Data Center Disaster Recovery: Solusi Pemulihan Data Center

19 Jan 2026 Muhammad Iqbal Iskandar

Data Center Disaster Recovery: Solusi Pemulihan Data Center

Di era digital saat ini, data merupakan aset paling berharga bagi perusahaan. Gangguan sekecil apa pun pada data center, baik karena bencana alam, serangan siber, kegagalan hardware, atau human error, bisa menyebabkan kerugian finansial jutaan hingga miliaran rupiah per jam. Data center disaster recovery (DR) hadir sebagai solusi strategis untuk memastikan bisnis tetap berjalan meskipun data center utama mengalami kegagalan total. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan bisa memulihkan sistem dan data dalam hitungan menit hingga jam, bukan hari atau minggu.

Di Indonesia, di mana ancaman bencana alam seperti gempa, banjir, dan letusan gunung api cukup tinggi, ditambah maraknya serangan siber, memiliki disaster recovery plan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Banyak perusahaan besar seperti bank, e-commerce, dan BUMN sudah mengadopsi solusi ini untuk memenuhi regulasi OJK, BI, dan UU PDP. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu disaster recovery pusat data, perbedaannya dengan data center utama, cara kerjanya, serta manfaat nyata bagi bisnis Anda.

Apa yang Dimaksud dengan Data Center Disaster Recovery?

Data center disaster recovery adalah strategi menyeluruh yang mencakup teknologi, proses, dan infrastruktur cadangan untuk memastikan kelangsungan operasional ketika data center utama tidak dapat diakses. Ini bukan sekadar backup biasa, melainkan sistem replikasi real-time atau near real-time yang memungkinkan seluruh aplikasi, database, dan layanan bisnis berpindah ke lokasi cadangan dengan cepat.

Tujuannya adalah mencapai dua metrik kritis, yaitu Recovery Point Objective (RPO) untuk menentukan seberapa banyak data terakhir yang boleh hilang (idealnya nol detik), dan Recovery Time Objective (RTO) yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali online sepenuhnya. Contoh data center disaster recovery yang ideal adalah ketika satu site terkena banjir besar, sistem otomatis beralih ke site cadangan di kota lain tanpa ada satu transaksi pun yang hilang, dan pelanggan bahkan tidak menyadari adanya gangguan.

Baca Juga: Data Center Infrastructure: Cara Kerja, Komponen, dan Manfaatnya

Apa Bedanya Data Center dan Disaster Recovery Center?

Data center utama atau primary site adalah pusat operasional harian yang menangani seluruh beban kerja bisnis secara real-time. Semua transaksi, aplikasi, dan proses inti berjalan di sini dengan fokus pada performa tinggi, latensi rendah, dan akses cepat bagi pengguna. Lokasinya biasanya strategis dan terletak di dekat kantor pusat atau pelanggan utama, sehingga kapasitasnya dirancang 100% untuk mendukung operasional penuh setiap hari.

Sebaliknya, Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas cadangan yang tujuan utamanya bukan menjalankan operasional sehari-hari, melainkan siap mengambil alih sepenuhnya ketika primary site mengalami kegagalan. DRC biasanya berada di lokasi yang berbeda kota atau bahkan provinsi, minimal berjarak 100–300 km, untuk menghindari risiko bencana yang sama. Kapasitasnya bisa 50–100% dari primary site, dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah karena tidak selalu aktif penuh.

Baca Juga: Arsitektur Data Center Modern: Komponen dan Cara Kerjanya

Mengapa Data Center Disaster Recovery Plan itu Penting?

Tanpa disaster recovery plan yang kuat, maka bisnis sangat rentan terhadap berbagai risiko yang bisa berakibat fatal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa disaster recovery plan ini penting:

Kerugian Finansial

Untuk perusahaan menengah hingga besar, satu jam downtime bisa menyebabkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah, terutama di sektor finansial dan e-commerce yang beroperasi 24/7.

Kehilangan Data Permanen

Tanpa replikasi real-time, semua transaksi yang terjadi setelah backup terakhir akan hilang selamanya, bisa berupa ribuan order, transfer bank, atau rekam medis pasien.

Rusaknya Reputasi dan Kepercayaan Pelanggan

Ketika layanan tiba-tiba mati berjam-jam atau berhari-hari, pelanggan akan kecewa dan beralih ke kompetitor. Hal ini dapat merusak reputasi perusahaan.

Pelanggaran Regulasi

OJK, Bank Indonesia, dan UU Perlindungan Data Pribadi mewajibkan institusi keuangan serta pengelola data pribadi memiliki disaster recovery plan yang terdokumentasi dan teruji secara berkala.

Ancaman Eksistensial bagi Perusahaan

Banyak kasus perusahaan kecil hingga menengah bangkrut total setelah serangan ransomware atau bencana alam karena tidak punya cara memulihkan data.

Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas Tinggi

Bagaimana Cara Kerja Data Center Disaster Recovery?

Proses dan cara kerja disaster recovery untuk data center berjalan secara otomatis dan memiliki beberapa lapisan/tahapan. Berikut adalah penjelasannya:

Backup dan Replikasi Berkelanjutan

Data tidak hanya di-backup periodik, tapi direplikasi secara synchronous (real-time) atau asynchronous (setiap beberapa detik/menit) ke disaster recovery center

Monitoring 24/7

Kondisi primary site dipantau terus-menerus melalui heartbeat signal. Jika sinyal hilang atau parameter kritis turun (CPU, storage, jaringan), sistem langsung mendeteksi adanya potensi bencana.

Failover Otomatis atau Semi-Otomatis

Begitu gangguan terdeteksi, trafik langsung dialihkan ke DRC melalui global load balancer atau DNS update cepat.

Validasi dan Testing Berkala

Disaster recovery plan harus diuji minimal 1–2 kali setahun, mulai dari tabletop exercise hingga full failover test.

Failback yang Terencana

Setelah primary site pulih, data disinkronisasi kembali secara bertahap, lalu operasional dikembalikan ke site utama tanpa mengganggu layanan.

Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam Pelaksanaannya

Apa Manfaat Utama Layanan Data Center Disaster Recovery untuk Bisnis?

Disaster recovery center memiliki banyak manfaat untuk bisnis. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut:

Kontinuitas Bisnis 24/7

Operasional bisnis tetap berjalan meskipun terjadi bencana besar seperti gempa atau serangan siber masif. Dengan RPO yang mendekati nol, tidak ada transaksi atau data penting yang hilang.

Menghemat Biaya Pemulihan

Dibandingkan membangun dua data center identik, perusahaan cukup memiliki satu DRC dengan kapasitas sesuai risiko.

Kepatuhan Regulasi

Perusahaan bisa memastikan kepatuhan terhadap persyaratan OJK, BI, ISO 22301, dan UU PDP dengan dokumentasi dan testing yang jelas.

Perlindungan dari Ransomware

Backup immutable dan air-gapped membuat data tetap bisa dipulihkan meski primary site terenkripsi total.

Fleksibilitas dan Skalabilitas tinggi

Kapasitas disaster recovery bisa ditambah kapan saja, terutama jika memakai model cloud.

Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang Efisien

Tingkatkan Ketersediaan Data Anda dengan Solusi Virtualisasi Data Center dari Huawei!

Keamanan dan ketersediaan data bisnis perlu didukung oleh solusi data center yang telah teruji dan andal, khususnya untuk industri dan institusi kritis. Solusi data center virtualization dari Huawei merupakan solusi tepat untuk mendukung ketersediaan data bisnis Anda.

Dengan fitur-fitur canggih seperti replikasi sinkronus real time, failover otomatis, full scenario disaster recovery, dan backup anti ransomware, solusi ini dapat membantu bisnis Anda secara signifikan.

Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu dan mendampingi Anda untuk mengimplementasikan solusi ini secara optimal.

Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!

 

 


 

Written by
Iqbal Iskandar, SEO Content Writer at Phintraco Group, specializing in research-based and SEO-optimized B2B content on technology, IT infrastructure, and cybersecurity topics. | Iqbal LinkedIn Profile

Editor: Irnadia Fardila