
Data Center Disaster Recovery: Solusi Pemulihan Data Center
Di era digital saat ini, data merupakan aset paling berharga bagi perusahaan. Gangguan sekecil apa pun pada data center, baik karena bencana alam, serangan siber, kegagalan hardware, atau human error, bisa menyebabkan kerugian finansial jutaan hingga miliaran rupiah per jam. Data center disaster recovery (DR) hadir sebagai solusi strategis untuk memastikan bisnis tetap berjalan meskipun data center utama mengalami kegagalan total. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan bisa memulihkan sistem dan data dalam hitungan menit hingga jam, bukan hari atau minggu.
Di Indonesia, di mana ancaman bencana alam seperti gempa, banjir, dan letusan gunung api cukup tinggi, ditambah maraknya serangan siber, memiliki disaster recovery plan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Banyak perusahaan besar seperti bank, e-commerce, dan BUMN sudah mengadopsi solusi ini untuk memenuhi regulasi OJK, BI, dan UU PDP. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa itu disaster recovery pusat data, perbedaannya dengan data center utama, cara kerjanya, serta manfaat nyata bagi bisnis Anda.
Apa yang Dimaksud dengan Data Center Disaster Recovery?
Data center disaster recovery adalah strategi menyeluruh yang mencakup teknologi, proses, dan infrastruktur cadangan untuk memastikan kelangsungan operasional ketika data center utama tidak dapat diakses. Ini bukan sekadar backup biasa, melainkan sistem replikasi real-time atau near real-time yang memungkinkan seluruh aplikasi, database, dan layanan bisnis berpindah ke lokasi cadangan dengan cepat.
Tujuannya adalah mencapai dua metrik kritis, yaitu Recovery Point Objective (RPO) untuk menentukan seberapa banyak data terakhir yang boleh hilang (idealnya nol detik), dan Recovery Time Objective (RTO) yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali online sepenuhnya. Contoh data center disaster recovery yang ideal adalah ketika satu site terkena banjir besar, sistem otomatis beralih ke site cadangan di kota lain tanpa ada satu transaksi pun yang hilang, dan pelanggan bahkan tidak menyadari adanya gangguan.
Baca Juga: Data Center Infrastructure: Cara Kerja, Komponen, dan ManfaatnyaApa Bedanya Data Center dan Disaster Recovery Center?
Data center utama atau primary site adalah pusat operasional harian yang menangani seluruh beban kerja bisnis secara real-time. Semua transaksi, aplikasi, dan proses inti berjalan di sini dengan fokus pada performa tinggi, latensi rendah, dan akses cepat bagi pengguna. Lokasinya biasanya strategis dan terletak di dekat kantor pusat atau pelanggan utama, sehingga kapasitasnya dirancang 100% untuk mendukung operasional penuh setiap hari.
Sebaliknya, Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas cadangan yang tujuan utamanya bukan menjalankan operasional sehari-hari, melainkan siap mengambil alih sepenuhnya ketika primary site mengalami kegagalan. DRC biasanya berada di lokasi yang berbeda kota atau bahkan provinsi, minimal berjarak 100–300 km, untuk menghindari risiko bencana yang sama. Kapasitasnya bisa 50–100% dari primary site, dan biaya operasionalnya jauh lebih rendah karena tidak selalu aktif penuh.
Baca Juga: Arsitektur Data Center Modern: Komponen dan Cara KerjanyaMengapa Data Center Disaster Recovery Plan itu Penting?
Tanpa disaster recovery plan yang kuat, maka bisnis sangat rentan terhadap berbagai risiko yang bisa berakibat fatal. Berikut adalah beberapa alasan mengapa disaster recovery plan ini penting:
Kerugian Finansial
Untuk perusahaan menengah hingga besar, satu jam downtime bisa menyebabkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah, terutama di sektor finansial dan e-commerce yang beroperasi 24/7.
Kehilangan Data Permanen
Tanpa replikasi real-time, semua transaksi yang terjadi setelah backup terakhir akan hilang selamanya, bisa berupa ribuan order, transfer bank, atau rekam medis pasien.
Rusaknya Reputasi dan Kepercayaan Pelanggan
Ketika layanan tiba-tiba mati berjam-jam atau berhari-hari, pelanggan akan kecewa dan beralih ke kompetitor. Hal ini dapat merusak reputasi perusahaan.
Pelanggaran Regulasi
OJK, Bank Indonesia, dan UU Perlindungan Data Pribadi mewajibkan institusi keuangan serta pengelola data pribadi memiliki disaster recovery plan yang terdokumentasi dan teruji secara berkala.
Ancaman Eksistensial bagi Perusahaan
Banyak kasus perusahaan kecil hingga menengah bangkrut total setelah serangan ransomware atau bencana alam karena tidak punya cara memulihkan data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiBagaimana Cara Kerja Data Center Disaster Recovery?
Proses dan cara kerja disaster recovery untuk data center berjalan secara otomatis dan memiliki beberapa lapisan/tahapan. Berikut adalah penjelasannya:
Backup dan Replikasi Berkelanjutan
Data tidak hanya di-backup periodik, tapi direplikasi secara synchronous (real-time) atau asynchronous (setiap beberapa detik/menit) ke disaster recovery center
Monitoring 24/7
Kondisi primary site dipantau terus-menerus melalui heartbeat signal. Jika sinyal hilang atau parameter kritis turun (CPU, storage, jaringan), sistem langsung mendeteksi adanya potensi bencana.
Failover Otomatis atau Semi-Otomatis
Begitu gangguan terdeteksi, trafik langsung dialihkan ke DRC melalui global load balancer atau DNS update cepat.
Validasi dan Testing Berkala
Disaster recovery plan harus diuji minimal 1–2 kali setahun, mulai dari tabletop exercise hingga full failover test.
Failback yang Terencana
Setelah primary site pulih, data disinkronisasi kembali secara bertahap, lalu operasional dikembalikan ke site utama tanpa mengganggu layanan.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaApa Manfaat Utama Layanan Data Center Disaster Recovery untuk Bisnis?
Disaster recovery center memiliki banyak manfaat untuk bisnis. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut:
Kontinuitas Bisnis 24/7
Operasional bisnis tetap berjalan meskipun terjadi bencana besar seperti gempa atau serangan siber masif. Dengan RPO yang mendekati nol, tidak ada transaksi atau data penting yang hilang.
Menghemat Biaya Pemulihan
Dibandingkan membangun dua data center identik, perusahaan cukup memiliki satu DRC dengan kapasitas sesuai risiko.
Kepatuhan Regulasi
Perusahaan bisa memastikan kepatuhan terhadap persyaratan OJK, BI, ISO 22301, dan UU PDP dengan dokumentasi dan testing yang jelas.
Perlindungan dari Ransomware
Backup immutable dan air-gapped membuat data tetap bisa dipulihkan meski primary site terenkripsi total.
Fleksibilitas dan Skalabilitas tinggi
Kapasitas disaster recovery bisa ditambah kapan saja, terutama jika memakai model cloud.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienTingkatkan Ketersediaan Data Anda dengan Solusi Virtualisasi Data Center dari Huawei!
Keamanan dan ketersediaan data bisnis perlu didukung oleh solusi data center yang telah teruji dan andal, khususnya untuk industri dan institusi kritis. Solusi data center virtualization dari Huawei merupakan solusi tepat untuk mendukung ketersediaan data bisnis Anda.
Dengan fitur-fitur canggih seperti replikasi sinkronus real time, failover otomatis, full scenario disaster recovery, dan backup anti ransomware, solusi ini dapat membantu bisnis Anda secara signifikan.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu dan mendampingi Anda untuk mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Arsitektur Data Center Modern: Komponen dan Cara Kerjanya
Di era digital saat ini, arsitektur data center modern telah berevolusi jauh dari desain tradisional yang kaku dan mahal. Kini, fokus utamanya adalah pada fleksibilitas, skalabilitas, efisiensi energi, dan integrasi teknologi seperti virtualisasi, software-defined networking (SDN), serta hyper-converged infrastructure (HCI). Arsitektur ini memungkinkan bisnis untuk menangani volume data yang melonjak, mendukung aplikasi AI, cloud hybrid, dan workload real-time tanpa downtime yang signifikan. Di Indonesia, transformasi digital bergerak semakin cepat, sehingga memahami arsitektur pusat data modern menjadi kunci untuk tetap kompetitif dan hemat biaya.
Arsitektur data center saat ini bukan lagi sekadar gedung berisi server, tapi sistem terintegrasi yang mengabstraksi hardware melalui software, sehingga resource bisa dialokasikan secara dinamis. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya operasional hingga 50% dibandingkan desain lama, sambil meningkatkan keandalan dan keamanan. Dengan tren seperti edge computing dan sustainability, arsitektur ini dirancang untuk masa depan, membantu bisnis beradaptasi cepat terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Artikel ini akan membahas secara detail tentang arsitektur pusat data modern dan aspek-aspek terkait.
Apa itu Arsitektur Data Center Modern?
Arsitektur data center modern adalah rancangan terstruktur yang mengintegrasikan komponen fisik dan virtual untuk menyediakan infrastruktur IT yang dapat diskalakan, efisien, dan resilien. Berbeda dari arsitektur tradisional yang bergantung pada hardware dedicated dan hierarki yang kaku, versi modern memanfaatkan virtualisasi untuk mengabstraksi computation, storage, dan networking, sehingga semuanya dikelola melalui software.
Ciri utamanya termasuk topologi jaringan leaf-spine untuk latensi rendah, hyper-convergence yang menggabungkan semua elemen dalam satu platform, serta dukungan untuk container dan AI workload. Arsitektur ini mendukung model hybrid/multi-cloud, di mana data center on-premise bisa terhubung secara mulus dengan cloud publik. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang agile, di mana penambahan kapasitas dilakukan secara otomatis tanpa intervensi manual besar-besaran.
Baca Juga: Evolusi Data Center: Faktor Utama dan Dampaknya untuk BisnisApa Saja Komponen Arsitektur Data Center Modern?
Arsitektur pusat data modern terdiri dari beberapa komponen inti yang saling terhubung. Komponen ini modular, sehingga bisa diskalakan secara horizontal tanpa redesain total:
Compute Layer
Lapisan komputasi terdiri dari server fisik atau virtual (VM/container) yang menangani pemrosesan data. Di setup modern, ini sering menggunakan HCI untuk mengintegrasikan komputasi dengan storage dan network.
Storage Layer
Storage layer merupakan sistem penyimpanan seperti all-flash array (SSD cepat) atau distributed storage, dengan fitur deduplikasi dan snapshot untuk efisiensi dan backup cepat.
Networking Layer
Layer jaringan merupakan jaringan berbasis SDN dengan topologi spine-leaf untuk traffic east-west yang dominan di era cloud, untuk mengurangi bottleneck.
Power dan Cooling
Sistem redundansi (UPS, generator) serta cooling efisien seperti liquid cooling atau immersion untuk PUE rendah (<1.3), mendukung density tinggi.
Management dan Orchestration
Aspek manajemen terdiri dari software seperti DCIM (Data Center Infrastructure Management) atau platform O&M cerdas untuk monitoring, provisioning otomatis, dan predictive maintenance.
Security dan Resilience
Komponen keamanan terdiri dari firewall virtual, enkripsi, serta disaster recovery tools untuk zero RPO/RTO.
Baca Juga: Software Defined Data Center: Transformasi dalam Infrastruktur ITBagaimana Cara Kerja Arsitektur Data Center?
Cara kerja arsitektur data center modern berbasis pada prinsip otomatisasi dan abstraksi penuh, memastikan alur data lancar dari ujung ke ujung:
Masuknya Data (Ingress)
Pertama-tama, data dari pengguna atau aplikasi masuk melalui edge switch atau load balancer, kemudian langsung dirutekan ke jaringan inti tanpa bottleneck untuk memastikan setiap server hanya satu "hop” dari yang lain, sehingga latensi internal kurang dari 1 ms.
Alokasi Compute
Hypervisor atau orchestrator (seperti Kubernetes) secara dinamis kemudian mengalokasikan CPU, RAM, dan GPU ke VM/container berdasarkan permintaan. Jika workload naik mendadak, sistem otomatis spawn resource baru tanpa intervensi manual.
Penyimpanan dan Akses Data
Storage distributed akan menulis data ke beberapa node sekaligus untuk redundansi. Fitur seperti erasure coding dan snapshot memungkinkan pemulihan instan, sementara changed block tracking hanya mem-backup data yang berubah, menghemat bandwidth hingga 90%.
Routing dan Keamanan
SDN berfungsi mengatur alur traffic secara cerdas, sementara virtual firewall dan micro-segmentation memeriksa setiap paket. Jika ada ancaman, sistem akan melakukan isolasi otomatis tanpa ganggu operasional keseluruhan.
Manajemen dan Optimasi
Platform O&M menggunakan AI untuk memantau ribuan metrik real-time, memprediksi kegagalan hardware sebelum terjadi, dan mengoptimalkan konsumsi energi (misalnya mematikan server idle atau pindah workload ke node dingin).
Keluarnya Data (Egress) & Integrasi
Hasil pemrosesan kemudian akan dikirim kembali ke pengguna atau cloud eksternal via API. Di hybrid setup, workload bisa bermigrasi langsung antar on-premise dan cloud tanpa downtime.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiBagaimana Cara Memilih Desain Data Center Modern yang Tepat?
Memilih desain yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi bisnis saat ini dan proyeksi masa depan. Berikut adalah pertimbangan utama beserta penjelasannya:
- Skala dan Kebutuhan Bisnis: Evaluasi volume beban kerja saat ini dan prediksi 3–5 tahun ke depan. Startup atau UKM umumnya cukup dengan HCI ringan yang mulai dari 3–5 node dan mudah scale-out. Untuk enterprise besar dengan AI workload, maka butuh arsitektur hyperscale dengan ribuan node dan GPU cluster.
- Efisiensi Energi dan Sustainability: Hitung PUE target dan pastikan dukungan pendinginan modern seperti liquid atau immersion. Hal ini penting untuk mengurangi biaya listrik dan memenuhi target ESG perusahaan.
- Tier Level dan Availability: Pilihlah Tier III (concurrently maintainable) atau Tier IV (fault tolerant) jika bisnis Anda sangat krusial seperti fintech atau e-commerce besar.
- Hybrid/Multi-Cloud Readiness: Pastikan arsitektur mendukung open standard (Kubernetes, OpenStack) dan API terbuka agar mudah integrasi dengan cloud publik.
- Budget dan Lokasi: Colocation atau virtualisasi di provider lokal lebih hemat biaya dan cepat untuk go-live. Maka pilihlah lokasi dengan latensi rendah ke pengguna utama serta kepatuhan terhadap regulasi.
- Keamanan dan Compliance: Carilah solusi dengan built-in zero trust, enkripsi end-to-end, serta sertifikasi lengkap. Fitur AI-driven threat detection kini semakin penting di era serangan siber yang masif.
Tingkatkan Arsitektur Pengelolaan Data Bisnis Anda dengan Solusi Virtualisasi Data Center dari Huawei!
Arsitektur data center yang efisien membutuhkan integrasi sempurna antara software dan hardware. Sinergi ini memerlukan solusi yang telah terbukti dan memiliki keandalan tinggi. Oleh karena itu, Solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi ideal untuk membangun arsitektur pusat data yang ringan, cerdas, dan memiliki skalabilitas tinggi.
Dengan teknologi hyper-converged infrastructure, penyimpanan yang cepat dan reduplikasi tinggi, serta dashboard cerdas, solusi ini telah dipercaya oleh banyak enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini dengan efisien untuk bisnis Anda.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Evolusi Data Center: Faktor Utama dan Dampaknya untuk Bisnis
Data center atau pusat data telah menjadi kunci utama dunia digital selama puluhan tahun, tetapi bentuk dan fungsinya terus berubah seiring dengan waktu. Teknologi yang berbentuk ruangan fisik besar berisi mainframe di era 1960-an kini telah sampai ke fasilitas hyperscale berbasis AI. Evolusi data center yang tidak pernah berhenti ini menunjukkan respons terhadap kebutuhan bisnis yang juga terus berkembang, mulai dari lebih banyak data, lebih cepat, lebih hemat, dan lebih aman.
Perkembangan data center juga mencerminkan bagaimana manusia mengelola informasi. Jika dulu satu komputer besar hanya dipakai oleh satu perusahaan, sekarang satu gedung data center bisa melayani jutaan pengguna sekaligus di seluruh dunia. Di Indonesia, evolusi database ini terlihat mulai dari data center on-premise di tahun 90an dan 2000an, hingga kini bermunculan cloud region lokal dan edge data center. Pemahaman akan perkembangan dan evolusi ini penting bagi bisnis agar tidak ketinggalan dalam memanfaatkan infrastruktur yang tepat, khususnya untuk data center.
Apa itu Data Center?
Secara sederhana, data center merupakan sebuah fasilitas yang menampung semua server, storage, dan network yang menjalankan aplikasi dan menyimpan data perusahaan. Sejak awal fungsinya tetap sama, yaitu menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data. Perkembangannya terletak pada skala, efisiensi, serta cara pengelolaannya. Sekarang data center tidak lagi berupa gedung yang berisi rak server, tetapi bisa juga berupa layanan cloud, container, atau bahkan modul kecil (edge computing).
Faktor Apa Saja yang Mendorong Evolusi Data Center?
Perkembangan data center yang sangat pesat ini bisa terjadi karena banyak faktor. Faktor utama yang masih dan diperkirakan akan terus terjadi adalah ledakan volume data. Di tahun 2025 sendiri, diperkirakan sebesar 181 zettabyte data diciptakan tiap tahun, dari yang tadinya hanya 2 zettabyte di tahun 2010. Ledakan volume data ini diiringi juga dengan meningkatnya kebutuhan akan kecepatan. Kecepatan ini sangat dibutuhkan di aplikasi-aplikasi real time seperti IoT, 5G, online gaming, atau fintech yang menuntut latensi rendah.
Teknologi data center di awal kemunculannya menuntut konsumsi energi yang sangat besar. Dari biaya operasional data center, biaya listrik bisa memakan hingga lebih dari setengahnya. Oleh karena itu perkembangan data center juga mengarah pada konsumsi energi yang lebih hemat.
Selain itu, banyak negara yang mewajibkan data warga disimpan di dalam negeri. Hal ini mendorong dibangunnya fasilitas data center yang mematuhi regulasi tersebut. Meningkatnya pengembangan dan penggunaan AI & machine learning juga membutuhkan ribuan GPU dan infrastruktur khusus untuk training model besar-besaran.
Bagaimana Pusat Data Berevolusi dan Berkembang?
Secara umum, evolusi pusat data dapat dilihat dari lima fase besar, yaitu:
Era Mainframe (1950-1980)
Fase awal ini juga menandai mula era komputer. Di era ini, komputer masih berukuran sangat besar, mahal, dan hanya dimiliki dan dipakai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Di masa akhir fase ini, komputer/fasilitas pusat data membutuhkan satu ruangan khusus dengan AC.
Era Client-Server & On-Premise (1990-2005)
Pada fase ini, server rack mulai muncul sehingga sistem on-premise, di mana perusahaan bisa membangun data center sendiri, mulai banyak diterapkan. Selain itu, istilah Tier 1-4 juga mulai dikenal.
Era Virtualisasi & Cloud Awal (2006-2015)
Era ini menandai munculnya virtualisasi dan cloud, seperti VMware, Hyper-V, AWS, dan Azure. Virtualisasi ini akhirnya mengurangi jumlah server fisik secara signifikan.
Era Cloud, Container, dan Hybrid (2016-2022)
Teknologi cloud pun semakin diminati dan terus berkembang. Berbagai konsep seperti Docker, Kubernetes, dan multi-cloud pun bermunculan. Selain itu, konsep software-defined everything seperti SDN, SDS, dan SDC juga bermunculan.
Era AI-Driven, Edge, dan Green Data Center (2023-Sekarang)
Setelah AI banyak bermunculan, GPU cluster pun semakin dibutuhkan untuk mendukung teknologi tersebut. Teknologi ramah lingkungan seperti renewable energy dan carbon-aware computing pun mulai diintegrasikan dalam pusat data.
Baca Juga: Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas TinggiApa Saja Tren Terbaru Seputar Data Center?
Penting bagi perusahaan untuk mengetahui dan up-to-date dengan tren terkini seputar data center. Berikut adalah tren-tren tersebut:
- Edge Data Center: Data center kecil (100kW - 5MW) yang ditempatkan di dekat pengguna untuk menurunkan latensi.
- Liquid Cooling & Immersion Cooling: Sistem pendinginan dengan cairan khusus atau plate cold langsung ke chip untuk menghemat energi.
- AI-Optimized Infrastructure: Infrastruktur rack khusus dengan ratusan GPU/TPU dengan interkoneksi super cepat untuk training-inference model AI.
- Zero-Trust & Quantum-Safe Security: Penerapan verifikasi akses yang ketat serta enkripsi post-quantum.
- Modular & Prefabricated Data Center: Infrastruktur data center yang dibangun di pabrik dalam bentuk modul/container lalu dikirim dan dirakit ke lokasi hanya dalam 3-6 bulan.
- Carbon-Aware Workload Scheduling: Pemindahan workload secara otomatis ke daerah yang sedang surplus energi terbarukan.
Apa Saja Dampak Modernisasi Data Center Terhadap Bisnis?
Modernisasi dan evolusi data center memberikan dampak yang signifikan bagi bisnis. Berikut adalah beberapa dampak positif yang bisa dirasakan:
Biaya Lebih Terkendali
Kini perusahaan beralih dari biaya modal awal (CapEx) yang besar menjadi ke biaya langganan bulanan (OpEx) yang bisa disesuaikan setiap saat.
Time-to-Market Lebih Cepat
Tiim developer kini bisa membuat, menguji, dan meluncurkan aplikasi atau fitur baru dengan lebih cepat, tidak lagi menunggu waktu mingguan hingga bulanan.
Skalabilitas Tinggi
Perusahaan tidak lagi khawatir dengan lonjakan drastis saat hari-hari tertentu karena kapasitas dapat naik secara otomatis dengan fitur auto-scaling, lalu turun lagi setelahnya tanpa biaya yang menganggur.
Meningkatkan Resiliensi Bisnis
Fitur redundansi (data disimpan di beberapa region berbeda), failover otomatis, dan backup real time dapat membantu mengurangi risiko kehilangan data atau downtime berkepanjangan. Hal ini meningkatkan resiliensi dan kelangsungan bisnis.
Tim IT Lebih Fokus ke Inovasi
Tim IT tidak perlu lagi mengurus perangkat keras, update firmware, cek suhu ruangan, atau takut mati listrik karena semua disediakan dan ditangani penyedia layanan. Mereka kini bisa lebih fokus ke proyek yang dapat memberi nilai tambah dan inovasi.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaTerapkan Modernisasi Data Center Bisnis Anda dengan Solusi Virtualisasi dari Huawei!
Setelah memahami sejarah, perkembangan, dan tren data center, kini saatnya Anda terapkan modernisasi data center ini untuk bisnis Anda. Solusi Data Center Virtualization dari Huawei dirancang khusus untuk mengatasi tantangan modern sambil memastikan ROI tinggi dan keandalan yang maksimal.
Dengan fitur canggih seperti hyper-converged infrastructure, disaster recovery dan backup terintegrasi, serta manajemen cerdas, solusi ini dapat menjadi pilihan tepat untuk bisnis Anda.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology siap mendampingi Anda menuju data center masa depan.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Hyperscale Data Center: Pusat Data dengan Skalabilitas Tinggi
Volume data dunia tumbuh dengan sangat pesat setiap tahunnya, didorong oleh penggunaan AI, streaming, e-commerce, dan big data. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah kini tidak lagi cukup dengan menggunakan infrastruktur data center biasa. Mereka membutuhkan infrastruktur yang dapat menangani ratusan ribu hingga jutaan server, serta bertambah kapasitasnya dalam hitungan minggu. Inilah yang disebut dengan hyperscale data center, pusat data modern yang dirancang dengan skalabilitas hampir tanpa batas.
Hyperscale adalah konsep infrastruktur IT di mana infrastruktur dapat diskalakan secara masif, cepat, dan efisien tanpa mengorbankan performa atau keandalan. Oleh karena itu, pusat data hyperscale adalah kunci di balik berbagai layanan cloud publik, media sosial, AI, dan aplikasi yang digunakan orang setiap hari. Bagi bisnis lokal, memahami hyperscale merupakan strategi penting untuk tetap kompetitif di masa depan. Artikel ini akan membahas pusat data hyperscale secara detail mulai dari cara kerjanya, bedanya dengan data center tradisional, manfaatnya untuk bisnis, serta pertimbangan dalam memilihnya.
Apa yang Dimaksud dengan Hyperscale Data Center?
Hyperscale data center adalah fasilitas pusat data yang masif (biasanya lebih dari 10.000 m² dan lebih dari 50 MW daya listrik) yang mampu menampung ratusan ribu hingga jutaan server dalam satu lokasi. Karakteristik utamanya adalah kemampuannya untuk menambah kapasitas server baru dengan sangat cepat tanpa perlu redesain ulang arsitektur.
Jika data center biasa dibangun secara bertahap, hyperscale dirancang sejak awal untuk bertumbuh secara otomatis. Teknologi ini juga menggunakan arsitektur software-defined, server custom, dan otomatisasi. Saat ini, pusat data semacam ini hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan masif seperti Google, Microsoft Azure, AWS, Meta, Alibaba, dan operator-operator besar lainnya.
Bagaimana Cara Kerja Hyperscale Data Center?
Hyperscale bekerja dengan prinsip simplicity at scale, yaitu semua server menggunakan desain yang sama (misalnya custom rack atau motherboard open-source). Jaringan atau network juga menggunakan topologi spine-leaf-ultra-flat agar bisa mencapai latency yang rendah.
Dari segi penyimpanan, hyperscale biasanya menggunakan penyimpanan terdistribusi, bukan SAN/NAS biasa. Data akan direplikasi ke banyak node secara otomatis. Selain itu, pendinginan dan listrik juga dirancang dengan lebih efisien dengan liquid cooling atau free-air cooling.
Semua proses mulai dari deploy server baru, update software, hingga penggantian hardware rusak dilakukan secara otomatis oleh robot dan software (zero touch provisioning). Kapasitas kemudian ditambah dengan cara drop container berisi ribuan server yang sudah siap pakai. Oleh karena itu, satu hyperscale data center dapat menambah daya komputasi setara satu data center enterprise hanya dalam waktu 2-3 minggu.
Baca Juga: Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang EfisienHyperscale Data Center vs Data Center Tradisional, Apa Perbedaannya?
Perbedaan utama antara pusat data tradisional dan hyperscale tentu terletak pada skala dan ukurannya. Secara ukuran dan kapasitas, pusat data tradisional umumnya terdiri dari 1.000-10.000 server, sementara hyperscale bisa mencapai lebih dari jutaan server. Ketika menambah kapasitas, pusat data tradisional membutuhkan waktu 6-24 bulan, sementara hyperscale hanya perlu 2-12 minggu.
Beberapa data center tradisional belum mencapai level otomatisasi penuh, sementara hyperscale umumnya sudah mengandalkan 95-100% otomatisasi. Tentunya secara fleksibilitas dan skalabilitas, data center tradisional sangat terbatas sementara hyperscale hampir tak terbatas.
Apa Saja Manfaat Utama Pusat Data Hyperscale untuk Bisnis?
Bagi bisnis skala besar dan skala menengah yang berkembang pesat, hyperscale memiliki berbagai keunggulan dan manfaat, yaitu:
Skalabilitas Tanpa Batas
Skalabilitas yang hampir tak terbatas ini sangat cocok digunakan untuk bisnis yang pertumbuhannya pesat dan eksponensial, misalnya e-commerce, fintech, gaming, atau AI.
Hemat Biaya Operasional
Arsitektur hyperscale juga memungkinkan perusahaan untuk menghemat biaya operasional. Biaya operasional bisa jadi jauh lebih rendah karena penggunaan energi yang efisien dan otomatisasi.
Latensi Rendah
Sistem hyperscale menyimpan data sedekat dengan user, atau disebut juga dengan edge-ready. Hal ini membuat tingkat latensi menjadi sangat rendah.
Ketahanan Tinggi Terhadap Bencana
Sistem backup dapat mereplikasikan data ke berbagai region secara otomatis. Ini meningkatkan ketahanan dan ketersediaan data jika terjadi bencana.
Mendukung Workload Modern
Skalabilitas dan kapasitas yang tinggi dapat mendukung workload modern seperti AI training, real time analytics, container, serta serverless architecture.
Baca Juga: Migrasi Data Center: Strategi dan Prosedur dalam PelaksanaannyaApa Saja Pertimbangan dalam Memilih Hyperscale Data Center?
Jika bisnis Anda mulai berkembang eksponensial dan membutuhkan pusat data hyperscale, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu:
Lokasi & Latensi
Pastikan penyedia layanan memiliki region atau availability zone yang sesuai dengan lokasi bisnis Anda. Di Indonesia, availability zone di kota besar (Jakarta atau Surabaya) atau setidaknya di Asia Tenggara (Singapura atau Malaysia). Ini penting untuk menjaga latensi di bawah 10-20 ms.
Kepatuhan Regulasi
Penyedia layanan harus memberikan fasilitas yang mendukung dan mematuhi berbagai regulasi yang berlaku seperti UU PDP, sertifikasi Tier III/IV Uptime Institute, atau ISO 27001. Ini penting untuk industri keuangan, kesehatan, dan pemerintahan.
Model Konsumsi
Tentukan model konsumsi Anda sesuai dengan kebutuhan kontrol, keamanan, dan budget bisnis Anda. Pilihannya meliputi public cloud, dedicated hyperscale, colocation dalam fasilitas hyperscale, atau hybrid.
Vendor Lock-in
Pertimbangkan juga risiko vendor lock-in, atau penyedia yang membuat aplikasi sulit dipindah. Pastikan platform mendukung standar open-source (Kubernetes, Terraform, atau OpenStack) untuk kemudahan ekspor-impor VM.
IT Support
Pilihlah vendor yang memiliki tim support 24/7, SLA tertulis, dan engineer on-site. Ini penting ketika terjadi insiden di tengah malam atau hari libur.
Harga dan Performa
Pertimbangkan juga biaya egress (keluar data), reserved instance discount, storage class, backup, dan disaster recovery. Jangan hanya lihat harga per vCPU atau per GB.
Roadmap Berkelanjutan
Perusahaan modern kini dituntut untuk memiliki ESG reporting. Oleh karena itu, pilihlah penyedia yang memiliki target carbon neutral atau net-zero, atau memiliki PUE yang rendah.
Percayakan Kebutuhan Data Center Anda dengan Solusi Virtualisasi Data Center dari Huawei!
Mulailah transformasi digital bisnis Anda dengan mengoptimalkan data center Anda ke teknologi virtualisasi yang lebih efisien. Data Center Virtualization dari Huawei dapat menjadi pilihan tepat untuk membantu bisnis Anda mengoptimalkan penyimpanan, kinerja aplikasi, serta memastikan skalabilitas tinggi hingga proteksi tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Virtual Data Center: Infrastruktur Data Berbasis Cloud yang Efisien
Seiring dengan berkembangnya teknologi, jumlah data yang dihasilkan dalam bisnis terus bertambah dengan sangat cepat. Oleh karena itu, bisnis perlu cara yang lebih fleksibel, cepat, dan hemat biaya untuk bisa menyimpan serta mengelola data tersebut. Di sinilah virtual data center menjadi solusi yang semakin diminati. Pusat data virtual ini berbeda dengan versi tradisionalnya yang terdiri dari banyak server dan peralatan fisik lainnya. Virtualisasi memungkinkan semua kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan jaringan dijalankan secara virtual di teknologi cloud. Perusahaan pun bisa menambah atau mengurangi kapasitas dalam hitungan menit tanpa harus memberi perangkat baru.
Artikel ini akan membahas pusat data virtual serta perbedaannya dengan pusat data fisik, bagaimana cara kerjanya, komponen di dalamnya, serta manfaatnya untuk bisnis. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Apa itu Virtual Data Center?
Virtual data center adalah seluruh infrastruktur data center, mulai dari server, penyimpanan, sampai jaringan, yang dijalankan secara virtual di atas cloud. Semua perangkat fisik digantikan oleh software, sehingga perusahaan bisa membuat, mengatur, dan menghapus server virtual hanya dengan beberapa klik. Lalu apa bedanya virtual data center vs cloud? Virtual data center adalah pusat data lengkap dalam bentuk virtual, sementara cloud publik umumnya merujuk pada layanan cloud siap pakai yang biasa disewakan. Perusahaan umumnya lebih membutuhkan VDC jika ingin menggunakan cloud tetapi butuh tingkat kendali dan keamanan yang lebih tinggi.
Dengan teknologi ini, perusahaan dapat memiliki data center pribadi, tapi tidak perlu ruangan khusus, dan tidak perlu teknisi standby 24 jam. Semuanya dapat dikelola oleh penyedia layanan, sementara pemilik bisnis tetap bisa mengatur semuanya sesuai kebutuhan bisnis. VDC sangat cocok untuk perusahaan menengah hingga besar yang ingin tetap lincah tanpa mengorbankan performa dan keamanan.
Virtual Data Center vs Data Center Fisik, Apa Perbedaannya?
Perbedaan fundamental antara pusat data virtual dan fisik terletak pada biaya awal, penambahan kapasitas, skalabilitas, pemeliharaan, serta fleksibilitas lokasi. Data center fisik umumnya memiliki biaya awal yang tinggi untuk pembelian server, ruangan, serta listrik. Penambahan kapasitas juga dilakukan dalam waktu bulan hingga tahunan dengan skalabilitas yang terbatas karena harus membeli hardware baru. Secara pemeliharaan, pusat data fisik memerlukan tim teknis yang besar, konsumsi listrik yang tinggi, serta lokasi yang kurang fleksibel.
Di sisi lain, pusat data virtual memiliki biaya awal yang rendah, karena hanya perlu membayar sesuai dengan pemakaian. Waktu penambahan kapasitas pun hanya memerlukan menit hingga jam dengan skalabilitas yang hampir tak terbatas. Perusahaan juga tidak perlu repot memikirkan pemeliharaan karena sistem ini dikelola penyedia dan hampir otomatis. Secara konsumsi listrik dan pendingin juga jauh lebih hemat, serta lokasinya fleksibel karena dapat diakses dari mana saja.
Bagaimana Cara Kerja Pusat Data Virtual?
Secara sederhana, pusat data virtual dapat dijelaskan cara kerjanya menjadi seperti berikut ini. Dalam arsitektur virtual data center memiliki server-server besar di penyedia layanan baik itu di dalam negeri atau di luar negeri. Kemudian server-server tersebut akan dibagi-bagi menjadi ratusan atau bahkan ribuan server virtual. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi virtualisasi.
Pengguna atau pelanggan kemudian akan diberikan dashboard atau portal khusus untuk melakukan berbagai modifikasi sesuai kebutuhan, mulai dari membuat server virtual, menambah storage, atau mengatur jaringan. Semuanya dapat dilakukan melalui browser.
Ketika ada traffic website yang naik mendadak, sistem dapat secara otomatis menambah daya komputasinya. Sebaliknya, ketika traffic turun, daya akan otomatis pula dikurangi agar pengguna tidak boros biaya. Semua data juga di-backup secara otomatis ke lokasi lain, sehingga jika ada gangguan di satu tempat, data tersebut tetap aman.
Apa Saja Komponen dalam Virtual Data Center Architecture?
Terdapat beberapa komponen penting dalam arsitektur pusat data virtual yang memiliki peran pentingnya masing-masing dan saling bekerja sama. Berikut adalah penjelasannya:
Server Virtual (Komputasi)
Komponen utama tentu adalah server. Mesin-mesin virtual yang digunakan untuk menjalankan aplikasi dan website. Server virtual ini dijalankan di atas server fisik yang dikelola oleh penyedia layanan di sebuah lokasi fisik.
Penyimpanan Virtual (Storage)
Selain server, storage atau penyimpanan juga dijalankan secara virtual. Hal ini membuatnya dapat ditambah kapan saja, biasanya menggunakan teknologi seperti SSD.
Jaringan Virtual
Jaringan atau network juga diperlukan untuk membuat koneksi antar server, firewall, dan load balancer yang semuanya diatur lewat software.
Dashboard Manajemen
Dashboard sangat penting bagi pengguna untuk bisa melihat kondisi penggunaan, membuat server baru, mengatur backup, dan memantau performa keseluruhan.
Lapisan Keamanan
Lapisan keamanan dalam pusat data meliputi enkripsi data, firewall virtual, serta sistem deteksi ancaman yang selalu aktif.
Sistem Backup & Disaster Recovery
Komponen lain yang tidak kalah penting adalah backup dan disaster recovery. Sistem ini adalah pencadangan otomatis dan rencana pemulihan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Apa Saja Manfaat Solusi Virtual Data Center untuk Bisnis?
Menjalankan pusat data secara virtual memiliki berbagai kelebihan dan manfaat yang dapat dirasakan oleh bisnis. Berikut ini adalah beberapa manfaat utamanya:
Hemat Biaya
Virtualisasi dapat membantu perusahaan untuk menghemat biaya dalam jangka panjang. Perusahaan tidak perlu berinvestasi besar untuk pembelian/perawatan hardware dan ruangan.
Scale Up/Down dengan Cepat
Fleksibilitas pusat data virtual sangat cocok untuk bisnis musiman atau startup yang tumbuh secara dinamis dan cepat.
Ramah Lingkungan
Dengan penghematan perangkat fisik dan konsumsi listrik, penggunaan pusat data virtual menjadi lebih ramah lingkungan karena resource yang digunakan lebih rendah dan efisien.
Backup & Keamanan Lebih Baik
Sistem backup virtual data center secara otomatis dilakukan ke beberapa lokasi, sehingga risiko kehilangan data hampir nol.
Mendukung Kerja Remote & Hybrid
Konsep virtualisasi dan cloud sangat mendukung bagi perusahaan atau karyawan yang bekerja secara remote atau hybrid.
Maksimalkan Pengelolaan Data di Infrastruktur IT Anda dengan Virtualisasi dari Huawei!
Pertumbuhan data yang masif menuntut perusahaan untuk memiliki sistem pengelolaan data yang aman, efisien, dan memiliki skalabilitas tinggi. Oleh karena itu, solusi Data Center Virtualization dari Huawei merupakan solusi yang cocok untuk mendukung fleksibilitas bisnis Anda!
Solusi dari Huawei dilengkapi dengan teknologi canggih yang dapat mengoptimalkan kapasitas penyimpanan, mendukung kinerja aplikasi, serta menjamin keamanan data. Selain itu, terdapat juga fitur-fitur seperti manajemen yang terpusat, skalabilitas tinggi, serta proteksi data tingkat enterprise.
Sebagai partner resmi Huawei, Phintraco Technology dapat membantu Anda mengimplementasikan solusi ini secara optimal.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila

Digital Experience: Indikator Penting dalam Aplikasi Bisnis
Keberhasilan bisnis saat ini dapat diukur dari digital experience yang diberikan kepada pelanggan. Dalam dunia bisnis modern, setiap interaksi antara pengguna dan aplikasi digital menjadi cerminan kualitas perusahaan. Baik melalui situs web, aplikasi mobile, atau sistem online lainnya, pengalaman digital menentukan bagaimana pelanggan memandang dan berinteraksi dengan brand.
Bisnis yang mampu menyediakan pengalaman digital yang cepat, aman, dan bebas gangguan akan memiliki peluang lebih besar dalam mempertahankan pelanggan serta meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, memahami dan mengelola digital experience bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis di era transformasi digital saat ini. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya tentang pengalaman digital!
Apa yang Dimaksud dengan Digital Experience?
Digital experience adalah keseluruhan interaksi pengguna dengan platform digital suatu perusahaan/organisasi. Ini meliputi tampilan interface, kecepatan respons, hingga kemudahan navigasi. Dalam konteks bisnis, pengalaman digital mencakup pengalaman pengguna ketika menjelajah situs, menggunakan aplikasi mobile, hingga berinteraksi melalui chatbot atau portal pelanggan.
Akan tetapi, pengalaman digital tidak hanya bergantung pada desain atau fitur antarmuka, tetapi juga mencakup performa backend seperti stabilitas sistem, kecepatan pemrosesan data, dan keamanan jaringan. Ketika salah satu komponen ini bermasalah, pengalaman pengguna pun terganggu, bahkan jika user interface terlihat menarik sekalipun.
Untuk memantau semua aspek tersebut, banyak perusahaan kini mengandalkan digital experience monitoring (DEM). Teknologi ini membantu organisasi memantau perilaku pengguna secara real time, mendeteksi gangguan performa aplikasi, serta memahami bagaimana interaksi digital berdampak terhadap kepuasan pelanggan.
Mengapa Digital Experience itu Penting?
Pengalaman digital yang baik merupakan fondasi utama keberhasilan bisnis berbasis teknologi. Terdapat beberapa alasan utama mengapa pengalaman digital sangat penting, yaitu:
Menentukan Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan
Pelanggan modern kini berekspektasi tinggi terhadap kecepatan dan konsistensi layanan digital. Satu halaman yang lambat atau aplikasi yang sering crash dapat membuat pengguna meninggalkan platform.
Meningkatkan Citra dan Kredibilitas Merek
Persepsi pelanggan terhadap brand dibentuk melalui interaksi online. Perusahaan dengan experience digital yang konsisten, cepat, dan mudah digunakan akan dianggap lebih profesional dan terpercaya.
Meningkatkan Efisiensi Operasional
Dengan bantuan monitoring, perusahaan dapat mendeteksi masalah performa aplikasi sebelum pengguna terganggu. Pendekatan ini dapat mengurangi beban kerja tim teknis melalui deteksi otomatis dan analisis akar penyebab masalah (root cause analysis).
Menjembatani Kolaborasi Bisnis dan Teknologi
Pengalaman digital yang kuat merupakan titik tengah antara tim IT dan bisnis. Ketika kedua tim memahami pola dan kebutuhan pengguna, mereka dapat merancang inovasi yang lebih relevan dan berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Apa Saja Contoh Pengalaman Digital?
Pengalaman digital hadir di berbagai bentuk dan sektor industri, mulai dari e-commerce hingga layanan publik. Beberapa contohnya antara lain:
E-commerce dan Retail Digital
Pengalaman digital di bidang e-commerce meliputi setiap momen mulai dari ketika pengguna menggunakan situs belanja online, menambahkan produk ke keranjang, dan menyelesaikan transaksi.
Aplikasi Perbankan dan Layanan Keuangan
Dalam mobile banking, kecepatan autentikasi, keamanan transaksi, dan keandalan sistem adalah faktor utama pengalaman digital. Nasabah menilai kepercayaan terhadap bank berdasarkan kemudahan dan kecepatan akses aplikasi mereka.
Layanan Pelanggan Digital
Banyak perusahaan kini menggunakan AI chatbot untuk memberikan layanan pelanggan 24 jam. Chatbot yang mampu memberikan respons cepat dan akurat dapat meningkatkan kepuasan pelanggan serta mengurangi beban tim dukungan manusia.
Platform Pendidikan dan Pemerintahan
Dalam sistem pembelajaran online atau layanan publik digital, aksesibilitas dan stabilitas sistem menjadi kunci. Semakin mudah platform digunakan oleh masyarakat, semakin tinggi tingkat adopsinya.
Bagaimana Cara Meningkatkan Digital Experience?
Untuk mencapai pengalaman digital yang optimal, bisnis perlu mengadopsi strategi dan teknologi yang tepat. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Gunakan Digital Experience Monitoring (DEM)
Teknologi DEM memantau user journey secara menyeluruh mulai dari sisi front-end hingga back-end. Platform monitoring memungkinkan tim IT mendeteksi penurunan performa aplikasi secara real time, memahami penyebab masalah, dan memperbaikinya sebelum berdampak pada pengguna akhir.
Fokus pada User-Centric Design
Desain interface haruslah sederhana, intuitif, dan mudah diakses dari berbagai perangkat. Pengujian pengalaman pengguna (UX testing) perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan desain tetap relevan dengan perilaku pengguna yang terus berkembang.
Optimalkan Kecepatan dan Stabilitas Aplikasi
Waktu muat halaman (page load time) adalah salah satu faktor paling penting dalam pengalaman digital. Gunakan content delivery network (CDN), caching, dan pengujian otomatis untuk menjaga stabilitas dan kecepatan aplikasi.
Personalisasi Pengalaman Digital
Dengan menganalisis data perilaku pengguna, bisnis dapat menampilkan konten dan penawaran yang relevan. Personalisasi berbasis AI tidak hanya meningkatkan keterlibatan pengguna, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan brand.
Bangun Kolaborasi antara Tim Bisnis dan IT
Pengalaman digital merupakan bagian dari strategi bisnis keseluruhan perusahaan. Dengan kolaborasi lintas departemen, perusahaan dapat memastikan inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan pelanggan.
Tingkatkan Digital Business Experience Anda dengan Solusi Application Performance Monitoring dari Phintraco Technology!
Dalam dunia digital yang serba cepat, performa aplikasi menjadi tulang punggung pengalaman pelanggan. Oleh karena itu, Anda perlu platform monitoring yang dapat menggabungkan performa teknis dengan insight yang berharga. Phintraco Technology menghadirkan solusi Application Performance Monitoring (APM).
Solusi APM kami dapat memberikan visibilitas menyeluruh terhadap perjalanan pengguna, kinerja aplikasi, hingga analisis penyebab masalah secara otomatis. Solusi ini memastikan aplikasi bisnis Anda selalu dalam performa terbaik.
Untuk informasi selengkapnya, hubungi marketing@phintraco.com sekarang!
Editor: Irnadia Fardila
Recent Posts


