sistem replikasi real-time atau near real-time yang memungkinkan seluruh aplikasi, database, dan layanan bisnis berpindah ke lokasi cadangan dengan cepat.
Tujuannya adalah mencapai dua metrik kritis, yaitu Recovery Point Objective (RPO) untuk menentukan seberapa banyak data terakhir yang boleh hilang (idealnya nol detik), dan Recovery Time Objective (RTO) yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali online sepenuhnya. Contoh data center disaster recovery yang ideal adalah ketika satu site terkena banjir besar, sistem otomatis beralih ke site cadangan di kota lain tanpa ada satu transaksi pun yang hilang, dan pelanggan bahkan tidak menyadari adanya gangguan.
Baca Juga: Data Center Infrastructure: Cara Kerja, Komponen, dan ManfaatnyaData center utama atau primary site adalah pusat operasional harian yang menangani seluruh beban kerja bisnis secara real-time. Semua transaksi, aplikasi, dan proses inti berjalan di sini dengan fokus pada performa tinggi, latensi rendah, dan akses cepat bagi pengguna. Lokasinya biasanya strategis dan terletak di dekat kantor pusat atau pelanggan utama, sehingga kapasitasnya dirancang 100% untuk mendukung operasional penuh setiap hari.
Sebaliknya, Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas cadangan yang tujuan utamanya bukan menjalankan operasional sehari-hari, melainkan siap mengambil alih sepenuhnya ketika primary site mengalami kegagalan. DRC biasanya berada di lokasi yang berbeda kota atau bahkan provinsi, minimal berjarak 100–300 km, untuk menghindari risiko bencana yang sama. Kapasitasnya bisa 50–100% dari primary site, dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah karena tidak selalu aktif penuh.
Baca Juga: Arsitektur Data Center Modern: Komponen dan Cara KerjanyaTanpa disaster recovery plan yang kuat, maka bisnis sangat rentan terhadap berbagai risiko yang bisa berakibat fatal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa disaster recovery plan ini penting:
Untuk perusahaan menengah hingga besar, satu jam downtime bisa menyebabkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah, terutama di sektor finansial dan e-commerce yang beroperasi 24/7.
Tanpa replikasi real-time, semua transaksi yang terjadi setelah backup terakhir akan hilang selamanya, bisa berupa ribuan order, transfer bank, atau rekam medis pasien.
Ketika layanan tiba-tiba mati berjam-jam atau berhari-hari, pelanggan akan kecewa dan beralih ke kompetitor. Hal ini dapat merusak reputasi perusahaan.
OJK, Bank Indonesia, dan UU Perlindungan Data Pribadi mewajibkan institusi keuangan serta pengelola data pribadi memiliki disaster recovery plan yang terdokumentasi dan teruji secara berkala.
Banyak kasus perusahaan kecil hingga menengah bangkrut total setelah serangan ransomware atau bencana alam karena tidak punya cara memulihkan data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiProses dan cara kerja disaster recovery untuk data center berjalan secara otomatis dan memiliki beberapa lapisan/tahapan. Berikut adalah penjelasannya:
Data tidak hanya di-backup periodik, tapi direplikasi secara synchronous (real-time) atau asynchronous (setiap beberapa detik/menit) ke disaster recovery center
Kondisi primary site dipantau terus-menerus melalui heartbeat signal. Jika sinyal hilang atau parameter kritis turun (CPU, storage, jaringan), sistem langsung mendeteksi adanya potensi bencana.
Begitu gangguan terdeteksi, trafik langsung dialihkan ke DRC melalui global load balancer atau DNS update cepat.
Disaster recovery plan harus diuji minimal 1–2 kali setahun, mulai dari tabletop exercise hingga full failover test.
Setelah primary site pulih, data disinkronisasi kembali secara bertahap, lalu operasional dikembalikan ke site utama tanpa mengganggu layanan.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaDisaster recovery center memiliki banyak manfaat untuk bisnis. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut:
Operasional bisnis tetap berjalan meskipun terjadi bencana besar seperti gempa atau serangan siber masif. Dengan RPO yang mendekati nol, tidak ada transaksi atau data penting yang hilang.
Dibandingkan membangun dua data center identik, perusahaan cukup memiliki satu DRC dengan kapasitas sesuai risiko.
Perusahaan bisa memastikan kepatuhan terhadap persyaratan OJK, BI, ISO 22301, dan UU PDP dengan dokumentasi dan testing yang jelas.
Backup immutable dan air-gapped membuat data tetap bisa dipulihkan meski primary site terenkripsi total.
Kapasitas disaster recovery bisa ditambah kapan saja, terutama jika memakai model cloud.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienKeamanan dan ketersediaan data bisnis perlu didukung oleh solusi data center yang telah teruji dan andal, khususnya untuk industri dan institusi kritis. Solusi data center virtualization dari Huawei merupakan solusi tepat untuk mendukung ketersediaan data bisnis Anda.
Dengan fitur-fitur canggih seperti replikasi sinkronus real time, failover otomatis, full scenario disaster recovery, dan backup anti ransomware, solusi ini dapat membantu bisnis Anda secara signifikan.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu dan mendampingi Anda untuk mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Di era digital saat ini, arsitektur data center modern telah berevolusi jauh dari desain tradisional yang kaku dan mahal. Kini, fokus utamanya adalah pada fleksibilitas, skalabilitas, efisiensi energi, dan integrasi teknologi seperti virtualisasi, software-defined networking (SDN), serta hyper-converged infrastructure (HCI). Arsitektur ini memungkinkan bisnis untuk menangani volume data yang melonjak, mendukung aplikasi AI, cloud hybrid, dan workload real-time tanpa downtime yang signifikan. Di Indonesia, transformasi digital bergerak semakin cepat, sehingga memahami arsitektur pusat data modern menjadi kunci untuk tetap kompetitif dan hemat biaya.
Arsitektur data center saat ini bukan lagi sekadar gedung berisi server, tapi sistem terintegrasi yang mengabstraksi hardware melalui software, sehingga resource bisa dialokasikan secara dinamis. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya operasional hingga 50% dibandingkan desain lama, sambil meningkatkan keandalan dan keamanan. Dengan tren seperti edge computing dan sustainability, arsitektur ini dirancang untuk masa depan, membantu bisnis beradaptasi cepat terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Artikel ini akan membahas secara detail tentang arsitektur pusat data modern dan aspek-aspek terkait.
Arsitektur data center modern adalah rancangan terstruktur yang mengintegrasikan komponen fisik dan virtual untuk menyediakan infrastruktur IT yang dapat diskalakan, efisien, dan resilien. Berbeda dari arsitektur tradisional yang bergantung pada hardware dedicated dan hierarki yang kaku, versi modern memanfaatkan virtualisasi untuk mengabstraksi computation, storage, dan networking, sehingga semuanya dikelola melalui software.
Ciri utamanya termasuk topologi jaringan leaf-spine untuk latensi rendah, hyper-convergence yang menggabungkan semua elemen dalam satu platform, serta dukungan untuk container dan AI workload. Arsitektur ini mendukung model hybrid/multi-cloud, di mana data center on-premise bisa terhubung secara mulus dengan cloud publik. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang agile, di mana penambahan kapasitas dilakukan secara otomatis tanpa intervensi manual besar-besaran.
Baca Juga: Evolusi Data Center: Faktor Utama dan Dampaknya untuk BisnisArsitektur pusat data modern terdiri dari beberapa komponen inti yang saling terhubung. Komponen ini modular, sehingga bisa diskalakan secara horizontal tanpa redesain total:
Lapisan komputasi terdiri dari server fisik atau virtual (VM/container) yang menangani pemrosesan data. Di setup modern, ini sering menggunakan HCI untuk mengintegrasikan komputasi dengan storage dan network.
Storage layer merupakan sistem penyimpanan seperti all-flash array (SSD cepat) atau distributed storage, dengan fitur deduplikasi dan snapshot untuk efisiensi dan backup cepat.
Layer jaringan merupakan jaringan berbasis SDN dengan topologi spine-leaf untuk traffic east-west yang dominan di era cloud, untuk mengurangi bottleneck.
Sistem redundansi (UPS, generator) serta cooling efisien seperti liquid cooling atau immersion untuk PUE rendah (<1.3), mendukung density tinggi.
Aspek manajemen terdiri dari software seperti DCIM (Data Center Infrastructure Management) atau platform O&M cerdas untuk monitoring, provisioning otomatis, dan predictive maintenance.
Komponen keamanan terdiri dari firewall virtual, enkripsi, serta disaster recovery tools untuk zero RPO/RTO.
Baca Juga: Software Defined Data Center: Transformasi dalam Infrastruktur ITCara kerja arsitektur data center modern berbasis pada prinsip otomatisasi dan abstraksi penuh, memastikan alur data lancar dari ujung ke ujung:
Pertama-tama, data dari pengguna atau aplikasi masuk melalui edge switch atau load balancer, kemudian langsung dirutekan ke jaringan inti tanpa bottleneck untuk memastikan setiap server hanya satu "hop” dari yang lain, sehingga latensi internal kurang dari 1 ms.
Hypervisor atau orchestrator (seperti Kubernetes) secara dinamis kemudian mengalokasikan CPU, RAM, dan GPU ke VM/container berdasarkan permintaan. Jika workload naik mendadak, sistem otomatis spawn resource baru tanpa intervensi manual.
Storage distributed akan menulis data ke beberapa node sekaligus untuk redundansi. Fitur seperti erasure coding dan snapshot memungkinkan pemulihan instan, sementara changed block tracking hanya mem-backup data yang berubah, menghemat bandwidth hingga 90%.
SDN berfungsi mengatur alur traffic secara cerdas, sementara virtual firewall dan micro-segmentation memeriksa setiap paket. Jika ada ancaman, sistem akan melakukan isolasi otomatis tanpa ganggu operasional keseluruhan.
Platform O&M menggunakan AI untuk memantau ribuan metrik real-time, memprediksi kegagalan hardware sebelum terjadi, dan mengoptimalkan konsumsi energi (misalnya mematikan server idle atau pindah workload ke node dingin).
Hasil pemrosesan kemudian akan dikirim kembali ke pengguna atau cloud eksternal via API. Di hybrid setup, workload bisa bermigrasi langsung antar on-premise dan cloud tanpa downtime.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiMemilih desain yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi bisnis saat ini dan proyeksi masa depan. Berikut adalah pertimbangan utama beserta penjelasannya:
Arsitektur data center yang efisien membutuhkan integrasi sempurna antara software dan hardware. Sinergi ini memerlukan solusi yang telah terbukti dan memiliki keandalan tinggi. Oleh karena itu, Solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi ideal untuk membangun arsitektur pusat data yang ringan, cerdas, dan memiliki skalabilitas tinggi.
Dengan teknologi hyper-converged infrastructure, penyimpanan yang cepat dan reduplikasi tinggi, serta dashboard cerdas, solusi ini telah dipercaya oleh banyak enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini dengan efisien untuk bisnis Anda.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Data center atau pusat data telah menjadi kunci utama dunia digital selama puluhan tahun, tetapi bentuk dan fungsinya terus berubah seiring dengan waktu. Teknologi yang berbentuk ruangan fisik besar berisi mainframe di era 1960-an kini telah sampai ke fasilitas hyperscale berbasis AI. Evolusi data center yang tidak pernah berhenti ini menunjukkan respons terhadap kebutuhan bisnis yang juga terus berkembang, mulai dari lebih banyak data, lebih cepat, lebih hemat, dan lebih aman.
Perkembangan data center juga mencerminkan bagaimana manusia mengelola informasi. Jika dulu satu komputer besar hanya dipakai oleh satu perusahaan, sekarang satu gedung data center bisa melayani jutaan pengguna sekaligus di seluruh dunia. Di Indonesia, evolusi database ini terlihat mulai dari data center on-premise di tahun 90an dan 2000an, hingga kini bermunculan cloud region lokal dan edge data center. Pemahaman akan perkembangan dan evolusi ini penting bagi bisnis agar tidak ketinggalan dalam memanfaatkan infrastruktur yang tepat, khususnya untuk data center.
Secara sederhana, data center merupakan sebuah fasilitas yang menampung semua server, storage, dan network yang menjalankan aplikasi dan menyimpan data perusahaan. Sejak awal fungsinya tetap sama, yaitu menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data. Perkembangannya terletak pada skala, efisiensi, serta cara pengelolaannya. Sekarang data center tidak lagi berupa gedung yang berisi rak server, tetapi bisa juga berupa layanan cloud, container, atau bahkan modul kecil (edge computing).
Perkembangan data center yang sangat pesat ini bisa terjadi karena banyak faktor. Faktor utama yang masih dan diperkirakan akan terus terjadi adalah ledakan volume data. Di tahun 2025 sendiri, diperkirakan sebesar 181 zettabyte data diciptakan tiap tahun, dari yang tadinya hanya 2 zettabyte di tahun 2010. Ledakan volume data ini diiringi juga dengan meningkatnya kebutuhan akan kecepatan. Kecepatan ini sangat dibutuhkan di aplikasi-aplikasi real time seperti IoT, 5G, online gaming, atau fintech yang menuntut latensi rendah.
Teknologi data center di awal kemunculannya menuntut konsumsi energi yang sangat besar. Dari biaya operasional data center, biaya listrik bisa memakan hingga lebih dari setengahnya. Oleh karena itu perkembangan data center juga mengarah pada konsumsi energi yang lebih hemat.
Selain itu, banyak negara yang mewajibkan data warga disimpan di dalam negeri. Hal ini mendorong dibangunnya fasilitas data center yang mematuhi regulasi tersebut. Meningkatnya pengembangan dan penggunaan AI & machine learning juga membutuhkan ribuan GPU dan infrastruktur khusus untuk training model besar-besaran.
Secara umum, evolusi pusat data dapat dilihat dari lima fase besar, yaitu:
Fase awal ini juga menandai mula era komputer. Di era ini, komputer masih berukuran sangat besar, mahal, dan hanya dimiliki dan dipakai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Di masa akhir fase ini, komputer/fasilitas pusat data membutuhkan satu ruangan khusus dengan AC.
Pada fase ini, server rack mulai muncul sehingga sistem on-premise, di mana perusahaan bisa membangun data center sendiri, mulai banyak diterapkan. Selain itu, istilah Tier 1-4 juga mulai dikenal.
Era ini menandai munculnya virtualisasi dan cloud, seperti VMware, Hyper-V, AWS, dan Azure. Virtualisasi ini akhirnya mengurangi jumlah server fisik secara signifikan.
Teknologi cloud pun semakin diminati dan terus berkembang. Berbagai konsep seperti Docker, Kubernetes, dan multi-cloud pun bermunculan. Selain itu, konsep software-defined everything seperti SDN, SDS, dan SDC juga bermunculan.
Setelah AI banyak bermunculan, GPU cluster pun semakin dibutuhkan untuk mendukung teknologi tersebut. Teknologi ramah lingkungan seperti renewable energy dan carbon-aware computing pun mulai diintegrasikan dalam pusat data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiPenting bagi perusahaan untuk mengetahui dan up-to-date dengan tren terkini seputar data center. Berikut adalah tren-tren tersebut:
Modernisasi dan evolusi data center memberikan dampak yang signifikan bagi bisnis. Berikut adalah beberapa dampak positif yang bisa dirasakan:
Kini perusahaan beralih dari biaya modal awal (CapEx) yang besar menjadi ke biaya langganan bulanan (OpEx) yang bisa disesuaikan setiap saat.
Tiim developer kini bisa membuat, menguji, dan meluncurkan aplikasi atau fitur baru dengan lebih cepat, tidak lagi menunggu waktu mingguan hingga bulanan.
Perusahaan tidak lagi khawatir dengan lonjakan drastis saat hari-hari tertentu karena kapasitas dapat naik secara otomatis dengan fitur auto-scaling, lalu turun lagi setelahnya tanpa biaya yang menganggur.
Fitur redundansi (data disimpan di beberapa region berbeda), failover otomatis, dan backup real time dapat membantu mengurangi risiko kehilangan data atau downtime berkepanjangan. Hal ini meningkatkan resiliensi dan kelangsungan bisnis.
Tim IT tidak perlu lagi mengurus perangkat keras, update firmware, cek suhu ruangan, atau takut mati listrik karena semua disediakan dan ditangani penyedia layanan. Mereka kini bisa lebih fokus ke proyek yang dapat memberi nilai tambah dan inovasi.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaSetelah memahami sejarah, perkembangan, dan tren data center, kini saatnya Anda terapkan modernisasi data center ini untuk bisnis Anda. Solusi Data Center Virtualization dari Huawei dirancang khusus untuk mengatasi tantangan modern sambil memastikan ROI tinggi dan keandalan yang maksimal.
Dengan fitur canggih seperti hyper-converged infrastructure, disaster recovery dan backup terintegrasi, serta manajemen cerdas, solusi ini dapat menjadi pilihan tepat untuk bisnis Anda.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology siap mendampingi Anda menuju data center masa depan.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Volume data dunia tumbuh dengan sangat pesat setiap tahunnya, didorong oleh penggunaan AI, streaming, e-commerce, dan big data. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah kini tidak lagi cukup dengan menggunakan infrastruktur data center biasa. Mereka membutuhkan infrastruktur yang dapat menangani ratusan ribu hingga jutaan server, serta bertambah kapasitasnya dalam hitungan minggu. Inilah yang disebut dengan hyperscale data center, pusat data modern yang dirancang dengan skalabilitas hampir tanpa batas.
Hyperscale adalah konsep infrastruktur IT di mana infrastruktur dapat diskalakan secara masif, cepat, dan efisien tanpa mengorbankan performa atau keandalan. Oleh karena itu, pusat data hyperscale adalah kunci di balik berbagai layanan cloud publik, media sosial, AI, dan aplikasi yang digunakan orang setiap hari. Bagi bisnis lokal, memahami hyperscale merupakan strategi penting untuk tetap kompetitif di masa depan. Artikel ini akan membahas pusat data hyperscale secara detail mulai dari cara kerjanya, bedanya dengan data center tradisional, manfaatnya untuk bisnis, serta pertimbangan dalam memilihnya.
Hyperscale data center adalah fasilitas pusat data yang masif (biasanya lebih dari 10.000 m² dan lebih dari 50 MW daya listrik) yang mampu menampung ratusan ribu hingga jutaan server dalam satu lokasi. Karakteristik utamanya adalah kemampuannya untuk menambah kapasitas server baru dengan sangat cepat tanpa perlu redesain ulang arsitektur.
Jika data center biasa dibangun secara bertahap, hyperscale dirancang sejak awal untuk bertumbuh secara otomatis. Teknologi ini juga menggunakan arsitektur software-defined, server custom, dan otomatisasi. Saat ini, pusat data semacam ini hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan masif seperti Google, Microsoft Azure, AWS, Meta, Alibaba, dan operator-operator besar lainnya.
Hyperscale bekerja dengan prinsip simplicity at scale, yaitu semua server menggunakan desain yang sama (misalnya custom rack atau motherboard open-source). Jaringan atau network juga menggunakan topologi spine-leaf-ultra-flat agar bisa mencapai latency yang rendah.
Dari segi penyimpanan, hyperscale biasanya menggunakan penyimpanan terdistribusi, bukan SAN/NAS biasa. Data akan direplikasi ke banyak node secara otomatis. Selain itu, pendinginan dan listrik juga dirancang dengan lebih efisien dengan liquid cooling atau free-air cooling.
Semua proses mulai dari deploy server baru, update software, hingga penggantian hardware rusak dilakukan secara otomatis oleh robot dan software (zero touch provisioning). Kapasitas kemudian ditambah dengan cara drop container berisi ribuan server yang sudah siap pakai. Oleh karena itu, satu hyperscale data center dapat menambah daya komputasi setara satu data center enterprise hanya dalam waktu 2-3 minggu.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienPerbedaan utama antara pusat data tradisional dan hyperscale tentu terletak pada skala dan ukurannya. Secara ukuran dan kapasitas, pusat data tradisional umumnya terdiri dari 1.000-10.000 server, sementara hyperscale bisa mencapai lebih dari jutaan server. Ketika menambah kapasitas, pusat data tradisional membutuhkan waktu 6-24 bulan, sementara hyperscale hanya perlu 2-12 minggu.
Beberapa data center tradisional belum mencapai level otomatisasi penuh, sementara hyperscale umumnya sudah mengandalkan 95-100% otomatisasi. Tentunya secara fleksibilitas dan skalabilitas, data center tradisional sangat terbatas sementara hyperscale hampir tak terbatas.
Bagi bisnis skala besar dan skala menengah yang berkembang pesat, hyperscale memiliki berbagai keunggulan dan manfaat, yaitu:
Skalabilitas yang hampir tak terbatas ini sangat cocok digunakan untuk bisnis yang pertumbuhannya pesat dan eksponensial, misalnya e-commerce, fintech, gaming, atau AI.
Arsitektur hyperscale juga memungkinkan perusahaan untuk menghemat biaya operasional. Biaya operasional bisa jadi jauh lebih rendah karena penggunaan energi yang efisien dan otomatisasi.
Sistem hyperscale menyimpan data sedekat dengan user, atau disebut juga dengan edge-ready. Hal ini membuat tingkat latensi menjadi sangat rendah.
Sistem backup dapat mereplikasikan data ke berbagai region secara otomatis. Ini meningkatkan ketahanan dan ketersediaan data jika terjadi bencana.
Skalabilitas dan kapasitas yang tinggi dapat mendukung workload modern seperti AI training, real time analytics, container, serta serverless architecture.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaJika bisnis Anda mulai berkembang eksponensial dan membutuhkan pusat data hyperscale, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
Pastikan penyedia layanan memiliki region atau availability zone yang sesuai dengan lokasi bisnis Anda. Di Indonesia, availability zone di kota besar (Jakarta atau Surabaya) atau setidaknya di Asia Tenggara (Singapura atau Malaysia). Ini penting untuk menjaga latensi di bawah 10-20 ms.
Penyedia layanan harus memberikan fasilitas yang mendukung dan mematuhi berbagai regulasi yang berlaku seperti UU PDP, sertifikasi Tier III/IV Uptime Institute, atau ISO 27001. Ini penting untuk industri keuangan, kesehatan, dan pemerintahan.
Tentukan model konsumsi Anda sesuai dengan kebutuhan kontrol, keamanan, dan budget bisnis Anda. Pilihannya meliputi public cloud, dedicated hyperscale, colocation dalam fasilitas hyperscale, atau hybrid.
Pertimbangkan juga risiko vendor lock-in, atau penyedia yang membuat aplikasi sulit dipindah. Pastikan platform mendukung standar open-source (Kubernetes, Terraform, atau OpenStack) untuk kemudahan ekspor-impor VM.
Pilihlah vendor yang memiliki tim support 24/7, SLA tertulis, dan engineer on-site. Ini penting ketika terjadi insiden di tengah malam atau hari libur.
Pertimbangkan juga biaya egress (keluar data), reserved instance discount, storage class, backup, dan disaster recovery. Jangan hanya lihat harga per vCPU atau per GB.
Perusahaan modern kini dituntut untuk memiliki ESG reporting. Oleh karena itu, pilihlah penyedia yang memiliki target carbon neutral atau net-zero, atau memiliki PUE yang rendah.
Mulailah transformasi digital bisnis Anda dengan mengoptimalkan data center Anda ke teknologi virtualisasi yang lebih efisien. Data Center Virtualization dari Huawei dapat menjadi pilihan tepat untuk membantu bisnis Anda mengoptimalkan penyimpanan, kinerja aplikasi, serta memastikan skalabilitas tinggi hingga proteksi tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Seiring dengan berkembangnya teknologi, jumlah data yang dihasilkan dalam bisnis terus bertambah dengan sangat cepat. Oleh karena itu, bisnis perlu cara yang lebih fleksibel, cepat, dan hemat biaya untuk bisa menyimpan serta mengelola data tersebut. Di sinilah virtual data center menjadi solusi yang semakin diminati. Pusat data virtual ini berbeda dengan versi tradisionalnya yang terdiri dari banyak server dan peralatan fisik lainnya. Virtualisasi memungkinkan semua kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan jaringan dijalankan secara virtual di teknologi cloud. Perusahaan pun bisa menambah atau mengurangi kapasitas dalam hitungan menit tanpa harus memberi perangkat baru.
Artikel ini akan membahas pusat data virtual serta perbedaannya dengan pusat data fisik, bagaimana cara kerjanya, komponen di dalamnya, serta manfaatnya untuk bisnis. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Virtual data center adalah seluruh infrastruktur data center, mulai dari server, penyimpanan, sampai jaringan, yang dijalankan secara virtual di atas cloud. Semua perangkat fisik digantikan oleh software, sehingga perusahaan bisa membuat, mengatur, dan menghapus server virtual hanya dengan beberapa klik. Lalu apa bedanya virtual data center vs cloud? Virtual data center adalah pusat data lengkap dalam bentuk virtual, sementara cloud publik umumnya merujuk pada layanan cloud siap pakai yang biasa disewakan. Perusahaan umumnya lebih membutuhkan VDC jika ingin menggunakan cloud tetapi butuh tingkat kendali dan keamanan yang lebih tinggi.
Dengan teknologi ini, perusahaan dapat memiliki data center pribadi, tapi tidak perlu ruangan khusus, dan tidak perlu teknisi standby 24 jam. Semuanya dapat dikelola oleh penyedia layanan, sementara pemilik bisnis tetap bisa mengatur semuanya sesuai kebutuhan bisnis. VDC sangat cocok untuk perusahaan menengah hingga besar yang ingin tetap lincah tanpa mengorbankan performa dan keamanan.
Perbedaan fundamental antara pusat data virtual dan fisik terletak pada biaya awal, penambahan kapasitas, skalabilitas, pemeliharaan, serta fleksibilitas lokasi. Data center fisik umumnya memiliki biaya awal yang tinggi untuk pembelian server, ruangan, serta listrik. Penambahan kapasitas juga dilakukan dalam waktu bulan hingga tahunan dengan skalabilitas yang terbatas karena harus membeli hardware baru. Secara pemeliharaan, pusat data fisik memerlukan tim teknis yang besar, konsumsi listrik yang tinggi, serta lokasi yang kurang fleksibel.
Di sisi lain, pusat data virtual memiliki biaya awal yang rendah, karena hanya perlu membayar sesuai dengan pemakaian. Waktu penambahan kapasitas pun hanya memerlukan menit hingga jam dengan skalabilitas yang hampir tak terbatas. Perusahaan juga tidak perlu repot memikirkan pemeliharaan karena sistem ini dikelola penyedia dan hampir otomatis. Secara konsumsi listrik dan pendingin juga jauh lebih hemat, serta lokasinya fleksibel karena dapat diakses dari mana saja.
Secara sederhana, pusat data virtual dapat dijelaskan cara kerjanya menjadi seperti berikut ini. Dalam arsitektur virtual data center memiliki server-server besar di penyedia layanan baik itu di dalam negeri atau di luar negeri. Kemudian server-server tersebut akan dibagi-bagi menjadi ratusan atau bahkan ribuan server virtual. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi virtualisasi.
Pengguna atau pelanggan kemudian akan diberikan dashboard atau portal khusus untuk melakukan berbagai modifikasi sesuai kebutuhan, mulai dari membuat server virtual, menambah storage, atau mengatur jaringan. Semuanya dapat dilakukan melalui browser.
Ketika ada traffic website yang naik mendadak, sistem dapat secara otomatis menambah daya komputasinya. Sebaliknya, ketika traffic turun, daya akan otomatis pula dikurangi agar pengguna tidak boros biaya. Semua data juga di-backup secara otomatis ke lokasi lain, sehingga jika ada gangguan di satu tempat, data tersebut tetap aman.
Terdapat beberapa komponen penting dalam arsitektur pusat data virtual yang memiliki peran pentingnya masing-masing dan saling bekerja sama. Berikut adalah penjelasannya:
Komponen utama tentu adalah server. Mesin-mesin virtual yang digunakan untuk menjalankan aplikasi dan website. Server virtual ini dijalankan di atas server fisik yang dikelola oleh penyedia layanan di sebuah lokasi fisik.
Selain server, storage atau penyimpanan juga dijalankan secara virtual. Hal ini membuatnya dapat ditambah kapan saja, biasanya menggunakan teknologi seperti SSD.
Jaringan atau network juga diperlukan untuk membuat koneksi antar server, firewall, dan load balancer yang semuanya diatur lewat software.
Dashboard sangat penting bagi pengguna untuk bisa melihat kondisi penggunaan, membuat server baru, mengatur backup, dan memantau performa keseluruhan.
Lapisan keamanan dalam pusat data meliputi enkripsi data, firewall virtual, serta sistem deteksi ancaman yang selalu aktif.
Komponen lain yang tidak kalah penting adalah backup dan disaster recovery. Sistem ini adalah pencadangan otomatis dan rencana pemulihan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Menjalankan pusat data secara virtual memiliki berbagai kelebihan dan manfaat yang dapat dirasakan oleh bisnis. Berikut ini adalah beberapa manfaat utamanya:
Virtualisasi dapat membantu perusahaan untuk menghemat biaya dalam jangka panjang. Perusahaan tidak perlu berinvestasi besar untuk pembelian/perawatan hardware dan ruangan.
Fleksibilitas pusat data virtual sangat cocok untuk bisnis musiman atau startup yang tumbuh secara dinamis dan cepat.
Dengan penghematan perangkat fisik dan konsumsi listrik, penggunaan pusat data virtual menjadi lebih ramah lingkungan karena resource yang digunakan lebih rendah dan efisien.
Sistem backup virtual data center secara otomatis dilakukan ke beberapa lokasi, sehingga risiko kehilangan data hampir nol.
Konsep virtualisasi dan cloud sangat mendukung bagi perusahaan atau karyawan yang bekerja secara remote atau hybrid.
Pertumbuhan data yang masif menuntut perusahaan untuk memiliki sistem pengelolaan data yang aman, efisien, dan memiliki skalabilitas tinggi. Oleh karena itu, solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi yang cocok untuk mendukung fleksibilitas bisnis Anda!
Solusi dari Huawei dilengkapi dengan teknologi canggih yang dapat mengoptimalkan kapasitas penyimpanan, mendukung kinerja aplikasi, serta menjamin keamanan data. Selain itu, terdapat juga fitur-fitur seperti manajemen yang terpusat, skalabilitas tinggi, serta proteksi data tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Keberhasilan bisnis saat ini dapat diukur dari digital experience yang diberikan kepada pelanggan. Dalam dunia bisnis modern, setiap interaksi antara pengguna dan aplikasi digital menjadi cerminan kualitas perusahaan. Baik melalui situs web, aplikasi mobile, atau sistem online lainnya, pengalaman digital menentukan bagaimana pelanggan memandang dan berinteraksi dengan brand.
Bisnis yang mampu menyediakan pengalaman digital yang cepat, aman, dan bebas gangguan akan memiliki peluang lebih besar dalam mempertahankan pelanggan serta meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, memahami dan mengelola digital experience bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis di era transformasi digital saat ini. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya tentang pengalaman digital!
Digital experience adalah keseluruhan interaksi pengguna dengan platform digital suatu perusahaan/organisasi. Ini meliputi tampilan interface, kecepatan respons, hingga kemudahan navigasi. Dalam konteks bisnis, pengalaman digital mencakup pengalaman pengguna ketika menjelajah situs, menggunakan aplikasi mobile, hingga berinteraksi melalui chatbot atau portal pelanggan.
Akan tetapi, pengalaman digital tidak hanya bergantung pada desain atau fitur antarmuka, tetapi juga mencakup performa backend seperti stabilitas sistem, kecepatan pemrosesan data, dan keamanan jaringan. Ketika salah satu komponen ini bermasalah, pengalaman pengguna pun terganggu, bahkan jika user interface terlihat menarik sekalipun.
Untuk memantau semua aspek tersebut, banyak perusahaan kini mengandalkan digital experience monitoring (DEM). Teknologi ini membantu organisasi memantau perilaku pengguna secara real time, mendeteksi gangguan performa aplikasi, serta memahami bagaimana interaksi digital berdampak terhadap kepuasan pelanggan.
Pengalaman digital yang baik merupakan fondasi utama keberhasilan bisnis berbasis teknologi. Terdapat beberapa alasan utama mengapa pengalaman digital sangat penting, yaitu:
Pelanggan modern kini berekspektasi tinggi terhadap kecepatan dan konsistensi layanan digital. Satu halaman yang lambat atau aplikasi yang sering crash dapat membuat pengguna meninggalkan platform.
Persepsi pelanggan terhadap brand dibentuk melalui interaksi online. Perusahaan dengan experience digital yang konsisten, cepat, dan mudah digunakan akan dianggap lebih profesional dan terpercaya.
Dengan bantuan monitoring, perusahaan dapat mendeteksi masalah performa aplikasi sebelum pengguna terganggu. Pendekatan ini dapat mengurangi beban kerja tim teknis melalui deteksi otomatis dan analisis akar penyebab masalah (root cause analysis).
Pengalaman digital yang kuat merupakan titik tengah antara tim IT dan bisnis. Ketika kedua tim memahami pola dan kebutuhan pengguna, mereka dapat merancang inovasi yang lebih relevan dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Pengalaman digital hadir di berbagai bentuk dan sektor industri, mulai dari e-commerce hingga layanan publik. Beberapa contohnya antara lain:
Pengalaman digital di bidang e-commerce meliputi setiap momen mulai dari ketika pengguna menggunakan situs belanja online, menambahkan produk ke keranjang, dan menyelesaikan transaksi.
Dalam mobile banking, kecepatan autentikasi, keamanan transaksi, dan keandalan sistem adalah faktor utama pengalaman digital. Nasabah menilai kepercayaan terhadap bank berdasarkan kemudahan dan kecepatan akses aplikasi mereka.
Banyak perusahaan kini menggunakan AI chatbot untuk memberikan layanan pelanggan 24 jam. Chatbot yang mampu memberikan respons cepat dan akurat dapat meningkatkan kepuasan pelanggan serta mengurangi beban tim dukungan manusia.
Dalam sistem pembelajaran online atau layanan publik digital, aksesibilitas dan stabilitas sistem menjadi kunci. Semakin mudah platform digunakan oleh masyarakat, semakin tinggi tingkat adopsinya.
Untuk mencapai pengalaman digital yang optimal, bisnis perlu mengadopsi strategi dan teknologi yang tepat. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Teknologi DEM memantau user journey secara menyeluruh mulai dari sisi front-end hingga back-end. Platform monitoring memungkinkan tim IT mendeteksi penurunan performa aplikasi secara real time, memahami penyebab masalah, dan memperbaikinya sebelum berdampak pada pengguna akhir.
Desain interface haruslah sederhana, intuitif, dan mudah diakses dari berbagai perangkat. Pengujian pengalaman pengguna (UX testing) perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan desain tetap relevan dengan perilaku pengguna yang terus berkembang.
Waktu muat halaman (page load time) adalah salah satu faktor paling penting dalam pengalaman digital. Gunakan content delivery network (CDN), caching, dan pengujian otomatis untuk menjaga stabilitas dan kecepatan aplikasi.
Dengan menganalisis data perilaku pengguna, bisnis dapat menampilkan konten dan penawaran yang relevan. Personalisasi berbasis AI tidak hanya meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan brand.
Pengalaman digital merupakan bagian dari strategi bisnis keseluruhan perusahaan. Dengan kolaborasi lintas departemen, perusahaan dapat memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan pelanggan.
Dalam dunia digital yang serba cepat, performa aplikasi menjadi tulang punggung pengalaman pelanggan. Oleh karena itu, Anda perlu platform monitoring yang dapat menggabungkan performa teknis dengan insight yang berharga. Phintraco Technology menghadirkan solusi Application Performance Monitoring (APM).
Solusi APM kami dapat memberikan visibilitas menyeluruh terhadap perjalanan pengguna, kinerja aplikasi, hingga analisis penyebab masalah secara otomatis. Solusi ini memastikan aplikasi bisnis Anda selalu dalam performa terbaik.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dalam era transformasi digital, bisnis modern kini banyak mengandalkan layanan berbasis cloud untuk menjaga skalabilitas, efisiensi, dan kinerja yang konsisten. Akan tetapi, di balik fleksibilitas yang ditawarkan, lingkungan cloud juga menghadirkan tantangan baru dalam hal visibilitas dan kontrol terhadap performa sistem. Di sinilah konsep cloud monitoring memiliki peran penting sebagai solusi strategis untuk memastikan seluruh komponen aplikasi berjalan optimal.
Banyak perusahaan kini mulai memahami bahwa monitoring cloud dapat memantau server dan memeriksa integritas sistem secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur, jaringan, hingga pengalaman pengguna akhir. Melalui pendekatan cloud native monitoring, bisnis dapat mendeteksi potensi masalah lebih cepat, mempercepat respon terhadap gangguan, dan menjaga efisiensi biaya operasional. Oleh karena itu, memahami cara monitor cloud bekerja serta penerapan strategi yang tepat menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan performa aplikasi bisnis modern. Artikel ini akan membahas secara detail tentang monitoring cloud mulai dari definisinya, cara kerjanya, fungsi, jenis, serta cara menerapkan strateginya. Simak artikel berikut untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Cloud monitoring adalah proses pengawasan, pengumpulan, dan analisis data dari infrastruktur serta layanan yang berjalan di lingkungan cloud. Sistem ini diterapkan untuk membantu organisasi memahami kinerja dan ketersediaan aplikasi berbasis cloud melalui pemantauan metrik seperti latensi, uptime, penggunaan sumber daya, serta error rate.
Dalam konteks bisnis, cloud monitoring berguna untuk menjaga agar seluruh layanan digital tetap stabil dan andal, bahkan saat beban kerja sistem meningkat. Konsep ini berperan sebagai alat pemantau sekaligus komponen inti dalam sistem observability modern yang memungkinkan analisis mendalam terhadap perilaku aplikasi.
Salah satu aspek penting dari sistem ini adalah cloud native monitoring, yakni pendekatan pemantauan yang dirancang khusus untuk lingkungan microservices dan containerized applications seperti Kubernetes. Dengan model ini, perusahaan dapat memahami hubungan antar layanan, mendeteksi anomali lintas lapisan, dan mengoptimalkan performa aplikasi cloud-native secara otomatis.
Cara monitor cloud bekerja terdiri dari beberapa proses yang saling berkaitan. Berikut ini adalah tahap-tahap intinya:
Pada langkah pertama, sistem akan mengumpulkan metrik penting terkait performa dari berbagai sumber, seperti server, container, API, dan aplikasi melalui agen (agent-based) atau melalui integrasi langsung (agentless).
Setelah itu, semua data yang berhasil dikumpulkan akan dikonsolidasikan ke dalam satu platform monitoring terpusat untuk dianalisis lebih lanjut.
Platform monitoring modern umumnya menggunakan dashboard interaktif dan AI-driven analytics yang kemudian akan digunakan untuk menampilkan kondisi sistem secara real time.
Ketika ada anomali yang terdeteksi, misalnya lonjakan penggunaan CPU atau penurunan respons aplikasi, maka sistem secara otomatis mengirim peringatan dan bahkan dapat memicu tindakan otomatis. Tindakan ini dapat berupa auto-scaling atau restart service.
Fungsi utama dari cloud monitoring adalah memberikan visibilitas utuh terhadap operasi cloud perusahaan. Selain itu, terdapat juga fungsi-fungsi krusial lainnya, yaitu:
Sistem ini berfungsi untuk memantau beberapa metrik utama seperti waktu respons, throughput, dan ketersediaan aplikasi. Hal ini penting untuk memastikan pengalaman pengguna tetap lancar.
Selain itu, sistem ini juga berfungsi untuk mengukur penggunaan CPU, memori, dan storage untuk mencegah pemborosan sumber daya sekaligus menjaga efisiensi biaya.
Monitoring juga penting untuk bisa melacak aktivitas mencurigakan, mendeteksi ancaman siber, serta memastikan sistem cloud mematuhi regulasi seperti ISO 27001 atau UU PDP.
Dengan AI-powered analytics, tim DevOps dapat menemukan akar penyebab masalah performa dalam hitungan detik, bukan jam. Hal ini penting untuk mempersingkat waktu.
Terakhir, monitoring pada intinya berfungsi untuk memastikan pengalaman pengguna akhir (end user) tetap konsisten di berbagai perangkat dan wilayah.
Berikut adalah beberapa jenis solusi monitoring cloud yang umum digunakan saat ini:
Monitor infrastructure digunakan untuk memantau performa perangkat seperti server virtual, container, microservices serta komponen jaringan lainnya untuk menjaga stabilitas infrastruktur.
APM berfokus pada pemantauan kinerja aplikasi dan transaksi pengguna. Solusi APM modern dapat memberikan end-to-end visibility dari kode hingga pengalaman pengguna.
Sesuai dengan namanya, network monitoring berguna untuk melacak konektivitas antar node dan bandwidth. Tujuannya adalah untuk mencegah bottleneck pada sistem cloud.
Jenis pengawasan ini berfungsi untuk menjaga kinerja database agar tetap responsif dan stabil di bawah beban kerja yang tinggi.
Security monitoring untuk cloud digunakan untuk memantau ancaman dan aktivitas mencurigakan yang dapat mengganggu keamanan sistem cloud.
Monitoring jenis ini dirancang untuk arsitektur berbasis microservices dan container dengan kemampuan observasi dinamis terhadap setiap komponen yang saling bergantung.
Penerapan strategi pemantauan cloud memerlukan pendekatan yang sejalan dengan tujuan bisnis dan infrastruktur IT. Berikut adalah beberapa langkah kunci yang perlu diperhatikan:
Pertama-tama, lakukan identifikasi metrik utama apa saja yang perlu diperhatikan, misalnya uptime, latency, error rate, atau throughput sebagai tolok ukur performa.
Pilihlah platform atau solusi monitoring yang dapat menawarkan integrasi lintas cloud (AWS, Azure, GCP) serta analisis berbasis AI.
Pastikan platform monitoring dapat dihubungkan ke pipeline CI/CD. Tujuannya adalah agar deteksi masalah dapat dilakukan sejak tahap pengembangan.
Terapkan teknologi Artificial Intelligence for IT Operations (AIOps) untuk mengurangi false alert dan mempercepat incident response.
Lakukan analisis tren performa untuk menemukan area yang dapat dioptimalkan, baik dari sisi aplikasi maupun infrastruktur yang ada.
Untuk memastikan aplikasi bisnis berbasis cloud Anda berjalan secara maksimal, gunakan solusi Application Performance Monitoring dari Phintraco Technology!
Dengan teknologi AI-driven observability, automatic root cause detection, dan fullstack visibility, solusi dari kami dapat membantu Anda memantau seluruh ekosistem cloud secara real time.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dalam era digital, arsitektur microservices telah menjadi fondasi utama bagi banyak aplikasi modern, khususnya yang membutuhkan skalabilitas tinggi dan waktu rilis cepat. Dengan memecah sistem besar menjadi beberapa layanan kecil yang independen, perusahaan bisa berinovasi lebih cepat dan menjaga stabilitas aplikasi walau beban kerja meningkat. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, muncul tantangan baru, yaitu bagaimana memantau, memahami, dan menjaga performa ratusan bahkan ribuan service yang berjalan secara terdistribusi. Inilah pentingnya konsep microservices monitoring.
Sistem pemantauan menyeluruh ini dapat mencatat performa dan memastikan setiap layanan berjalan secara harmonis. Tanpa pendekatan monitoring yang baik, tim DevOps bisa kehilangan visibilitas terhadap masalah yang muncul di antara dependensi layanan. Oleh karena itu, banyak organisasi kini menerapkan monitoring dan observability microservices secara terpadu. Melalui strategi ini, mereka mampu memahami apa yang terjadi di setiap lapisan sistem (observability dalam microservices) sekaligus menerapkan microservices monitoring best practices agar performa aplikasi bisnis tetap optimal.
Microservices adalah kumpulan layanan kecil yang berjalan secara independen, tetapi tetap saling berkomunikasi melalui API atau pesan. Misalnya, pada aplikasi e-commerce, ada microservice khusus untuk pembayaran, untuk pencarian produk, dan untuk pengelolaan pengguna. Masing-masing dapat dikembangkan dan dikelola oleh tim yang berbeda.
Di sinilah monitoring berperan penting. Microservices monitoring sendiri adalah proses pengumpulan, analisis, dan visualisasi data performa dari setiap microservice dalam sistem. Tujuan utamanya adalah untuk melacak performa dan latency, memantau komunikasi antar-layanan, mendeteksi anomali atau kegagalan, serta menjamin integrasi antar microservices tetap stabil. Sederhananya, monitoring ini berguna untuk memahami bagaimana tiap microservices berinteraksi dan mempengaruhi keseluruhan sistem aplikasi.
Metriks yang dipantau untuk microservices bergantung pada aspek apa yang dipantau. Berikut ini adalah beberapa kategori beserta metriks yang digunakan:
Infrastruktur mencakup penggunaan CPU, memori, network throughput, dan disk I/O pada tiap node atau container. Metrik ini membantu mengidentifikasi apakah sumber daya digunakan secara efisien atau terjadi kelebihan beban (resource contention).
Terkait dengan aplikasi, beberapa metriks yang digunakan antara lain adalah latency (response time), error rate atau persentase permintaan gagal, throughput (requests per second), serta availability atau tingkat keandalan dan uptime layanan.
Untuk memahami alur permintaan yang kompleks, distributed tracing digunakan guna melacak perjalanan request dan komunikasi dari satu layanan ke layanan lain. Hal ini membantu menemukan sumber masalah saat terjadi peningkatan latensi.
Dalam aspek ini, pemantauan mencakup status pod dan node, jumlah restart container, autoscaling activity dan resource utilization. Pemantauan ini memastikan sistem cloud-native tetap berjalan efisien.
Selain metrik teknis, log aplikasi dan metrik bisnis spesifik (seperti jumlah transaksi sukses) juga perlu dianalisis untuk mengukur performa dari sisi operasional maupun strategis.
Kedua istilah ini sering muncul bersamaan dalam konteks microservices, namun memiliki fokus yang berbeda dan saling melengkapi. Monitoring adalah proses mengumpulkan data untuk mengetahui kapan sistem bermasalah. Ia mengandalkan metrik, log, dan alert berbasis ambang batas tertentu (misalnya CPU usage > 80%).
Sementara observability adalah kemampuan sistem untuk menjelaskan mengapa masalah terjadi. Observability menggunakan korelasi antara tiga pilar utama: metrics, logs, dan traces untuk memahami akar penyebab gangguan. Oleh karena itu, monitoring dan observability dalam microservices harus diterapkan bersamaan. Monitoring berfungsi memberikan data, sementara observability memberikan wawasan mendalam dari data tersebut.
Pemantauan terhadap microservices tentu memiliki banyak manfaat bagi bisnis yang memiliki aplikasi dalam proses bisnisnya. Berikut ini adalah beberapa manfaat utama yang bisa diperoleh untuk aplikasi bisnis:
Monitoring real-time terhadap microservice yang ada bisa membantu mendeteksi anomali sebelum berdampak besar. Hasilnya adalah berkurangnya downtime dan performa sistem tetap terjaga dan optimal.
Pengawasan yang ketat dapat memastikan aplikasi tetap responsif meski menghadapi lonjakan trafik. Latensi yang rendah juga berdampak untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Beberapa platform monitoring memiliki dashboard terintegrasi yang dapat mempercepat proses identifikasi masalah. Hal ini dapat mengurangi waktu troubleshooting dan biaya perbaikan darurat.
Data historis dari hasil monitoring dapat membantu perusahaan menentukan strategi auto-scaling yang efisien. Dengan begitu, bisnis dapat beradaptasi dengan perubahan permintaan tanpa kehilangan performa.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, monitoring dapat mendeteksi pola anomali yang dapat menunjukkan potensi ancaman keamanan. Ini dapat membantu mempermudah audit dan pelaporan untuk keperluan kepatuhan atau compliance.
Metrik performa yang didata dapat kemudian dikaitkan dengan metrik bisnis (seperti transaksi per menit). Manajemen kemudian dapat menggunakan hal tersebut untuk membuat keputusan strategis berdasarkan data aktual, bukan asumsi.
Berikut ini adalah beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dalam memilih alat monitoring microservice yang tepat:
Pastikan monitoring tools dapat terintegrasi dengan ekosistem yang ada, misalnya Kubernetes, Docker, AWS, Azure, atau Google Cloud. Kompatibilitas terhadap ekosistem tersebut memastikan bahwa monitoring dapat mencakup seluruh lapisan, mulai dari container hingga aplikasi. Tools yang tidak mendukung sistem infrastruktur perusahaan bisa menyebabkan data terfragmentasi dan insight yang tidak akurat.
Sebuah tools modern harus menawarkan end-to-end observability, bukan hanya sekadar memantau performa. Pastikan tools bisa melakukan distributed tracing untuk melacak permintaan antar microservice, menggabungkan metrics, logs, dan traces dalam satu tampilan, serta menyediakan visualisasi dependensi layanan (service flow map). Kemampuan ini penting agar tim DevOps bisa memahami hubungan antar komponen secara menyeluruh dan menemukan akar masalah lebih cepat.
Lingkungan microservices bersifat dinamis, layanan bisa bertambah, berpindah, atau dihapus kapan saja. Oleh karena itu, pilihlah tools yang dapat melakukan auto-discovery terhadap layanan baru tanpa konfigurasi manual, serta memiliki AI-based anomaly detection untuk menganalisis anomali performa secara otomatis.
Efektivitas monitoring dapat meningkat jika tools yang digunakan diintegrasikan dengan pipeline DevOps dan komunikasi tim. Pastikan tools dapat terhubung dengan CI/CD pipeline (seperti Jenkins, GitLab CI, atau Azure DevOps), sistem notifikasi, serta alat observability atau analitik lain. Integrasi yang baik dapat mempercepat alur kerja dan memperkuat kolaborasi lintas tim.
Tools monitoring harus memiliki dashboard yang intuitif dan interaktif, sehingga mudah dipahami tidak hanya oleh engineer, tetapi juga manajemen non-teknis. Visualisasi yang jelas memungkinkan pengguna melakukan drill-down dari tampilan global sistem ke layanan spesifik untuk analisis akar masalah yang cepat.
Untuk bisa menjaga performa sistem dan aplikasi bisnis yang kompleks, perusahaan perlu monitoring berbasis AI dan observability menyeluruh. Oleh karena itu, Phintraco Technology menawarkan solusi Application Performance Monitoring (APM) yang mampu menganalisis performa aplikasi Anda secara otomatis, menelusuri akar penyebab masalah, serta memberikan insight mendalam untuk peningkatan kinerja bisnis Anda.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dunia bisnis digital kini bergerak semakin cepat, sehingga performa aplikasi menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan. Aplikasi yang lambat, sering error, atau mengalami downtime dapat langsung menurunkan tingkat kepuasan pelanggan dan menimbulkan kerugian finansial yang signifikan. Karena itu, perusahaan modern kini tidak lagi cukup hanya melakukan pemantauan berkala terhadap sistem dan aplikasi mereka. Diperlukan pendekatan yang lebih responsif dan presisi, yaitu real time monitoring.
Dengan metode pengawasan real time, tim IT dapat memantau kondisi aplikasi dan infrastruktur bisnis secara langsung, menganalisis performa sistem, dan segera mendeteksi masalah sebelum berdampak besar pada pengguna. Inilah fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keandalan layanan digital di era kompetisi tinggi, di mana setiap detik downtime dapat berarti hilangnya peluang bisnis. Artikel ini akan membahas aspek-aspek dalam pengawasan real time mulai dari definisinya, cara kerjanya, kenapa metode ini penting, serta cara menerapkannya. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!
Real time monitoring adalah sistem yang memungkinkan pemantauan performa aplikasi, jaringan, dan infrastruktur IT secara terus-menerus dalam waktu nyata. Sistem ini bekerja dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber, mulai dari log server, API, database, hingga aktivitas pengguna lalu menampilkan informasi tersebut dalam dashboard yang selalu diperbarui setiap detik.
Berbeda dengan pemantauan tradisional yang cenderung reaktif dan bergantung pada laporan setelah kejadian, pemantauan real time bersifat proaktif. Sistem ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap kesehatan aplikasi, mendeteksi anomali secara otomatis, dan bahkan bisa memberikan peringatan jika terdeteksi potensi gangguan. Dengan begitu, tim IT dapat segera mengambil tindakan korektif sebelum masalah menjadi krisis yang lebih besar.
Dalam system observability, pengawasan real time juga menjadi komponen penting yang membantu perusahaan memahami perilaku sistem secara mendalam.
Sistem pengawasan real time biasanya terdiri dari beberapa lapisan utama. Pertama adalah data collection layer, di mana data performa dikumpulkan dari berbagai sumber seperti server, container, dan endpoint aplikasi. Data ini mencakup metrik penting seperti latency, response time, error rate, hingga tingkat penggunaan sumber daya (CPU, memori, dan bandwidth).
Lapisan berikutnya adalah processing layer. Di lapisan ini, sistem akan melakukan analisis data secara langsung menggunakan streaming analytics dan algoritma deteksi anomali. Jika ditemukan pola yang tidak normal, misalnya lonjakan waktu respon atau peningkatan error, maka aplikasi akan memproses informasi tersebut dan mengirim peringatan ke tim DevOps.
Selanjutnya, visualization layer akan menampilkan data dalam bentuk dashboard interaktif. Tim IT dapat melihat performa aplikasi secara menyeluruh dalam satu tampilan terpadu, termasuk grafik real-time dan tren historis. Beberapa sistem terbaru yang canggih juga dilengkapi alerting & automation layer yang mampu mengeksekusi tindakan otomatis, seperti auto-scaling atau restarting service, untuk mencegah downtime.
Pemilihan metrik pemantauan yang tepat sangat krusial dalam real time monitoring. Metrik seperti APDEX score, request rate, dan response time dapat membantu tim menentukan apakah pengalaman pengguna masih berada dalam ambang optimal.
Penerapan pemantauan secara real time merupakan strategi bisnis yang sangat penting di era digital. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa sistem ini menjadi sangat krusial bagi perusahaan modern:
Dengan pemantauan secara langsung, tim IT bisa mendeteksi potensi gangguan lebih awal, sebelum berdampak lebih jauh pada pelanggan atau pendapatan perusahaan.
Aplikasi yang lambat atau sering error dapat menurunkan tingkat kepuasan pengguna. Real time monitoring membantu memastikan setiap interaksi tetap lancar.
Dengan sistem otomatisasi alert dan deteksi anomali, tim IT tidak perlu menunggu laporan manual untuk segera bertindak.
Data yang diperoleh secara real-time memungkinkan pihak manajemen untuk melakukan analisis performa secara presisi dan membuat keputusan yang cepat dan akurat berdasarkan data.
Aktivitas mencurigakan atau lonjakan trafik abnormal dapat terdeteksi lebih awal melalui pemantauan real time.
Implementasi real time monitoring memerlukan strategi yang terstruktur dan alat yang tepat agar bisa efektif. Berikut adalah langkah-langkah utamanya:
Pertama-tama, identifikasi area yang paling kritis terlebih dulu bagi performa bisnis, misalnya waktu respon aplikasi, uptime, atau tingkat error.
Pilih platform monitoring aplikasi yang mampu memberikan observabilitas menyeluruh yang memadukan metrics, logs, dan traces dalam satu sistem terpadu.
Pastikan monitoring mencakup aspek backend, frontend, API, dan cloud environment agar visibilitas sistem benar-benar utuh.
Konfigurasikan threshold dan sistem notifikasi agar tim segera mendapat peringatan ketika anomali terjadi.
Gunakan insight dari dashboard real-time untuk melakukan tuning performa dan perbaikan sistem secara terus-menerus.
Sistem real time monitoring merupakan langkah awal untuk mengoptimalkan performa aplikasi. Untuk hasil yang maksimal, perusahaan perlu solusi komprehensif yang mampu mengintegrasikan observabilitas secara penuh.
Phintraco Technology dapat memberikan solusi Application Performance Monitoring (APM) yang komprehensif dan berbasis AI. Solusi dari kami dapat mengidentifikasi akar penyebab masalah secara otomatis dan memberikan insight real time tentang performa aplikasi, infrastruktur, dan pengalaman pengguna. Dengan full-stack observability, Anda dapat melihat seluruh ekosistem aplikasi dalam satu tampilan, mendeteksi anomali sebelum pelanggan merasakannya, dan memastikan layanan tetap optimal 24/7.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Di era digital saat ini, data merupakan aset paling berharga bagi perusahaan. Gangguan sekecil apa pun pada data center, baik karena bencana alam, serangan siber, kegagalan hardware, atau human error, bisa menyebabkan kerugian finansial jutaan hingga miliaran rupiah per jam. Data center disaster recovery (DR) hadir sebagai solusi strategis untuk memastikan bisnis tetap berjalan meskipun data center utama mengalami kegagalan total. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan bisa memulihkan sistem dan data dalam hitungan menit hingga jam, bukan hari atau minggu.
Di Indonesia, di mana ancaman bencana alam seperti gempa, banjir, dan letusan gunung api cukup tinggi, ditambah maraknya serangan siber, memiliki disaster recovery plan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Banyak perusahaan besar seperti bank, e-commerce, dan BUMN sudah mengadopsi solusi ini untuk memenuhi regulasi OJK, BI, dan UU PDP. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu disaster recovery pusat data, perbedaannya dengan data center utama, cara kerjanya, serta manfaat nyata bagi bisnis Anda.
Data center disaster recovery adalah strategi menyeluruh yang mencakup teknologi, proses, dan infrastruktur cadangan untuk memastikan kelangsungan operasional ketika data center utama tidak dapat diakses. Ini bukan sekadar backup biasa, melainkan sistem replikasi real-time atau near real-time yang memungkinkan seluruh aplikasi, database, dan layanan bisnis berpindah ke lokasi cadangan dengan cepat.
Tujuannya adalah mencapai dua metrik kritis, yaitu Recovery Point Objective (RPO) untuk menentukan seberapa banyak data terakhir yang boleh hilang (idealnya nol detik), dan Recovery Time Objective (RTO) yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali online sepenuhnya. Contoh data center disaster recovery yang ideal adalah ketika satu site terkena banjir besar, sistem otomatis beralih ke site cadangan di kota lain tanpa ada satu transaksi pun yang hilang, dan pelanggan bahkan tidak menyadari adanya gangguan.
Baca Juga: Data Center Infrastructure: Cara Kerja, Komponen, dan ManfaatnyaData center utama atau primary site adalah pusat operasional harian yang menangani seluruh beban kerja bisnis secara real-time. Semua transaksi, aplikasi, dan proses inti berjalan di sini dengan fokus pada performa tinggi, latensi rendah, dan akses cepat bagi pengguna. Lokasinya biasanya strategis dan terletak di dekat kantor pusat atau pelanggan utama, sehingga kapasitasnya dirancang 100% untuk mendukung operasional penuh setiap hari.
Sebaliknya, Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas cadangan yang tujuan utamanya bukan menjalankan operasional sehari-hari, melainkan siap mengambil alih sepenuhnya ketika primary site mengalami kegagalan. DRC biasanya berada di lokasi yang berbeda kota atau bahkan provinsi, minimal berjarak 100–300 km, untuk menghindari risiko bencana yang sama. Kapasitasnya bisa 50–100% dari primary site, dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah karena tidak selalu aktif penuh.
Baca Juga: Arsitektur Data Center Modern: Komponen dan Cara KerjanyaTanpa disaster recovery plan yang kuat, maka bisnis sangat rentan terhadap berbagai risiko yang bisa berakibat fatal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa disaster recovery plan ini penting:
Untuk perusahaan menengah hingga besar, satu jam downtime bisa menyebabkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah, terutama di sektor finansial dan e-commerce yang beroperasi 24/7.
Tanpa replikasi real-time, semua transaksi yang terjadi setelah backup terakhir akan hilang selamanya, bisa berupa ribuan order, transfer bank, atau rekam medis pasien.
Ketika layanan tiba-tiba mati berjam-jam atau berhari-hari, pelanggan akan kecewa dan beralih ke kompetitor. Hal ini dapat merusak reputasi perusahaan.
OJK, Bank Indonesia, dan UU Perlindungan Data Pribadi mewajibkan institusi keuangan serta pengelola data pribadi memiliki disaster recovery plan yang terdokumentasi dan teruji secara berkala.
Banyak kasus perusahaan kecil hingga menengah bangkrut total setelah serangan ransomware atau bencana alam karena tidak punya cara memulihkan data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiProses dan cara kerja disaster recovery untuk data center berjalan secara otomatis dan memiliki beberapa lapisan/tahapan. Berikut adalah penjelasannya:
Data tidak hanya di-backup periodik, tapi direplikasi secara synchronous (real-time) atau asynchronous (setiap beberapa detik/menit) ke disaster recovery center
Kondisi primary site dipantau terus-menerus melalui heartbeat signal. Jika sinyal hilang atau parameter kritis turun (CPU, storage, jaringan), sistem langsung mendeteksi adanya potensi bencana.
Begitu gangguan terdeteksi, trafik langsung dialihkan ke DRC melalui global load balancer atau DNS update cepat.
Disaster recovery plan harus diuji minimal 1–2 kali setahun, mulai dari tabletop exercise hingga full failover test.
Setelah primary site pulih, data disinkronisasi kembali secara bertahap, lalu operasional dikembalikan ke site utama tanpa mengganggu layanan.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaDisaster recovery center memiliki banyak manfaat untuk bisnis. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut:
Operasional bisnis tetap berjalan meskipun terjadi bencana besar seperti gempa atau serangan siber masif. Dengan RPO yang mendekati nol, tidak ada transaksi atau data penting yang hilang.
Dibandingkan membangun dua data center identik, perusahaan cukup memiliki satu DRC dengan kapasitas sesuai risiko.
Perusahaan bisa memastikan kepatuhan terhadap persyaratan OJK, BI, ISO 22301, dan UU PDP dengan dokumentasi dan testing yang jelas.
Backup immutable dan air-gapped membuat data tetap bisa dipulihkan meski primary site terenkripsi total.
Kapasitas disaster recovery bisa ditambah kapan saja, terutama jika memakai model cloud.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienKeamanan dan ketersediaan data bisnis perlu didukung oleh solusi data center yang telah teruji dan andal, khususnya untuk industri dan institusi kritis. Solusi data center virtualization dari Huawei merupakan solusi tepat untuk mendukung ketersediaan data bisnis Anda.
Dengan fitur-fitur canggih seperti replikasi sinkronus real time, failover otomatis, full scenario disaster recovery, dan backup anti ransomware, solusi ini dapat membantu bisnis Anda secara signifikan.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu dan mendampingi Anda untuk mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Di era digital saat ini, arsitektur data center modern telah berevolusi jauh dari desain tradisional yang kaku dan mahal. Kini, fokus utamanya adalah pada fleksibilitas, skalabilitas, efisiensi energi, dan integrasi teknologi seperti virtualisasi, software-defined networking (SDN), serta hyper-converged infrastructure (HCI). Arsitektur ini memungkinkan bisnis untuk menangani volume data yang melonjak, mendukung aplikasi AI, cloud hybrid, dan workload real-time tanpa downtime yang signifikan. Di Indonesia, transformasi digital bergerak semakin cepat, sehingga memahami arsitektur pusat data modern menjadi kunci untuk tetap kompetitif dan hemat biaya.
Arsitektur data center saat ini bukan lagi sekadar gedung berisi server, tapi sistem terintegrasi yang mengabstraksi hardware melalui software, sehingga resource bisa dialokasikan secara dinamis. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya operasional hingga 50% dibandingkan desain lama, sambil meningkatkan keandalan dan keamanan. Dengan tren seperti edge computing dan sustainability, arsitektur ini dirancang untuk masa depan, membantu bisnis beradaptasi cepat terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Artikel ini akan membahas secara detail tentang arsitektur pusat data modern dan aspek-aspek terkait.
Arsitektur data center modern adalah rancangan terstruktur yang mengintegrasikan komponen fisik dan virtual untuk menyediakan infrastruktur IT yang dapat diskalakan, efisien, dan resilien. Berbeda dari arsitektur tradisional yang bergantung pada hardware dedicated dan hierarki yang kaku, versi modern memanfaatkan virtualisasi untuk mengabstraksi computation, storage, dan networking, sehingga semuanya dikelola melalui software.
Ciri utamanya termasuk topologi jaringan leaf-spine untuk latensi rendah, hyper-convergence yang menggabungkan semua elemen dalam satu platform, serta dukungan untuk container dan AI workload. Arsitektur ini mendukung model hybrid/multi-cloud, di mana data center on-premise bisa terhubung secara mulus dengan cloud publik. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang agile, di mana penambahan kapasitas dilakukan secara otomatis tanpa intervensi manual besar-besaran.
Baca Juga: Evolusi Data Center: Faktor Utama dan Dampaknya untuk BisnisArsitektur pusat data modern terdiri dari beberapa komponen inti yang saling terhubung. Komponen ini modular, sehingga bisa diskalakan secara horizontal tanpa redesain total:
Lapisan komputasi terdiri dari server fisik atau virtual (VM/container) yang menangani pemrosesan data. Di setup modern, ini sering menggunakan HCI untuk mengintegrasikan komputasi dengan storage dan network.
Storage layer merupakan sistem penyimpanan seperti all-flash array (SSD cepat) atau distributed storage, dengan fitur deduplikasi dan snapshot untuk efisiensi dan backup cepat.
Layer jaringan merupakan jaringan berbasis SDN dengan topologi spine-leaf untuk traffic east-west yang dominan di era cloud, untuk mengurangi bottleneck.
Sistem redundansi (UPS, generator) serta cooling efisien seperti liquid cooling atau immersion untuk PUE rendah (<1.3), mendukung density tinggi.
Aspek manajemen terdiri dari software seperti DCIM (Data Center Infrastructure Management) atau platform O&M cerdas untuk monitoring, provisioning otomatis, dan predictive maintenance.
Komponen keamanan terdiri dari firewall virtual, enkripsi, serta disaster recovery tools untuk zero RPO/RTO.
Baca Juga: Software Defined Data Center: Transformasi dalam Infrastruktur ITCara kerja arsitektur data center modern berbasis pada prinsip otomatisasi dan abstraksi penuh, memastikan alur data lancar dari ujung ke ujung:
Pertama-tama, data dari pengguna atau aplikasi masuk melalui edge switch atau load balancer, kemudian langsung dirutekan ke jaringan inti tanpa bottleneck untuk memastikan setiap server hanya satu "hop” dari yang lain, sehingga latensi internal kurang dari 1 ms.
Hypervisor atau orchestrator (seperti Kubernetes) secara dinamis kemudian mengalokasikan CPU, RAM, dan GPU ke VM/container berdasarkan permintaan. Jika workload naik mendadak, sistem otomatis spawn resource baru tanpa intervensi manual.
Storage distributed akan menulis data ke beberapa node sekaligus untuk redundansi. Fitur seperti erasure coding dan snapshot memungkinkan pemulihan instan, sementara changed block tracking hanya mem-backup data yang berubah, menghemat bandwidth hingga 90%.
SDN berfungsi mengatur alur traffic secara cerdas, sementara virtual firewall dan micro-segmentation memeriksa setiap paket. Jika ada ancaman, sistem akan melakukan isolasi otomatis tanpa ganggu operasional keseluruhan.
Platform O&M menggunakan AI untuk memantau ribuan metrik real-time, memprediksi kegagalan hardware sebelum terjadi, dan mengoptimalkan konsumsi energi (misalnya mematikan server idle atau pindah workload ke node dingin).
Hasil pemrosesan kemudian akan dikirim kembali ke pengguna atau cloud eksternal via API. Di hybrid setup, workload bisa bermigrasi langsung antar on-premise dan cloud tanpa downtime.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiMemilih desain yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi bisnis saat ini dan proyeksi masa depan. Berikut adalah pertimbangan utama beserta penjelasannya:
Arsitektur data center yang efisien membutuhkan integrasi sempurna antara software dan hardware. Sinergi ini memerlukan solusi yang telah terbukti dan memiliki keandalan tinggi. Oleh karena itu, Solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi ideal untuk membangun arsitektur pusat data yang ringan, cerdas, dan memiliki skalabilitas tinggi.
Dengan teknologi hyper-converged infrastructure, penyimpanan yang cepat dan reduplikasi tinggi, serta dashboard cerdas, solusi ini telah dipercaya oleh banyak enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini dengan efisien untuk bisnis Anda.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Data center atau pusat data telah menjadi kunci utama dunia digital selama puluhan tahun, tetapi bentuk dan fungsinya terus berubah seiring dengan waktu. Teknologi yang berbentuk ruangan fisik besar berisi mainframe di era 1960-an kini telah sampai ke fasilitas hyperscale berbasis AI. Evolusi data center yang tidak pernah berhenti ini menunjukkan respons terhadap kebutuhan bisnis yang juga terus berkembang, mulai dari lebih banyak data, lebih cepat, lebih hemat, dan lebih aman.
Perkembangan data center juga mencerminkan bagaimana manusia mengelola informasi. Jika dulu satu komputer besar hanya dipakai oleh satu perusahaan, sekarang satu gedung data center bisa melayani jutaan pengguna sekaligus di seluruh dunia. Di Indonesia, evolusi database ini terlihat mulai dari data center on-premise di tahun 90an dan 2000an, hingga kini bermunculan cloud region lokal dan edge data center. Pemahaman akan perkembangan dan evolusi ini penting bagi bisnis agar tidak ketinggalan dalam memanfaatkan infrastruktur yang tepat, khususnya untuk data center.
Secara sederhana, data center merupakan sebuah fasilitas yang menampung semua server, storage, dan network yang menjalankan aplikasi dan menyimpan data perusahaan. Sejak awal fungsinya tetap sama, yaitu menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data. Perkembangannya terletak pada skala, efisiensi, serta cara pengelolaannya. Sekarang data center tidak lagi berupa gedung yang berisi rak server, tetapi bisa juga berupa layanan cloud, container, atau bahkan modul kecil (edge computing).
Perkembangan data center yang sangat pesat ini bisa terjadi karena banyak faktor. Faktor utama yang masih dan diperkirakan akan terus terjadi adalah ledakan volume data. Di tahun 2025 sendiri, diperkirakan sebesar 181 zettabyte data diciptakan tiap tahun, dari yang tadinya hanya 2 zettabyte di tahun 2010. Ledakan volume data ini diiringi juga dengan meningkatnya kebutuhan akan kecepatan. Kecepatan ini sangat dibutuhkan di aplikasi-aplikasi real time seperti IoT, 5G, online gaming, atau fintech yang menuntut latensi rendah.
Teknologi data center di awal kemunculannya menuntut konsumsi energi yang sangat besar. Dari biaya operasional data center, biaya listrik bisa memakan hingga lebih dari setengahnya. Oleh karena itu perkembangan data center juga mengarah pada konsumsi energi yang lebih hemat.
Selain itu, banyak negara yang mewajibkan data warga disimpan di dalam negeri. Hal ini mendorong dibangunnya fasilitas data center yang mematuhi regulasi tersebut. Meningkatnya pengembangan dan penggunaan AI & machine learning juga membutuhkan ribuan GPU dan infrastruktur khusus untuk training model besar-besaran.
Secara umum, evolusi pusat data dapat dilihat dari lima fase besar, yaitu:
Fase awal ini juga menandai mula era komputer. Di era ini, komputer masih berukuran sangat besar, mahal, dan hanya dimiliki dan dipakai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Di masa akhir fase ini, komputer/fasilitas pusat data membutuhkan satu ruangan khusus dengan AC.
Pada fase ini, server rack mulai muncul sehingga sistem on-premise, di mana perusahaan bisa membangun data center sendiri, mulai banyak diterapkan. Selain itu, istilah Tier 1-4 juga mulai dikenal.
Era ini menandai munculnya virtualisasi dan cloud, seperti VMware, Hyper-V, AWS, dan Azure. Virtualisasi ini akhirnya mengurangi jumlah server fisik secara signifikan.
Teknologi cloud pun semakin diminati dan terus berkembang. Berbagai konsep seperti Docker, Kubernetes, dan multi-cloud pun bermunculan. Selain itu, konsep software-defined everything seperti SDN, SDS, dan SDC juga bermunculan.
Setelah AI banyak bermunculan, GPU cluster pun semakin dibutuhkan untuk mendukung teknologi tersebut. Teknologi ramah lingkungan seperti renewable energy dan carbon-aware computing pun mulai diintegrasikan dalam pusat data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiPenting bagi perusahaan untuk mengetahui dan up-to-date dengan tren terkini seputar data center. Berikut adalah tren-tren tersebut:
Modernisasi dan evolusi data center memberikan dampak yang signifikan bagi bisnis. Berikut adalah beberapa dampak positif yang bisa dirasakan:
Kini perusahaan beralih dari biaya modal awal (CapEx) yang besar menjadi ke biaya langganan bulanan (OpEx) yang bisa disesuaikan setiap saat.
Tiim developer kini bisa membuat, menguji, dan meluncurkan aplikasi atau fitur baru dengan lebih cepat, tidak lagi menunggu waktu mingguan hingga bulanan.
Perusahaan tidak lagi khawatir dengan lonjakan drastis saat hari-hari tertentu karena kapasitas dapat naik secara otomatis dengan fitur auto-scaling, lalu turun lagi setelahnya tanpa biaya yang menganggur.
Fitur redundansi (data disimpan di beberapa region berbeda), failover otomatis, dan backup real time dapat membantu mengurangi risiko kehilangan data atau downtime berkepanjangan. Hal ini meningkatkan resiliensi dan kelangsungan bisnis.
Tim IT tidak perlu lagi mengurus perangkat keras, update firmware, cek suhu ruangan, atau takut mati listrik karena semua disediakan dan ditangani penyedia layanan. Mereka kini bisa lebih fokus ke proyek yang dapat memberi nilai tambah dan inovasi.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaSetelah memahami sejarah, perkembangan, dan tren data center, kini saatnya Anda terapkan modernisasi data center ini untuk bisnis Anda. Solusi Data Center Virtualization dari Huawei dirancang khusus untuk mengatasi tantangan modern sambil memastikan ROI tinggi dan keandalan yang maksimal.
Dengan fitur canggih seperti hyper-converged infrastructure, disaster recovery dan backup terintegrasi, serta manajemen cerdas, solusi ini dapat menjadi pilihan tepat untuk bisnis Anda.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology siap mendampingi Anda menuju data center masa depan.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Volume data dunia tumbuh dengan sangat pesat setiap tahunnya, didorong oleh penggunaan AI, streaming, e-commerce, dan big data. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah kini tidak lagi cukup dengan menggunakan infrastruktur data center biasa. Mereka membutuhkan infrastruktur yang dapat menangani ratusan ribu hingga jutaan server, serta bertambah kapasitasnya dalam hitungan minggu. Inilah yang disebut dengan hyperscale data center, pusat data modern yang dirancang dengan skalabilitas hampir tanpa batas.
Hyperscale adalah konsep infrastruktur IT di mana infrastruktur dapat diskalakan secara masif, cepat, dan efisien tanpa mengorbankan performa atau keandalan. Oleh karena itu, pusat data hyperscale adalah kunci di balik berbagai layanan cloud publik, media sosial, AI, dan aplikasi yang digunakan orang setiap hari. Bagi bisnis lokal, memahami hyperscale merupakan strategi penting untuk tetap kompetitif di masa depan. Artikel ini akan membahas pusat data hyperscale secara detail mulai dari cara kerjanya, bedanya dengan data center tradisional, manfaatnya untuk bisnis, serta pertimbangan dalam memilihnya.
Hyperscale data center adalah fasilitas pusat data yang masif (biasanya lebih dari 10.000 m² dan lebih dari 50 MW daya listrik) yang mampu menampung ratusan ribu hingga jutaan server dalam satu lokasi. Karakteristik utamanya adalah kemampuannya untuk menambah kapasitas server baru dengan sangat cepat tanpa perlu redesain ulang arsitektur.
Jika data center biasa dibangun secara bertahap, hyperscale dirancang sejak awal untuk bertumbuh secara otomatis. Teknologi ini juga menggunakan arsitektur software-defined, server custom, dan otomatisasi. Saat ini, pusat data semacam ini hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan masif seperti Google, Microsoft Azure, AWS, Meta, Alibaba, dan operator-operator besar lainnya.
Hyperscale bekerja dengan prinsip simplicity at scale, yaitu semua server menggunakan desain yang sama (misalnya custom rack atau motherboard open-source). Jaringan atau network juga menggunakan topologi spine-leaf-ultra-flat agar bisa mencapai latency yang rendah.
Dari segi penyimpanan, hyperscale biasanya menggunakan penyimpanan terdistribusi, bukan SAN/NAS biasa. Data akan direplikasi ke banyak node secara otomatis. Selain itu, pendinginan dan listrik juga dirancang dengan lebih efisien dengan liquid cooling atau free-air cooling.
Semua proses mulai dari deploy server baru, update software, hingga penggantian hardware rusak dilakukan secara otomatis oleh robot dan software (zero touch provisioning). Kapasitas kemudian ditambah dengan cara drop container berisi ribuan server yang sudah siap pakai. Oleh karena itu, satu hyperscale data center dapat menambah daya komputasi setara satu data center enterprise hanya dalam waktu 2-3 minggu.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienPerbedaan utama antara pusat data tradisional dan hyperscale tentu terletak pada skala dan ukurannya. Secara ukuran dan kapasitas, pusat data tradisional umumnya terdiri dari 1.000-10.000 server, sementara hyperscale bisa mencapai lebih dari jutaan server. Ketika menambah kapasitas, pusat data tradisional membutuhkan waktu 6-24 bulan, sementara hyperscale hanya perlu 2-12 minggu.
Beberapa data center tradisional belum mencapai level otomatisasi penuh, sementara hyperscale umumnya sudah mengandalkan 95-100% otomatisasi. Tentunya secara fleksibilitas dan skalabilitas, data center tradisional sangat terbatas sementara hyperscale hampir tak terbatas.
Bagi bisnis skala besar dan skala menengah yang berkembang pesat, hyperscale memiliki berbagai keunggulan dan manfaat, yaitu:
Skalabilitas yang hampir tak terbatas ini sangat cocok digunakan untuk bisnis yang pertumbuhannya pesat dan eksponensial, misalnya e-commerce, fintech, gaming, atau AI.
Arsitektur hyperscale juga memungkinkan perusahaan untuk menghemat biaya operasional. Biaya operasional bisa jadi jauh lebih rendah karena penggunaan energi yang efisien dan otomatisasi.
Sistem hyperscale menyimpan data sedekat dengan user, atau disebut juga dengan edge-ready. Hal ini membuat tingkat latensi menjadi sangat rendah.
Sistem backup dapat mereplikasikan data ke berbagai region secara otomatis. Ini meningkatkan ketahanan dan ketersediaan data jika terjadi bencana.
Skalabilitas dan kapasitas yang tinggi dapat mendukung workload modern seperti AI training, real time analytics, container, serta serverless architecture.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaJika bisnis Anda mulai berkembang eksponensial dan membutuhkan pusat data hyperscale, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
Pastikan penyedia layanan memiliki region atau availability zone yang sesuai dengan lokasi bisnis Anda. Di Indonesia, availability zone di kota besar (Jakarta atau Surabaya) atau setidaknya di Asia Tenggara (Singapura atau Malaysia). Ini penting untuk menjaga latensi di bawah 10-20 ms.
Penyedia layanan harus memberikan fasilitas yang mendukung dan mematuhi berbagai regulasi yang berlaku seperti UU PDP, sertifikasi Tier III/IV Uptime Institute, atau ISO 27001. Ini penting untuk industri keuangan, kesehatan, dan pemerintahan.
Tentukan model konsumsi Anda sesuai dengan kebutuhan kontrol, keamanan, dan budget bisnis Anda. Pilihannya meliputi public cloud, dedicated hyperscale, colocation dalam fasilitas hyperscale, atau hybrid.
Pertimbangkan juga risiko vendor lock-in, atau penyedia yang membuat aplikasi sulit dipindah. Pastikan platform mendukung standar open-source (Kubernetes, Terraform, atau OpenStack) untuk kemudahan ekspor-impor VM.
Pilihlah vendor yang memiliki tim support 24/7, SLA tertulis, dan engineer on-site. Ini penting ketika terjadi insiden di tengah malam atau hari libur.
Pertimbangkan juga biaya egress (keluar data), reserved instance discount, storage class, backup, dan disaster recovery. Jangan hanya lihat harga per vCPU atau per GB.
Perusahaan modern kini dituntut untuk memiliki ESG reporting. Oleh karena itu, pilihlah penyedia yang memiliki target carbon neutral atau net-zero, atau memiliki PUE yang rendah.
Mulailah transformasi digital bisnis Anda dengan mengoptimalkan data center Anda ke teknologi virtualisasi yang lebih efisien. Data Center Virtualization dari Huawei dapat menjadi pilihan tepat untuk membantu bisnis Anda mengoptimalkan penyimpanan, kinerja aplikasi, serta memastikan skalabilitas tinggi hingga proteksi tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Seiring dengan berkembangnya teknologi, jumlah data yang dihasilkan dalam bisnis terus bertambah dengan sangat cepat. Oleh karena itu, bisnis perlu cara yang lebih fleksibel, cepat, dan hemat biaya untuk bisa menyimpan serta mengelola data tersebut. Di sinilah virtual data center menjadi solusi yang semakin diminati. Pusat data virtual ini berbeda dengan versi tradisionalnya yang terdiri dari banyak server dan peralatan fisik lainnya. Virtualisasi memungkinkan semua kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan jaringan dijalankan secara virtual di teknologi cloud. Perusahaan pun bisa menambah atau mengurangi kapasitas dalam hitungan menit tanpa harus memberi perangkat baru.
Artikel ini akan membahas pusat data virtual serta perbedaannya dengan pusat data fisik, bagaimana cara kerjanya, komponen di dalamnya, serta manfaatnya untuk bisnis. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Virtual data center adalah seluruh infrastruktur data center, mulai dari server, penyimpanan, sampai jaringan, yang dijalankan secara virtual di atas cloud. Semua perangkat fisik digantikan oleh software, sehingga perusahaan bisa membuat, mengatur, dan menghapus server virtual hanya dengan beberapa klik. Lalu apa bedanya virtual data center vs cloud? Virtual data center adalah pusat data lengkap dalam bentuk virtual, sementara cloud publik umumnya merujuk pada layanan cloud siap pakai yang biasa disewakan. Perusahaan umumnya lebih membutuhkan VDC jika ingin menggunakan cloud tetapi butuh tingkat kendali dan keamanan yang lebih tinggi.
Dengan teknologi ini, perusahaan dapat memiliki data center pribadi, tapi tidak perlu ruangan khusus, dan tidak perlu teknisi standby 24 jam. Semuanya dapat dikelola oleh penyedia layanan, sementara pemilik bisnis tetap bisa mengatur semuanya sesuai kebutuhan bisnis. VDC sangat cocok untuk perusahaan menengah hingga besar yang ingin tetap lincah tanpa mengorbankan performa dan keamanan.
Perbedaan fundamental antara pusat data virtual dan fisik terletak pada biaya awal, penambahan kapasitas, skalabilitas, pemeliharaan, serta fleksibilitas lokasi. Data center fisik umumnya memiliki biaya awal yang tinggi untuk pembelian server, ruangan, serta listrik. Penambahan kapasitas juga dilakukan dalam waktu bulan hingga tahunan dengan skalabilitas yang terbatas karena harus membeli hardware baru. Secara pemeliharaan, pusat data fisik memerlukan tim teknis yang besar, konsumsi listrik yang tinggi, serta lokasi yang kurang fleksibel.
Di sisi lain, pusat data virtual memiliki biaya awal yang rendah, karena hanya perlu membayar sesuai dengan pemakaian. Waktu penambahan kapasitas pun hanya memerlukan menit hingga jam dengan skalabilitas yang hampir tak terbatas. Perusahaan juga tidak perlu repot memikirkan pemeliharaan karena sistem ini dikelola penyedia dan hampir otomatis. Secara konsumsi listrik dan pendingin juga jauh lebih hemat, serta lokasinya fleksibel karena dapat diakses dari mana saja.
Secara sederhana, pusat data virtual dapat dijelaskan cara kerjanya menjadi seperti berikut ini. Dalam arsitektur virtual data center memiliki server-server besar di penyedia layanan baik itu di dalam negeri atau di luar negeri. Kemudian server-server tersebut akan dibagi-bagi menjadi ratusan atau bahkan ribuan server virtual. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi virtualisasi.
Pengguna atau pelanggan kemudian akan diberikan dashboard atau portal khusus untuk melakukan berbagai modifikasi sesuai kebutuhan, mulai dari membuat server virtual, menambah storage, atau mengatur jaringan. Semuanya dapat dilakukan melalui browser.
Ketika ada traffic website yang naik mendadak, sistem dapat secara otomatis menambah daya komputasinya. Sebaliknya, ketika traffic turun, daya akan otomatis pula dikurangi agar pengguna tidak boros biaya. Semua data juga di-backup secara otomatis ke lokasi lain, sehingga jika ada gangguan di satu tempat, data tersebut tetap aman.
Terdapat beberapa komponen penting dalam arsitektur pusat data virtual yang memiliki peran pentingnya masing-masing dan saling bekerja sama. Berikut adalah penjelasannya:
Komponen utama tentu adalah server. Mesin-mesin virtual yang digunakan untuk menjalankan aplikasi dan website. Server virtual ini dijalankan di atas server fisik yang dikelola oleh penyedia layanan di sebuah lokasi fisik.
Selain server, storage atau penyimpanan juga dijalankan secara virtual. Hal ini membuatnya dapat ditambah kapan saja, biasanya menggunakan teknologi seperti SSD.
Jaringan atau network juga diperlukan untuk membuat koneksi antar server, firewall, dan load balancer yang semuanya diatur lewat software.
Dashboard sangat penting bagi pengguna untuk bisa melihat kondisi penggunaan, membuat server baru, mengatur backup, dan memantau performa keseluruhan.
Lapisan keamanan dalam pusat data meliputi enkripsi data, firewall virtual, serta sistem deteksi ancaman yang selalu aktif.
Komponen lain yang tidak kalah penting adalah backup dan disaster recovery. Sistem ini adalah pencadangan otomatis dan rencana pemulihan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Menjalankan pusat data secara virtual memiliki berbagai kelebihan dan manfaat yang dapat dirasakan oleh bisnis. Berikut ini adalah beberapa manfaat utamanya:
Virtualisasi dapat membantu perusahaan untuk menghemat biaya dalam jangka panjang. Perusahaan tidak perlu berinvestasi besar untuk pembelian/perawatan hardware dan ruangan.
Fleksibilitas pusat data virtual sangat cocok untuk bisnis musiman atau startup yang tumbuh secara dinamis dan cepat.
Dengan penghematan perangkat fisik dan konsumsi listrik, penggunaan pusat data virtual menjadi lebih ramah lingkungan karena resource yang digunakan lebih rendah dan efisien.
Sistem backup virtual data center secara otomatis dilakukan ke beberapa lokasi, sehingga risiko kehilangan data hampir nol.
Konsep virtualisasi dan cloud sangat mendukung bagi perusahaan atau karyawan yang bekerja secara remote atau hybrid.
Pertumbuhan data yang masif menuntut perusahaan untuk memiliki sistem pengelolaan data yang aman, efisien, dan memiliki skalabilitas tinggi. Oleh karena itu, solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi yang cocok untuk mendukung fleksibilitas bisnis Anda!
Solusi dari Huawei dilengkapi dengan teknologi canggih yang dapat mengoptimalkan kapasitas penyimpanan, mendukung kinerja aplikasi, serta menjamin keamanan data. Selain itu, terdapat juga fitur-fitur seperti manajemen yang terpusat, skalabilitas tinggi, serta proteksi data tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Keberhasilan bisnis saat ini dapat diukur dari digital experience yang diberikan kepada pelanggan. Dalam dunia bisnis modern, setiap interaksi antara pengguna dan aplikasi digital menjadi cerminan kualitas perusahaan. Baik melalui situs web, aplikasi mobile, atau sistem online lainnya, pengalaman digital menentukan bagaimana pelanggan memandang dan berinteraksi dengan brand.
Bisnis yang mampu menyediakan pengalaman digital yang cepat, aman, dan bebas gangguan akan memiliki peluang lebih besar dalam mempertahankan pelanggan serta meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, memahami dan mengelola digital experience bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis di era transformasi digital saat ini. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya tentang pengalaman digital!
Digital experience adalah keseluruhan interaksi pengguna dengan platform digital suatu perusahaan/organisasi. Ini meliputi tampilan interface, kecepatan respons, hingga kemudahan navigasi. Dalam konteks bisnis, pengalaman digital mencakup pengalaman pengguna ketika menjelajah situs, menggunakan aplikasi mobile, hingga berinteraksi melalui chatbot atau portal pelanggan.
Akan tetapi, pengalaman digital tidak hanya bergantung pada desain atau fitur antarmuka, tetapi juga mencakup performa backend seperti stabilitas sistem, kecepatan pemrosesan data, dan keamanan jaringan. Ketika salah satu komponen ini bermasalah, pengalaman pengguna pun terganggu, bahkan jika user interface terlihat menarik sekalipun.
Untuk memantau semua aspek tersebut, banyak perusahaan kini mengandalkan digital experience monitoring (DEM). Teknologi ini membantu organisasi memantau perilaku pengguna secara real time, mendeteksi gangguan performa aplikasi, serta memahami bagaimana interaksi digital berdampak terhadap kepuasan pelanggan.
Pengalaman digital yang baik merupakan fondasi utama keberhasilan bisnis berbasis teknologi. Terdapat beberapa alasan utama mengapa pengalaman digital sangat penting, yaitu:
Pelanggan modern kini berekspektasi tinggi terhadap kecepatan dan konsistensi layanan digital. Satu halaman yang lambat atau aplikasi yang sering crash dapat membuat pengguna meninggalkan platform.
Persepsi pelanggan terhadap brand dibentuk melalui interaksi online. Perusahaan dengan experience digital yang konsisten, cepat, dan mudah digunakan akan dianggap lebih profesional dan terpercaya.
Dengan bantuan monitoring, perusahaan dapat mendeteksi masalah performa aplikasi sebelum pengguna terganggu. Pendekatan ini dapat mengurangi beban kerja tim teknis melalui deteksi otomatis dan analisis akar penyebab masalah (root cause analysis).
Pengalaman digital yang kuat merupakan titik tengah antara tim IT dan bisnis. Ketika kedua tim memahami pola dan kebutuhan pengguna, mereka dapat merancang inovasi yang lebih relevan dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Pengalaman digital hadir di berbagai bentuk dan sektor industri, mulai dari e-commerce hingga layanan publik. Beberapa contohnya antara lain:
Pengalaman digital di bidang e-commerce meliputi setiap momen mulai dari ketika pengguna menggunakan situs belanja online, menambahkan produk ke keranjang, dan menyelesaikan transaksi.
Dalam mobile banking, kecepatan autentikasi, keamanan transaksi, dan keandalan sistem adalah faktor utama pengalaman digital. Nasabah menilai kepercayaan terhadap bank berdasarkan kemudahan dan kecepatan akses aplikasi mereka.
Banyak perusahaan kini menggunakan AI chatbot untuk memberikan layanan pelanggan 24 jam. Chatbot yang mampu memberikan respons cepat dan akurat dapat meningkatkan kepuasan pelanggan serta mengurangi beban tim dukungan manusia.
Dalam sistem pembelajaran online atau layanan publik digital, aksesibilitas dan stabilitas sistem menjadi kunci. Semakin mudah platform digunakan oleh masyarakat, semakin tinggi tingkat adopsinya.
Untuk mencapai pengalaman digital yang optimal, bisnis perlu mengadopsi strategi dan teknologi yang tepat. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Teknologi DEM memantau user journey secara menyeluruh mulai dari sisi front-end hingga back-end. Platform monitoring memungkinkan tim IT mendeteksi penurunan performa aplikasi secara real time, memahami penyebab masalah, dan memperbaikinya sebelum berdampak pada pengguna akhir.
Desain interface haruslah sederhana, intuitif, dan mudah diakses dari berbagai perangkat. Pengujian pengalaman pengguna (UX testing) perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan desain tetap relevan dengan perilaku pengguna yang terus berkembang.
Waktu muat halaman (page load time) adalah salah satu faktor paling penting dalam pengalaman digital. Gunakan content delivery network (CDN), caching, dan pengujian otomatis untuk menjaga stabilitas dan kecepatan aplikasi.
Dengan menganalisis data perilaku pengguna, bisnis dapat menampilkan konten dan penawaran yang relevan. Personalisasi berbasis AI tidak hanya meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan brand.
Pengalaman digital merupakan bagian dari strategi bisnis keseluruhan perusahaan. Dengan kolaborasi lintas departemen, perusahaan dapat memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan pelanggan.
Dalam dunia digital yang serba cepat, performa aplikasi menjadi tulang punggung pengalaman pelanggan. Oleh karena itu, Anda perlu platform monitoring yang dapat menggabungkan performa teknis dengan insight yang berharga. Phintraco Technology menghadirkan solusi Application Performance Monitoring (APM).
Solusi APM kami dapat memberikan visibilitas menyeluruh terhadap perjalanan pengguna, kinerja aplikasi, hingga analisis penyebab masalah secara otomatis. Solusi ini memastikan aplikasi bisnis Anda selalu dalam performa terbaik.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dalam era transformasi digital, bisnis modern kini banyak mengandalkan layanan berbasis cloud untuk menjaga skalabilitas, efisiensi, dan kinerja yang konsisten. Akan tetapi, di balik fleksibilitas yang ditawarkan, lingkungan cloud juga menghadirkan tantangan baru dalam hal visibilitas dan kontrol terhadap performa sistem. Di sinilah konsep cloud monitoring memiliki peran penting sebagai solusi strategis untuk memastikan seluruh komponen aplikasi berjalan optimal.
Banyak perusahaan kini mulai memahami bahwa monitoring cloud dapat memantau server dan memeriksa integritas sistem secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur, jaringan, hingga pengalaman pengguna akhir. Melalui pendekatan cloud native monitoring, bisnis dapat mendeteksi potensi masalah lebih cepat, mempercepat respon terhadap gangguan, dan menjaga efisiensi biaya operasional. Oleh karena itu, memahami cara monitor cloud bekerja serta penerapan strategi yang tepat menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan performa aplikasi bisnis modern. Artikel ini akan membahas secara detail tentang monitoring cloud mulai dari definisinya, cara kerjanya, fungsi, jenis, serta cara menerapkan strateginya. Simak artikel berikut untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Cloud monitoring adalah proses pengawasan, pengumpulan, dan analisis data dari infrastruktur serta layanan yang berjalan di lingkungan cloud. Sistem ini diterapkan untuk membantu organisasi memahami kinerja dan ketersediaan aplikasi berbasis cloud melalui pemantauan metrik seperti latensi, uptime, penggunaan sumber daya, serta error rate.
Dalam konteks bisnis, cloud monitoring berguna untuk menjaga agar seluruh layanan digital tetap stabil dan andal, bahkan saat beban kerja sistem meningkat. Konsep ini berperan sebagai alat pemantau sekaligus komponen inti dalam sistem observability modern yang memungkinkan analisis mendalam terhadap perilaku aplikasi.
Salah satu aspek penting dari sistem ini adalah cloud native monitoring, yakni pendekatan pemantauan yang dirancang khusus untuk lingkungan microservices dan containerized applications seperti Kubernetes. Dengan model ini, perusahaan dapat memahami hubungan antar layanan, mendeteksi anomali lintas lapisan, dan mengoptimalkan performa aplikasi cloud-native secara otomatis.
Cara monitor cloud bekerja terdiri dari beberapa proses yang saling berkaitan. Berikut ini adalah tahap-tahap intinya:
Pada langkah pertama, sistem akan mengumpulkan metrik penting terkait performa dari berbagai sumber, seperti server, container, API, dan aplikasi melalui agen (agent-based) atau melalui integrasi langsung (agentless).
Setelah itu, semua data yang berhasil dikumpulkan akan dikonsolidasikan ke dalam satu platform monitoring terpusat untuk dianalisis lebih lanjut.
Platform monitoring modern umumnya menggunakan dashboard interaktif dan AI-driven analytics yang kemudian akan digunakan untuk menampilkan kondisi sistem secara real time.
Ketika ada anomali yang terdeteksi, misalnya lonjakan penggunaan CPU atau penurunan respons aplikasi, maka sistem secara otomatis mengirim peringatan dan bahkan dapat memicu tindakan otomatis. Tindakan ini dapat berupa auto-scaling atau restart service.
Fungsi utama dari cloud monitoring adalah memberikan visibilitas utuh terhadap operasi cloud perusahaan. Selain itu, terdapat juga fungsi-fungsi krusial lainnya, yaitu:
Sistem ini berfungsi untuk memantau beberapa metrik utama seperti waktu respons, throughput, dan ketersediaan aplikasi. Hal ini penting untuk memastikan pengalaman pengguna tetap lancar.
Selain itu, sistem ini juga berfungsi untuk mengukur penggunaan CPU, memori, dan storage untuk mencegah pemborosan sumber daya sekaligus menjaga efisiensi biaya.
Monitoring juga penting untuk bisa melacak aktivitas mencurigakan, mendeteksi ancaman siber, serta memastikan sistem cloud mematuhi regulasi seperti ISO 27001 atau UU PDP.
Dengan AI-powered analytics, tim DevOps dapat menemukan akar penyebab masalah performa dalam hitungan detik, bukan jam. Hal ini penting untuk mempersingkat waktu.
Terakhir, monitoring pada intinya berfungsi untuk memastikan pengalaman pengguna akhir (end user) tetap konsisten di berbagai perangkat dan wilayah.
Berikut adalah beberapa jenis solusi monitoring cloud yang umum digunakan saat ini:
Monitor infrastructure digunakan untuk memantau performa perangkat seperti server virtual, container, microservices serta komponen jaringan lainnya untuk menjaga stabilitas infrastruktur.
APM berfokus pada pemantauan kinerja aplikasi dan transaksi pengguna. Solusi APM modern dapat memberikan end-to-end visibility dari kode hingga pengalaman pengguna.
Sesuai dengan namanya, network monitoring berguna untuk melacak konektivitas antar node dan bandwidth. Tujuannya adalah untuk mencegah bottleneck pada sistem cloud.
Jenis pengawasan ini berfungsi untuk menjaga kinerja database agar tetap responsif dan stabil di bawah beban kerja yang tinggi.
Security monitoring untuk cloud digunakan untuk memantau ancaman dan aktivitas mencurigakan yang dapat mengganggu keamanan sistem cloud.
Monitoring jenis ini dirancang untuk arsitektur berbasis microservices dan container dengan kemampuan observasi dinamis terhadap setiap komponen yang saling bergantung.
Penerapan strategi pemantauan cloud memerlukan pendekatan yang sejalan dengan tujuan bisnis dan infrastruktur IT. Berikut adalah beberapa langkah kunci yang perlu diperhatikan:
Pertama-tama, lakukan identifikasi metrik utama apa saja yang perlu diperhatikan, misalnya uptime, latency, error rate, atau throughput sebagai tolok ukur performa.
Pilihlah platform atau solusi monitoring yang dapat menawarkan integrasi lintas cloud (AWS, Azure, GCP) serta analisis berbasis AI.
Pastikan platform monitoring dapat dihubungkan ke pipeline CI/CD. Tujuannya adalah agar deteksi masalah dapat dilakukan sejak tahap pengembangan.
Terapkan teknologi Artificial Intelligence for IT Operations (AIOps) untuk mengurangi false alert dan mempercepat incident response.
Lakukan analisis tren performa untuk menemukan area yang dapat dioptimalkan, baik dari sisi aplikasi maupun infrastruktur yang ada.
Untuk memastikan aplikasi bisnis berbasis cloud Anda berjalan secara maksimal, gunakan solusi Application Performance Monitoring dari Phintraco Technology!
Dengan teknologi AI-driven observability, automatic root cause detection, dan fullstack visibility, solusi dari kami dapat membantu Anda memantau seluruh ekosistem cloud secara real time.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dalam era digital, arsitektur microservices telah menjadi fondasi utama bagi banyak aplikasi modern, khususnya yang membutuhkan skalabilitas tinggi dan waktu rilis cepat. Dengan memecah sistem besar menjadi beberapa layanan kecil yang independen, perusahaan bisa berinovasi lebih cepat dan menjaga stabilitas aplikasi walau beban kerja meningkat. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, muncul tantangan baru, yaitu bagaimana memantau, memahami, dan menjaga performa ratusan bahkan ribuan service yang berjalan secara terdistribusi. Inilah pentingnya konsep microservices monitoring.
Sistem pemantauan menyeluruh ini dapat mencatat performa dan memastikan setiap layanan berjalan secara harmonis. Tanpa pendekatan monitoring yang baik, tim DevOps bisa kehilangan visibilitas terhadap masalah yang muncul di antara dependensi layanan. Oleh karena itu, banyak organisasi kini menerapkan monitoring dan observability microservices secara terpadu. Melalui strategi ini, mereka mampu memahami apa yang terjadi di setiap lapisan sistem (observability dalam microservices) sekaligus menerapkan microservices monitoring best practices agar performa aplikasi bisnis tetap optimal.
Microservices adalah kumpulan layanan kecil yang berjalan secara independen, tetapi tetap saling berkomunikasi melalui API atau pesan. Misalnya, pada aplikasi e-commerce, ada microservice khusus untuk pembayaran, untuk pencarian produk, dan untuk pengelolaan pengguna. Masing-masing dapat dikembangkan dan dikelola oleh tim yang berbeda.
Di sinilah monitoring berperan penting. Microservices monitoring sendiri adalah proses pengumpulan, analisis, dan visualisasi data performa dari setiap microservice dalam sistem. Tujuan utamanya adalah untuk melacak performa dan latency, memantau komunikasi antar-layanan, mendeteksi anomali atau kegagalan, serta menjamin integrasi antar microservices tetap stabil. Sederhananya, monitoring ini berguna untuk memahami bagaimana tiap microservices berinteraksi dan mempengaruhi keseluruhan sistem aplikasi.
Metriks yang dipantau untuk microservices bergantung pada aspek apa yang dipantau. Berikut ini adalah beberapa kategori beserta metriks yang digunakan:
Infrastruktur mencakup penggunaan CPU, memori, network throughput, dan disk I/O pada tiap node atau container. Metrik ini membantu mengidentifikasi apakah sumber daya digunakan secara efisien atau terjadi kelebihan beban (resource contention).
Terkait dengan aplikasi, beberapa metriks yang digunakan antara lain adalah latency (response time), error rate atau persentase permintaan gagal, throughput (requests per second), serta availability atau tingkat keandalan dan uptime layanan.
Untuk memahami alur permintaan yang kompleks, distributed tracing digunakan guna melacak perjalanan request dan komunikasi dari satu layanan ke layanan lain. Hal ini membantu menemukan sumber masalah saat terjadi peningkatan latensi.
Dalam aspek ini, pemantauan mencakup status pod dan node, jumlah restart container, autoscaling activity dan resource utilization. Pemantauan ini memastikan sistem cloud-native tetap berjalan efisien.
Selain metrik teknis, log aplikasi dan metrik bisnis spesifik (seperti jumlah transaksi sukses) juga perlu dianalisis untuk mengukur performa dari sisi operasional maupun strategis.
Kedua istilah ini sering muncul bersamaan dalam konteks microservices, namun memiliki fokus yang berbeda dan saling melengkapi. Monitoring adalah proses mengumpulkan data untuk mengetahui kapan sistem bermasalah. Ia mengandalkan metrik, log, dan alert berbasis ambang batas tertentu (misalnya CPU usage > 80%).
Sementara observability adalah kemampuan sistem untuk menjelaskan mengapa masalah terjadi. Observability menggunakan korelasi antara tiga pilar utama: metrics, logs, dan traces untuk memahami akar penyebab gangguan. Oleh karena itu, monitoring dan observability dalam microservices harus diterapkan bersamaan. Monitoring berfungsi memberikan data, sementara observability memberikan wawasan mendalam dari data tersebut.
Pemantauan terhadap microservices tentu memiliki banyak manfaat bagi bisnis yang memiliki aplikasi dalam proses bisnisnya. Berikut ini adalah beberapa manfaat utama yang bisa diperoleh untuk aplikasi bisnis:
Monitoring real-time terhadap microservice yang ada bisa membantu mendeteksi anomali sebelum berdampak besar. Hasilnya adalah berkurangnya downtime dan performa sistem tetap terjaga dan optimal.
Pengawasan yang ketat dapat memastikan aplikasi tetap responsif meski menghadapi lonjakan trafik. Latensi yang rendah juga berdampak untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Beberapa platform monitoring memiliki dashboard terintegrasi yang dapat mempercepat proses identifikasi masalah. Hal ini dapat mengurangi waktu troubleshooting dan biaya perbaikan darurat.
Data historis dari hasil monitoring dapat membantu perusahaan menentukan strategi auto-scaling yang efisien. Dengan begitu, bisnis dapat beradaptasi dengan perubahan permintaan tanpa kehilangan performa.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, monitoring dapat mendeteksi pola anomali yang dapat menunjukkan potensi ancaman keamanan. Ini dapat membantu mempermudah audit dan pelaporan untuk keperluan kepatuhan atau compliance.
Metrik performa yang didata dapat kemudian dikaitkan dengan metrik bisnis (seperti transaksi per menit). Manajemen kemudian dapat menggunakan hal tersebut untuk membuat keputusan strategis berdasarkan data aktual, bukan asumsi.
Berikut ini adalah beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dalam memilih alat monitoring microservice yang tepat:
Pastikan monitoring tools dapat terintegrasi dengan ekosistem yang ada, misalnya Kubernetes, Docker, AWS, Azure, atau Google Cloud. Kompatibilitas terhadap ekosistem tersebut memastikan bahwa monitoring dapat mencakup seluruh lapisan, mulai dari container hingga aplikasi. Tools yang tidak mendukung sistem infrastruktur perusahaan bisa menyebabkan data terfragmentasi dan insight yang tidak akurat.
Sebuah tools modern harus menawarkan end-to-end observability, bukan hanya sekadar memantau performa. Pastikan tools bisa melakukan distributed tracing untuk melacak permintaan antar microservice, menggabungkan metrics, logs, dan traces dalam satu tampilan, serta menyediakan visualisasi dependensi layanan (service flow map). Kemampuan ini penting agar tim DevOps bisa memahami hubungan antar komponen secara menyeluruh dan menemukan akar masalah lebih cepat.
Lingkungan microservices bersifat dinamis, layanan bisa bertambah, berpindah, atau dihapus kapan saja. Oleh karena itu, pilihlah tools yang dapat melakukan auto-discovery terhadap layanan baru tanpa konfigurasi manual, serta memiliki AI-based anomaly detection untuk menganalisis anomali performa secara otomatis.
Efektivitas monitoring dapat meningkat jika tools yang digunakan diintegrasikan dengan pipeline DevOps dan komunikasi tim. Pastikan tools dapat terhubung dengan CI/CD pipeline (seperti Jenkins, GitLab CI, atau Azure DevOps), sistem notifikasi, serta alat observability atau analitik lain. Integrasi yang baik dapat mempercepat alur kerja dan memperkuat kolaborasi lintas tim.
Tools monitoring harus memiliki dashboard yang intuitif dan interaktif, sehingga mudah dipahami tidak hanya oleh engineer, tetapi juga manajemen non-teknis. Visualisasi yang jelas memungkinkan pengguna melakukan drill-down dari tampilan global sistem ke layanan spesifik untuk analisis akar masalah yang cepat.
Untuk bisa menjaga performa sistem dan aplikasi bisnis yang kompleks, perusahaan perlu monitoring berbasis AI dan observability menyeluruh. Oleh karena itu, Phintraco Technology menawarkan solusi Application Performance Monitoring (APM) yang mampu menganalisis performa aplikasi Anda secara otomatis, menelusuri akar penyebab masalah, serta memberikan insight mendalam untuk peningkatan kinerja bisnis Anda.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Dunia bisnis digital kini bergerak semakin cepat, sehingga performa aplikasi menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan. Aplikasi yang lambat, sering error, atau mengalami downtime dapat langsung menurunkan tingkat kepuasan pelanggan dan menimbulkan kerugian finansial yang signifikan. Karena itu, perusahaan modern kini tidak lagi cukup hanya melakukan pemantauan berkala terhadap sistem dan aplikasi mereka. Diperlukan pendekatan yang lebih responsif dan presisi, yaitu real time monitoring.
Dengan metode pengawasan real time, tim IT dapat memantau kondisi aplikasi dan infrastruktur bisnis secara langsung, menganalisis performa sistem, dan segera mendeteksi masalah sebelum berdampak besar pada pengguna. Inilah fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keandalan layanan digital di era kompetisi tinggi, di mana setiap detik downtime dapat berarti hilangnya peluang bisnis. Artikel ini akan membahas aspek-aspek dalam pengawasan real time mulai dari definisinya, cara kerjanya, kenapa metode ini penting, serta cara menerapkannya. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!
Real time monitoring adalah sistem yang memungkinkan pemantauan performa aplikasi, jaringan, dan infrastruktur IT secara terus-menerus dalam waktu nyata. Sistem ini bekerja dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber, mulai dari log server, API, database, hingga aktivitas pengguna lalu menampilkan informasi tersebut dalam dashboard yang selalu diperbarui setiap detik.
Berbeda dengan pemantauan tradisional yang cenderung reaktif dan bergantung pada laporan setelah kejadian, pemantauan real time bersifat proaktif. Sistem ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap kesehatan aplikasi, mendeteksi anomali secara otomatis, dan bahkan bisa memberikan peringatan jika terdeteksi potensi gangguan. Dengan begitu, tim IT dapat segera mengambil tindakan korektif sebelum masalah menjadi krisis yang lebih besar.
Dalam system observability, pengawasan real time juga menjadi komponen penting yang membantu perusahaan memahami perilaku sistem secara mendalam.
Sistem pengawasan real time biasanya terdiri dari beberapa lapisan utama. Pertama adalah data collection layer, di mana data performa dikumpulkan dari berbagai sumber seperti server, container, dan endpoint aplikasi. Data ini mencakup metrik penting seperti latency, response time, error rate, hingga tingkat penggunaan sumber daya (CPU, memori, dan bandwidth).
Lapisan berikutnya adalah processing layer. Di lapisan ini, sistem akan melakukan analisis data secara langsung menggunakan streaming analytics dan algoritma deteksi anomali. Jika ditemukan pola yang tidak normal, misalnya lonjakan waktu respon atau peningkatan error, maka aplikasi akan memproses informasi tersebut dan mengirim peringatan ke tim DevOps.
Selanjutnya, visualization layer akan menampilkan data dalam bentuk dashboard interaktif. Tim IT dapat melihat performa aplikasi secara menyeluruh dalam satu tampilan terpadu, termasuk grafik real-time dan tren historis. Beberapa sistem terbaru yang canggih juga dilengkapi alerting & automation layer yang mampu mengeksekusi tindakan otomatis, seperti auto-scaling atau restarting service, untuk mencegah downtime.
Pemilihan metrik pemantauan yang tepat sangat krusial dalam real time monitoring. Metrik seperti APDEX score, request rate, dan response time dapat membantu tim menentukan apakah pengalaman pengguna masih berada dalam ambang optimal.
Penerapan pemantauan secara real time merupakan strategi bisnis yang sangat penting di era digital. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa sistem ini menjadi sangat krusial bagi perusahaan modern:
Dengan pemantauan secara langsung, tim IT bisa mendeteksi potensi gangguan lebih awal, sebelum berdampak lebih jauh pada pelanggan atau pendapatan perusahaan.
Aplikasi yang lambat atau sering error dapat menurunkan tingkat kepuasan pengguna. Real time monitoring membantu memastikan setiap interaksi tetap lancar.
Dengan sistem otomatisasi alert dan deteksi anomali, tim IT tidak perlu menunggu laporan manual untuk segera bertindak.
Data yang diperoleh secara real-time memungkinkan pihak manajemen untuk melakukan analisis performa secara presisi dan membuat keputusan yang cepat dan akurat berdasarkan data.
Aktivitas mencurigakan atau lonjakan trafik abnormal dapat terdeteksi lebih awal melalui pemantauan real time.
Implementasi real time monitoring memerlukan strategi yang terstruktur dan alat yang tepat agar bisa efektif. Berikut adalah langkah-langkah utamanya:
Pertama-tama, identifikasi area yang paling kritis terlebih dulu bagi performa bisnis, misalnya waktu respon aplikasi, uptime, atau tingkat error.
Pilih platform monitoring aplikasi yang mampu memberikan observabilitas menyeluruh yang memadukan metrics, logs, dan traces dalam satu sistem terpadu.
Pastikan monitoring mencakup aspek backend, frontend, API, dan cloud environment agar visibilitas sistem benar-benar utuh.
Konfigurasikan threshold dan sistem notifikasi agar tim segera mendapat peringatan ketika anomali terjadi.
Gunakan insight dari dashboard real-time untuk melakukan tuning performa dan perbaikan sistem secara terus-menerus.
Sistem real time monitoring merupakan langkah awal untuk mengoptimalkan performa aplikasi. Untuk hasil yang maksimal, perusahaan perlu solusi komprehensif yang mampu mengintegrasikan observabilitas secara penuh.
Phintraco Technology dapat memberikan solusi Application Performance Monitoring (APM) yang komprehensif dan berbasis AI. Solusi dari kami dapat mengidentifikasi akar penyebab masalah secara otomatis dan memberikan insight real time tentang performa aplikasi, infrastruktur, dan pengalaman pengguna. Dengan full-stack observability, Anda dapat melihat seluruh ekosistem aplikasi dalam satu tampilan, mendeteksi anomali sebelum pelanggan merasakannya, dan memastikan layanan tetap optimal 24/7.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila


18 July 2021 – Today, Phintraco Group turns 30. Throughout 30 years since its establishment, Phintraco Group has been growing rapidly to become one of leading group of companies in Indonesia, which consists of Phintraco Technology, PhinCon, Aplikas Servis Pesona, Relia Telemit Semesta, Vemisha and MitraComm Ekasarana that specialize in providing IT solutions and services, Phintraco Sekuritas that specializes in securities, and Shanata Pratama that specializes in property development.
Since 1991 until now, Phintraco Group is always committed to provide innovative solutions and services to help Indonesian companies survive and thrive in any condition through our solutions and services.
During the past years, especially in Indonesia, we see that companies accelerate digital transformation because technologies are able to help companies quickly adapt and survive amidst pandemic.
For Phintraco, emerging Covid-19 challenges do not stop us from turning challenges into new oportunities. Since the beginning of pandemic, it has been proven that there is a lot of other business sectors that try to adapt and survive in these ucertain times by having IT solutions and other business services to help them through this crisis with a more simple way.
Phintraco takes its role in helping business overcome the pandemic challenges by providing various IT solutions and services such as Modern IT Infrastructure, Contact Centers, Tokens, Smart Card Technology, IT Consulting, Customer Relationship Management (CRM), Middleware, Human Resources (HR), Big Data, Enterprise Resource Planning (ERP), IT Security, IT Outsourcing, Business Process Outsourcing, Electronic Transaction Services, and more. In addition to providing innovative IT solutions and services, Phintraco is also committed to developing the Indonesian capital market through one of its member companies, Phintraco Sekuritas. At present, Phintraco Sekuritas has 168 investment galleries across Indonesia.
Entering its 30s, Phintraco Group hopes to always contribute from various aspects to save Indonesian economy which has been affected by the pandemic. By turning challenges into new opportunities, Phintraco will continue to strive for the convenience, productivity and success of its valuable customers in all situations.
Further information:

Phintraco Technology successfully named as the recipient of an award from Avaya. The award was presented at Avaya Partner Summit 2020, Avaya’s annual partner event. This year, Phintraco Technology received an award for the category “Growth Partner of the Year” on Thursday, 19 November 2020. Previously, Phintraco Technology also received an award for the same category at Avaya Partner Summit 2019 in Atlantis Hotel, Dubai. For your information, Phintraco Technology is the only Avaya’s partner in Indonesia that received an award in this international event for the 2nd consecutive time.
Phintraco Technology, which has been an Avaya’s partner since 2000, was honored among a global field of top Avaya partners for demonstrating excellence in performance improvement over the past few years as an Avaya’s business partner. This award is certainly a testament of Phintraco Technology’s consistency and expertise in providing innovative approaches for customers based on Avaya’s technology.
In this year’s Avaya Partner Summit, in addition to bringing award-winning Avaya Edge partner program to global partner community, Avaya also invited all its business partners virtually to discuss the future customer experience center and digital workplace. Avaya presented its updated multi-cloud application ecosystem that enables organizations to choose the cloud technologies that deliver the business results they want at the speed they want. These technologies are presented in line with today's business needs, which still require effective performance for battling the pandemic.
This award will inspire us to always consistently provide the best solutions and services to our customers and partners. Phintraco Technology is very proud to be named for the 2nd consecutive time of Avaya’s Growth Partner of the Year, we are committed to always provide innovations with quality and grow together with Avaya to build mutually beneficial business partnerships for both now and in the future.
Reference:
Related articles:
https://phintraco.com/phintraco-techology-raih-penghargaan-growth-partner-of-the-year-di-avaya-partner-summit-2020/https://phintraco-tech.com/2019/11/16/phintraco-technology-successfully-wins-international-award-avaya-engage-2019/
Phintraco Technology was recognized as the winner of Dynatrace’s “New Partner Award”. The award was presented at “Amplify 2020 – Dynatrace Partner Program” held by Dynatrace virtually on Thursday, 12 November 2020.
In this Dynatrace Partner Program, awards were classified in five categories, with honorees chosen from selected partners in Asia Pacific. Those five categories were New Partner Award, Cloud Innovation Award, Training and Certification Award, Special Recognition Award for Excellence, and Partner of the Year.
“The New Partner Award is presented to new selected partners that have successfully achieved positive performance in providing innovative solutions and services to customers through Dynatrace’s products.” Said Alex Lim, as a Senior Director Partner and Alliances, APAC, Dynatrace.
For Phintraco Technology, it is an honor to be recognized as the winner of this award. This recognition is also certainly a testament of our reliability in providing the best solutions and services possible to customers.
Dynatrace is one of Phintraco Technology’s partners in providing Application Performance Monitoring solution. Application Performance Monitoring is a solution for ensuring an expected level of service, as measured by performance metrics and user experience monitoring. Application Performance Monitoring solutions help IT teams to detect and pinpoint application performance issues before real users are impacted.
For your information, Dynatrace is recognized as the leader in Gartner 2020 Magic Quadrant for Application Performance Monitoring (APM) solutions. Dynatrace has been named a leader for the 10th consecutive time. [1]
Phintraco Technology would like to thank Dynatrace for the support and appreciation on our positive performance. During these difficult times of the pandemic, Phintraco Technology remains active and ready to help all customers from various industries by providing a variety of high-quality and innovative solutions and services. We hope that in the future, our best efforts and performance can also help government to tackle the Covid-19 crisis and rebuild the Indonesian economy simultaneously.
Further information:
[1] https://www.dynatrace.com/gartner-magic-quadrant-for-application-performance-monitoring/

Phintraco Technology, a leading ICT company that specializes in providing modern IT infrastructures, proudly announces that Dell Technologies has named Phintraco Technology as a Dell Technologies Titanium Partner, the highest tier of the Dell Technologies Partner Program.
As the selected partner who achieves this distinction, Phintraco Technology is recognized as a partner that has the best reputation, competence and services in delivering business results through Dell technologies’ solutions. This achievement proves that the efforts and capabilities of Phintraco Technology in providing solutions from Dell Technologies for all companies in Indonesia have given positive results to all parties.
In addition, with this Titanium Partner, Phintraco Technology is also recognized as a partner that has exceptional business growth, and will always be prioritized to get the best service from Dell Technologies. Now Phintraco Technology provides a wide range of IT infrastructure solutions from Dell Technologies, such as Storage, Servers, Converged Infrastructure, Hyper Converged Infrastructure, Networking, SD-WAN, PC, Industrial PC and Laptop.
To keep our business in line with Phintraco’s vision; “Delivering Best Value and Becoming First Choice of Customer”, Phintraco Technology is always committed to provide the best IT solutions for all customers by putting Dell Technologies as our “Top of Mind” for IT Infrastructure solutions, and always be the first choice of customers by creating more synergized teamwork, starting from the Sales Team, Product Management, Support Delivery, PMO, to Procurement.
Furthermore, All Phintraco Technology teams hope that our partnership with Dell Technologies will always achieve a sustainable success, especially in increasing digitalized process for Indonesian companies and delivering the best solutions to achieve their comprehensive digital transformation vision.
#TransformtheFuture
Further Information:




MitraComm Ekasarana and Phintraco Technology, subsidiary companies of Phintraco Group, participated at the annual event "The Best Contact Center Indonesia 2019" on Monday and Tuesday, 9 to 10 September 2019, as one of sponsors and participated in exhibition for this event.
This event was held by the Indonesia Contact Center Association (ICCA), at Shangri-La Hotel, Jakarta.
The Best Contact Center Indonesia 2019 had two-day conferences by holding a National Seminar with "Artificial Intelligence (AI) is today's advanced technology in developing Contact Center now and in the future" as its topic. This event also offered the exhibition booth for participants who want to know and learn more about Contact Center solutions in Indonesia.
Besides conference and exhibition, The Best Contact Center Indonesia 2019 also held a competition for Contact Centers with 3 categories, those are Individual Category, Teamwork Category, and Corporate Category. The competition, which was organized by the Indonesia Contact Center Association (ICCA), was participated by 52 companies with 390 participants and 170 judges.


The competition at The Best Contact Center Indonesia 2019 had a purpose to give support and appreciation for the competent Contact Center practitioners. So, it is expected that their competencies will increase along with the support and appreciation for those who become a part of Contact Center.
As a company focused on Contact Center solutions, MitraComm Ekasarana and Phintraco Technology hopes that with their contribution at The Best Contact Center Indonesia 2019, it will increasingly give awareness about the importances of the best Contact Center for business development, supporting the improvement of Contact Center competencies in Indonesia, especially for service sectors, and increasing the contribution of Contact Center in supporting a successful business.
Further Information:marketing@phintraco.comRead the Indonesian version at www.phintraco.com
Jakarta - Phintraco Technology was successfully selected as “Rookie of FY 2019” from Dell EMC Partner Kick-off 2019 at Trans Studio Hotel Bandung, on June 25, 2019. In this event, Dell EMC collected all their Metal Tier Partners, which is the partners in Gold, Platinum, and Titanium categories.
The "Rookie of FY 2019" award was achieved because of Phintraco Technology's outstanding contribution and involvement for Dell EMC's achievements. Phintraco Technology also got the title of "Platinum Partner" in a fairly short period of time. There were a large number of award categories for partners, and "Rookie of FY 2019" award was proudly given to Phintraco Technology.
The award was given directly by Mr. Adir Ginting as Country Managing Director of Dell EMC Indonesia to Mr. Brama Dhaneswara as Sales Director of Phintraco Ekasarana representing PT. Phintraco Technology.
[caption id="attachment_7199" align="aligncenter" width="678"]
The "Rookie of FY 2019" Award Was Given to Phintraco Technology, Represented by Mr. Brama Dhaneswara[/caption]For the information, “Dell EMC Partner Kick-off 2019” event has started since the trip from Jakarta to Bandung with presentation schedules by Mr. Bimo Notonegoro as Channel Director of Dell EMC Indonesia and Mr. Albert Lay as Channel Manager of Dell EMC Indonesia.
This outstanding achievement was obtained because of the hard work and perseverance in providing the best service for partners and customers. This award will be utilized as a motivation for Phintraco Technology to improve our innovation and services. With a position as Dell EMC’s Platinum Partner, Phintraco Technology will focus more on developing all solutions from Dell Technology that are oriented to various segments and industries, especially the solutions from Dell EMC in HCI, Storage, Backup and IoT.

Kamis, 11 Oktober 2018 telah diselenggarakan event bertajuk “Voice of the Customer” di Pullman Hotel Thamrin. Acara ini diselenggarakan oleh Phintraco Technology, anak perusahaan dari Phintraco Group bersama business partner-nya, Verint.
Acara ini bertujuan agar para pelaku industri dapat memahami the power of customer voice menggunakan analytics dan voice biometric untuk meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experience) dan juga mengetahui bagaimana cara mengotomatiskan seluruh proses manajemen kualitas, mulai dari scoring evaluation hingga assigning coaching.
Melalui Voice of the Customer dari Verint, yang dipercaya dapat menanggapi secara lebih efektif terhadap pelanggan, bisnis, dan permintaan pasar dengan memanfaatkan kekuatan pelaku industri.
Selain itu acara ini juga membahas bagaimana menjadikan setiap agent sebagai agent terbaik di perusahaan untuk meningkatkan kepuasan, operational efficiencies, pendapatan dan kesuksesan pelanggan.
Acara ini dihadiri oleh berbagi pelaku industri mulai dari industri perbankan, industri finansial, industri asuransi, ecommerce, dan industri-industri lainnya. Terdapat 5 (lima) sesi yang diisi dengan pembicara-pembicara, seperti: Sesi Pertama: AI Driven Quality Automation and Real Time Analytics oleh Daniel Ziv, VP Customer Analytic Verint. Di sesi kedua, topik yang dibahas adalah mengenai Defining the Human Age; A Reflection on Customer Engagement in the Modern Era oleh Jason Du Preez, VP Engagement Management Verint.
Sesi ketiga membahas mengenai topik Simplifying and Improving Identification in Contact Centers oleh Aditya Dang, Business Solution Manager Verint. Sesi keempat Nick Mortimer, Senior Director Consulting Verint, membahas mengenai The Transformation from Workforce Optimisation to Workforce Engagement.
Tidak hanya Verint saja yang menjadi pembicara di dalam acara tersebut, namun pada sesi kelima juga diisi oleh Andi Anugrah yang merupakan Ketua Indonesia Contact Center Indonesia (ICCA) mengenai topik Digital Transformation in the Indonesia Contact Center.
Semoga dengan adanya acara ini, para pelaku industri dapat lebih memahami bagaimana mencapai customer satisfaction dan meningkatkan efisiensi operasional melalui kekuatan Voice of the Customer dengan solusi terbaru dari Verint.



Imam Rahadian - Solution Architect Ruijie Network Indonesia saat memaparkan materi (Jakarta, 14/11/2024)[/caption]Imam menjelaskan bagaimana solusi seperti SD-WAN, teknologi smart building, dan data center terbaru dapat mengoptimalkan operasional bisnis modern. "Konektivitas tidak lagi hanya tentang menghubungkan perangkat, tetapi menciptakan lingkungan kerja yang terintegrasi dan ramah lingkungan," ungkapnya.Sesi demo menjadi salah satu sorotan utama acara. Peserta diberikan kesempatan untuk menyimak langsung solusi Ruijie Network Indonesia, termasuk teknologi SD-WAN dan inovasi smart building. Sesi ini memperlihatkan bagaimana solusi tersebut dapat diterapkan dalam berbagai skenario bisnis untuk meningkatkan konektivitas dan efisiensi operasional.Berbagai studi kasus juga dihadirkan untuk memberikan gambaran nyata. Peserta diajak melihat bagaimana teknologi ini diterapkan dalam situasi seperti optimalisasi ruang kerja modern hingga peningkatan keamanan infrastruktur jaringan.Salah satu nilai lebih dari acara ini adalah diskusi interaktif antara pembicara dan peserta. Banyak peserta memanfaatkan sesi ini untuk bertanya mengenai tantangan spesifik yang mereka hadapi dalam mengadopsi teknologi baru.Dengan keberhasilan acara ini, Phintraco Technology dan Ruijie Network telah menunjukkan komitmennya untuk mendorong transformasi digital di Indonesia. Acara ini tidak hanya memberikan wawasan berharga tetapi juga inspirasi bagi para profesional untuk memanfaatkan teknologi inovatif demi mendukung keberlanjutan dan efisiensi bisnis mereka. Media Contact:Public Relationsinfo@phintraco.com

19 November 2020 – Phintraco Group Participates in the annual event held by Indonesia Contact Center Association (ICCA) titled “The Best Contact Center Indonesia 2020” through its two subsidiaries, Mitracomm Ekasarana and Phintraco Technology as one of sponsors and panelists.
Even though it was held virtually because of the pandemic, it did not reduce the enthusiasm of the participants in joining the entire activities of this event, from competition to the contact center conference.
The competitions in The Best Contact Center Indonesia 2020 were classified into 3 categories: individual, teamwork, and corporate categories. This competition had participats from more than 52 instances, both from government and public institutions, as well as private companies in Indonesia with total 265 participants and 122 winners.
According to the purpose of the event, that was to improve the role of contact center toward customer service quality, the contact center conference presented 10 professional speakers, contact center practitioners and consultants from various companies and contact center solution providers. Mitracomm Ekasarana, as a subsidiary of Phintraco Group, also be one of speakers in this contact center conference.
Wibowo Putra as a Sales Manager representing Phintraco Group, delivered his presentation about "Toward Irreplaceable Services" in the Contact Center Conference. The materials delivered the overall condition of contact center in Indonesia, such as its development and also the challenges.
MitraComm Ekasarana as a Business Process Outsourcing company in Indonesia, is very understand about the condition, development, and challenges in contact center world. MitraComm is committed to always deliver its best solutions and services for contact center by ensuring that all provided solutions and services are always updated with the technological development, meet the all growing expectations and needs of our clients, in line with the customer behavioral change, and also ensure that all agents and staffs are also updated with technological development.
With those strategies and understanding, MitraComm are always able to ensure that all MitraComm’s valued clients has contact center at its best quality and work as a key factor for company’s growth.
As a contact center solution provider, MitraComm Ekasarana and Phintraco Technology hope that with their contribution at the event “The Best Contact Center Indonesia 2020”, will give new spirits for all contact center practitioners. Therefore, the development of contact center in Indonesia will be much better in the future, and will increasingly provide awareness to industry practitioners about the importance of having a reliable contact center.
At present, contact center plays an essential role in today’s businesses, because it is a front line for them to communicate and interact with their customers and supporting business performance during times of crisis. MitraComm Ekasarana and Phintraco Technology are ready to help companies to develop their contact center by providing best solutions and services that can be tailored to each of clients’ needs.
Further information:

6 October 2020 – Today, Phintraco Group participated in the annual event named “Indonesia Knowledge Forum (IKF) IX – 2020” that held by BCA Learning Service. This year, the event of Indonesia Knowledge Forum was different to the previous year, it was held virtually due to the Covid-19 pandemic.
The theme of Indonesia Knowledge Forum IX – 2020 was titled “Business Revamp: Overcoming Uncertainty through Knowledge”, which intended to be a learning media for companies, entrepreneurs and professionals to share knowledge about how business withstand the ever-changing situation to achieve good performance and rise up the economic growth in Indonesia by creating new innovations to maintain and generate business value.
As an information and communication technology solutions provider company in Indonesia, Phintraco Group supported the success of Indonesia Knowledge Forum IX - 2020 by participating as one of exhibitors. Phintraco Group showed and demonstrated products and solutions of its 4 subsidiaries which are focused on IT Solutions; Phintraco Technology demonstrated IT Infrastructure and Contact Center solutions, MitraComm Ekasarana demonstrated various Business Process Services and Solutions such as Contact Center Outsourcing, Aplikas Servis Pesona demonstrated Network and IT Security solutions and PhinCon demonstrated CRM, Middleware, HR, Big Data, RPA, ERP solutions and IT Consulting services.
By participating in Indonesia Knowledge Forum IX – 2020 titled “Business Revamp: Overcoming Uncertainty through Knowledge”, we hope that all professionals can obtain new insights about the importance of using the right technology solutions to help their business remain innovative, especially in these uncertain times.
By realizing the full potential of information and communication technology, companies would be able to remain innovative and face all challenges. If companies can take full advantage of the right technology to support their business operations, they can take this uncertainty as a starting point to transform their business for a better future.
Source:
https://phintraco.com/phintraco-group-indonesia-knowledge-forum-ix-2020/

Phintraco Technology, a subsidiary company of Phintraco Group that focuses on Contact Center Solutions and Modern Infrastructures, held an event with its two partners, Dell EMC and VMware on Thursday, 24 October 2019 in Jakarta.
Attended by IT Professionals from across industries, the theme of this event was "Unstoppable IT Journey with DELL EMC & VMWARE Better Together Solutions". This event consists of several sessions presented by Dell EMC and VMware representatives. In addition, there was Question and Answer session about IT solutions, especially about Hybrid and Multi Cloud. All participants showed their enthusiasm for this session, and Phintraco Technology facilitated all participants to discuss about IT Solution with some experts. Through this session, all participants’ curiosity about Hybrid and Multi Cloud were answered in detail.

Question and Answer Session

Through this event, Phintraco Technology aimed to provide knowledge to participants about the future of technology, and encourage Indonesian companies to prepare their company's IT infrastructure ready for Hybrid and Multi Cloud. With the advanced technology that facilitates the company's operations and creates the right strategy to increase productivity, companies are able to turn their IT department into a profit center.
Today, every organization needs to be a digital organization, powered by data, running in a multi-cloud. Every organization needs to prepare their digital transformation start from now.
In the first session, the session “Journey to Multi Cloud” was presented by Albert Lay, as Channel Data Center & Solutions from Dell Technologies.
“According to the research from IDC, By 2020, 60% of organizations will use two or more cloud platforms leading companies to seek Multi Cloud management services to reduce complexity. Organization will focus on how to reduce cost, secure, improve reliability, and how to control and maintain organization well.” Said Albert Lay. In this event, the participants were also given knowledge about the steps during the transition process from On Premise to Multi-Cloud.
To help companies to turn their IT department into a profit center, Phintraco Technology provides integrated solutions from Dell EMC and VMware.
Dell EMC delivers integrated hardware and software solutions that provide financial and operational efficiency. It has been more than ten years for Dell EMC and VMware development have resulted in a highly integrated portfolio of infrastructure products and provided simplified operational control.
Dell EMC and VMware deliver the industry’s main cloud software powered by API driven CI, HCI and Best of Breed systems. All are combined to be the industry’s main cloud infrastructure.
Phintraco Technology gives opportunities to all organizations to develop their IT department. Phintraco Technology is ready to make every organization to be a digital organization that powered by data and running in Multi Cloud. There is no complexity in modernizing infrastructure and software, also secure important assents.
With Phintraco Technology, you are able to turn your company’s IT department into a profit center by changing your existing organization to be a digital organization that more productive and efficient through a collaboration between Dell EMC and VMware.
Further Information:
marketing@phintraco.com

Phintraco Group participated again this year in “Indonesia Knowledge Forum VIII” held by PT Bank Central Asia Tbk (BCA) on 8-9 October 2019 at The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta.
The theme of Indonesia Knowledge Forum (IKF) VIII is about the development of digital ecosystems and startups in Indonesia, titled "Capital Culture: Nurturing Mindset for The Next Era of Capital Culture". This event aimed to give awareness to people about business growth in a digital era, which becomes much easier because of the advancement of technology.
Phintraco Group participated again in the Indonesia Knowledge Forum VIII as one of exhibitors. Phintraco Group showed and demonstrated products and solutions of 4 its subsidiary companies which are focused on IT Solutions; Phintraco Technology demonstrated Contact Center and Unified Communication solutions, MitraComm Ekasarana for Business Process solutions such as Contact Center Outsourcing, Aplikas Servis Pesona for Network and IT Security solutions and PhinCon for CRM/CX, HR and Big Data solutions.

Visitors showed their enthusiasm through visiting Phintraco Group’s booth because Phintraco Group is an IT solutions provider company that helps entrepreneurs to achieve their business targets with the best technology support, in accordance with the purpose of this event, which to socialize all visitors about the promising opportunities to start your own business in this digital era.
Through this IKF VIII event, Phintraco Group hopes that with our contribution in Indonesia Knowledge Forum VIII, it will properly convey more inspirations to all people that starting your own business in today’s digital era will be much easier because the presence of technology helps business process become much easier and more efficient.
Further Information:marketing@phintraco.com
Phintraco Technology, the Platinum Partner of Dell Technologies, held an event titled "Simplify Your Journey to Digital Transformation" at Westin Hotel Jakarta, Indonesia on Wednesday, August 14, 2019. The event was attended by IT professionals across industries.
This event aimed to give knowledge to every organization about the right strategy to simplify their journey to digital transformation by utilizing advanced technology.
In the first session, Mr. Albert Lay, as Channel Data Center & Solutions of Dell Technologies, revealed that many organizations are still in the process of implementing digital transformation in their business. Many organizations are not able to compete in today’s hyper-digital world.
In short, "Simplify Your Journey to Digital Transformation" discussed the journey to digital transformation, starting from the transition of On Premise to Multi-Cloud. "Organizations need solutions that can support businesses to be better, one of its ways is implementing a Multi-Cloud strategy," said Mr. Trigantoro Bram, as Business Solution Architect of Dell Technologies, in the second session.

Multi-cloud is a strategy for organization to utilize two or more cloud computing platforms to perform various tasks. Organizations that do not want to depend on ane cloud can use this strategy to get the best results from their services.
In the last session, Mr. Ryan Renaldy, as Country Business Lead OEM and IoT Solutions of Dell Technologies, presented about Dell Technologies’ solutions that can improve business services in the era of digital transformation. Such as IoT, Edge Computing, and Artificial Intelligence (AI).
From the last session, it is known that Dell Technologies has Edge solutions that are useful for taking or inputting data based on circumstances, Edge will transfer data that can be read by Cloud and it is useful as an analysis for learning parameters.
Multi-Cloud, IoT, Edge Computing and AI are mutually beneficial solutions to simplify digital transformation in business.

By holding this event, we expect every organization to know that Phintraco Technology is committed to supporting all organizations in Indonesia to simplify their journey to digital transformation. Phintraco Technology will simplify their journey to digital transformation in business for real with the best solutions from Dell Technologies.
Further information:marketing@phintraco.com