
Service Level Objective: Sasaran Terukur untuk Microservices
Aplikasi dengan model arsitektur microservices kini menjadi pilihan untuk banyak perusahaan karena dapat menghasilkan aplikasi serbaguna yang terdiri dari banyak layanan kecil yang independen dan dapat diskalakan. Model aplikasi ini menjadi pilihan karena perusahaan harus selalu berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan dan harapan pelanggan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu, perusahaan memerlukan target terukur untuk mengelola keandalan dan kinerja layanan aplikasi ini, salah satu caranya adalah dengan menerapkan service level objective atau SLO.
SLO dapat digunakan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan selalu konsisten dan memenuhi harapan pelanggan. Metode ini dapat mengukur kinerja layanan dalam berbagai aspek. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang service level objective mulai dari definisi, faktor mengapa SLO itu penting, bagaimana cara kerjanya, bagaimana cara-cara terbaik menerapkan SLO, serta apa saja manfaat SLO untuk perusahaan dalam mengembangkan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Apa itu Service Level Objective?
Service level objective (SLO) adalah bagian dari service level agreement (SLA) yang merupakan dokumentasi key performance indicator (KPI) yang diharapkan oleh pelanggan dari pihak penyedia layanan. Selain menyajikan detail tentang layanan-layanan,
SLA sendiri merupakan kontrak yang ditandatangani antara vendor dan pelanggan yang bertujuan untuk menjamin tingkat layanan tertentu yang terukur. SLO juga digunakan untuk menentukan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan terjadi jika SLO tersebut tidak tercapai.
Secara umum, service level objective adalah sasaran terukur yang harus dipenuhi untuk memastikan kinerja layanan yang responsif dan stabil. SLO umumnya diukur menggunakan service level indicator (SLI) yang terdiri dari waktu respons, tingkat kesalahan, dan ketersediaan. Hal-hal tersebut merupakan metrik terukur yang didokumentasikan pada para pemangku kepentingan untuk memberikan akuntabilitas, menghasilkan kualitas layanan yang konsisten, serta menunjukkan komitmen yang berkelanjutan.
Beberapa contoh SLO yang umum antara lain adalah 95% dari interaksi harus memiliki waktu respons tidak lebih dari 200 millisecond, tingkat error tidak boleh lebih dari 0,5% dari total permintaan, serta layanan harus tersedia 99% dari waktu total.
Hal inilah yang dapat membantu perusahaan dalam mengukur dan menentukan target kinerja layanan untuk memastikan layanan yang diberikan perusahaan selalu konsisten dan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Mengapa Service Level Objective itu Penting?
Terdapat beberapa faktor utama mengapa service level objective menjadi sangat penting bagi perusahaan, khususnya untuk tim developer dalam memastikan kualitas layanan aplikasi. Alasan pertama mengapa SLO penting adalah karena metode ini dapat membantu meningkatkan kualitas perangkat lunak. Hal ini dapat dicapai dengan cara menentukan tingkat downtime yang dapat diterima untuk sebuah layanan. SLO juga dapat menyoroti masalah yang bukan insiden besar tapi tidak memenuhi target. Penggunaan SLO dapat membantu perusahaan untuk menyeimbangkan antara inovasi (yang berpotensi menyebabkan downtime) serta memastikan ketersediaan layanan.
Menerapkan SLO juga dapat membantu tim DevOps dan tim infrastruktur untuk menggunakan data dan ekspektasi kinerja untuk mengambil keputusan penting di kemudian hari. Keputusan-keputusan tersebut antara lain seperti kapan waktu perilisan aplikasi serta di area mana tim teknisi memfokuskan kinerja mereka.
SLO yang dirancang dengan baik dapat membuka jalan bagi tim developer untuk mengotomatisasikan proses-proses pengembangan dan penguji dalam software development life cycle (SDLC). Tim pengembangan dapat mengatur otomatisasi untuk memantau dan mengukur indikator SLO sekaligus mendapatkan peringatan jika salah satu indikator tidak terpenuhi. Hal ini memungkinkan tim untuk mendeteksi masalah bahkan sebelum syarat SLO tidak terpenuhi atau dilanggar.
Bagaimana Cara Kerja SLO?
Perangkat lunak berbasis cloud memiliki alat dan infrastruktur pendukung yang menghasilkan berbagai metrik serta titik data setiap detiknya. Metrik dan data tersebut berfungsi untuk menunjukkan status dan kinerja sistem.
Service level objective bekerja dengan cara mendefinisikan atau mendukung serangkaian target bisnis di tingkat yang lebih tinggi. Target-target tersebut tentu harus yang dapat diukur dengan memanfaatkan data dan wawasan dari alat bantu pengamatan (observability tools).
Tujuan utama dari SLO adalah untuk memberikan layanan yang lebih andal, tangguh, serta responsif dalam rangka memenuhi bahkan melampaui harapan pengguna. Reliability dan responsiveness adalah dua metrik yang biasanya diukur dalam digit angka sembilan hingga batas 100%. Contohnya mulai dari 90%, 99%, 99,9%, 99,99%, dan 99,999%. Semakin banyak desimal yang mendekati 100 maka semakin besar biaya dan kompleksitas untuk mencapainya.
Menentukan SLO membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik tengah antara kesempurnaan secara statistik serta tujuan yang masih realistis.
Bagaimana Cara Terbaik untuk Menerapkan SLO?
Terdapat beberapa cara dan tips untuk menerapkan SLO secara optimal. Berikut ini adalah cara-cara serta penjelasannya:
Jangan Tetapkan SLO Terlalu Banyak
Tentukan SLO yang mendukung SLA dan tujuan bisnis. Hindari menentukan terlalu banyak SLO yang tidak mendukung tujuan bisnis yang lebih luas.
Tetapkan Target Secara Realistis
Target yang ditentukan harus mewakili kinerja layanan secara akurat. Hindari menentukan target SLO yang terlalu rendah dan terlalu tinggi.
Sesuaikan dengan Bisnis
Tim teknis dan para pemangku kepentingan harus bekerja sama dan menyelaraskan ekspektasi terkait target SLO. Hal ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi SLA kepada pelanggan.
Prioritaskan SLO untuk Pelanggan Khusus
Perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin dengan memprioritaskan SLO dengan standar yang lebih tinggi untuk pelanggan yang berbayar atau berlangganan dibanding yang tidak.
Otomatisasikan Evaluasi SLO
Perusahaan dapat melakukan otomatisasi evaluasi SLO dengan platform yang tepat agar tidak memperlambat analisis akar masalah.
Apa Saja Manfaat Service Level Objective untuk Perusahaan?
Terdapat beberapa manfaat utama penerapan SLO bagi perusahaan secara umum. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya:
Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Perusahaan dapat memastikan layanan yang diberikan pada pelanggan selalu konsisten sesuai dengan harapan. Hal ini tutur meningkatkan kepuasan pelanggan.
Meningkatkan Keandalan Layanan
Service level objective dapat membantu perusahaan mengukur kinerja aplikasi dan sistem dari berbagai aspek, sehingga dapat meningkatkan keandalan layanan.
Meningkatkan Komunikasi antar Pihak
Penerapan SLO juga dapat mendorong komunikasi antara berbagai pihak di perusahaan mulai dari tim developer, tim operasional, tim bisnis, hingga pemangku kepentingan (stakeholder)
Tentukan SLO Aplikasi Anda secara Mudah dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!
Salah satu cara untuk bisa menerapkan SLO secara optimal adalah dengan mengotomatisasikan berbagai proses evaluasinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan platform yang tepat.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform DevOps terbaik untuk membantu Anda mengevaluasi SLO. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology dapat mengidentifikasi SLI yang relevan dan mampu mengukur kinerja aplikasi secara terus-menerus.
Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi selengkapnya terkait platform DevOps dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini

Microservices: Aplikasi Fungsional dengan Banyak Layanan
Aplikasi dan perangkat lunak kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Berbagai kegiatan dan layanan di berbagai bidang kini telah dilakukan melalui aplikasi atau platform digital. Oleh karena itu, diciptakanlah aplikasi yang dapat diskalakan dan praktis untuk bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut. Dalam dunia pengembangan aplikasi atau software development, aplikasi microservices telah menjadi solusi utama dalam menyediakan aplikasi yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan pengguna secara praktis.
Aplikasi microservice merupakan aplikasi yang dirancang dengan pendekatan yang cukup berbeda dari pengembangan aplikasi tradisional. Berbagai layanan dapat diintegrasikan secara lebih responsif dan fleksibel ke dalam aplikasi lewat pengembangan ini. Oleh karena itu, arsitektur microservice kini telah menjadi standar de facto dalam dunia pengembangan perangkat lunak modern. Artikel ini akan membahas aplikasi microservices dan arsitekturnya secara lengkap mulai dari definisi, perbedaannya dengan monolith architecture, apa saja ciri-cirinya, kaitannya dengan pengembangan DevOps, serta manfaatnya dalam pengembangan aplikasi untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Apa itu Microservices?
Microservices adalah sebuah unit perangkat lunak yang kecil, fleksibel, serta modular yang dapat diintegrasikan dengan layanan-layanan lain untuk menciptakan sebuah aplikasi yang lengkap dan serbaguna. Aplikasi sendiri merupakan kumpulan layanan independen yang dapat bekerja sama untuk menjalankan sebuah fungsi bisnis. Arsitektur microservice merujuk pada metode penataan, pengembangan, serta pengoperasian perangkat lunak yang terdiri dari kumpulan layanan independen yang lebih kecil.
Pendekatan microservice dalam pengembangan aplikasi memungkinkan tim DevOps untuk membagi berbagai layanan menjadi application programming interface (API). API ini kemudian dapat menghubungkan berbagai layanan dengan sebuah fungsionalitas inti yang memungkinkan aplikasi untuk berbagi komunikasi dan bertukar data. Masing-masing layanan dapat dikembangkan, diuji, dan dipasang secara terpisah. Hal ini memungkinkan tim pengembang untuk bekerja secara paralel dan mempercepat siklus pengembangan (software development life cycle).
Dalam pengembangan microservices, setiap layanan memiliki peran spesifik dan menggunakan teknologi yang sesuai untuk menjalankan peran tersebut. Hal ini dapat memberikan fleksibilitas lebih untuk tim developer dalam memilih alat dan teknologi yang efektif untuk setiap bagian aplikasi. Selain itu, setiap layanan dapat diskalakan secara independen sesuai kebutuhan tanpa harus mempengaruhi keseluruhan sistem dalam aplikasi.
Monolith vs Microservices Architecture, Apa Perbedaannya?
Arsitektur monolith dan microservice merupakan metode dan struktur pengembangan aplikasi yang berbeda. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara pengembangan dan pengelolaan aplikasi tersebut. Dalam arsitektur monolith, seluruh aplikasi dikembangkan sebagai satu kesatuan yang besar. Tim developer menggunakan satu kode dasar untuk membangun dan mengintegrasikan semua komponen mulai dari user interface (UI) hingga logika bisnis. Sementara itu, arsitektur microservice membagi aplikasi menjadi beberapa layanan kecil yang berfungsi secara independen dan dapat dikelola secara terpisah.
Pengembangan arsitektur monolith yang dijalankan sebagai satu kesatuan membuat pengembangannya lebih sederhana di tahap awal. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya aplikasi, sedikit perubahan dapat mempengaruhi banyak bagian dari sistem. Sebaliknya, arsitektur microservice dapat diskalakan dan dikembangkan tanpa harus mengubah keseluruhan sistem. Hal ini juga mengimplikasikan bahwa ketika terjadi kegagalan pada satu titik, maka keseluruhan sistem aplikasi monolith akan terdampak. Sementara itu, kegagalan dalam satu titik di aplikasi microservice akan terisolasi dan dapat diperbaiki secara terfokus.
Apa Saja Ciri-ciri Microservices?
Pengembangan microservice merupakan jawaban dan solusi atas beberapa kelemahan dan hambatan yang biasa dihadapi dalam mengembangkan aplikasi monolith, mulai dari repositori kode yang besar, ketahanan aplikasi dari kegagalan, dan kompleksitas yang membatasi skalabilitas. Oleh karena itu, terdapat beberapa ciri-ciri dan karakteristik utama dari microservice dan desainnya, berikut ini adalah penjelasannya:
Independen
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, setiap layanan dan aplikasi dalam arsitektur layanan mikro merupakan komponen yang independen. Setiap komponen ini dapat berjalan sebagai layanannya sendiri dalam proses aplikasi. Hal ini dapat meringankan beban aplikasi dengan mengkomunikasikan berbagai layanan lewat API.
Otonom
Arsitektur microservice lebih otonom terutama dalam menerapkan sistem otomatisasi dibandingkan arsitektur monolith. Perusahaan dapat mengembangkan, memperbarui, dan menskalakan setiap komponen layanan tanpa mempengaruhi layanan lain. Tim developer tidak perlu berbagi kode atau implementasi apa pun dengan layanan lain karena komunikasi antar komponen terjadi melalui API yang terdefinisi dengan baik.
Terspesialisasi
Penggunaan layanan mikro dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mendefinisikan setiap fungsi dalam aplikasi secara rinci. Setiap layanan dalam aplikasi memiliki spesialisasi untuk kemampuan tertentu, sehingga tim developer dapat membuat layanan yang berfokus pada masalah-masalah tertentu yang lebih spesifik.
Apa Kaitan antara Microservices dan DevOps?
Arsitektur layanan mikro memiliki kaitan erat dengan praktik pengembangan DevOps. DevOps sendiri merupakan pendekatan kolaboratif antara tim developer dan tim operasional agar bisa mempercepat siklus pengembangan perangkat lunak lewat otomatisasi dan integrasi berkelanjutan. Banyak developer menganggap bahwa arsitektur layanan mikro memang secara langsung diterapkan untuk mengoptimalkan DevOps dan CI/CD (continuous integration/continuous delivery).
Pendekatan DevOps dapat memungkinkan tim untuk melakukan integrasi dan pengujian aplikasi layanan mikro secara berkelanjutan dengan lebih efektif. Setiap layanan microservice juga dapat diuji secara independen sebelum diintegrasikan ke dalam aplikasi secara keseluruhan. Tanpa DevOps, arsitektur layanan mikro mungkin akan menghadapi beberapa masalah terkait dengan kompleksitas komponen-komponennya.
Oleh karena itu, praktik DevOps yang terstruktur dapat menjadi solusi penerapan, pemantauan, life cycle management, serta otomatisasi yang lebih baik untuk mendukung arsitektur layanan mikro.
Apa Saja Manfaat Microservices Architecture dalam Pengembangan Aplikasi?
Arsitektur layanan mikro memiliki beberapa manfaat utama dalam pengembangan aplikasi modern. Berikut ini adalah manfaat-manfaat utama serta penjelasannya:
Fleksibilitas Tinggi
Layanan mikro memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi sehingga memungkinkan developer untuk menggunakan lebih banyak gambar, container, serta mesin manajemen yang berbeda. Hal ini memberikan keleluasaan dan opsi konfigurasi yang lebih banyak bagi developer saat membuat aplikasi.
Skalabilitas Tinggi
Aplikasi yang menggunakan arsitektur layanan mikro dapat dikembangkan dan ditambah fitur-fiturnya seiring waktu tanpa harus mengkhawatirkan kondisi keseluruhan sistem. Hal ini karena setiap layanan dalam arsitektur ini bergerak secara independen dan memiliki skalabilitas yang independen pula.
Hemat Sumber Daya
Fitur cluster manager dalam arsitektur layanan mikro membuat arsitektur ini cenderung lebih hemat dalam penggunaan sumber daya, khususnya selama runtime. Hal ini juga turut membantu meringankan beban pengembangan dan beban aplikasi ketika dijalankan.
Risiko Downtime Lebih Rendah
Layanan mikro memiliki risiko downtime yang lebih kecil karena developer tidak perlu melakukan re-deploy untuk keseluruhan aplikasi ketika membuat update untuk layanan tertentu. Codebase layanan yang lebih kecil dapat menyederhanakan pemecahan masalah, sekaligus mempercepat waktu rata-rata untuk mendeteksi masalah (MTTD) dan waktu rata-rata untuk pemulihan (MTTR).
Tingkatkan Observabilitas Microservices Anda dengan Platform DevOps dari Phintraco Technology!
Semakin kompleksnya arsitektur aplikasi microservices membuat perusahaan harus memiliki alat yang dapat meningkatkan observabilitas untuk memantau kinerja dan kesehatan aplikasi serta setiap layanan mikro yang ada. Hal ini penting untuk memastikan pengembangan microservices dapat berjalan dengan optimal.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat membantu Anda meningkatkan observabilitas pengembangan microservices dengan solusi platform DevOps terbaik. Solusi platform DevOps dari Phintraco Technology memiliki fitur-fitur observabilitas yang dapat meningkatkan visibilitas dan pemantauan aplikasi Anda. Dengan dukungan AI, solus ini juga dapat membantu mengimplementasikan pendeteksian dan pengujian secara otomatis untuk mengatasi potensi masalah.
Hubungi marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi DevOps dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini

Cloud Monitoring: Visibilitas Menyeluruh untuk Performa Aplikasi
Lingkungan multicloud kini telah digunakan oleh banyak perusaaan. Ketika menggunakan lingkungan multicloud, penting bagi perusahaan untuk bisa memastikan ketersediaan infrastruktur, performa aplikasi yang tinggi, serta keamanannya. Untuk bisa memastikan aspek-aspek tersebut, teknologi cloud monitoring kini hadir sebagai solusi utama. Semakin meningkatnya kompleksitas teknologi cloud dan big data membuat perusahaan harus memiliki teknologi khusus yang lebih canggih dan praktis untuk memantau lingkungan cloud mereka dibandingkan alat monitoring tradisional.
Perkembangan teknologi ini diiringi dengan derasnya arus perpindahan ke lingkungan multicloud oleh banyak perusahaan saat ini. Berdasarkan survei global dari Dynatrace terhadap 1300 CIO (Chief Information Officer) dan Kepala IT dari berbagai perusahaan, ditemukan 99% perusahaan yang menggunakan lingkungan multicloud kini menggunakan rata-rata 7 alat monitoring untuk memantau infrastruktur mereka. Sebanyak 58% Kepala IT mengatakan bahwa manajemen infrastruktur ini cukup menguras sumber daya perusahaan mereka. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai cloud monitoring mulai dari definisinya, perbedaannya dengan cloud logging, apa saja tipe-tipenya, bagaimana strategi penerapan yang tepat, serta apa saja manfaatnya untuk perusahaan. Simak artikel berikut ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!
Apa itu Cloud Monitoring?
Cloud monitoring atau alat pemantau cloud adalah seperangkat solusi dan metode yang digunakan untuk mengamati, mengukur, menganalisis, serta mengelola kesehatan infrastruktur IT berbasis cloud. Solusi atau layanan ini umumnya terintegrasi dengan berbagai layanan lain untuk bisa memberikan informasi dan gambaran lengkap tentang kondisi dan kinerja sistem. Perusahaan dapat menggunakan alat pemantau cloud ini untuk berbagai keperluan mulai dari mengidentifikasi potensi masalah, mengoptimalkan sumber daya, hingga meningkatkan keandalan sistem dan aplikasi.
Pemantauan lingkungan cloud yang berkelanjutan dan didukung dengan otomatisasi dapat memberikan visibilitas yang jelas tentang kinerja dan ketersediaan situs web, file, aplikasi, server, hingga sumber daya jaringan. Visibilitas ini dapat memberikan perusahaan wawasan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang muncul secara real time sebelum masalah tersebut berkembang dan berdampak negatif pada aspek lain, khususnya pada pengalaman digital pengguna (user experience).
Alat pemantauan cloud dapat menghimpun berbagai data dari aplikasi dan sumber daya yang tersebar di saluran terdistribusi untuk bisa mendeteksi anomali, menganalisis akar masalah, memprediksi dan mencegah pelanggaran keamanan, hingga menyajikan berbagai laporan. Laporan ini meliputi metriks (cloud monitoring metrics), kinerja, serta hasil deteksi insiden yang ditampilkan secara visual lewat dashboard.
Cloud Monitoring vs Cloud Logging, Apa Perbedaannya?
Cloud monitoring dan cloud logging merupakan dua istilah yang berbeda namun sering dianggap sebagai layanan yang sama. Pada dasarnya, sistem monitoring dan logging di lingkungan cloud adalah dua kegiatan yang berbeda namun saling melengkapi untuk bisa memastikan kinerja sistem atau aplikasi yang optimal. Perbedaan fundamental dari kedua istilah ini terletak pada fungsi dan fitur utamanya.
Monitoring berfungsi untuk memberikan visibilitas secara real time terkait kesehatan dan kinerja aplikasi, layanan, serta infrastruktur lainnya. Dalam lingkungan cloud, layanan ini digunakan untuk memantau kinerja sistem dan mengidentifikasi masalah sebelum masalah tersebut menyebabkan downtime.
Fitur-fitur utama dari monitoring antara lain adalah mengumpulkan data metriks dari berbagai sumber yang akan ditampilkan secara visual di dashboard, mengelola aturan peringatan berdasarkan kondisi tertentu, serta diintegrasikan dengan layanan ketiga (third-party tools) lain.
Sementara itu, logging berfungsi untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpan log dari berbagai sumber di lingkungan cloud. Layanan ini dapat disebut juga sebagai log management platform yang dapat menyimpan berbagai log pada skala ekabytes.
Kedua layanan tersebut dapat diintegrasikan satu sama lain untuk bisa mengoptimalkan pemantauan, analisis, serta pemecahan masalah dalam lingkungan cloud.
Apa Saja Tipe-tipe Cloud Monitoring?
Terdapat beberapa tipe dan jenis alat pemantauan cloud berdasarkan aspek yang dipantau beserta tujuannya. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:
Application Performance Monitoring (APM)
Application Performance Monitoring atau APM bertujuan untuk memberikan visibilitas real time terkait status dan performa aplikasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan aplikasi bekerja dengan semestinya dan meminimalisasi error atau bug.
Database Monitoring
Pemantauan database berfungsi untuk memastikan kueri database berjalan dengan baik sekaligus mengidentifikasi masalah terkait hosting. Contohnya adalah pemantauan uptime yang dapat mengidentifikasi ketidakstabilan dan meningkatkan waktu rata-rata untuk pemulihan downtime.
Website Monitoring
Monitoring jenis ini berfungsi untuk memantau proses, traffic, ketersediaan, serta penggunaan sumber daya website yang dijalankan dengan hosting cloud.
Cloud-server Monitoring
Jenis pemantauan ini bertujuan untuk melacak metriks serta informasi tentang CPU server, memori, kesehatan jaringan, serta hosting, kontainer, dan fungsi serverless.
Cloud Storage Monitoring
Pemantauan cloud storage berfungsi untuk melacak sumber daya penyimpanan serta proses yang disediakan untuk berbagai fitur seperti virtual machine, layanan, database, serta aplikasi.
Virtual Machine Monitoring
Virtual Machine atau VM juga dapat dipantau untuk memastikan berbagai aspek seperti penggunaan sumber daya dan kinerja VM yang mendukung sebuah aplikasi.
End-user Experience Monitoring
Selain fitur-fitur teknologi, pengalaman pengguna juga dapat dipantau agar tim developer bisa mengetahui dan mengukur kepuasan pelanggan terhadap produk atau layanan yang diberikan oleh perusahaan, baik dalam bentuk situs web maupun aplikasi.
Unified Monitoring
Unified monitoring adalah platform pemantauan terintegrasi yang dapat memantau seluruh aspek dalam sistem mulai dari infrastruktur fisik, virtual, hingga infrastruktur cloud.
Bagaimana Cara Menerapkan Strategi Cloud Monitoring?
Terdapat beberapa praktik dan strategi terbaik untuk menerapkan alat pemantauan cloud untuk infrastruktur IT yang efektif. Langkah pertama adalah tentukan perangkat atau layanan cloud terbaik untuk kondisi perusahaan Anda. Setelah itu tentukan juga tujuan dan jalur yang jelas menuju kesuksesan perusahaan. Identifikasi metriks kinerja utama yang spesifik untuk tujuan perusahaan yang telah ditentukan.
Selain itu, berikan gambaran lengkap tentang kondisi kesehatan seluruh infrastruktur cloud dan ukur konsumsi sumber daya cloud untuk memastikan sumber daya tersebut dapat diskalakan untuk beradaptasi dengan kebutuhan bisnis. Tetapkan juga baseline untuk mengukur metriks dan pola tersebut dari waktu ke waktu.
Perusahaan juga bisa memprediksi kebutuhan sumber daya dan skala sesuai dengan kebutuhan untuk memantau alur pengguna (user flow) untuk mengukur waktu respons. Selain itu, normalisasi data dari data center dan cloud ke dalam satu platform terintegrasi dan terapkan juga peringatan otomatis jika terdeteksi masalah-masalah.
Apa Saja Manfaat Cloud Monitoring untuk Perusahaan?
Penerapan monitoring dalam lingkungan cloud dapat memberikan sejumlah manfaat bagi perusahaan. Berikut ini adalah manfaat dan penjelasannya:
Meningkatkan Keamanan Aplikasi dan Jaringan Cloud
Identifikasi dan penyelesaian masalah secara real time dapat berperan dalam meningkatkan keamanan aplikasi dan cloud. Fitur peringatan otomatis juga dapat membantu tim IT untuk mengatasi berbagai masalah keamanan.
Mengoptimalkan Ketersediaan dan Kinerja Aplikasi
Pemantauan kesehatan dan kinerja aplikasi dapat membantu perusahaan untuk mengoptimalkan ketersediaan dan kinerja aplikasi, serta meminimalkan downtime.
Memastikan Keberlangsungan Layanan IT
Layanan ini juga dapat memungkinkan rencana keberlangsungan layanan IT yang proaktif yang dapat meningkatkan kemampuan tim IT untuk merespons downtime. Selain itu juga meningkatkan kapasitas untuk mendeteksi, memprediksi, dan mencegah terjadinya insiden tersebut.
Optimalkan Visibilitas Performa Aplikasi Anda dengan Cloud Monitoring dari Phintraco Technology!
Visibilitas dan kemampuan untuk memantau seluruh aspek dari lingkungan multicloud, khususnya dalam pengembangan aplikasi seperti DevOps merupakan kunci kesuksesan utama. Oleh karena itu, perusahaan perlu memilih platform monitoring yang tepat untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan platform cloud monitoring terintegrasi untuk produk Anda. Solusi monitoring dari Phintraco Technology dilengkapi oleh otomatisasi berkelanjutan berbasis AI. Teknologi ini dapat memberikan observasi secara end-to-end yang diperlukan untuk mengukur dan memvisualisasikan kinerja aplikasi dan jaringan cloud.
Hubungi email marketing@phintraco.com sekarang untuk informasi lebih lanjut terkait solusi cloud monitoring dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini

Service Mesh: Integrasi Berbagai Layanan Microservices
Aplikasi kini semakin berkembang untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehari-hari. Salah satu bentuk perkembangan aplikasi di zaman modern ini adalah dengan munculnya aplikasi yang dibangun dengan arsitektur microservices. Pendekatan ini dilakukan untuk membuat aplikasi monolitik menjadi terdiri dari beberapa layanan kecil yang independen dengan peran dan fungsi tertentu. Cara untuk bisa mengelola komunikasi dan interaksi antar layanan tersebut adalah service mesh.
Service mesh atau jaringan layanan merupakan solusi bagi developer untuk bisa menyederhanakan dan mengamankan komunikasi antar layanan di lingkungan microservices. Sebagai lapisan infrastruktur khusus yang dirancang untuk menangani interaksi dalam arsitektur microservices, jaringan layanan ini berperan seperti pengelola lalu lintas dan sebagai jaringan virtual. Artikel ini akan membahas service mesh secara lengkap mulai dari apa definisinya, bagaimana cara kerjanya, apa perbedaannya dengan API Gateway, serta apa saja kelebihannya. Simak artikel berikut ini untuk mendapatkan informasi selengkapnya!
Apa yang Dimaksud dengan Service Mesh?
Service mesh adalah sebuah lapisan infrastruktur khusus yang dirancang ke dalam aplikasi untuk mengatur komunikasi antar layanan dalam arsitektur microservices. Jaringan ini mengontrol segala pengiriman permintaan layanan (service request) ke layanan lainnya. Selain itu, layanan ini juga berperan untuk melakukan penyeimbangan beban, mengenkripsi data, serta menemukan layanan-layanan lainnya.
Sederhananya, jaringan layanan ini merupakan lapisan abstrak yang berada di antara layanan dalam microservices. Selain berfungsi untuk meneruskan lalu lintas permintaan dan respons antar layanan, jaringan ini juga dapat digunakan untuk IT policy seperti autentikasi, otorisasi, dan enkripsi.
Penggunaan jaringan layanan ini dapat membantu tim developer untuk lebih berfokus pada logika aplikasi tanpa harus memikirkan tentang kompleksitas jaringan dan interaksi antar layanan microservices. Solusi ini sangat tepat untuk perusahaan yang memiliki aplikasi berskala besar dan terdiri dari banyak layanan mikro. Seiring dengan bertumbuhnya lalu lintas aplikasi, permintaan antar layanan akan meningkat secara signifikan. Hal ini membuat kemampuan jaringan layanan untuk mengatur aliran data antar layanan menjadi sangat penting dan dibutuhkan.
Jaringan layanan ini juga dapat digunakan untuk tim DevOps yang memiliki pipeline CI/CD. Hal ini karena service mesh dapat menerapkan aplikasi atau infrastruktur aplikasi (Kubernetes) untuk mengelola kode dan alat pengujian otomatis seperti Git, Jenkins, Artifactory, atau Selenium.
Bagaimana Cara Kerja Service Mesh?
Service mesh bekerja dengan cara yang sederhana untuk memenuhi tugasnya untuk melancarkan komunikasi antar layanan dalam arsitektur layanan mikro. Langkah pertama adalah penemuan dan pengenalan layanan oleh services mesh agar layanan microservices dapat menemukan satu sama lain secara otomatis.
Dalam proses penemuan ini, service mesh juga menyediakan fitur autentikasi dan otorisasi untuk memastikan komunikasi antar layanan tersebut aman. Selain itu, data yang dikirimkan antar layanan juga dapat dienkripsi untuk meningkatkan keamanan.
Terdapat juga pemantauan (monitoring) dan logging data telemetri yang berfungsi untuk mengawasi komunikasi antar layanan serta mendeteksi masalah secara dini sebelum menjadi semakin serius. Fitur observabilitas ini memungkinkan perusahaan untuk melihat metrik dan log yang detail untuk memantau kinerja, performa, dan kondisi layanan.
Pengaturan lalu lintas jaringan inni dioperasikan dalam komponen yang disebut data plane. Data plane umumnya berupa sidecar proxy yang dijalankan bersama tiap layanan. Kemudian fitur-fitur seperti routing, discovery service, serta kebijakan keamanan dilakukan di control plane.
Service Mesh vs API Gateway, Apa Perbedaannya?
Service mesh dan API gateway merupakan dua teknologi yang berbeda yang sama-sama digunakan dalam mengelola alur komunikasi dalam aplikasi. Kedua teknologi ini juga sama-sama digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi aplikasi. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada lingkup fungsi, responsibilitas, serta granularitasnya. Berikut ini adalah penjelasannya:
Lingkup Fungsi
Secara lingkup fungsi, service mesh hanya berfokus pada komunikasi antar layanan microservice secara internal, sementara API gateway lebih berfokus pada komunikasi eksternal yaitu antara klien dan API.
Responsibilitas
Berdasarkan responsibilitas atau tanggung jawabnya, jaringan layanan bertugas untuk mengelola aspek komunikasi yang lebih rendah. Aspek-aspek komunikasi tersebut antara lain seperti discovery service, autentikasi, serta enkripsi.
Sementara itu, API gateway bertugas untuk mengelola aspek-aspek komunikasi yang lebih tinggi. Contohnya adalah pengaturan permintaan dan transformasi respons.
Granularitas
Perbedaan secara granularitas antara kedua teknologi ini adalah service mesh yang beroperasi pada tingkat instance layanan microservice, sementara API gateway beroperasi pada tingkat API.
Apa Saja Kelebihan dari Service Mesh Architecture?
Arsitektur jaringan layanan memiliki beberapa kelebihan utama dan manfaat yang dapat dirasakan oleh tim developer. Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan serta penjelasannya:
Manajemen Traffic yang Terpusat
Jaringan layanan dapat memberikan kendali yang lebih baik atas berbagai komunikasi antar layanan. Hal ini meliputi kemampuan routing tingkat lanjut, percobaan ulang, serta kegagalan (failovers). Sentralisasi manajemen traffic ini juga memastikan ketersediaan dan ketahanan yang tinggi.
Meningkatkan Skala Keamanan
Aspek keamanan sangat penting dalam arsitektur microservices. Teknologi ini dapat mengatasi hal tersebut dengan mengimplementasikan berbagai langkah keamanan seperti enkripsi, autentikasi, dan otorisasi.
Mencegah Kegagalan Sistem
Jaringan layanan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan pemutusan sirkuit, percobaan ulang, serta time out untuk mempromosikan ketahanan dalam menghadapi kegagalan.
Meningkatkan Visibilitas
Service mesh dapat memberikan visibilitas yang tinggi dalam interaksi layanan mikro. Fitur-fitur penelusuran dan pemantauan yang terdistribusi dapat memberikan wawasan tentang kinerja dan perilaku aplikasi secara mendalam pada tim developer.
Komunikasi Antar Layanan dalam Pengembangan DevOps Lebih Mudah dengan Service Mesh dari Phintraco Technology!
Mengatur kelancaran komunikasi antar layanan dalam aplikasi microservice merupakan hal yang penting bagi tim pengembang DevOps. Oleh karena itu tim DevOps memerlukan platform yang tepat untuk bisa menciptakan jaringan layanan yang tepat.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang dapat menyediakan solusi service mesh yang dapat membantu tim DevOps Anda. Solusi service mesh dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas yang lengkap tentang komunikasi antar layanan tanpa perlu konfigurasi atau pengkodean tambahan.
Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya tentang solusi service mesh dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini

OpenTelemetry: Alat Pemantauan Data Software Development
Aplikasi atau perangkat lunak modern ini sering terdiri dari beberapa layanan yang bekerja sama untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, pengembangan aplikasi kini menjadi semakin rumit dan kompleks. Para pengembang harus memiliki alat atau platform yang dapat membantu mereka untuk mengoptimalkan aplikasi tersebut. Salah satu alat yang digunakan oleh para developer adalah OpenTelemetry.
OpenTelemetry atau OTel kini menjadi alat pengembangan yang populer di dunia software development. Alat ini umumnya digunakan untuk memantau data dalam rangka meningkatkan atau memperbaiki kinerja aplikasi. Melalui penggunaan OTel, developer dapat memahami perilaku aplikasi secara lebih mendalam dan dapat mengoptimalkan performanya. Artikel ini akan membahas OpenTelemetry dari berbagai aspek, mulai dari definisi, fungsi, komponen-komponennya, serta manfaatnya untuk pengembangan aplikasi. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!
Apa itu OpenTelemetry?
OpenTelemetry atau OTel adalah sebuah kerangka kerja untuk observabilitas atau observability framework. Framework ini berbasis open-source dan bebas vendor (vendor-agnostic) yang dirancang khusus untuk mengumpulkan dan mengelola data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. OTel merupakan framework yang terdiri dari kumpulan tools, API, serta SDK.
Teknologi ini merupakan penggabungan dari dua standar yang sebelumnya yaitu OpenTracing dan OpenCensus, lalu terciptalah OTel sebagai standar yang lebih lengkap dan dapat dioperasikan di berbagai platform. Distributed Tracing OpenTelemetry dapat membantu developer untuk melacak permintaan aplikasi dari perangkat frontend sampai ke layanan backend dan database dalam sistem yang terdistribusi. Hal ini membuat developer dapat memahami berbagai layanan, komponen, serta mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan dalam aplikasi.
OpenTelemetry architecture yang fleksibel juga dapat memungkinkan pengguna untuk melakukan instrumentasi manual atau otomatis. Pengembang dapat memilih cara yang paling sesuai dengan kebutuhan aplikasi. Selain itu, OTel juga dapat digunakan bersamaan dengan berbagai observability backend seperti Jaeger, Prometheus, atau Zipkin.
Apa Saja Fungsi OpenTelemetry?
OTel memiliki fungsi utama yang berhubungan dengan data-data telemetri seperti trace, metrik, dan log. Masing-masing data ini memiliki perannya masing-masing dalam pengembangan aplikasi atau software. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing fungsinya:
Distributed Tracing
Fungsi distributed tracing ini dapat memungkinkan developer untuk melacak permintaan aplikasi secara menyeluruh (end-to-end). Pelacakan ini dilakukan melalui berbagai layanan dan komponen dalam aplikasi, sehingga memudahkan developer untuk mengidentifikasi kinerja masing-masing layanan.
Metric Collection
Fungsi lain dari OTel adalah pengumpulan data metrik atau metric collection. Data-data seperti latency permintaan, tingkat kesalahan, hingga throughput dikumpulkan dan digunakan oleh developer untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi.
Log Management
Terakhir, fungsi OTel adalah untuk mengelola log agar lebih terstruktur. Log yang terstruktur akan lebih memudahkan developer untuk memahami perilaku aplikasi dan mengidentifikasi masalah sejak dini.
Apa Saja Komponen dalam OpenTelemetry?
Terdapat beberapa komponen utama dalam OTel yang masing-masing memiliki peran dalam alur dan cara kerja OTel dalam mengumpulkan dan mengelola data telemetri. Berikut ini adalah komponen-komponen beserta penjelasannya:
API (Application Programming Interface)
API atau application programming interface adalah komponen dasar dari OTel. Komponen ini berfungsi untuk menyediakan cara bagaimana aplikasi bisa berkomunikasi dengan OTel.
Selain itu, API juga menyediakan serangkaian interface yang konsisten di berbagai bahasa pemrograman. Hal ini memungkinkan developer untuk menambahkan instrumen ke aplikasi dengan cara yang seragam. Sifat API yang fleksibel ini juga memungkinkan developer untuk beralih ke berbagai backend observabilitas tanpa perlu mengubah kode secara signifikan.
SDK (Software Development Kit)
SDK atau software development kit merupakan perantara antara API dengan komponen-komponen lainnya. Hal ini memungkinkan developer untuk mengatur bagaimana OTel mengumpulkan informasi.
SDK menyediakan berbagai fitur dan utilitas yang berguna bagi developer antara lain context propagation, automatic instrumentation, dan exporter.
Exporter
Exporter atau in-process exporter adalah komponen yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan data-data telemetri dari SDK untuk dikirimkan ke backend observabilitas. Komponen ini umumnya dikonfigurasi untuk mengirim data ke komponen lainnya yaitu collector. Penggunaan exporter membuat developer bisa mengubah backend tanpa perlu memodifikasi kode aplikasi.
Collector
Collector adalah layanan atau komponen yang bertugas untuk menerima, memproses, serta mengeksplor data telemetri. Komponen ini bertindak sebagai titik pusat pengumpulan data dari berbagai sumber.
Selain mengumpulkan data, komponen ini juga memiliki beberapa fitur penting seperti penyaringan data, transformasi data, pengiriman data dalam bentuk batch, serta backend routing ke berbagai observability yang berbeda-beda.
Apa Saja Manfaat OpenTelemetry untuk Software Development?
Penerapan OTel dalam software development dapat memberikan sejumlah manfaat, khususnya dalam metode pengembangan DevOps yang memerlukan koordinasi dan observabilitas tinggi. Berikut ini adalah manfaat-manfaatnya serta penjelasannya:
Mengoptimalkan Kinerja Aplikasi
Manfaat utama dari penerapan OTel adalah pengembang dapat mengoptimalkan kinerja dan performa aplikasi secara maksimal. Hal ini didukung oleh pengumpulan data telemetri yang akurat.
Mengurangi Potensi Masalah
Komponen-komponen dalam OTel dapat melacak permintaan aplikasi secara end-to-end, sehingga pengembang dapat mengidentifikasi potensi masalah dan memperbaikinya dengan lebih cepat.
Meningkatkan Observabilitas
Pengelolaan log yang lebih terstruktur dan data metrik yang penting dapat membantu pengembang untuk bisa lebih memahami dan mengetahui perilaku aplikasi secara lebih menyeluruh.
Ciptakan Analisis dan Observasi Data yang Mudah dengan OpenTelemetry Platform dari Phintraco Technology!
OpenTelemetry merupakan solusi yang dapat dimanfaatkan pengembang aplikasi untuk menciptakan analisis dan observasi data yang lebih efektif dan efisien. Anda juga dapat meningkatkan kinerja aplikasi yang sedang dikembangkan dengan solusi OTel.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solutions yang menyediakan platform pengembangan aplikasi yang mendukung Distributed Tracing OpenTelemetry. Solusi dari Phintraco Technology dapat menawarkan integrasi yang luas dan fleksibel untuk mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan data telemetri.
Hubungi marketing@phintraco.com untuk informasi lengkap mengenai OpenTelemetry dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini

Full-stack Observability: Kunci Utama Efisiensi IT dan DevOps
Efisiensi dan sistem yang andal merupakan kunci keberhasilan utama bagi perusahaan yang bergerak di dunia bisnis modern seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi digital yang mulai menjadi bagian integral dari berbagai aspek kehidupan manusia menuntut perusahaan untuk bisa menyediakan layanan atau produk digital yang efisien, responsif, dan dapat diandalkan. Salah satu strategi yang diterapkan untuk bisa meningkatkan efisiensi IT, khususnya dalam metode pengembangan aplikasi DevOps adalah full-stack observability atau FSO.
FSO dapat memastikan perusahaan memantau performa aplikasi yang dikembangkan secara real-time. Hal ini juga dapat membantu perusahaan untuk mendapatkan wawasan yang berguna dalam rangka meningkatkan kualitas dan keandalan sistem. Wawasan tersebut bisa dengan mudah didapatkan karena FSO memungkinkan perusahaan untuk melakukan analisis data secara mendalam. Artikel ini akan membahas berbagai aspek dari FSO, mulai dari definisinya, perbedaannya dengan monitoring, mengapa strategi ini penting, serta apa saja manfaatnya untuk IT dan DevOps. Simak artikel berikut ini untuk informasi selengkapnya!
Apa yang Dimaksud dengan Strategi Full-stack Observability?
Full-stack observability adalah sebuah strategi atau kemampuan untuk bisa mengetahui kondisi dari berbagai titik akhir dalam lingkungan IT yang terdistribusi berdasarkan data telemetri. Titik-titik akhir ini meliputi server lokal, Kubernetes infrastructure, infrastruktur atau layanan berbasis cloud, serta teknologi-teknologi open source.
Sistem IT dan pengembangan aplikasi dapat memanfaatkan strategi full-stack observability, Gartner melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa infrastruktur modern dan aplikasi memerlukan koleksi data, penyimpanan, serta analisis yang menyeluruh meliputi berbagai metrik, log, dan jejak lainnya. Hal ini berguna untuk memberikan wawasan kepada tim IT seputar kinerja aplikasi, infrastruktur, hingga user experience (UX).
Dalam metode pengembangan DevOps, strategi ini juga memungkinkan tim IT untuk bisa memahami bagaimana semua entitas dapat terhubung, mulai dari koneksi infrastruktur, hubungan dan ketergantungan antara container, microservices, hingga kode di semua lapisan jaringan.
Pengamatan atau observability ini juga dilakukan untuk digital experience monitoring atau DEM. Observabilitas dapat mengidentifikasi pengalaman pengguna awal dan memungkinkan tim IT untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan loading time dan mengurangi latensi. Masalah-masalah terkait dengan pengalaman pelanggan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan responsif dengan strategi ini.
Apa Perbedaan Full-stack Observability dan Monitoring?
Observability dan monitoring merupakan dua istilah yang seringkali dianggap sama dalam konsep IT. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar, terutama dalam konteks pengembangan DevOps dan FSO.
Secara definisi, monitoring merupakan proses pengumpulan, analisis, dan penggunaan informasi untuk melacak kemajuan program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Biasanya monitoring berfokus pada pengamatan metrik tertentu.
Sementara itu, observability adalah kemampuan untuk memahami kondisi internal sistem dengan menganalisis data yang dihasilkan, mulai dari log, metrik, hingga jejak. Kemampuan observasi memungkinkan analisis terhadap apa yang terjadi di seluruh lingkungan multicloud sehingga masalah yang muncul bisa lebih cepat dideteksi.
Sederhananya, monitoring berfungsi untuk mengumpulkan dan menampilkan data, sementara observability berfungsi untuk menampilkan kondisi sistem dengan menganalisis input dan output yang ada, Kedua metode ini sama pentingnya dalam mengetahui dan menganalisis kondisi sistem. Monitoring umumnya hanya menyediakan wawasan terbatas terkait data yang fokus pada metrik tertentu, sementara observability dapat menampilkan data yang menunjukkan kondisi internal sistem sehingga tim IT dapat menemukan masalah yang terjadi sekaligus penyebabnya.
Mengapa Full-stack Observability Penting?
Terdapat beberapa faktor yang mendukung pentingnya penerapan FSO dalam IT dan pengembangan DevOps. Faktor pertama adalah kompleksnya tantangan IT di lingkungan cloud yang tidak dihadapi dalam pusat data lokal. Hal ini membuat banyak perusahaan yang membutuhkan alat pemantauan yang malah semakin menambah kompleksitas cloud dan memperlambat respons waktu dalam menangani masalah.
Faktor kedua adalah setiap tim yang seringkali menggunakan beberapa alat dalam lingkungan yang terpisah, sehingga masing-masing tim tidak dapat melihat gambaran utuh dari proyek atau pekerjaan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan berbagai hambatan yang bisa berdampak buruk bagi kelancaran proyek dan bisnis.
Oleh karena itu, observabilitas dapat memberikan wawasan yang diperlukan terkait setiap lapisan infrastruktur aplikasi dalam satu platform yang sederhana. Alat pemantauan yang sederhana dan terpadu ini dapat memberikan solusi atas biaya serta kesalahpahaman antar tim dalam proyek pengembangan aplikasi.
Tim DevOps dapat memiliki pengamatan penuh dan mendapatkan feedback yang akurat secara real time dari sistem integrasi atau produksi. Kemampuan diagnostik dan analisis yang lebih responsif membuat tim DevOps bisa menghemat waktu untuk menyelesaikan masalah dan lebih fokus pada pengembangan fitur-fitur inovatif yang bermanfaat bagi pengguna dan kemajuan bisnis.
Apa Manfaat Full-stack Observability untuk IT dan DevOps?
Terdapat beberapa manfaat utama FSO yang dapat berguna untuk sistem IT dan metode pengembangan DevOps, antara lain:
Pengamatan Situasional yang Lebih Utuh
FSO dapat memberikan pengamatan dan pemahaman situasional yang menyeluruh di lingkungan multicloud perusahaan. Visibilitas end-to-end ini juga dapat menghilangkan titik-titik buta seputar kinerja, kondisi, dan perilaku aplikasi.
Diagnosis Akar Masalah yang Lebih Tepat
Tim IT dan DevOps dapat menggunakan FSO untuk mengidentifikasi akar masalah dengan lebih tepat dan cepat. Setelah itu memprioritaskan masalah sesuai dengan dampak ke pengguna dan bisnis.
Mempercepat Otomatisasi Pipeline CI/CD
FSO juga dapat membantu tim DevOps untuk mengidentifikasi potensi masalah dalam pipeline CI/CD. Masalah dapat diperbaiki dengan cepat sehingga otomatisasi pengembangan dan pengiriman software dapat berjalan dengan lebih lancar.
Integrasi Keamanan Aplikasi ke DevSecOps
Tim IT dapat mengintegrasikan keamanan aplikasi run-time secara lebih efektif dalam proses DevSecOps. Proses integrasi ini memastikan setiap tim bergerak di jalur yang tepat dan tidak menghambat inovasi atau mengorbankan keamanan aplikasi.
Tingkatkan Efisiensi Jaringan IT dan DevOps dengan Solusi Full-stack Observability DevOps dari Phintraco Technology!
Kemampuan untuk mengetahui kondisi internal sistem dalam aplikasi merupakan kunci utama dalam keberhasilan aplikasi tersebut. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan strategi FSO dalam metode pengembangan DevOps.
Phintraco Technology merupakan perusahaan IT infrastructure & solution yang dapat membantu Anda untuk menerapkan strategi FSO dengan solusi DevOps terbaik dari kami. Solusi DevOps dari Phintraco Technology dapat memberikan visibilitas penuh terhadap aplikasi dan infrastruktur Anda sehingga tim IT dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Teknologi ini juga dapat memantau performa aplikasi secara real-time dan mengidentifikasi bottleneck sebelum mempengaruhi pengguna aplikasi.
Hubungi email marketing@phintraco.com untuk informasi selengkapnya mengenai solusi full-stack observability DevOps dari Phintraco Technology!
Editor: Cardila Ladini


