Service Level Objective Monitoring: Upaya Memantau Target Performa

22 Oct 2026 Muhammad Iqbal Iskandar

Service Level Objective Monitoring: Upaya Memantau Target Performa

Performa aplikasi perlu dijaga agar tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna dan kebutuhan bisnis. Service Level Objective monitoring membantu tim memantau target reliability berdasarkan indikator layanan yang terukur.

Target tersebut dapat berkaitan dengan availability, latency, error rate, atau keberhasilan transaksi. Monitoring membantu tim mengetahui apakah performa masih memenuhi batas yang telah ditentukan. Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai SLO Monitoring, cara kerjanya, dan cara menentukan SLO untuk aplikasi.

Apa Itu Service Level Objective Monitoring?

SLO atau Service Level Objective adalah target terukur yang menggambarkan tingkat performa atau reliability layanan. Target ini kemudian menjadi acuan internal bagi tim engineering dan operasional. Biasanya SLO ditetapkan untuk periode tertentu. Contohnya adalah target availability atau persentase transaksi yang berhasil.

Berbeda dari sekadar angka monitoring, target SLO harus menggambarkan kondisi layanan yang penting bagi pengguna. Target ini dapat menggunakan metrik seperti latency, error, availability, dan transaksi yang berhasil.

SLO juga berkaitan dengan error budget. Konsep ini menunjukkan tingkat ketidakandalan yang masih dapat ditoleransi dalam periode tertentu. Oleh karena itu, SLO management perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tim perlu meninjau target, memantau pencapaian, dan mengevaluasi perubahan kebutuhan layanan.

SLO vs SLA vs SLI, Apa Saja Perbedaannya?

Service Level Objective (SLO) merupakan target yang ditetapkan berdasarkan SLI. Misalnya, perusahaan menetapkan target 99,9% request berhasil dalam periode tertentu.

Sementara SLI (Service Level Indicator) adalah indikator yang mengukur performa layanan secara aktual. Contohnya adalah response time, error rate, request success rate, dan availability. 

Selain itu, ada juga SLA (Service Level Agreement), yang merupakan kesepakatan layanan antara penyedia dan pelanggan. SLA dapat mencantumkan target layanan serta konsekuensi jika target tertentu tidak terpenuhi.

Hubungan ketiganya dapat dipahami secara sederhana. SLI mengukur kondisi aktualnya, SLO menetapkan targetnya, dan SLA mengatur komitmen layanannya.

SLO juga membantu perusahaan memenuhi SLA dengan lebih terukur. Tim dapat memantau target internal sebelum terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan eksternal.  Selain itu, error budget membantu tim menentukan toleransi terhadap kegagalan. Data tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan terkait perubahan, rilis, dan prioritas perbaikan.

Baca Juga: Observability: Definisi, Cara Kerja, dan Cara Meningkatkannya

Bagaimana Cara Menentukan SLO untuk Aplikasi?

Penentuan SLO sebaiknya dimulai dari kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis. Berikut adalah beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum menentukan SLO:

Prioritaskan Aplikasi/Layanan yang Penting

Pertama, tentukan aplikasi atau layanan yang paling penting. Prioritaskan layanan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengguna dan pendapatan.

Pilih Indikator yang Relevan

Setelah menentukan aplikasi dan layanan, pilih SLI yang relevan. Lalu gunakan indikator seperti availability, latency, error rate, atau keberhasilan transaksi.

Gunakan Data Historis

Gunakan data historis sebagai dasar penentuan target. Data tersebut bisa membantu menentukan target yang lebih realistis dan dapat dicapai.

Tentukan Nilai dan Periode Evaluasi

Tetapkan nilai target dan periode evaluasi. Target dapat dibuat berdasarkan jam, minggu, atau bulan.

Tentukan Error Budget

Batas dalam error budget tersebut menunjukkan seberapa besar kegagalan yang masih dapat ditoleransi.

Sepakati Target

Target tersebut kemudian perlu disepakati dengan tim terkait. Tim Engineering, operasional, SRE, dan bisnis perlu memahami tanggung jawab masing-masing. SLO juga perlu ditinjau secara berkala. Perubahan arsitektur, jumlah pengguna, dan pola trafik dapat mengubah kebutuhan reliability.

Baca Juga: Mean Time to Repair (MTTR): Cara Menghitung dan Menguranginya

Bagaimana Cara Kerja SLO Monitoring Platform?

Platform monitoring bekerja dengan mengambil data dari aplikasi dan layanan yang dipantau. Data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pengukuran SLI. Sistem membandingkan nilai aktual dengan target SLO. Hasilnya dapat ditampilkan dalam dashboard untuk membantu tim melihat kondisi layanan.

Platform juga bisa memantau error budget dan burn rate. Burn rate menunjukkan seberapa cepat toleransi kegagalan digunakan. Ketika konsumsi error budget meningkat terlalu cepat, sistem bisa menghasilkan alert. Pendekatan ini membantu tim menangani risiko sebelum target benar-benar dilanggar.

Selain itu, SLO monitoring juga dapat dikaitkan dengan masalah aplikasi. Tim dapat menghubungkan penurunan SLO dengan insiden, service, atau dependency yang terdampak.

Penuhi Target SLO Anda dengan Solusi APM dari Phintraco Technology!

Pencapaian SLO membutuhkan visibilitas terhadap kondisi aplikasi secara aktual. Application Performance Monitoring dapat membantu tim memantau performa aplikasi dan menemukan masalah sebelum berdampak lebih luas.

Phintraco Technology menyediakan solusi application performance monitoring untuk memantau performa aplikasi secara real-time. Platform ini dapat membantu tim Anda mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah sebelum memengaruhi pengguna.

Solusi kami juga mendukung SLO melalui evaluasi otomatis, visualisasi SLI, error budget, dan burn rate. Data ini dapat membantu tim Anda memahami kondisi reliability dalam konteks layanan yang sebenarnya.

Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!

Editor: Trie Ayu Feminin dan Irnadia Fardila